Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Rencana tiga sahabat.


__ADS_3

"Dimana kakakku?!" Ujar Rendy menatap tajam kearah Nico.


Nico hanya menyunggingkan bibirnya, dia tidak menjawab pertanyaan Rendy. Dia berlalu pergi diiringi para pengacaranya dan rekan setimnya.


Merasa diabaikan, Rendy menarik kasar tangan Nico kearah dinding. Dia menatap tajam pria yang sangat tidak dia sukai itu, reputasi Nico sebagai mafia itu sudah menyebar kesemua kalangan.


"Dengar, aku tahu kamu sudah lama mengincarnya. Dan saat ini dia menghilang tak ada kabarnya, aku tahu semua ini berhubungan denganmu!


Jujur saja padaku, tujuanmu mengajak aku kesini bukan hanya kesepakatan bisnis saja, 'kan?!" Tanya Rendy menahan emosinya.


Nico menghempaskan pegangan tangan Rendy dengan kasar, kali ini dia menatap mata Rendy dengan lekat. Rendy merasa tak nyaman dia merasa terintimidasi, tatapan mata itu sangat tajam.


"Kau tahu, aku bukan pria posesif dengan terobsesi sesuatu hal yang mustahil kudapatkan.


Aku mendekatinya karena aku yakin dia akan kudapatkan, bukan berarti aku akan menyiksanya atau membuatnya menderita.


Percayalah, suatu saat nanti kau akan berterima kasih denganku" ujar Nico sambil tersenyum sinis meninggalkannya.


Nico dan rekan lainnya pergi meninggalkan Rendy yang masih bingung apa yang dibicarakan olehnya tadi.


*


Sehari sebelumnya, sebelum rapat pemegang saham dan kepemilikan perusahaan dan Yayasan Mutiara Hati.


Hari itu.


Nico pergi meninggalkan Reva beristirahat di Villanya, mobil mewahnya melaju pergi menuju kotanya kembali.


"Langsung ke kantor Law and Company, ada sesuatu yang harus aku urus dulu." Kata Nico kepada supirnya.


Supirnya mengangguk mengerti, dia melaju lurus ke kantor keduanya Nico itu.


Sesampainya dia di sana, dia sudah disambut dengan hangat oleh sahabatnya itu yaitu William Harvey.


"Hai my Bro, what' up man! " ujarnya tergelak sambil merangkul hangat pundak Nico.


"Kabarku lumayan baik" jawabnya singkat.


"Wah, kalau sudah begini biasanya serius ini. Kabarnya lumayan baik katanya Bro, haha!" Ujar William menatap kearah temannya yang lain, temannya itu baru datang untuk menyambut Nico.


"Kalau begitu, Will... Kamu harus ekstra lagi kerjanya, kalau gak mau dipecat sama Pak Bos, haha!" Balas temannya tadi.


"Hai Robin, apa kabar? Terima kasih sudah mau datang." Sapa Nico kepada temannya itu, Robin.


"I'm good, man... No problems, thanks sudah diizinin kerja disini" Robin tersenyum penuh arti kepada Nico.


"Ini kantor William yang pegang, kalau mau terimakasih bilang saja ke orangnya langsung" ujar Nico.


"Ah dia gengsian orangnya, haha!" sahut William.

__ADS_1


"Bukan begitu Bro, cuma kalau menghadap kearah kau rasanya gimana yah? Geli tau! Haha!" Canda Robin.


"Bisa aja kau bercandanya, punya kantor gede dia di London. Disini dia kayak orang gak ada aja!" William menggeleng-gelengkan kepalanya kearah robin.


Ya begitulah mereka, mereka bersahabat sejak SMA sampai sekarang. Perusahaan di bidang hukum ini hasil kerja sama antara Nico dan William.


Sejak SMA mereka sudah berjanji akan sama-sama menjadi superhero, jalan yang mereka tempuh untuk menjadi superhero itu ialah dengan menjadi pengacara.


