Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Pilihan Sulit


__ADS_3

"Halo, halo! Reva?!" teriak Stefan, dia panik mengetahui sesuatu yang ganjil terhadap temannya itu.


Dia tahu Reva dalam bahaya, berapa kali dia mencoba menghubungi Reva tetap tak ada jawaban malah yang terakhir Hpnya gak aktif.


"Nico, aku tahu ada yang tak beres dengan anak itu. Ternyata rumor itu benar adanya, bahwa dia adalah mafia kejam.


Pasti dia menculik Reva karena marah cintanya ditolak, dasar brengs*k! Aku harus menghubungi Rendy" ujar Stefan geram.


Dia menghubungi Rendy tapi telponnya tak diangkat, mungkin dia sibuk pikir Stefan. Dia memutuskan menghubungi Rendy setelah makan siang saja.


Saat dia ingin masuk ke ruang kantornya, tempat dia bekerja sebagai owner cafe itu dia tak sengaja mendengar percakapan Julia dengan seorang pria. Pria yang dia yakini selalu mengintai Julia.


"A-apa maksudmu? Aku melukai Ericka?! Itu tidak benar, kami berteman baik dan bahkan Ericka yang mau membantuku kenapa harus aku lukai?!" teriak Julia, tidak terima disudutkan.


"Aku tidak menuduhmu melukai nona Ericka, kenapa kau berpikir bahwa aku menuduhmu? Melihat ekspresimu ada dua kemungkinan, satu merasa bersalah, dua bersalah atas tuduhan tersebut" ujar pria itu tersenyum sinis.


"Sama saja, kau menuduhku atas semua itu! Apa buktinya jika aku melukainya?!" bentak Julia.


"Haha! Ini nih, letak kesalahan pemula selalu bersikap sombong seolah kejahatannya rapi dan tak berjejak.


Asal kau tahu, Nona. Setiap kejahatan selalu meninggalkan jejak sengaja ataupun tak sengaja, kau tahu bahwa rumah itu memiliki keamanan super ketat?


Cctv ada dimana-mana kami bisa langsung mengenali wajahmu meskipun kau memakai jas hujan ditambah topi dan masker, itu tak bisa menghalangi pandangan dan analisa wajahmu, Nona." Ujar pria itu menyeringai.


Julia nampak ketakutan karena pria itu tidak main-main lagi, apa yang dia katakan memang benar adanya.


Saat dia pulang pun dia sempat melihat ada beberapa pengawal yang berjaga dan berpatroli di area rumah Ericka, karena gugup dan ketakutan dia melempar pisau lipatnya kearah taman samping rumah itu.


"Dan kau tahu, Nona. Bahkan ada saksi yang melihatmu melemparkan senjata tajam yang kau gunakan untuk melukai nona Ericka" ujar pria itu setengah berbisik.


Julia terduduk lesu mendengar penuturan pria itu, dia tidak tahu harus berbuat apalagi karena dia benar-benar telah terpojokan. Tidak ada alasan lagi dia mengelak, semua saksi dan alat bukti telah ditemukan.


"Jika kau tidak ingin dipenjara, ikuti saja perintahku. Bagaimana, setuju?" pinta pria itu tadi memberi sebuah penawaran ke Julia.


"Aku tak ingin dipenjara, orang tuaku sudah kesulitan dalam hal ekonomi. Aku tak ingin membebani mereka.


Saat ini mereka di kampung halamannya, jangan ganggu ketenangan mereka. Aku janji akan melakukan apapun asalkan jangan dipenjara ataupun membuat orang tuaku malu dan kesusahan" ujar Julia terisak tangis.


Dia benar-benar merasa putus asa, dia ketakutan dan tidak ingin menambah kesulitan lagi baginya. Pria asing itu tersenyum puas karena berhasil menjebak buruannya.


"Temui aku besok disebuah pub diujung jalan ini, kau tahu 'kan tempatnya?! Pukul 8 malam, jangan telat dan datang sendiri. Mengerti?!" ujar pria itu memberi perintah.


Julia mengangguk cepat, dia langsung berlari masuk kedalam cafe dan bekerja seperti biasa. Sedangkan pria asing tadi pergi meninggalkan cafe itu.


