Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Lelakipun Berhak Menangis


__ADS_3

"Baiklah, aku hanya ingin memastikan anak ini sehat dan harus kuat agar kami bisa pergi secepat mungkin" ujar Elena sambil meletakkan piring diatas nakas samping bangsal Ericka.


"Apa tidak bisa ditunda dulu keberangkatannya, Nyonya?" tanya dokter Anwar.


"Tidak bisa, ini kami sudah banyak mengulur waktu. Bisa-bisa kami bisa kena pinalti dan aku harus membayar bunga lebih nanti" jawab Elena.


Dia menatap dokter Anwar penuh selidik, dia memperhatikan dokter itu dengan tatapan tajam.


"Kenapa kau ingin sekali tahu tentangku dan urusanku ini?" tanyanya curiga.


"Ah, ti-tidak ada apa-apa. Nyonya, haha!" jawab dokter Anwar kikuk, hampir saja dia ketahuan karena menyelidikinya.


"Sudahlah, kau urus saja pekerjaanmu. Tidak usah pedulikan dia, selama luka wajahnya baik-baik saja maka semuanya akan aman.


Dan kau pastikan semua urusannya disini selesai, dalam satu minggu ini lukanya harus kering dan sembuh, itu tugasmu. Faham?!" ujar Elena memberi perintah.


"Iya, Nyonya" jawab dokter Anwar sopan.


Elena pergi dari ruangan itu bersama para pengawalnya yang lain, dia harus bergegas pergi sebelum tujuan dan niat buruknya ketahuan.


Dokter Anwar bernafas lega, hampir saja tadi ketahuan untung dia bisa cepat menetralkan suasana.


"Hampir saja" ucapnya.


"Nah, Ericka. Mau dokter suapin makannya? Kamu harus makan banyak yah, biar cepat sembuh dan kuat" ujarnya sambil tersenyum ramah kepada Ericka.


"Dokter, aku bukan anak kecil. Baiklah aku mau makan, ma-maaf merepotkan..." ujar Ericka pelan, dia merasa tidak enak dengannya.


"Hehe! Tidak apa, kamu gadis baik aku tahu itu makanya aku mau membantumu" ujar dokter Anwar sabar melayaninya.


Sementara itu Elena sedang diperjalanan kearah rumahnya, salah satu pengawalnya berbicara .


"Dokter itu mencurigakan, Nyonya. Sepertinya dia tidak akan melepaskan anak itu begitu saja, kita harus cepat sebelum dia menyadari sesuatu tentang kita" ucapnya.


"Kau benar, malam ini siapkan semuanya. Kita harus bergerak cepat" ujar Elena dingin.


//


//


Rendy menghubungi Nico, dia ingin melihat lelaki bajing*an yang berani melakukan kejahatan kepada kakaknya itu.


"Baiklah, kita bertemu dipertigaan Villa milikku dikawasan perkebunan teh. Nanti aku kirim alamatnya. Sesuai janjiku, aku akan membawamu kepada Reva juga" kata Nico kepada Rendy melalui saluran telpon Hpnya.


"Tapi aku masih tak mengerti, bagaimana kau bisa menemukannya? Aku hanya dikabari kalau bajing* n itu sudah tertangkap dan kakakku sudah diselamatkan, itu saja" ujar Rendy penasaran.


Sebelumnya dia memang sudah dikabari oleh salah satu anak buah Nico, bahwa mereka sudah berhasil menemukan Reva dan juga lelaki yang menculiknya.


Tetapi tidak dijelaskan bagaimana prosesnya mereka mencari tahu dan siapa orang yang menculik itu.

__ADS_1


"Nanti saat kita bertemu, aku akan menceritakan semuanya. Aku tak bisa mengatakannya, kau lihat dan nilai sendiri" kata Nico datar.


Dia masih terbayang akan perlakuan bejat Pramudya kepada Reva, rasanya belum puas menghajarnya.


//


//


Malam itu Rendy datang sendirian dengan naik motor sportnya, dia memakai pakaian serba hitam lengkap dengan helm full menutup seluruh wajahnya.