William dan Robin sukses menjadi pengacara handal, mereka sering melakukan acara amal atau bakti sosial. Mereka juga selalu memberikan konsultasi gratis bagi kalangan bawah.


Lain halnya dengan klien-klien dari kalangan kaum jenset, tarif jasa mereka bisa mencapai puluhan juta rupiah per kasus.


William sudah terkenal di dalam negeri, dia sering muncul di layar Tv untuk menangani beberapa kasus pejabat atau artis terkenal.


Sedangkan Robin, membuka kantornya di luar negeri. Jasanya sebagai pengacara juga sudah dikenal banyak orang di sana, dia juga sudah menikah.


Istrinya bule cantik dan juga seorang lawyer handal di negaranya, saat ini Robin kembali ke negaranya untuk membantu sahabatnya menangani beberapa kasus.


Terkhususnya kasus Reva dan adik-adiknya, Nico sengaja minta William dan Robin menangani kasus ini. Karena dia tahu, dia akan menghadapi lawan yang cukup berat.


Sementara kedua sahabatnya menjadi pengacara hebat, Nico sendiri menjadi pengusaha sukses yang siap menjadi donatur bagi keduanya. Kalau sudah mengenai satu sama lain, tak ada itung-itungan diantara mereka.


"Robin, kau pergi ke sini. Apa istrimu tahu, atau jangan-jangan kau minggat yah?!" Canda William.


"Tahulah Bro, gini-gini aku suami setia dan sayang istri. Hehe! Kau sendiri bagaimana, wanita mana lagi kau kencani?!" ledek Robin.


"Susah nih Bro, semuanya minta diajak kawin. Ya udah, aku tinggal kabur aja. Haha!" William tergelak tawa dengan candaan mereka.


"Eh, yang ngundang kita dari tadi diam bae. Bro, kau ada masalah apa? Coba ceritakan semuanya kepada kami" ujar Robin.


"Iya Bro, kemarin kau menelponku tidak menjelaskan semuanya. Katakan, apakah ini berhubungan dengan wanita pujaanmu itu?" Cecar William.


Saat itu mereka berada di Cafetaria yang tidak jauh dari kantornya, Nico menyeruput kopinya. Sedikit menghela napas panjang dia mulai menceritakan tentang Reva dan keluarganya.


Terutama perjuangan dan pengorbanan Reva untuk adik-adiknya itu, dan juga rasa trauma berat menjalin hubungan asmara dengan pria. Karena kisah asmara orang tuanya yang buruk selalu menjadi bayang-bayang Reva.


Saat ini Reva butuh bantuan, dia sekarang tidak sekuat dan setegar dulu. Predikat wanita hebat itu mulai terkikis dari kehidupannya.


"Jujur, kalau mau egois aku senang dia sekarang seperti itu. Dengan itu, aku akan mudah mendekatinya.


Tetapi aku malah sakit dan menderita melihatnya begitu, seolah apa yang dia rasakan aku pun bisa merasakannya. Aneh 'kan? Aneh tentunya.


Aku tak pernah dekat dengan wanita manapun dan tak pernah mau dekat dengan siapapun, kalian tahu benar sikapku begitu.


Entah mengapa, semenjak dua tahun lalu aku mengenalnya... Aku sudah jatuh cinta padanya, terlihat puitis tapi ini tragis. Aku mengejarnya seperti orang gila, dan berkali-kali ditolak.


Dan sekarang, aku bak dewa penolong baginya. Bangga? Seharusnya iya, tapi aku tidak merasa begitu.


Guys, aku ternyata sudah gila, gila beneran olehnya. Aku berniat tulus ingin membantunya, keluar dari semua masalahnya. Ingin lihat dia tersenyum ceria lagi, tak mengapa dia menolakku lagi yang penting dia kembali seperti dulu lagi.

