Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Jebakan


__ADS_3

Nico menyelesaikan makannya dengan cepat, bahkan dia tak menikmati setiap makanan yang masuk kedalam mulutnya. Dia hanya memikirkan yang penting perutnya tidak kosong, itu saja.


Hati dan pikirannya saat ini menuju isi email tadi, semuanya mencurigakan. Apalagi kata anak buahnya dia mengenal wanita yang mengendarai mobil Jeep yang menyebabkan kecelakaan Reva.


"Aku tak boleh menundanya, sebelum polisi menemukan wanita itu aku harus menemukannya lebih dulu. Aku ingin tahu alasan dan tujuannya melakukan hal itu kepada Reva" gumam Nico.


Dia melajukan mobilnya kesebuah area perkantoran, karena sudah malam gedung yang menjadi salah satu perkantoran itu sudah sepi dan gelap, hanya diterangi sedikit cahaya saja.


Rupanya Nico sudah ditunggu oleh seseorang di sana, itu adalah salah satu cabang kantor dari bisnis rahasianya. Bisnis yang menangani setiap permasalahan tanpa melibatkan hukum, dan berusaha menjadikannya legal dibawah naungan firma hukum miliknya.


Licik? Tidak juga, karena hampir setiap perusahaan besar memiliki hal itu. Karena jika menyangkut pajak, dana ataupun investasi lainnya jika bermasalah, maka ada bisnis ini untuk menutupi atau menyelesaikan urusan itu tanpa ada masalah atau gangguan apapun.


"Malam, Pak" sapa security yang menjaga kantor tersebut.


"Malam" sahut Nico.


Dia lalu diantarkan kedalam dan menuju ke ruang pertemuannya dengan beberapa anak buahnya.


"Maaf menunggu lama, jadi apa yang sudah didapatkan? Aku hanya mendapatkan informasi setengahnya saja, setelah itu hanya teka teki" kata Nico.


"Sebelumnya, silakan Bapak lihat ini dulu" ujar Erick, salah satu anak buah kepercayaan Nico.


Masih ingat dengan Erick bukan? Dia adalah ahli di bidang teknologi dan peretasan milik Nico, dia juga yang membantu mencari Reva saat diculik Pramudya dulu.


Nico diperlihatkan oleh sebuah video di mana seorang lelaki muda bertemu dengan seorang wanita yang berpenampilan sedikit mencolok, memakai pakaian serba hitam lengkap dengan sepatu boot hitam dan kaca matanya.


"Sepertinya aku pernah melihatnya..." gumam Nico.


Dia melihat mereka nampak begitu mesra saling menyapa, setelah itu mereka disuguhi pemandangan menjijikan. Yaitu melihat pasangan aneh itu berciuman di sana, di area parkir yang masih ramai dilalui orang banyak.


"Tak tahu malu" umpat Nico.


Cukup lama mereka melakukan itu, sehingga Erick terpaksa men skip adegan itu dan melewatinya, setelah itu baru mereka melihat lelaki itu menyerahkan kunci mobil ke wanita itu tadi.


Setelah berpamitan dengan mesra, keduanya lalu berpisah. Awalnya, lelaki itu datang dengan mobil itu, sedangkan si wanita dengan motor sportnya. Penampilan mereka nampak sama, jadi ketika keduanya bertukar kendaraan takkan ada yang curiga dengan hal itu.


Meskipun badan lelaki itu lebih kekar dibandingkan si wanita, jadi jika ada yang melihatnya maka si wanita akan lulus dari jeratan hukum, dengan dalih tetap berkendara dengan motornya bukan dengan mobil itu. Benar-benar licik!


"Jika kita ingin menangkap wanita itu, kita dapatkan dulu lelakinya dulu" ucap Erick mengungkapkan pendapatnya.


"Ya, itu benar juga" ujar Nico menanggapinya.


Jadi mereka sepakat akan membuat jebakan untuk lelaki kekasih wanita itu, mereka melakukan cara yang sama untuk menemui lelaki itu.


//


Keesokan harinya.


Mereka berpura-pura mau menyewa mobil ke perusahaan rental mobil itu, mereka mengutus seseorang untuk datang melakukan transaksi kepadanya.