Mobil Nico melewatinya dan memberi tanda kepadanya untuk mengikuti mobilnya itu, Rendy mengikuti mobil Nico dari belakang, dia menatap daerah itu disekelilingnya penuh pohon dan tanaman liar.


Dia sedikit ngeri kepada Nico, lelaki yang dipacari kakaknya itu bahaya juga. Dia benar-benar seorang mafia, dan sepertinya dia juga banyak menyimpan rahasia yang tidak diketahui oleh mereka.


Seandainya Rendy dan lainnya tahu, jika Nico melakukan itu semua demi melindunginya dan saudari-saudarinya, apakah dia masih berpikir dia mafia jahat?


Mereka sampai disebuah bangunan tua, mirip bangunan jaman Belanda tempo dulu. Sebuah kastil tua dengan pagar besi berkarat, dibukakan oleh pria tua yang menjaganya. Rendy menatap sekelilingnya, rumah itu mirip rumah-rumah yang ada di film horor dia bergidik ngeri.


Mereka disambut oleh beberapa pengawal yang berjaga didepan Villa itu, Rendy tak henti-hentinya menatap sekelilingnya berharap tidak ada apa-apa di sana.


"Kenapa, kau takut?" tanya Nico menyeringai mengejeknya.


"Ti-tidak! Aku ini lelaki, mana ada takut dikamusku!" teriaknya.


Nico dan lainnya hanya tersenyum geli melihat tingkahnya, mereka memasuki ruangan tempat para pengawalnya beristirahat.


Apalagi melihat semua anak buah Nico badannya besar-besar berotot dan berwajah sangar menunduk hormat kepada Nico yang wajah dan penampilannya jauh dari kata Mafia ataupun preman biasa.


"Lelaki ini siapa sebenarnya? Apa yang dia tunjukkan selama ini adalah topeng? Inikah sosoknya sebenarnya?" gumam Rendy menatap tajam punggung Nico.


Mereka sudah sampai di penjara bawah tanah, Rendy yang dingin dan pemberani dia juga anaknya pintar dan banyak akalnya tapi memiliki fobia hal-hal berbau horor.


Saat di sana, dia menempel pada Nico menatap sekelilingnya berharap tidak ada yang muncul tiba-tiba.


"Kita sudah sampai, kau perhatikan saja didalam penjara didepan sana ada seseorang yang sangat kau kenal." Kata Nico, ekspresi wajahnya berubah sangar.


Rendy tidak mengerti kenapa dia berkata seperti itu, tapi dia mencoba menuruti ucapannya. Berlahan dia mendekati penjara itu, salah satu pengawal menyalakan lampu didalam penjara itu yang dari tadi dibiarkan gelap.


Rendy terbelalak tidak percaya apa yang dia lihat, lelaki yang sangat dia kenal dan sangat dia benci itu ada di sana.


"Pramudya? Apa yang dia lakukan disini? Maksudmu apa, Nico. Tolong jelaskan?" tanya Rendy masih kebingungan.


Nico diam saja sambil menatap tajam kearah Pramudya, sedangkan Pramudya menyadari ada Nico dan Rendy di sana langsung meraung keras meminta belas kasihan.


"Nico, Rendy. Tolong lepaskan aku, aku sudah tak tahan tinggal disini. Aku kedinginan dan kelaparan, lihat seluruh tubuhku sudah penuh bentol digigit nyamuk!


Aku sudah tak tahan tinggal disini, lebih baik aku dipenjarakan oleh polisi! Daripada tinggal disini! Aaahhh!!" Teriaknya meraung menangis keras.


Pramudya sudah seperti anak kecil saja, dia merajuk dan menangis karena sudah tak tahan akan siksaan para pengawal Nico. Apalagi dia sempat mengalami pelecehan oleh salah satu pengawal yang seorang gay, membuatnya trauma.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini? Jadi kau sudah beberapa hari tak masuk berada disini? Kenapa?!" tanya Rendy kepadanya, dan sesekali menatap Nico yang masih dingin dan sangar didepan Pramudya.


