Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kebohongan Opa Harja


__ADS_3

Azka agak ragu-ragu mendekati ruangannya Ericka, dia melihat ada beberapa pengawal yang berjaga didepannya. Dia berpikir mungkin lelaki yang mengaku kakaknya Ericka itu masih ada, atau mungkin dia sengaja membiarkan pengawal yang berjaga agar tak ada yang mengganggu adiknya.


"Apa sebaiknya aku pulang aja yah?! Kok rasanya segan mau kesana, emm.. Ya udah deh, besok aja!" ucapnya dalam hati.


Dia membalikkan badannya kembali dan tepat waktu, papanya menelpon untuk segera memintanya untuk pulang.


"Iya, Pa. Sebentar lagi aku pulang.." ucapnya sedikit rasa malas.


Sedangkan di ruangan Ericka, semuanya masih berkumpul tentu saja tanpa Reva dan om Richard, karena beliau ada urusan. Sedangkan Erick memilih pergi dan bekerja ditempat lain agar lebih tenang tanpa ada gangguan kakaknya lagi.


"Jadi, kita harus bagaimana? Apa kita harus menyerang lebih dulu?" tanya Rendy tak sabar.


"Jangan gegabah, kita tak tau apa saja yang dilakukan oleh musuh, kita selidiki dulu kasus panti asuhan ini, aku yakin sekali ini pasti ada hubungannya dengan om Harja.


Dan aku juga merasa kalau om Richard juga tau sesuatu, saat melihat reaksi beliau saat kita membahas panti tadi, seperti ini pernah terjadi saja.." jawab Nico sangat serius.


"Bagaimana jika aku dan Geraldine menyusup ke panti itu dan berpura-pura akan meminta jasa kepada anak-anak itu?" tiba-tiba saja Andriana menyusulkan pendapatnya.


"Wah, ide bagus itu!" sahut Geraldine semangat.


"Jangan! Kau sudah pernah datang bersamaku waktu dulu ke sana, aku yakin dia pasti mengenalimu.." ucap Rendy kepada Andriana.


"Kalau begitu, biar aku saja yang pergi. Meskipun aku belum pernah ke sana, tapi aku juga harus hati-hati takutnya ada yang mengenaliku, aku mungkin akan menyamar sedikit.." sahut Geraldine.


"Tidak apa sendirian ke sana?" tanya William agak khawatir juga jika gadis itu nekat datang sendirian.


"Aku akan datang bersama salah satu pengawal bu Ericka, kami akan menyamar dan dia akan ikut juga masuk kedalam panti, saat aku sibuk mengalihkan perhatian bu panti, aku harap dia bisa mencari informasi atau bukti-bukti menjerat ibu panti itu.." ucap Geraldine memberitahukan ide dan pendapatnya itu.


"Boleh juga, ide bagus!" sahut Nico setuju dengan idenya.


"Kalian akan menyamar jadi apa?!" tanya William dengan nada sedikit cemburu.


"Jadi sopir dan bosnya! Udah, kak William gak usah banyak cemburunya, tenang aja Geraldine gak akan tergoda karena dia--" Ericka menjawabnya dengan nada sedikit meledeknya dan ingin kembali menjelaskan tentang Geraldine tapi disahuti langsung oleh Rendy.


"Kalau jodoh gak akan kemana, oke?! Baiklah, kapan kau bisa kesana?" tanya Rendy langsung, dia tak ingin Geraldine malu dan kecewa oleh ucapan Ericka jika diteruskan.


"Secepatnya, besok pun jadi. Karena aku yakin, berita penangkapan lelaki itu sudah pasti sampai ke mereka yang ingin membuat kalian celaka.


Jangan sampai mereka memulai duluan untuk menyerang kembali, kali ini kita tak boleh keduluan lagi!" ucap Geraldine semangat.


"Oke, aku juga akan ikut mengawasi!" sahut William juga gak mau kalah.


"Sebaiknya jangan, aku yakin salah satu anak buah opa Harja pasti mengawasi panti saat ini, jika mereka melihatmu maka dipastikan usaha kita besok akan gagal, jika mereka memang terlibat dengan semua ini!" ucap Nico lagi.


"Percayakan semuanya kepadaku, aku yakin aku bisa.." ucap Geraldine menenangkan William.


"Iya.." sahut William pelan sambil menatapnya lembut.


"Lihat, si playboy kita udah takluk ditangan seorang gadis! Haha, aku salut denganmu, Geraldine! sudah membuatnya bertekuk lutut, karena yang aku tahu dia ini sangat arogan dan egois jika mengenai seorang wanita!" ucap Nico masih tak percaya jika melihat sahabatnya itu bisa jatuh cinta juga dengan seorang gadis, secara serius.


"Manusia juga punya fasenya juga, bro! Begitu juga cinta, hehe!" sahut William dengan sedikit malu.