"Mas, bisa anterin mobilnya gak? Aku gak bisa ambil sendiri, soalnya lagi ada kerjaan. Bisa yah maaass..." terdengar suara wanita mendayu-dayu diseberang telpon itu.


"Bi-bisa, bisa!" ucap lelaki itu gelagapan menjawab ucapan wanita itu.


"Sial, suaranya merdu sekali. Akh! Aku gak tahan mendengarnya, ingin cepat-cepat bertemu dengannya. Siapa tahu dia lebih cantik dan seksi daripada yang kemarin, hehe" ujar lelaki berwajah mesum itu.

__ADS_1


Siangnya mereka bertemu ditempat yang sudah ditentukan oleh Nico yang lainnya, disebuah gudang tua dipinggiran kota.


Seharusnya orang akan curiga, jika seseorang ingin bertemu ditempat sepi seperti itu. Tetapi lelaki itu tak memikirkan soal itu, otaknya sudah dipenuhi hawa nafs* jadi tak bisa berpikir apa-apa lagi.


"Halo, aku sudah sampai. Kau ada dimana?" tanya lelaki itu.


"Aku ada disini, Mas..." jawab suara mendayu dari arah belakangnya.


Betapa terkejutnya dia melihat seorang lelaki berpenampilan wanita tapi memiliki tubuh yang kekar dan wajah sedikit sangar.


"Akh! Si-siapa kau?! Pergi, pergi!" teriak lelaki itu ketakutan.


"Mas, ini Jamilah... Yang mau sewa mobilnya" ucap Jamilah kesal.


"Ta-tapi wajahmu kenapa bisa begitu? Kok bengep?! Eh, maksudku kok kusaaaammmm..." lelaki itu ingin melanjutkan ucapannya tak jadi setelah melihat perubahan ekspresi wajah Jamilah.


"Mau ngomong apa kau, hah?! Mau gw potong tuh otong?!" terdengar suara asli Jamilah, suara beratnya terdengar sangat marah.


"A-ampun, Bang! Jangan potong otong aye, aye belum kawin!" ucap lelaki itu, berlutut memohon dengan badan yang gemetaran.


"Bang, bang! Emang eike abang-abang jualan apa?!" ucap Jamilah kesal dengan suaranya kembali mendayu.


Sedari tadi dia mencengkram leher baju lelaki itu dan tak pernah dia lepaskan, agar dia tidak bisa kabur juga.


"Ayo ikut aku!" ucap Jamilah lagi.


"Mau kemana kita? Aye belum siap, huhu.." lelaki itu menangis ketakutan.


Bagaimana tidak seorang lelaki bertubuh kekar dengan wajah sangar, tiba-tiba datang kepadanya dengan berpenampilan seperti itu, lelaki yang kuat saja gak mau ketemu apalagi lelaki modelan seperti dia.


"Ini nih, lelaki mesumnya!" ujar Jamilah sambil melempar lelaki itu dihadapan mereka semua, bak melempar karung saja.


"Makasih yah" ucap Erick sambil tersenyum.


"Iye, bang" jawab Jamilah tersipu melihat senyuman Erick.


"Hei, jantan! Ingat, jantan!" bentak Erick memperingati Jamilah dengan wajah dingin.


"Iye, iye! Maaf, kadang suka gitu kita! Suka keceplosan, hehe!" ucap Jamilah dengan suara lelaki tapi tetap dengan sikap kemayunya.


Nico memperhatikan mereka satu persatu, dia menatap aneh keduanya. Melihat itu Erick buru-buru menggelengkan kepalanya agar Nico tak salah faham.


"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Nico curiga.


"Gak ada apa-apa, Pak. Sueer!" jawab Erick cepat.


"Iye, Pak Nico. Kita murni temanan, Erick udah bantu saya banyak, dia membuatku kembali kejalan yang benar.


Nama saya sekarang bukan Jamilah tapi Jamal, Pak. Sebenarnya itu emang nama asli saya, hehe!" jawab Jamilah alias Jamal.


"Bagus kalau begitu, setelah ini ganti baju kamu itu. Geli aku lihatnya" ucap Nico bergidik ngeri melihatnya.


