Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Penemuan Yang Mengejutkan


__ADS_3

Kencangnya teriakan Ericka tak mampu melawan suara bergemuruh guntur dan kilat yang saling bersahutan.


Hujan deras menyapu bumi, darah mengalir dari wajahnya hanyut tersapu air di jalanan. Samar-samar dia melihat seseorang di depannya, dia tersenyum menyeringai.


"Kau itu pembawa sial, siapapun yang dekat bersamamu akan pergi menjauh. Matilah, lebih baik kau mati!" teriak orang tersebut.


Tiba-tiba dia menghujaminya ribuan sabetan diwajahnya, Ericka menjerit meminta tolong tapi orang itu terus menyabetkan pisaunya tanpa henti.


"Aah! Tolong, hentikan! Ahh!!" teriaknya.


"Nona, Nona... Sadarlah, anda sekarang di rumah sakit! Nona, tenanglah" seorang perawat mencoba menenangkannya.


Ericka tersadar dari mimpinya, kejadian tadi membuatnya trauma sampai terbawa mimpi. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis lari jauh, dia masih terbawa suasana dialam mimpi tadi.


Dia melihat ada gunting diatas meja nakas, dia langsung memalingkan wajahnya. Sekarang, benda tajam apapun akan membuatnya takut.


Bayangan di mimpinya tadi begitu nyata, dia memandang nanar disekelilingnya. Ruangan serba putih, dan ada dua perawat di sana.


"Dimana aku? Kenapa aku ada disini?" tanyanya heran.


"Nona ada di rumah sakit, anda mengalami luka berat di wajah yang cukup parah. Semalam Nona datang kesini dalam keadaan pingsan" jawab perawat itu.


"Ke-kenapa wajahku bisa seperti ini?" tanyanya lagi, dia meraba wajahnya yang sudah diperban.


"Sebaiknya kami panggil saja dokter yah, Nona tunggu saja disini" kata perawat itu lagi.


Dia hendak meninggalkan Ericka sendirian di sana, tapi dicegah oleh Ericka. Dia tidak ingin ditinggal sendirian, kejadian di mimpinya masih membekas diingatkannya.


"Tenanglah, Nona... Tidak akan terjadi apapun kepada anda, saya jamin itu." Kata perawat itu lembut kepadanya.


"Ti-tidak, aku tidak ingin sendirian" ujar Ericka terlihat gugup dan matanya memandang sekeliling dengan perasaan takut.


Perawat itu meminta temannya untuk memanggilkan dokter dan pengawal yang menjaga pintu depan ruangan itu.


"Nona, apa anda baik-baik saja? Tenanglah, tidak usah takut kami akan menjagamu dengan baik" ujar salah satu pengawal berbadan tinggi dihadapan Ericka.


"Pak, apa yang terjadi pada saya? Kenapa dengan wajahku" ujarnya masih dengan kebingungan.


Para pengawal itu saling bertatapan, mereka tidak tahu harus bicara apa. Untungnya dokter datang bersama beberapa perawat lainnya.


Para pengawal itupun keluar menjaga pintu masuk ruangan itu, dokter dan yang lainnya mencoba menenangkan Ericka yang masih trauma berat.


"Tenanglah, Nona... Anda baik-baik saja, tidak terjadi apapun kepada anda. Apa yang yang Nona alami tadi itu hanya mimpi saja, dan tentunya itu tidak nyata" ujar dokter itu dengan sabar memberi pengertian kepadanya.


Setelah itu, Elena datang masuk ke ruangan itu bersama pengawal dan beberapa orang memakai jas.


"Bagaimana dengannya, kenapa dia terlihat histeris begitu?" tanyanya kepada dokter.


"Dia mengalami mimpi buruk pasca operasi, Nyonya... Mimpi buruk ini juga bersangkutan dengan kejadian yang menimpanya, dia mengalami trauma berat" ujar dokter itu menghela nafas beratnya, merasa kasihan dengan Ericka.

__ADS_1


"Rawat dia dengan baik, beri dia pelayanan terbaik kalian. Tapi ingat, jangan memberitahu siapapun dan bercerita kepada orang lain soal ini.


Aku akan pergi menghadiri persidangan, dia harus dalam kondisi baik dan prima sebelum berangkat ke London.


Jaga dia, jangan biarkan siapapun masuk selain dokter dan perawat yang kita tunjuk. Mengerti?!" ujar Elena memberi perintah kepada dokter dan pengawalnya itu.


Mereka mengangguk lalu kembali melakukan tugas masing-masing, setelah itu Elena keluar dan berbicara kepada dokter tadi.


"Dokter, saya berharap banyak pada anda. Segera lakukan operasi pada wajahnya itu, aku tak ingin dia terlihat buruk didepan mata orang.


Jangan sampai juga bapak dan saudara-saudaranya tahu, Dok... Ini akan membuatnya semakin drop, karena merasa malu dan takut.


Kasihan padanya, hiks!" Elena berakting sedih didepan dokter itu, tentunya dokter itu merasa iba melihatnya.


"Tenang Nyonya kami akan berusaha sebaik mungkin. Karena ini rumah sakit kecil, jadi peralatan kami kurang lengkap. Kami sarankan agar Nyonya membawa Nona ke rumah sakit besar saja.


Tapi jika Nyonya bersikeras harus disini, maka kami akan melakukan sebaik mungkin dan mungkin saja hasilnya tidak sesempurna yang ada di rumah sakit besar." Ujar dokter itu memberi penjelasan.


Elena sengaja membawa Ericka ke rumah sakit kecil di ujung kotanya itu, dia membawa Ericka jauh dari sana. Karena dia tidak ingin ada yang tahu, kejadian yang menimpanya.