"Alah, sok puitis lu!" sahut juga Rendy terkekeh, dia juga berharap jika Geraldine mau membuka hatinya untuk William, berharap temannya itu melupakan masa lalu, dan kembali mempercayai lelaki lagi.


Geraldine hanya menunduk malu dan tersenyum saja, semuanya tak tahu apa isi pikirannya saat ini, dia masih belum mau bersuara ataupun bersikap seperti apa nantinya.


Triiing! Triiing!

__ADS_1


"Ha-halo?" jawab Nico dengan gugup, mereka yang melihat sudah pasti tau siapa yang menghubunginya saat ini.


"Iya sayang, ada apa?" tanyanya dengan nada senormal mungkin.


"Masih nanya lagi, ini udah jam berapa kok kamu belum pulang juga?! Mana gak ngabarin lagi seharian ini!" ucap Reva kesal.


"Astaghfirullah, aku lupa lagi ngabarin nya pantas saja jika dia marah-marah!" ucapnya dalam hati.


"Maaf yah, aku hari ini banyak banget pekerjaan sampai lupa ngabarin kamu, sabar yah.. Sebentar lagi aku pulang, kamu mau aku bawain apa?" tanyanya dengan nada selembut mungkin.


"Gak ada! Udah, cepet pulang aja!" ucap Reva sewot.


Tut!


Telpon dimatikan sepihak darinya, membuat Nico sedikit lega karena istrinya tidak banyak tanya lagi, yah.. Paling dia akan dicecar lagi kalau sudah sampai rumah, dan dia harus memberikan berbagai alasan nantinya.


"Bagaimana, Bos! Apa nyonya besar sudah memberikan arahan?" tanya William, kini dia gantian meledek Nico.


"Iya! Dan siap laksanakan, jika tak ingin perang dimulai!" jawab Nico disambut gelak tawa mereka semua.


.


.


Sementara itu, di rumah om Richard sudah ada pengacaranya dan beberapa orang-orang penting lainnya, mereka sedang membahas sesuatu di masa lalu yang belum tuntas.


"Mereka bergerak lagi, selama ini mereka bekerja dengan rapi dan susah dilacak, tapi kali ini mereka melakukan kesalahan sehingga sangat mudah menemukannya!" ucap om Richard.


"Memangnya bapak yakin dengan semua ini, jangan sampai kita gegabah lagi dan berakibat lebih fatal lagi.." ucap orang-orang itu.


Mereka adalah orang suruhan om Richard yang ditugaskan mencari keberadaan bu Larasati dan anak-anaknya dulu, dulu sekali mereka pernah mendapatkan informasi jika bu Larasati pernah tinggal di panti asuhan, dan mereka datang menyelidikinya.


Dan sebenarnya, opa Harja lah yang memberikan pekerjaan kepada ibunya bu Weni menjadi ketua panti asuhan itu dan sekaligus menjadi mata-matanya untuk mengawasi bu Larasati dan tentu saja keluarga pak Dewantoro, benar-benar plot twist sekali.


Bu Larasati yang tidak tahu apa-apa mengira jika keluarga pak Dewantoro itu hanya salah satu donatur terbesar bagi panti yang membesarkannya itu, karena selama ini dia diberitahunya seperti itu.


Dan selama ini dia kira ibu panti dan anaknya yaitu bu Weni baik kepadanya, ternyata menusuk dari belakang, mengkhianatinya termasuk kepada keluarga mertuanya itu.


Maka tak heran jika bu Larasati tak tahu apa-apa hingga akhir hayatnya, jika dia telah dimanipulasi sejak awal, kasihan sekali.


"Aku akan membuktikan sekali lagi, jika selama ini hasil penyelidikan kita selama ini tidak sia-sia, dan dugaanku benar jika orang tua itu terlibat semuanya!" ucap om Richard terlihat marah sekali.


"Jika itu sudah menjadi keputusan bapak, kami akan ikut saja. Kita akan mulai dari lelaki yang menabrak anak bapak, aku yakin dia tahu semuanya!" ucap anak buahnya itu.


"Lakukan saja dengan rapi" ucap om Richard dengan datar.


"Baik!" ucap mereka, lalu berpamitan untuk pulang.


Saat itu om Richard tak tahu jika ada seseorang yang sedang mendengarkan percakapan mereka sejak dari tadi, Azka masih berdiri mematung di balik ruang keluarganya saat mendengar percakapan papanya dengan beberapa orang itu.


"Apa maksudnya tadi? Orang-orang itu siapa, dan siapa orang tua yang dimaksudkan oleh papa tadi? Ini sebenarnya ada apa sih? Papa sedang melakukan apa, dia menyelediki apa?!" gumamnya tak mengerti.


"Azka?!" dia terkejut mendengar suara papanya tepat dibelakangnya.


Dia menoleh ke belakangnya dan menatap anaknya dengan pandangan curiga, Azka dengan sedikit ciut menatap sang papa dengan gugupnya.


"Sedang apa kamu berada di sana?!" tanya om Richard dengan datarnya.