"Iyee, Paaak.." ucap Jamal tobat.


Mereka menyeret lelaki itu kedalam gudang lebih dalam lagi, dan menutup gudang itu dengan rapat. Ada beberapa anak buah Nico yang berjaga agar tak ada yang lewat ataupun masuk kedalam sana.

__ADS_1


"A-apa mau kalian?! Ini namanya penyekapan dan penyiksaan, aku bisa melaporkan kalian semua. Terutama kau, wanita jejadian!" teriaknya tidak terima karena merasa ditipu oleh Jamilah alias Jamal.


"Yang nipu siapa, hei! Jaga yah mulutnya, eike datang buat ambil tuh mobil, situ sendiri pikirannya jorok mulu! Hayo mau mikirin apa, heh?!" sahut Jamal kembali dengan suara mendayunya kesal.


Erick kembali ingin memperingatinya agar bersikap layaknya seorang lelaki, tetapi dia ditahan oleh Nico.


"Biarkan saja dulu, berikan dia waktu untuk berubah. Untuk dirinya itu tidak mudah, butuh proses yang lumayan panjang untuk benar-benar bisa berubah.


Cobalah untuk mempercayainya, agar dia merasa ada ruang dan nyaman untuk melakukannya. Jangan memaksanya" ucap Nico pelan kepada Erick.


"Iya, Pak. Saya mengerti" jawab Erick pelan juga.


Mereka mendudukkan lelaki itu kekursi kayu dan diikat dengan tali cukup kuat agar dia tak bisa melarikan diri.


"Apa maumu?!" tanya lelaki itu.


"Seharusnya kau tanyakan itu sejak tadi" jawab Nico sambil tersenyum sinis kearahnya.


"Aku ingin bertanya suatu hal kepadamu, jawab dengan jujur. Katakan kepadaku, siapa wanita yang menyewa mobil berjenis Jeep berwarna hitam?" tanya Nico langsung.


"Wanita siapa?!" tanya lelaki itu lagi.


"Tidak usah berpura-pura lupa, kami tahu semuanya. Katakan saja padaku" ucap Nico sambil melemparkan berkas dan foto-fotonya bersama seorang gadis.


Lelaki itu terdiam dia tak bisa mengelak lagi, mau gak mau dia menceritakan semuanya termasuk informasi gadis itu.


"Aku baru bertemu dengannya sekali, dan aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Dia hanya memintaku membawa motornya kembali kerumahnya.


Itu saja, dan aku tidak tahu juga soal kecelakaan itu. Benar, aku bersumpah demi apapun aku tak tahu apa-apa!" ucap lelaki itu.


Nico memperhatikan wajah lelaki itu, sepertinya dia jujur. Terlihat dia sangat ketakutan.


"Baiklah, kau bisa jelaskan semuanya ke kantor polisi" ujar Nico.


"A-apa?! Tidak! Aku tak terlibat dengan semua itu, kenapa aku harus diserahkan ke kantor polisi?!" teriak lelaki itu tidak terima.


"Dasar, bodoh! Ke kantor polisi belum tentu kau dipenjara, Sarimin! Lu kesana sebagai saksi coy, saksi! Kagak diapa-apain!" ujar Jamal gemes sambil ngejitak kepala lelaki itu.


Setelah itu mereka membawa lelaki itu ke kantornya kembali, belum lama itu polisi pun datang meminta keterangan kepadanya.


"Semoga semuanya mendapatkan titik terang" kata Erick.


"Apakah anda sudah ada bayangan, kira-kira siapa wanita itu?" tanyanya lagi.


"Aku sebenarnya sudah tahu, tapi aku butuh bukti konkrit untuk menyeretnya ke penjara" sahut Nico.


Dia kembali menuju rumah sakit untuk menemani Reva, pikirannya begitu banyak. Seketika ide gila berada di kepalanya, tapi seketika dia menggelengkan kepalanya untuk tidak menginginkan idenya itu lagi.


"Pricilia" dia menggumamkan nama itu dengan nada penuh kebencian.


Mobilnya melaju dengan kencang membelah jalanan siang itu, memecahkan kesunyian dihatinya.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2