Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Berita Duka Datang Tak Diduga


__ADS_3

William menuju rumah kediaman Nico Abraham sahabatnya, dia menemui kepala pelayan, tapi kata kepala pelayan Nico dan Reva saat ini berada di rumah keluarga Wijaya, menemani Ericka yang masih sakit.


"Dasar tuh anak, kenapa gak beritahu aku tadi!" ucap William ngedumel.


Dia keluar dari rumah Nico dan bersiap pergi dari sana, tapi dia melihat ada sesuatu yang mencurigakan dari luar rumah Nico, ada mobil SUV hitam yang terparkir tak jauh dari rumah itu.


Dia juga melihat ada beberapa orang yang mencurigakan memperhatikan rumah Nico, ada satu orang yang dia kenali, dia adalah Arlon anaknya om Seno dan tante Sarah.


"Tidak aku sangka dia bergerak cepat juga, pasti oma dan opa sudah tak sabaran lagi menunggu ini semua, yah.. Mengingat usia mereka sudah sepuh, wajar saja mereka begitu, karena merasa tak punya waktu lagi.


Tapi gak begini juga caranya, sebaiknya mereka gunakan waktu yang tak lama itu untuk bertobat dan memperbaiki diri, ini mah makin tua makin jadi aja kelakuannya, huft!" gumam William kesal.


Dia merekam kegiatan mereka itu, dia close up muka Arlon lebih dekat untuk membuktikan lebih jelas lagi kelakuannya bersama yang lainnya.


Setelah merekam dan mengambil beberapa foto, William mengabari Nico tentang kejadian itu, dan Nico segera menelepon orang-orang dirumahnya untuk memperketat penjagaan rumahnya.


Melihat keadaan rumah Nico dijaga oleh beberapa pengawalnya, orang-orang yang ada diluar rumah itu mulai gelisah, setelah sekian lama akhirnya mereka pergi dengan raut muka kecewa.


"Haha! Emang enak, dasar penguntit!" ucapnya sambil terkekeh melihat mereka pergi begitu saja.


Setelah itu diapun pergi ke rumah keluarga Wijaya, saat diperjalanan dia sempat melihat mobil Arlon dan beberapa orangnya tadi berhenti sebentar dibahu jalan, dia melihat Arlon begitu kesal dibuatnya.


"Itulah ganjarannya, jika suka menguntit dan mencelakai orang, akhirnya tidak semua keinginanmu itu terlaksana kan? Aku harap kau tak melakukan hal itu lagi.


Kalian berhak hidup lebih baik daripada ini, dan aku harap kalian segera menyadari ini semua, sebelum terlambat," gumamnya lagi.


.


.


William sudah sampai di sana, dia terkejut tiba-tiba saja di rumah itu begitu ramai, ada banyak orang yang ada di sana, sebagian besar tamu yang datang memakai pakaian serba hitam, dia juga melihat bendera kuning didepan pagar rumah.


Jantungnya berdetak cepat, pikirannya berkecamuk, dia tahu sedang menghadapi situasi apa saat ini, hanya saja satu pertanyaan yang masih membuatnya bingung.


"Siapa yang meninggal?" gumamnya khawatir.


Karena saat ini pak Dewantoro, Rendy maupun Ericka yang dia ketahui sedang sakit saat ini, dia mempercepat langkahnya. Belum ada jenazah didalam rumah duka, hanya beberapa orang yang tidak dia kenal didalam sana.


"Nico!" sapanya saat melihat Nico begitu sibuk melayani beberapa pelayat yang ada di sana.


"Hei, William! Untunglah kau segera datang, ayo sini! Bantu aku.." ucap lelaki itu terlihat begitu sibuk.


"Siapa yang meninggal? Jangan bilang kalau itu--" sebelum dia melanjutkan ucapannya, sudah dipotong ucapannya oleh Nico.


"Pak Dewantoro berpulang siang tadi, bantu aku mengurus makam ayah mertuaku.." ucap Nico pelan.