Berbagai rencana di kepalanya, dia sudah menyiapkan beberapa opsi jika di pengadilan nanti dia kalah.


"Jalankan saja sesuai rencana" ujarnya dingin lalu pergi meninggalkan dokter itu.


Dia datang bersama beberapa pengacara dan pengawalnya, sebelum pergi dia ingin melihat keadaan anak tirinya itu dulu.


Dia takut memandang wajah Elena, dia selalu menundukkan wajahnya. Tapi dia masih bisa mendengarnya jelas mengatakan bahwa dia akan dibawa ke London.


Apa maksudnya dari ibu tirinya itu? Apa dia akan kuliah di sana? Ah! Tidak mungkin rasanya begitu, meskipun begitu dia masih berharap.


Impiannya ingin berkuliah di sana, sekaligus pergi dari kehidupannya dari sini. Dia ingin memulai hidup baru di sana, paling tidak dia bisa bebas tanpa hinaan dan kurungan lagi.


*


Di kediaman pak Dewantoro, semua orang sibuk seperti biasanya.


Rendy sudah pergi dari semalam, setelah kejadian itu dia tidak ingin berlama-lama tinggal di rumah itu.


Dia memutuskan tinggal di apartemen kakaknya Reva, dia sebelumnya sudah diberitahu oleh Reva nomor sandi apartemennya.


Rendy pun sudah bersiap-siap pergi ke pengadilan, dia sengaja mematikan ponselnya agar orang rumah tidak menghubunginya.


Dia telah memutuskan tali komunikasi dengan mereka, makanya ketika bi Mirna menelponnya Hpnya tidak aktif.


"Bagaimana ini, Bi. Nona Ericka tidak ada di kamarnya. Kita harus bicara apa pada tuan dan nyonya nanti" ujar Milah kelihatan cemas sekali.


"Mau gak mau kita harus katakan saja sebenarnya, kalau nona dari pagi tidak ditemukan di kamarnya" kata bi Mirna berusaha tenang.


Tetapi hatinya sangat gelisah dan khawatir sekali, dia jadi teringat kejadian semalam. Saat itu dia sedang keluar kamarnya, kamar bi Mirna posisinya ada diluar menghadap kearah taman belakang.

__ADS_1


Dia sedang menikmati hujan malam itu, samar-samar dari kejauhan dia melihat seseorang naik motor sport memakai jas hujan dan wajahnya ditutupi topi dan masker.


Dia tidak bisa melihat wajahnya terlalu jelas karena jaraknya lumayan jauh, orang itu seperti sedang melempar sesuatu didalam pekarangan rumah tersebut.


"Tunggu disini, aku mau keluar sebentar" ujarnya, dia ingin memastikan apa yang di lempar orang tersebut.


Dia mencoba mencari apa yang dilempar orang tersebut, dia seperti menginjak sesuatu dibawah kakinya.


Saat dia meraih benda tersebut, sebuah pisau memiliki bercak darah diujung mata pisau itu. Dia ingin mengambil pisau itu, tiba-tiba ada yang mencegahnya.


"Tunggu!"


Seorang pengawal datang dari belakangnya, dia pak Johan pengawal kepercayaan pak Dewantoro.


"Apa yang ingin kau cari di sini, Bi? Benda apa yang kau temukan itu?" tanyanya kepada bi Mirna penuh selidik.


"I-itu..." bi Mirna tak bisa melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya tercekat.


Pikirannya sudah kemana-mana, dia mulai mengkhawatirkan anak asuhnya. Pengawal itu mengambil pisau itu memakai sapu tangannya.


"Jika tahu sesuatu, lebih baik diceritakan atau beritahu saja kepada tuan. Jangan bertindak sendiri, bagaimana jika Bibi melakukan kesalahan tanpa sengaja memegang atau menemukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh diketahui?


Maka, Bibi akan menyesalinya. Sekarang jujur padaku, apa yang kau ketahui soal ini?" ujar pak Johan dengan aura mengintimidasi.


"Semalam aku sedang keluar sebentar dari kamarku, lalu melihat seseorang seperti sedang melempar sesuatu didalam pekarangan taman ini.


Aku mencoba mencari apa yang dilemparnya, dan melihat benda itu. Aku jadi khawatir, apa ini berhubungan dengan menghilangnya nona Ericka" kata bi Mirna.


"Kenapa? Nona Ericka menghilang?" tanya pak Johan lagi.


"Iya, dari pagi kami tak menemukannya di kamarnya. Dan kami juga tak bisa menghubungi tuan Rendy maupun nona Reva" terpaksa bi Mirna jujur kepadanya.


"Kalau tidak menemukan benda ini, kami akan mengira menghilangnya nona Ericka mungkin sudah diajak pergi oleh tuan Rendy.


Tapi pisau ini mencurigakan, mungkin kekhawatiran mu ada benarnya juga. Baiklah, aku akan mencoba menyelidikinya" ujar pak Johan.


Bi Mirna percaya kepadanya, bagaimanapun juga pak Johan sama sepertinya dan Bram. Mereka adalah pegawainya pak Dewantoro paling lama bekerja dengannya.


Semenjak mendiang nyonya Larasati Pohan masih hidup, mereka sudah berbakti kepadanya. Hanya mereka bertiga yang masih setia kepada pak Dewantoro, meskipun beliau sekarang sudah mulai lupa segalanya.


Mereka juga orang-orang yang dipercaya mendiang untuk menjaga anak-anaknya. Makanya, pak Johan berusaha menghubungi Rendy dan Reva tapi gagal kedua nomor mereka tidak aktif.


"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?" katanya bimbang.


Dia ingin melapor kepada tuannya, tapi apa yang akan terjadi nanti? Bukankah dia juga tak peduli dengan Ericka?


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2