"Jadi, Julia menyerang Ericka adiknya Reva? Aku baru tahu kejadian ini, apakah Reva tahu tentang semua ini?


Akh! Kejadian ini semakin sulit saja, untungnya aku sudah merekam pembicaraan mereka tadi. Jadi bisa dijadikan bahan bukti nantinya" ujar Stefan nampak serius sekali.


Setelah itu dia nampak sedang menelpon seseorang, dia begitu serius sekali ditelpon itu.


Sementara itu pria asing tadi menelpon Elena dan mengatakan rencana mereka berhasil untuk menjebak Julia, tinggal menunggu waktu besok malam saja.


Apa yang dikatakan oleh pria itu memang benar adanya, kecuali soal saksi itu. Mereka memang melihat dari layar Cctv kalau Julia melemparkan sesuatu kedalam taman samping rumah itu, tapi mereka tak melihat ada orang lain yang melihatnya.

__ADS_1


Sebenarnya Cctv sudah diamankan oleh pak Johan atas perintah pak Dewantoro, dia tidak ingin orang-orangnya celaka lagi entah dari Elena ataupun orang lain.


Sehingga mereka mengaburkan Cctv dari arah kamar bi Mirna dan arah taman samping rumah itu, jadi siapapun yang melihat Cctv tidak akan pernah tahu bahwa itu sudah di setting ulang.


*


Di kantor Rendy, dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Hari semakin sore, dan dia masih berkutat dengan laptopnya.


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu diketuk dari luar, Andriana masuk ke ruangannya. Gadis cantik memiliki postur tubuh yang proporsional dan berkulit putih itu, menghampirinya dengan sebuah berkas.


"Ini adalah jadwal Bapak selama satu minggu ini, termasuk jadwal wisuda dan kelulusan nanti.


Mau saya siapkan untuk keperluan lainnya, Pak?" tanya Andriana sopan, dia sekarang bekerja sebagai sekretarisnya Rendy.


"Tidak, terima kasih" jawab Rendy masih dengan tatapannya fokus ke layar laptopnya.


"Baik, kalau begitu saya permisi" kata Andriana.


"Hem..." Rendy hanya menjawab dengan anggukan.


"Pak, kalau tidak ada keperluan lainnya boleh saya izin pulang duluan?" ujar Andriana.


"Pulang saja, ini juga waktunya kau pulang juga 'kan?!" tanya Rendy sekilas melihatnya.


"Baik, Pak. Terima kasih" ujar Andriana sumringah.


Biasanya kalau dia masih menjadi asistennya Pramudya, dia tidak pernah diizinkan pulang awal. Setiap hari lembur terus, padahal tidak ada kerjaan penting lainnya.


Bukan cemburu tapi lebih ke jijik dan muak dengan mereka, dia sama sekali tidak dianggap dan selalu diremehkan.


Berbeda dengan Rendy, dia tidak pernah kerja sampai larut apalagi lembur setiap hari. Bahkan dia sangat menghargai Andriana, jika menyuruh melakukan sesuatu dia selalu memintanya dengan sopan.


Andriana senang karena dia merasa sangat dihargai, makanya setiap hari dia bekerja nampak berseri-seri membuat para karyawan lainnya heran dengannya.


"Gak lembur lagi?" tanya salah satu karyawan kepadanya.


"Gak dong, bos aku yang ini baik banget dia sangat mengerti karyawannya. Jadi gak nyusahin terus" ujar Andriana dengan senyuman manisnya.


Teman-temannya yang mengangguk setuju, Rendy memang baik sekali tanpa memandang siapa yang dia ajak bicara. Dia menganggap semua karyawannya sama tanpa memandang status mereka.


"Masa' sih, kok dengan aku dia ngomongnya ketus?!" terdengar suara yang mendekati mereka.


"Itu karena dia tahu sedang berbicara dengan siapa" jawab Andriana ketika tahu yang berbicara tadi siapa.


Nancy, sekertaris Pramudya yang cantik dan seksi itu mendekati mereka. Pakaiannya yang selalu ketat, memakai blazer dengan warna senada dengan roknya yang kekecilan itu.


Membiarkan kemeja bajunya tidak terkancing diatasnya memperlihatkan dadanya yang membusung itu.