__ADS_1


"Apa?! Innalilahi.." gumam William syok mendengar kabar itu.


"Bagaimana dengan Reva dan lainnya?" tanyanya lagi.


"Reva pingsan, dia belum sadarkan diri didalam kamar Ericka, Rendy memaksa untuk pulang, entah ini kebetulan atau tidak, saat kami mendapatkan kabar kalau Rendy sudah siuman, kami juga mendapat kabar jika ayah mertuaku sudah meninggal..


Aku gak tau harus berbuat apa, aku pusing! Aku belum pernah menghadapi situasi seperti ini, saat mendiang ayahku juga kakek meninggal, aku tak pernah sekalut ini.." ucap Nico sambil mengusap wajahnya lelah.


"Mungkin saja kau syok, sama dengan yang lainnya. Karena kau adalah menantu tertua di rumah ini, kau merasa berkewajiban untuk menyiapkan semuanya meskipun begitu banyak orang yang bisa membantu, tapi kau bersikeras ingin mengerjakan semuanya, iya kan?!" tanya William menanyakan tebakannya.


"Iya, kau benar. Aku tak tahu harus bagaimana, Reva pingsan untung saja ada Andriana datang membantu mengurusnya, sedangkan Rendy nekat pulang padahal dirinya baru siuman, huft..


Terpaksa kami memboyong dokter dan perawat untuk datang ke rumah mengurus keadaan Rendy selama di rumah, saat ini anak itu ada di kamarnya, aku gak tau apa yang ada didalam pikirannya saat ini, dia hanya diam saja, mata gak bisa bohong, air matanya terus mengalir tiada henti" ucap Nico menjelaskan semuanya kepada William.


"Bagaimana dengan Ericka?" tanya William penasaran.


"Kau lihat saja sendiri.." ucap Nico berjalan mengajaknya ke kamar adik iparnya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuklah.." terdengar suara dari dalam kamar.


Sedangkan Jessy dan Stanley hanya memperhatikan gadis itu dengan pandangan iba, kasihan. Mereka tak melihat Reva maupun Andriana didalam sana.


"Dimana Reva?" tanya Nico.


"Dia sudah sadar, dia ingin menemui adiknya Rendy ditemani oleh wanita itu tadi" jawab Jessy, yang dimaksudnya tadi itu Andriana.


"Baiklah, terima kasih masih berada disini. Ericka, kamu yang sabar yah.. Sebentar lagi jenazah ayah akan sampai, kamu kalau sudah baikkan boleh turun melihat ayah untuk terakhir kalinya.." ucap Nico.


Tiba-tiba saja Ericka menjerit histeris, menangis sesenggukan, air mata yang dia tahan dari tadi akhirnya tumpah juga, entah karena dia mendengar ucapan dari Nico atau mungkin dia sudah tak tahan menahan sakit dan pilunya hati yang dia tahan dari tadi.


"Ayah! Kenapa ayah begitu tega pergi begitu saja tanpa mengakui aku dulu sebagai anakmu?! Kenapa kau pergi sebelum meminta maaf padaku?! Kenapa kau pergi sebelum bertobat?!!


Kenapa,?! Kenapa?! Aku takkan memaafkanmu meskipun kau sudah tiada, aku takkan melupakan semua yang kau lakukan padaku! Takkan pernah! Aakhh!" teriaknya histeris.


Sepertinya dia tidak bisa menerima kematian sang ayah begitu saja, sepertinya keinginannya belum terwujud disaat ayah sudah pergi, dia merasa tak adil baginya, lelaki tua itu begitu mudahnya mengakhiri hidupnya, setelah dia telah membuat istri dan anak-anaknya menderita bertahun-tahun lamanya.


"Ericka, sayang... Hei, tenanglah! Kamu harus fokus, pikirkan keadaan kakak-kakakmu.. Mereka juga sangat menderita, mereka juga sangat kecewa dengan semua ini.