__ADS_1


Wanita hebat, wanita kuat yang selalu ada untuk adik-adiknya. Wanita mandiri yang tak bergantung dengan orang tua meskipun mereka kaya raya.


Ah, shitt! Aku benar-benar sudah gila, aku tak bisa melupakannya. Aku jatuh cinta..."


Ucapan Nico membuat kedua sahabatnya tertegun, setelah belasan tahun, baru kali ini dia mengatakan perasaannya kepada seorang wanita.


Mereka penasaran wanita seperti apa yang dicintai oleh sahabatnya itu? Setiap kali ditanya tipe wanita bagaimana yang dia suka sukai, jawabnya selalu tidak ada.


"Memang nasibnya sungguh menyedihkan, kami jadi ingin bertemu dan mengenalnya. Boleh 'kan Nic?


Ini sebagai bentuk formalitas saja antara kuasa hukum dan kliennya. Ya gak Rob?" tanya William kepada Robin.


"Iya benar itu, setidaknya kami juga harus mendengarkan langsung cerita darinya dan keinginannya itu apa. Agar kita bisa menyusun rencana nantinya seperti apa," sahut Robin.


Nico diam dia terlihat gelisah, dia menatap kedua sahabatnya itu dengan tatapan serius dan datar. Sedangkan keduanya menunggu jawaban dari Nico.


"Masalahnya... Aku gak kasih tahu dia tentang semua rencanaku ini kepadanya" katanya pelan sambil menunduk.


"Apaaa?!! Nicoo!" Teriak para sahabatnya itu.


Mereka heran dengannya, pria gagah berwajah tampan, wajah yang begitu maskulin dengan sedikit jambang dan kumis tipis itu, mempunyai karismatik yang bisa menaklukkan hati wanita apapun.


Sikapnya yang dingin dan cuek itu tidak membuat para wanita menjauh dengannya, malah para wanita itu suka tipikal pria badboy sepertinya.


Hanya Reva lah yang bisa menaklukkan hatinya, tapi saking bucinnya nih orang sampe melakukan semua hal untuknya.


Dan, sekarang malah bertindak gegabah mengambil keputusan secara sepihak tanpa persetujuan yang bersangkutan mengenai kasusnya itu.


Tapi Nico melakukan semua itu bukan tanpa alasan, dia tidak ingin Reva kalah telak di pemilihan itu. Makanya dia nekad melakukan rencananya ini.


"Kok bisa senekat itu kau?! Kau tahu 'kan, kau bisa kena pasal berapa bila rencana ini ketahuan.


Dan satu lagi, reputasi kami juga bisa terancam olehmu. Sorry Bro, bukannya gak mau bantu tapi ini hukumannya berat.


Kau bisa dituntut dengan pasal penipuan dan penyalahgunaan kuasa, berat coy!" Ujar William gusar dengannya.


"Aku tahu, makanya aku menyiapkan rencana pendamping lainnya. Tetap kita jalankan rencana awalnya, setelah itu kita juga gunakan rencana selanjutnya." Jawab Nico.


"Apa rencana pendampingmu itu?" Tanya Robin yang sedari tadi hanya menyimak.


"Kita temui adiknya Reva, Rendy. Selain Reva, dia juga ahli waris yang sah dia juga bisa menjadi perwakilan Reva dan adiknya itu.


Jadi, kita tidak akan kena pasal atau hukuman apapun. Karena di sana tidak ada unsur tindak pidana penipuan.


Yang jelas, kita jujur dan bicarakan semua kasus dan rencana kita. Tapi satu hal yang aku minta pada kalian, jangan bahas Reva didepannya.


Bisa gagal nanti rencana kita," jawab Nico.


Mereka mengangguk mengerti, dan bergegas menuju rumahnya Rendy. Mereka sudah menyiapkan semuanya, berharap Rendy setuju dengan tidak terlalu banyak pertanyaan.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2