"Apa maksudmu, menurutmu aku tak pantas berdiri di sampingnya?" ujar Nancy tanpa basa-basi.


Semua orang melengos mendengar perkataannya, wanita ini benar-benar tidak tahu diri sekali. Sudah deket dengan Pramudya masih saja mau mendekati Rendy.

__ADS_1


"Kau tahu, dari semua karyawan dan bahkan sekretaris di perusahaan ini tidak ada yang lebih berpengalaman dari aku. Aku yakin dia tidak akan menolak pesonaku.


Dan kau asisten kecil, jangan berlagak mentang-mentang sudah diangkat menjadi sekretaris seorang bos besar. Karena apa? Karena sebentar lagi aku akan menggantikanmu, haha!" ucapnya penuh percaya diri.


"Maaf ya, Ibu sekertaris berpengalaman banyak. Tapi disini saya yang sekretarisnya, jika anda tidak ada pekerjaan lain silakan kembali ke ruangan anda" ujar Andriana sedikit memaksakan senyumnya.


Dia malas menanggapi wanita ini, yang ada dia tidak bisa menahan emosinya. Karyawan yang lain juga nampak sudah bersiap-siap pulang.


"Kau mengusirku? Heh, terserah aku dong mau kemana saja. Aku ini sudah berpengalaman karena-" dia tersentak kaget terdengar suara pintu dibuka kasar.


Brak!


"Berpengalaman karena sudah tua, berisik banget sih! Mau kerja jadi gak bisa, kau ngapain disini? Jika hanya ingin mengganggu karyawanku, silakan pergi" ujar Rendy menatap tajam kearahnya, tatapan itu begitu dingin.


Nancy terdiam, dia bingung harus bersikap bagaimana karena lelaki didepannya ini begitu dingin dan kata-katanya begitu kejam.


Badannya gemetar dengan keringat dingin membasahi tubuhnya, baru kali ini dia dipermalukan seperti ini didepan orang banyak.


Dia langsung berlalu pergi meninggalkan mereka semua, semua yang ada di sana menahan tawa ketika dia dikatakan tua oleh rendy.


Tidak ada yang salah, memang faktanya Nancy memang sudah terlalu tua untuk dijadikan sekretaris muda. Usianya memang belum mencapai 40 tahun, tapi disandingkan dengan sekretaris yang lain dia termasuk yang paling tua, meskipun itu dia pandai menjaga dan merawat tubuhnya.


Dia masih nampak muda, cantik dan seksi. Tidak heran jika masih banyak pria muda yang tergoda olehnya, termasuk juga dengan Pramudya.


----++++----


Malam harinya, saat Rendy mau pulang setelah lembur kerja sendirian. Dia melihat seseorang menunggunya didepan apartemennya.


Dia nampak asing dengan pria itu, tapi ketika pria itu melihatnya dia teringat dengan perkataan Reva kakaknya bahwa hanya orang-orang terdekatnya yang tahu apartemennya.


Apakah termasuk pria ini juga yang terdekat dengan kakaknya itu?


"Apakah kau Rendy, adiknya Reva?" ujar pria itu, dia Stefan yang langsung menemuinya di apartemennya.


"Iya, kau siapa?" tanya Rendy masih dengan penasaran dengannya.


"Aku Stefan, teman baik kakakmu. Aku datang ingin mengatakan sesuatu kepadamu, jujur saja aku tidak tahu harus memulai darimana.


Karena berita atau kabar yang akan aku sampaikan tidak ada yang menyenangkan" ujar Stefan menelan salivanya.


Berat baginya, tapi mau tidak mau dia harus menyampaikannya kepada Rendy apapun yang terjadi.


"Katakan saja apa tujuanmu kemari" ujar Rendy sambil membuka pintu apartemennya.


"Masuklah, lebih baik kalau bercerita sambil duduk dan beristirahat sebentar" ujar Rendy kepada Stefan.


Stefan merasa tak enak juga dengannya, malam-malam harus bertamu dengannya tapi dia sudah tak punya waktu lagi.


"Rendy, diantara mereka... Siapa yang akan kau pilih, Reva atau Ericka?" katanya memberi pertanyaan sulit kepada Rendy.


"Apa maksudmu?" jawab Rendy mengernyitkan keningnya.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2