Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Rencana Elena


__ADS_3

Reva dan Nico terkejut saat mendapat sambutan meriah dari kedua sahabatnya dan juga para pelayan yang sudah berbaris menunggu mereka.


"Apa-apaan ini? Ada yang ulang tahun?!" tanya Nico kesal, dia paling tidak suka dengan perayaan semacam ini.


"Yang ulang tahun gak ada, tapi apa salahnya ya 'kan kalau kita merayakan sesuatu yang besar" ujar William dengan sumringahnya.


"Sesuatu yang besar, apalagi ini Nico?" tanya Reva dingin kepadanya.


Nico menghela nafas, dia melirik sahabatnya itu. William sadar telah melakukan kesalahan dia buru-buru pergi sebelum Nico menghajarnya.


"Sebenarnya tujuanku tadi ke kamarmu untuk menyampaikan berita gembira padamu, tapi aku lupa karena terlalu fokus sama kamu" ujarnya tersenyum manis menggoda Reva.


"O ya, apa itu? Pasti sesuatu yang besar tadi 'kan yang dikatakan William," sahut Reva penasaran.


Dia menghiraukan godaanya, dia lebih fokus dengan apa yang dikatakan oleh William tadi. Kali ini dia harus fokus, soal perasaan nanti saja.


"Kita memenangkan atas kasus gugatan itu, Reva. Dan kita juga menaikan kasus korupsi yang dilakukan ibu tirimu itu, bagaimanapun juga dia harus dihukum atas tindakan curangnya." Kata Nico.


"Iya, kali ini kami akan berunding kepadamu. Semuanya kami serahkan kepadamu, bagaimana keputusanmu.


Tapi, Rendy telah memutuskan akan terus menuntutnya. Bagaimana denganmu?" ujar Robin ikut menimpali mereka.


"Apa Rendy juga ikut di persidangan itu?" tanya Reva.


"Iya, itu benar. Malah dia yang paling bersemangat, aku dengar dia juga mulai dekat dengan adiknya" sahut Nico.


"Ericka ... Apa kabarnya sekarang?" tanyanya pelan.


"Terakhir kami ketahui, bahwa dia masih aman di rumah itu. Tapi ada sesuatu yang aneh, Rendy tadi mendapat kabar mengejutkan dari pengawal ayahmu.


Tapi kami tidak tahu apa itu, mungkin sesuatu yang besar lagi. Dia nampak begitu marah pada ibu tirimu itu" ucap Nico lagi.


Reva terdiam, dia penasaran apa saja yang terjadi di rumah itu selama ini. Dia sudah lama tak mendengar kabar apapun.


"Nico, kembalikan Hpku" pintanya.


"Buat apa?" tanya Nico.


Reva merasa aneh dengan sikapnya, kenapa dia menanyakan sesuatu yang tak penting. Dia hanya menginginkan Hpnya, bukankah itu haknya?


"Kenapa kau tanyakan itu? Itu Hpku, dan sudah lama kau simpan. Cepat kembalikan, aku ingin menghubungi orang rumah" ujar Reva sambil mengulurkan tangannya.


Nico meninggalkan mereka, masuk keruang kerjanya dan mengambil sesuatu dibawah laci lemarinya.


Dia memberikan sebuah kotak ke Reva, dan Reva langsung membukanya. Tentu saja itu Hpnya.


"Kenapa kau harus menyita Hpku? Aku bukan tahananmu" ujar Reva mulai ketus lagi dengannya.


Nico bingung menghadapi sikap Reva yang mudah sekali berubah, benar-benar tipikal gadis yang gampang berubah situasi hatinya.


Reva tidak mudah gampang percaya omongan orang begitu saja, meskipun itu orang terdekatnya sekalipun.


Sepertinya Nico harus mencari tahu lebih banyak lagi tentang Reva dan lebih bersabar lagi menghadapinya.


Beberapa kali dia menelpon Ericka, tapi telponnya tidak pernah diangkat. Naluri hati seorang kakak berkata ada yang tak beres dengan adiknya itu.

__ADS_1


"Nico, aku harus kembali ke kota. Sekarang juga" katanya dingin.


"Ada apa, Reva? Bisa gak kita nunggu besok saja, ini sudah sore sebentar lagi gelap" ujar Nico heran dengannya.


"Apa kalian akan menginap disini atau pulang?" tanya Reva kepada William dan Robin.


Dia sama sekali tak menanggapi Nico, dia mengabaikan perkataannya tadi karena dia tahu Nico tidak akan mengizinkannya pulang.


"Tentu saja pulang, kerjaan kami masih begitu banyak" jawab William.


"Kalau begitu aku akan ikut dengan kalian, antarkan saja sampai depan gerbang masuk ke kota, setelah itu aku bisa naik taksi" katanya mengabaikan reaksi Nico.


"Reva, tolonglah. Jangan kayak gini, besok Rendy akan kesini kamu boleh pulang bersamanya" ujar Nico lagi.


"Kalau begitu, hubungi dia untuk menjemputku" ujar Reva dingin.


Nico mengacak-acak rambutnya dengan kasar, dia bingung bagaimana cara menghadapi gadis ini. Sekarang Reva lagi bad Mood.


*


Ditempat lain, kantor besar milik Wijaya group. Salah satu gedung tertinggi di ibukota, gedung perkantoran dan komersil dan merupakan bagian dari terbesar di kotanya.


"Ayah..." ujar Rendy menghadapi ayahnya di kantor besar itu.


Posisi pak Dewantoro sedang menatap jendela kaca gedung itu, dia sedang menikmati sunset di sore hari. Begitu menenangkan.


"Duduklah..." ujarnya menatap Rendy.


Rendy menuruti kemauan ayahnya itu, dia memilih duduk berhadapan dengan ayah sekaligus atasannya itu.


