Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Dekat Tapi Jauh


__ADS_3

Reva pingsan dipelukannya, Nico menggendongnya masuk kedalam mobilnya. Mereka berdua basah kuyup oleh hujan deras.


"Kamu kenapa sampai nekat begini? Lihatlah kamu sampai basah semua" ujarnya dengan perasaan khawatir.


Padahal dirinya juga basah semua tapi dia lebih mengkhawatirkan keadaan Reva, dia membaringkan tubuh Reva di kursi belakang sambil menyelimutinya dengan jaketnya yang tertinggal di mobil itu.


"Aku harus membawanya ke rumah sakit saja, lebih baik dia di sana. Dia akan dirawat dengan baik dan makannya juga akan teratur.


Akan kubawa ke dokter Anwar saja, lebih aman karena jauh dari semuanya. Tapi di sana ada..." gumam Nico, dia nampak begitu cemas seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan.


Dia melajukan mobilnya ke rumah sakit milik salah satu anak buahnya, dokter Anwar dulunya seorang anak yatim yang ditolong oleh ayahnya Nico. Dari seorang anak jalanan dan jadi bulan-bulanan para preman, dan diangkat jadi saudaranya.


Disekolahkan dan dididik menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dia memilih menjadi dokter karena teringat masa lalu ayah dan ibunya meninggal karena sakit dan tak ada yang menolongnya.


Kemiskinan membuatnya menderita, hingga bertekad ingin merubah segalanya dan dipertemukan oleh keluarga Nico.


Sekarang dia menjadi dokter dan mengabdi kepada keluarga Nico, membuka rumah sakit kecil sebagai bisnis kecilnya tapi dia sebenarnya bagian dari gengnya Nico. Berperan sebagai dokter perawat jika ada anak buah atau rekan Nico terluka.


//


//


Mereka sudah sampai di rumah sakit itu, dokter Anwar sudah menunggu mereka didepan pintu utamanya.


"Kenapa mendadak sekali, sekarang Elena ada disini. Bagaimana kalau ketahuan?" ujar dokter Anwar panik.


Iya, dokter Anwar adalah dokter yang dipercayakan oleh Elena untuk mengoperasi wajah Ericka. Sebelumnya dia sudah memberitahu Nico soal ini, Nico menyuruhnya melakukan apa yang diperintahkan oleh Elena.


Mereka membawa Reva lewat pintu belakang agar tak melewati Elena yang sedang mengawasi Ericka.


"Apa yang dia lakukan disini malam-malam?" tanya Nico penasaran.


"Biasalah, dia mengawasi anak tirinya itu. Setiap hari menelponku tiada henti hanya sekedar menanyakan perkembangannya. Jika orang tidak tahu tujuannya, munkin mengira dia ibu yang baik.


Padahal tujuannya sebenarnya ingin membawa kabur putri tirinya itu, dan kemungkinan akan dijadikan tumbal atau umpan untuknya.


Kasihan sekali anak itu, setiap kali melihatnya selalu ketakutan. Dan kau, serius membiarkannya begitu saja? Katanya kau ingin menjaga keluarga mendiang Larasati Pohan?" ujar dokter Anwar penuh selidik.


Dia sudah tahu semuanya cerita Nico dan amanah ayahnya soal misinya itu, bahkan dia diminta untuk mengawasinya jika lupa atau melenceng dari tujuan utamanya.


"Aku ingat semua akan janji dan tujuanku, Om. Tapi saat ini aku memprioritaskan Reva, bukan berarti aku tak peduli dengan Ericka. Maka dari itu aku meminta bantuan Om dan yang lainnya untuk menjaganya.


Berikan layanan dan bantuan terbaik buat Ericka, jika Elena berhasil menbawanya pergi tolong awasi dia dan beri bantuan apapun untuknya.


Dan aku sengaja merahasiakan ini dari Reva dan Rendy agar mereka lebih fokus dengan mereka sendiri dulu. Kasihan mereka terlalu banyak beban pikiran." Kata Nico.