"Jelaskan semuanya kepada Rendy, apa saja yang kau lakukan kepada kakaknya! Jelaskan?!" teriak Nico mencoba menahan amarahnya.


Pramudya terdiam dia tertunduk, lalu tertawa seperti orang gila. Dia lupa bahwa dia tadi menangis meraung minta dilepaskankan.


"Rendy, Rendy! Adikku malang, adikku sayang. Haha! Aku akan menikah dengan Reva, kau harus memanggilku dengan sebutan kakak yang benar yah! Haha!" katanya meracau tidak jelas.


"Sepertinya ditahan disini terlalu lama membuatnya gila, besok lepaskan saja dia tidak ada gunanya mengurung orang gila!" ujar Erick, yang mengikuti mereka dari tadi.


"Nico, apa yang-" Rendy ingin bertanya kepadanya, Nico langsung memotong perkataannya.


"Dia yang menculik dan memperkosa Reva..." ujar Nico pelan, menahan emosinya. Tapi sayang air matanya tak bisa ditahan.


"Haha! Dia menangis, dia menangis!" teriak Pramudya tertawa mengejek Nico.


Salah satu pengawal yang berdiri disamping Pramudya memukulnya keras hingga dia gak sadarkan diri. Dia geram dengan perilaku gila Pramudya yang bersikap kurang ajar didepan bosnya itu.


Bhug!!


"Hekk!"


Pramudya memuntahkan darahnya, dan langsung pingsan.


Rendy terdiam dengan ucapan Nico dan perilaku Pramudya, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Lelaki didepannya ini meskipun saudara tiri dan membencinya seumur hidupnya, tapi bagaimanapun juga mereka hidup serumah bertahun-tahun.


Rasanya tidak percaya jika dia bisa dan tega melakukan hal keji seperti itu, dia ingin sekali meraung keras menangis meluapkan emosinya atau melepaskan kemarahannya, dengan memukul dan menghajar Pramudya sampai babak belur kapan perlu dia ingin membunuhnya juga, karena telah melecehkan kakaknya.


Tapi apa bedanya dia dengannya, apa bedanya dia dengan Nico? Dia tidak ingin mengotori tangannya, bukan berarti dia tidak peduli dengan kakaknya tapi dia merasa itu sudah tak perlu lagi.


Saking bencinya rasa ingin membunuh itu sudah tak ada lagi, saking benci ingin membalas rasa sakit kakaknya tak ada lagi. Rasa benci itu sudah menghilang seiring berjalannya waktu, apalagi dia melihat kondisi Pramudya sudah seperti orang hilang akal.


"Aku membencinya, sangat membencinya! Tapi aku harus apa?! Aku lelah, aku ingin hidup normal seperti orang lain. Aku hanya ingin kami semua bahagia tanpa gangguan siapapun termasuk mereka!


Apa salah kami? Apa salah kakakku?! Kenapa kami semua harus mengalami hal ini?! Apa Tuhan mengutukku atas semua yang terjadi pada keluargaku?!!


Aakkhh!!" teriaknya, Rendy menangis di pelukan Nico. Dia tak bisa menahan emosinya lagi, perasaannya hancur berkeping-keping.


Begitupun juga dengan Nico, perasaannya lebih hancur lagi ketika dia tak bisa menjaga anak-anaknya Larasati Pohan. Amanah yang diberikan kepadanya tak bisa dia pegang.


Terlebih lagi dia harus menerima kenyataan bahwa kekasihnya hampir hancur dan kini terluka hatinya, dia menatap geram kearah Pramudya yang masih tertawa-tawa seperti orang gila.


Dua orang lelaki hebat itu saling menguatkan satu sama lain, sambil menahan isak tangis mereka.


...----------------...


Bersambung


Kasihan ya mereka 😢, yuk bantu author bikin mereka menjadi lebih kuat lagi dengan dukunganmu. Jangan lupa like, coment dan hadiahnya yah. Makasih 😚🙏

__ADS_1


__ADS_2