Setelah itu kau akan diangkat secara resmi menjadi direktur di perusahaan ini, aku akan melupakan semua kejadian di rumah. Dan kembalilah ke rumah..." ujar pak Dewantoro pelan.


Seperti menelan pil pahit, dia harus mengatakan hal itu setelah dia mengusirnya. Dia tidak ingin kehilangan lagi, dia tidak ingin sendirian di masa tuanya nanti.


"Baiklah, aku akan mencoba profesional. Aku akan datang bekerja seperti biasanya, tapi aku tak bisa kembali lagi ke rumah itu. Maaf...


Terlalu sakit jika kembali lagi, sudah tidak ada lagi yang aku pertahankan di rumah itu. Kakakku, adikku dan ibuku sudah tak ada.


Jadi buat apa aku kembali jika hanya dipermalukan saja," katanya menyudahi pembicaraan itu.


Dia ingin keluar tetapi dihalangi oleh pak Johan, beliau mengisyaratkan tetap disini sementara waktu.


"Rendy, aku sudah dengar semuanya. Kau menyalahkan Elena atas hilangnya adikmu itu, kenapa? Apa Pak Johan mengatakannya begitu?" tanya pak Dewantoro menatap tajam kearah pengawalnya.


"Tidak! Pak Johan tak berkata apapun tentang Elena, aku hanya menebaknya saja. Siapa lagi coba yang bisa melakukan sesuatu yang jahat kecuali dirinya!" teriak Rendy.


Dia tidak ingin pak Johan juga jadi imbasnya atas kelicikan Elena, dan apa yang dikatakannya itu benar adanya. Elena begitu jahat dan Licik.


"Aku sudah katakan padamu, untuk tidak mengatakan hal ini kepada mereka. Kenapa kau katakan, heh?!" teriak pak Dewantoro kepada pak Johan.


Dia tidak menghiraukan perkataan Rendy tadi, malah memarahi pak Johan. Itu semakin membuat Rendy marah dan kesal.


"Pak Dewantoro, jangan limpahkan kesalahan anda kepada orang lain. Hanya karena anda punya kuasa bukan berarti anda bisa sewenang-wenang kepada bawahan anda" ujarnya berlalu pergi.


Pak Dewantoro menghela nafasnya dengan berat, kenapa anak-anaknya begitu pembangkangan? Pikirnya.

__ADS_1


**


Sementara itu, dirumah sakit.


Elena setelah dari persidangan dia tidak langsung ke rumah atau ke kantornya, dia langsung ke rumah sakit tempat Ericka dia sembunyikan.


"Bagaimana, Dok? Bisa?" katanya langsung kepada dokter yang merawat Ericka.


"Bisa, Nyonya... Besok pagi kita akan melakukan operasinya" kata dokter itu.


Elena nampak tersenyum puas, dia tidak sabar ingin membawa Ericka pergi. Dia sudah tak memiliki apa-apa lagi kecuali agensi dan sekolah modeling nya.


Dia juga mulai meragukan suaminya, karena melihat pak Johan berada di pihak Rendy maka dia berpikir suaminya pun begitu.


sudah beberapa hari ini dia dihubungi orang-orangnya mr. Robert, dia tidak ingin mereka mendatanginya.


Jadi, sebelum mereka datang maka dia akan datang duluan ke mereka dan membuat kesepakatan baru dengannya.


Elena menatap Ericka yang sedang berbaring di kasurnya, dia masuk keruangan itu dan menatap seluruh tubuh Ericka.


"Bangunlah, aku ingin bicara kepadamu!" ketusnya.


"I-Ibu, ada apa?" ujar Ericka takut padanya.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, apakah kau mau pergi ke London?" tanya Elena.


'London, kenapa? Apa aku akan berkuliah di sana?" katanya berharap sesuatu yang tak mungkin.


"Iya, makanya sebelum kau pergi wajahmu itu akan di operasi, kalau tidak semua orang akan menjauhimu karena takut melihat wajahmu" ucap ibu tirinya itu.


"Ba-baiklah..." ujar Ericka menundukkan wajahnya.


Baginya sama saja, cantik tidak cantik dirinya akan tetap di bully dan dihina oleh semua orang. Di kepalanya sudah tertanam bahwa semua orang membencinya.


"Kau tahu, Ericka... Semua orang sudah mulai lelah denganmu, karena mengurusmu itu melelahkan.


Coba kau bayangkan, saat kau terbaring disini tak satupun mereka datang. Reva pergi karenamu, dia membencimu karena kamu dia tak bisa hidup bebas.


Dari kecil harus mengurusmu, begitu juga dengan Rendy. Kakak lelakimu itu seumur hidupnya membencimu, itulah kenapa dia tak pernah menyapa atau berbicara padamu.


Kenapa dia baik padamu sekarang? Karena dia akan melepaskanmu selamanya, karena idenya lah kamu harus ke London" seringai Elena mengatakan kata-kata bohong itu dengan tenang.


Hati Ericka semakin remuk redam mendengar itu semuanya, dia semakin membenci dirinya dan mengutuk diri sendiri atas semua yang terjadi.


Dia menangis sesenggukan, Elena puas apa yang dia lakukan. Dia merasa itu sudah cukup membuat gadis itu semakin terpuruk dan menjauh dengan saudara-saudaranya.


***


Malam itu, akhirnya Nico terpaksa mengantarkan Reva pulang ke kota. Gadis itu begitu keras kepala, dia tidak mau mendengarkan perkataan orang lain.


Saat mereka melesat di jalanan, ada sebuah mobil mengikuti mereka. Mobil itu mengikuti mereka semenjak mereka keluar dari pintu gerbang utama Villa itu.


......................


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2