
William langsung berlari menuju mobilnya yang terparkir, dia tidak memperdulikan panggilan dari Erick. Semua orang melihatnya seperti itu merasa heran dan khawatir.
"Ada apa dengannya? Erick, apa kau tau sesuatu?" tanya tante Sonia khawatir.
"Aku gak tau, tante.. Aku permisi dulu, mau mengejar anak itu kalau-kalau dia berbuat nekad aku bisa hentikan ia langsung!" kata Erick, kesal dengan tingkah kakaknya itu.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, cepatlah susul dia!" pinta tante Sonia tambah khawatir setelah mendengar ucapan Erick tadi.
Erick berlari mengejar William, tapi dia sudah kehilangan jejaknya. Dia menghubungiku Rendy dan menceritakan keadaan William.
"Anak itu, huft! Coba kau susul dia ke rumah sakit, tempat almarhum opa dirawat kemarin.." ujar Rendy setelah dimintai saran oleh Erick.
"Rumah sakit? Kenapa?" tanya Erick tambah penasaran.
"Geraldine dirawat di sana.." jawab Rendy pelan terpaksa menceritakan semuanya.
"Apaa?!" Erick terkejut mendengar kabar itu.
"Cepat susul kesana, jangan sampai dia juga pingsan di sana.. Bisa repot Ericka, harus mengurusnya juga!" ucap Rendy, mulutnya langsung diraup sama Andriana, kesel karena terlalu ceplos bicaranya.
Sedangkan Rendy sedikit kesal karena malam pengantinnya tak seindah yang dia bayangkan, harus mengurus kisah percintaannya si William juga.
"Syalan!" umpat Erick juga kesal.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, William langsung berkeliling mencari Geraldine dirawat. Perasaannya campur aduk, beberapa kali dia berusaha menghubungi Ericka tapi tidak menyambung juga, karena pada saat itu Ericka sedang menerima telpon dari tante Sonia.
"Tante khawatir sekali, Ericka.. Tante berulang kali menghubungi keduanya gak diangkat," ucap tante Sonia.
"Tante sabar aja yah, mungkin saat ini William lagi menuju kesini.." ucap Ericka, dia tahu William pasti langsung menemuinya dan Geraldine setelah tau berita mengenai wanita yang dia cintai itu.
"Geraldine, Geraldine! Kamu dimana?!" terdengar dari luar suara William memanggil nama Geraldine.
Ericka keluar mau melihat apa yang terjadi, saat membuka pintu dia melihat William sedang ditenangkan oleh beberapa perawat saat dia berteriak mencari Geraldine kemana-mana.
"Sus, gak apa! Dia saudara saya, dia sedang mencari calon istrinya yang dirawat disini. Will, kemarilah!" ucap Ericka mencoba menenangkan semuanya.
Karena hampir saja William ditarik paksa keluar dari rumah sakit itu, saat melihat Ericka perasaan William menjadi lega dan langsung masuk kedalam ruangan itu.
"Maafkan dia, Sus.. Dia sedang panik makanya seperti itu," ucap Ericka lagi kepada para suster itu.
"Tolong ingatkan lagi saudaranya mbak, jangan buat kegaduhan disini! Kalau ada perlu atau butuh bantuan dia bisa meminta tolong kepada kami ataupun security di depan," kata para perawat itu lalu berlalu pergi.
"Iya, Sus.. Terima kasih pengertiannya," ucap Ericka lagi.
Kemudian dia masuk kedalam ruangan itu dan menemui William sedang memeluk dan menangis menatap Geraldine, niatnya mau memperingati kelakuan William tadi, tapi saat melihatnya begitu dia jadi tak tega.
__ADS_1
"Sebaiknya aku keluar saja dulu.." gumamnya sambil menutup pintu itu kembali.
Kebetulan sekali Erick menelpon dan menanyakan keberadaannya, Ericka memberitahukan keberadaannya setelah itu Erick pun datang.
"Bagaimana keadaan Geraldine?" tanya Erick.
"Sudah lebih baik, hanya saja dia sekarang lagi istirahat. Memang sempat terjadi komplikasi ringan di otaknya, makanya dia untuk sementara waktu tidak diperbolehkan berpikir banyak ataupun stress.