"Baiklah jika itu maksudmu, Om hanya tak ingin kamu larut dalam pikiran dan perasaanmu hingga melupakan tujuanmu sebenarnya" kata dokter Anwar lega.


"Tenang, Om. Amanah pasti akan tersampaikan dengan baik" ujarnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Tiba-tiba saja dari ujung koridor itu mereka melihat Elena dan anak buahnya menuju kearah mereka, Nico buru-buru bersembunyi disebuah ruangan disamping koridor dan Reva mereka pakaikan masker dan selimut diseluruh tubuhnya.


Dokter Anwar dengan para perawatnya melewati mereka dengan perasaan gugup, mereka mendorong kursi roda yang membawa Reva dengan hati-hati.


Tunggu!" ujar Elena, menghentikan langkah mereka.


"Siapa yang kau bawa itu?" tanyanya penuh curiga.


"Dia pasien dehidrasi, aku harus membawanya segera" jawab dokter Anwar tanpa menoleh.


"Siapa dia, boleh aku lihat?" tanyanya lagi.


"Maaf, Nyonya ini privacy pasien. Anda tidak bisa seenaknya melakukan sesuatu" ujar dokter Anwar gerah.


Elena nampak curiga kepadanya, karena terlihat dokter Anwar menyembunyikan sesuatu. Dia ingin menarik selimut itu, tapi dikejutkan oleh suara Hpnya hingga mengurungkan niatnya untuk membuka selimut itu.


Mereka meninggalkannya tengah sibuk dengan Hpnya, mereka lega akhirnya bisa melewatinya tanpa harus ketahuan.


Elena mengangkat telpon dari seseorang, aksen suaranya berubah sepertinya dia menerima telpon dari orang luar.


"Katakan kepadanya bahwa kami akan datang minggu depan, ditunggu saja. Bersabarlah, kalian tidak akan kecewa nantinya jika menginginkan sesuatu yang istimewa, kalian harus menunggu lebih lama lagi karena ini begitu spesial.


Aku yakin mr. Robert pasti akan suka, haha!" ujarnya sambil tertawa puas, entah apa yang dimaksud dari perkataannya tadi sehingga Nico dibalik pintu itu penasaran dengan tujuannya sebenarnya.


Dari suara langkah kakinya, mereka sepertinya sudah pergi jauh Nico keluar hati-hati dari ruangan itu. Dia masih bertanya-tanya siapa itu mr. Robert? Apakah Elena berniat memberikan Ericka kepadanya?


Kalau benar itu terjadi, dia benar-benar akan murka dan membuat Elena menyesali perbuatannya.


Nico menyamar menjadi perawat sambil memakai masker melewati para penjaga itu untuk masuk ke kamar itu.


"Maaf, Pak. Hanya dokter dan perawat tertentu yang bisa masuk ke kamar ini" ujar salah satu pengawal itu.


"Tapi saya diperintahkan oleh dokter Anwar untuk memeriksa kembali keadaan pasien" ujar Nico berkilah.


"Tidak bisa, ini perintah!" tegas pengawal itu menghalanginya masuk.


"Biarkan dia masuk!" terdengar suara dokter Anwar dibelakang mereka.


Para pengawal itu mengerti, mereka membiarkan Nico dan dokter Anwar masuk. Mereka langsung mengunci pintu itu pelan-pelan dan menutup gorden juga.


"Lihatlah kondisi anak ini, sungguh memprihatinkan sekali. Dia memiliki tiga luka sayatan yang lebar dan dalam, sungguh rasa sakit yang menyayat.


Gadis seusianya harus menderita seperti ini, o ya... Sudah ketemu siapa yang melakukan hal ini kepadanya?" tanya dokter Anwar.


"Rendy dan temannya Reva akan menanganinya, aku percaya mereka bisa melakukannya tanpa bantuanku sama sekali, aku lihat mereka punya rencana sendiri" ujar Nico sambil menatap iba kepada Ericka.


"Aku harap dia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah kejadian ini.


Dia harus berdiri sendiri, dia harus kuat seperti kakaknya melawan semua orang-orang itu. Dia harus tunjukkan kepada dunia bahwa dia spesial, bahwa dia itu istimewa" ucap Nico lagi.