__ADS_1


"Ti-tidak, Pa.. Tadi lagi nungguin Papa selesai dengan tamu-tamunya sambil main Hp aja.." ucapnya mencari alasan sambil mengeluarkan ponselnya disaku celananya.


Di merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa gak denger langka kaki papanya saat datang mendekat kearahnya.


"Oh, begitu! Kemarilah, ada yang ingin Papa katakan kepadamu.." ucap om Richard dengan nada sedikit pelan kepada anaknya itu.


Azka sedikit lega, sepertinya papanya tak curiga dengan dirinya. Apalagi saat om Richard berbicara sedikit lembut kepadanya, dia pikir tak apa-apa.


"Ada apa, Pa?" tanyanya kepada om Richard ikut duduk di sofa di ruang keluarganya itu.


"Papa ingin memberitahukan sesuatu kepadamu mengenai kecelakaan kamu waktu itu.." jawab om Richard.


"O ya, bagaimana, Pa? Apa orangnya sudah ketemu?" tanya Azka saat mendengar tentang kecelakaannya dibahas oleh om Richard.


"Sudah, orang itu tertangkap saat berada di lokasi kecelakaan seorang gadis, dan menurut dugaan dia juga penyebab kecelakaan gadis itu!" ucap om Richard belum menjelaskan siapa gadis itu sebenarnya.


"O ya?! Wah, benar-benar biadab sekali!" umpat Azka nampak murka sekali, dia tau lelaki itu sudah tertangkap tapi dia tak menyangka jika orang itu juga penyebab kecelakaan Ericka.


"Apa lelaki itu tau jika kakak cantik yang telah menyelamatkan aku waktu itu? Dan dia hendak menyelakainya karena tak terima aku diselamatkan olehnya?" pikirnya dalam hati.


"Ada apa? Apa kau teringat sesuatu?" tanya om Richard.


"Oh, gak apa Pa!" ucapnya langsung.


Mereka mulai membahas soal tuntutan kepada lelaki itu, dan berniat ingin menghukumnya seberat mungkin.


.


.


Di rumah oma Mariani, keluarga itu masih melakukan pesta keluarga seperti biasa, makan-makan besar yang dihadiri anggota keluarga saja, tapi tante Sonia dan om Seno tak menghadirinya, mereka pikir buang-buang waktu dan uang saja, maka tak heran jika terlalu banyak pengeluaran rumah tangga karena hampir setiap minggunya selalu melakukan acara tak penting seperti itu.


Trriinng!.. Trriiingg!


Opa Harja menerima telpon dari seseorang, ini agak sedikit membingungkan mereka semuanya, sejak kapan opa Harja menerima telepon langsung, biasanya orang-orang ataupun anggota keluarga lainnya jika ingin menghubunginya pasti lewat asistennya atau menemui orangnya langsung.


"Sebentar.." ucapnya sambil bangkit dari duduknya.


Dia berjalan menggunakan tongkatnya meninggalkan ruangan itu dengan sedikit terburu-buru, karena suara ponselnya terus berdering.


Setelah itu semuanya kembali dengan acaranya sendiri, dan tak peduli dengan kelakuan opa Harja itu, tapi tidak dengan oma Mariani, diam-diam dia mengikutinya dengan mendorong kursi rodanya sendiri tanpa diketahui oleh yang lainnya.


"Iya, ada apa?!" tanyanya dengan tegas, opa Harja menerima telponnya di sebuah taman samping rumah itu.


"Bos! Rencana kita sudah diketahui olehnya, sepertinya dia akan bergerak cepat kali ini. Saya harus bagaimana?" tanya orang diseberang telpon itu.


"Lakukan saja seperti biasanya, jangan sampai ketahuan! Aku sudah tak memiliki waktu banyak lagi, sebelum aku mati aku ingin semuanya menjadi milikku, setidaknya bisa diteruskan kepada cucu-cucuku kelak!" ucap opa Harja tak menyadari kehadiran oma Mariani dari tadi dibelakangnya.


"Ingat, aku sudah melakukan apapun demi itu semua, kakakku saja aku bunuh, apalagi yang lain. Jika anaknya saja bisa aku singkirkan, apalagi hanya dia, hal yang mudah bagiku untuk melakukan itu semua!


Ingat, nenek tua itu juga tak tahu apa-apa! Selama ini dia mengira suaminya mati serangan jantung dan aku tulus dengannya, biarkan saja dia berpikir seperti itu!


Dia terlalu bodoh, dibutakan cinta dan egois! Bahkan dia menyerahkan semua keputusan rumah tangganya kepadaku, dia juga tidak tahu jika anak mantu dan para cucu-cucunya juga mengkhianatinya!" ucap opa Harja dengan lugasnya.


Sedangkan oma Mariani tercengang apa yang dia lihat dan dengar, tenggorokannya kering dan tercekat, untuk bersuara saja rasanya sulit, tiba-tiba dadanya sesak dan kepalanya pusing, dia syok menerima kenyataan itu!


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2