Makanya ketika dia bangun nanti jangan buat dia sedih, setidaknya kita tidak boleh kelihatan prihatin saat melihatnya, kau tau sendiri dia tidak mau dikasihani. Dia wanita hebat, strong women!" ucap Ericka menjelaskan kondisi Geraldine saat ini.
"Syukurlah kalau begitu, setidaknya tidak ada hal yang perlu ditakutkan," ucap Erick lega.
Jadi malam itu William ingin menjaga Geraldine sendirian, terpaksalah Ericka dan Erick pulang dari sana dan berharap semuanya baik-baik saja mulai besok pagi.
.
.
Keesokan harinya.
Geraldine terbangun dari tidur panjangnya, bagaimana tidak dia ditidurkan dari siang hari sampai keesokan pagi harinya. Dia merasa ada yang menggenggam tangannya, dia mendengar dengkuran halus disampingnya.
"William, bagaimana bisa? Akh!" Geraldine ingin bangun tapi kepalanya masih sakit.
"Ah, sudah bangun.. Selamat pagi, Nona! Wah, pacarnya sampai pulas begitu tidurnya, semalaman dia begadang loh nungguin nya.." goda seorang perawat sedang mengantarkan sarapan buatnya.
"O ya, saya gak tau.. Dan sudah pagi aja? Berapa lama saya tidur, Sus?" tanya Geraldine bingung.
William bangun dari tidurnya sambil mengerjap-erjapkan matanya, sebenarnya di setengah sadar saat mendengar suara orang lagi mengobrol, dan beneran bangun saat dibangunkan oleh perawat itu.
"Iya, Sus.. Maaf," ucapnya, belum sadar saat ini dirinya diperhatikan oleh Geraldine.
Perawat itu langsung pergi setelah membangunkan William, Geraldine tersenyum saat melihat William terlihat sangat polos ketika bangun tidur, meskipun wajahnya terlihat pucat dengan mata sedikit cekung akibat begadang dan kelelahan, dimatanya lelaki itu masih saja terlihat tampan dan keren.
"Pagi.." sapa gadis itu.
William terkejut saat melihat Geraldine sudah duduk dihadapannya, dia juga merasakan tangannya digenggam erat oleh gadis itu. Dia senang sekali melihatnya sudah bangun bahkan bisa duduk seperti itu.
"Syukurlah, aku senang sekali kamu baik-baik saja. Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf atas semua yang terjadi kepadamu! Ini semua salahku, maaf.. Aku benar-benar minta maaf," ucap William benar-benar merasa bersalah, dia terus memegang erat tangan Geraldine seolah tak mau berpisah lagi.
"Gak usah merasa bersalah seperti itu, ini semua musibah gak ada yang mau seperti ini! Sudah, aku lapar! Mau suapin aku?" tanya Geraldine dengan tatapan memohon.
Dia tidak ingin William terus-menerus merasa bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri, karena dia tau saat itu William lagi banyak pikiran dan sedang bersedih. Malah dia menyesali perbuatannya sendiri yang begitu ceroboh tak menjaga dirinya sendiri.
"Iya, sayang.. Aku suapin yah!" ucap William terharu sambil mengusap air matanya.
Lalu dengan sabar dan telatennya dia menyuapi Geraldine sambil sesekali mengobrol, mereka tidak sekalipun membahas tentang kesedihan masing-masing karena tidak ingin ada yang merasa terluka lagi.
Dan saat ini, nampak Ericka dan Erick sedang mengintip keduanya dibalik pintu itu. Mereka merasa lega dan senang melihat hubungan keduanya, mereka pikir William dan Geraldine akan terus-menerus saling diam, William akan terus meminta maaf, sedangkan Geraldine akan terus mendiaminya.
__ADS_1
"Ah, gak sesuai ekspektasi! Seharusnya Geraldine marah sama dia, biar dia kapok!" ucap Erick sambil menggelengkan kepalanya melihat kebucinan keduanya.
"Biar aja kenapa sih, seneng amat liat orang berantem," sahut Ericka heran dengan kelakuan Erick.