Aku minta kau untuk bersabar dan menerima semua ini, kita mulai awal lagi yah.. Lupakan semuanya, ayahmu mungkin saat ini sudah bertemu dengan mendiang ibumu di surga, mungkin dia sudah meminta maaf kepadanya.

__ADS_1


Jika ibumu dan Tuhan sudah memaafkan, apalah kita yang manusia biasa ini, jangan jadikan ini semua menjadi dendam tak berkesudahan, aku takut kau akan membuat dirimu sendiri menderita dan celaka.


Kamu mengerti kan maksudku? Aku mengatakan ini semua karena aku sayang padamu.. Karena aku tak ingin kau kecewa nantinya, kau sakit.. Karena itu juga akan menyakiti hatiku.." ucap Aaron mencoba menenangkan Ericka.


"Ta-tapi aku... Hiks!" Ericka merebahkan kepalanya di bahu Aaron.


"Sudahlah, tak apa.. Awalnya semua begitu, tapi lambat laun semuanya menghilang seiring berjalannya waktu" ucap Aaron lagi.


Ada kelegaan dihati Nico ada Aaron di samping Ericka saat ini, setidaknya anak itu bisa membantunya menenangkan Ericka.


"Ayo kita pergi.." bisik Nico ke William.


Mereka menuju kamar Rendy saat ini, kamar itu berubah menjadi kamar rawat inap pribadinya, selang infus masih terpasang di pergelangan tangannya, dan bagian tubuhnya yang terluka masih diperban, selang oksigen juga masih terpasang.


"Reva.." panggil Nico pelan.


Reva melihat Nico dan langsung menghampiri suaminya dan memeluknya, dia kembali menangis dan Nico berusaha menenangkannya.


"Sabar ya sayang, kamu harus kuat. Kita harus memikirkan keadaan adik-adik dan bayi kita juga, jika kamu rapuh bagaimana dengan mereka? Aku butuh kamu untuk semua ini, karena bagiku kamu adalah penguatku..


Jika kamu begini, bagaimana denganku? Kamu mengerti kan maksudku, karena aku peduli dan sayang kalian semuanya.." ucap Nico pelan.


Berlahan Reva menghentikan tangisnya dan berusaha menenangkan dirinya, dia menatap sendu kearah suaminya, seakan baru menyadarinya dia kembali memeluk sang suami.


"Maafkan aku, Mas.. Ini terlalu mendadak, aku belum siap. Adik-adikku semuanya sakit, dan tiba-tiba mendapatkan kabar ayah meninggal, ini benar-benar therapist syok buatku..


Bahkan aku, hiks! Kita belum memberitahunya tentang kehamilanku, aku menyesal tidak menemuinya saat mas Bram menghubungiku, bahkan aku mengatakan hal buruk tentangnya. Hiks!


Aku pikir aku akan baik-baik saja jika memang Ayah akan pergi untuk selamanya, mengingat apa yang dia lakukan selama ini, tapi... Kok sakit rasanya, aku benci perasaan ini, kenapa aku sesedih ini.." ucapnya sambil terisak.


"Sudah tak apa, itu hal yang wajar jika kau menangis, karena dia juga ayahmu meskipun kau sangat membencinya. Sudah yah, kamu disini saja bersama Rendy dan Andriana..


Aku akan melihat Ericka lagi, kira-kira dia sudah kuat belum untuk turun, setidaknya satu dari kalian ada yang menyambut jenazah ayah.." ucap Nico lagi.


"Biar aku saja.." ujar Reva.


"Tidak, kau disini saja. Ingat kau sedang hamil, dan kandunganmu itu masih sangat muda dan rawan, kamu gak boleh kecapekan, ingat anak kita!" ucap Nico mengingatkan.


"Baiklah.." sahut Reva pelan.


Dia kembali duduk disamping Rendy, adik lelakinya itu tertidur setelah lelah menangis. Sedangkan Nico dan William menemui Ericka lagi, untuk bersama menyambut jenazah ayah mereka.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


Maaf yah, up nya malam.. Tadi ada trouble di internetnya 🙏🙏


__ADS_2