__ADS_1


"Memang seharusnya begitu, ayo kita keluar jangan sampai para pengawal itu curiga karena kita terlalu lama didalam sini" ujar dokter Anwar sambil berlalu keluar kamar itu.


Mereka pergi menuju kamar Reva, dan tak disangka kalau kamar Reva bersebelahan dengan Ericka. Seandainya mereka berdua tahu kalau sedekat ini, pasti akan menjadi pertemuan yang mengharukan.


"Kenapa mereka ditaruh bersebelahan?" tanya Nico khawatir.


"Tenang saja, disini para dokter dan perawat termasuk semua staff adalah orang-orangku yang dapat dipercaya. Mereka akan menjaga dan merawatnya lebih baik lagi.


Elena dan anak buahnya tidak akan curiga, karena semua ruangan disini sengaja dikosongkan untuk menjaga dan menjauhkan Ericka dari orang-orang tahu tentangnya.


Hanya ada Ericka dan Reva dilantai ini sebagai pasien, kamu tentang saja yah. Semua akan baik-baik saja, aku jamin mereka tidak akan tahu ataupun curiga dengan pasien dan kami juga" ucap dokter Anwar sambil menepuk pundaknya menenangkannya.


Nico percaya kepada adik angkat ayahnya itu, dokter Anwar sudah seperti paman kandungnya sendiri.


//


//


Sementara itu, Rendy terpaksa membatalkan janjinya kepada Nico untuk bertemu bajingan yang sudah menculik dan menyakiti kakaknya.


Dia lembur sampai malam tanpa tahu kejadian yang menimpa kakaknya lagi, jika Rendy juga tahu bahwa kakak dengan adiknya tinggal bersama seperti itu, maka akan mudah baginya membawa mereka berdua untuk pulang.


Siangnya dia ditelpon oleh Stefan, dia diingatkan lagi soal janjinya waktu itu untuk menjebak Julia. Waktu itu mereka kehilangan kesempatan, karena Julia sepertinya tidak menemui orang itu mungkin dia tidak percaya.


"Kita bertemu sekarang saja, aku tak bisa menunda waktu lagi adikku harus ditemukan. Tapi sebelum itu aku harus tahu dulu siapa yang merencanakan semua ini, sekaligus ingin membuat pelajaran buat anak itu" kata Rendy nampak kesal.


Dia langsung menuju ke cafe milik Stefan, dan duduk dipojok cafe itu matanya berkeliling mencari sosok Julia. Dia memakai topi hitam dan jaket kulit, dia dihampiri seorang pelayan untuk menawarkan minuman.


"Maaf, Tuan. Mau pesan apa?" kata pelayan itu sopan.


Rendy menatap pelayan itu dengan sedikit terkejut, ternyata itu Julia. Dan sama halnya dengan Rendy, Julia pun kaget melihatnya. Sepertinya dia tahu kalau situasinya tidak baik untuknya.


Dia langsung kabur meninggalkan Rendy, tapi Rendy langsung cekatan menarik lengannya.


"Mau kemana kau, bajingan kecil!" ucapnya geram.


"Akh! Lepaskan aku, tolong!" teriak Julia memancing keributan dan perhatian orang banyak di cafe itu.


Tentu saja itu membuat Rendy kaget dia tidak menyangka kalau responnya bisa seperti itu, dasar licik pikirnya.


Dia melepaskan genggamannya dan Julia memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri, Rendy mengejarnya sampai ketengah jalan.


Brakk!


Julia mengalami kecelakaan, sebuah motor tipe Ducati menabraknya dengan keras dan kabur begitu saja. Rendy syok dengan kejadian didepan matanya itu, dia langsung menelpon Stefan.


"Cepatlah, anak ini mengalami kecelakaan. Sepertinya dia sengaja dibuat celaka oleh seseorang" ujar Rendy sedikit panik.


Firasatnya mengatakan bahwa mereka dari tadi telah diawasi, dia juga merasakan bahwa ini semua jebakan untuknya.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2