"Bukan begitu, ah! Gak seru nih, btw udah ada kabar belum dari Aaron?" goda Erick.
"Kok malah ngebahas Aaron sih!" ujar Ericka kesal dengannya.
Erick hanya tertawa saja saat melihat respon dan reaksinya Ericka, dan pas sekali dokter datang untuk memeriksa keadaan Geraldine, dan acara sarapannya juga sudah selesai.
"Selamat pagi, Nona.. Bagaimana keadaannya?" tanya dokter ramah sambil memeriksa tubuhnya.
"Sudah lebih baik dibandingkan kemarin, Dok.. Hanya saja masih pusing kepalaku," jawab Geraldine.
"Oh, tidak apa.. Itu mungkin efek samping dari pengobatan, Nona masih dirawat disini sehari lagi yah buat pemeriksaan lebih lanjut, karena pemeriksaan tidak bisa sekali berhenti disini saja, karena ini menyangkut kepala dan segala kesensitifan nya, semoga semuanya baik-baik saja yah," ucap dokter itu.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter dan dua orang perawat yang membantunya keluar dari ruangan itu. Setelah itu Ericka dan Erick masuk kedalam.
"Kak, aku bawain pakaian ganti buat kamu sekalian sarapan juga dari tante Sonia, dia khawatir sama kamu, gak ada kabarnya dari semalam.." ucap Erick langsung tanpa basa-basi.
"Iya, terima kasih.. Maaf jadi merepotkan dan bikin semuanya khawatir," ucap William sadar diri.
"Makanya, kakak harus kuat jadi orang! huft, aku pikir kamu strong gak taunya lemah.. Soalnya kalau lagi melawan orang lagaknya superhero dan sangar sekalee, eh dia malah down parah pas opa meninggal sama melihat Geraldine terluka" ledek Erick.
"Semua orang juga seperti itu, kuat diluar.. Lemah didalam, terutama sama keluarga dan orang-orang yang dia cintai, ntar lu kalau ketemu perempuan yang kamu cintai juga bakal begitu," sahut William tidak terima diledek terus.
"Aku jika menemukan wanita yang aku cintai, tetap memakai logika apapun yang terjadi!" tekad Erick.
"Huuu, lagakmu!" sahut William mencibir.
"Sudah, sudah.. Kamu mandi aja dulu, terus sarapan yah.. Kalau mau pulang juga gak apa, katanya semalam kamu begadang juga, tidur yaa.." ujar Geraldine.
"Aku gak mau pulang, tetap disini aja. Jika aku mengantuk aku bisa tidur di sofa itu.." ucap William sambil melirik sofa yang sedang diduduki oleh Ericka dan Erick.
"Tapi, kan.." Geraldine Ingin menyampaikan sesuatu tapi William keburu langsung masuk ke kamar mandi didalam ruangan itu.
"William itu keras sifatnya, dan gengsinya gede. Sekali katanya tidak, maka tetap tidak jawabannya.." sahut Erick setelah William masuk ke kamar mandi.
Geraldine hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, sedangkan Ericka nampak sibuk membereskan barang-barangnya Geraldine.
Sementara itu, Nico dan Reva yang baru datang ke rumah sakit ingin menjenguk Geraldine, nampak panik karena tiba-tiba saja air ketuban Reva pecah saat dia masuk kedalam lobby rumah sakit.
Sontak membuat Nico panik dan langsung berteriak memanggil dokter, dan kebetulan ada security di sana langsung membawakan mereka kursi roda untuk dibawa ke UGD.
"Cepetan, ini bayiku mau lahir!" teriak Nico panik meminta security itu lebih cepat lajunya membawa Reva diatas kursi roda itu.
"Bapak sabar yah.." sahut security itu tetap sabar melayani mereka.
Sedangkan Rendy dan Andriana pagi itu masih terlelap tidur karena menghabiskan waktunya semalam untuk bergadang, sedangkan dikediaman Nico, tampak heboh karena sang pewaris Abraham sudah mau lahir. Para pelayan dan pengawal sudah bersiap menyambut sang tuan muda.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung