
Sudah seminggu berlalu, rasa sakit sunatnya sudah sedikit berkurang meskipun masih ada rasa tak nyamannya. Aaron kemana-mana selalu memakai thawb, pakaian khas Timur Tengah yang biasanya dipakai para lelaki yang di sana, banyak yang salah mengira jika itu adalah daster.
"Kamu udah kayak orang Arab aja, Ron! tinggal tumbuhin tu jenggot sama kumis aja, haha!" goda Jessy sambil menatapnya lucu.
" Sudah gitu pakai sandal mulu kemana-mana, pakai jas sama kacamata! Udah kayak saudagar minyak dari Arab!" goda juga Stanley.
"Aku memakai ini biar lebih nyaman saja, sendal ini membuatku bisa bergerak lebih bebas dan aku malu ditatap semua orang seperti itu, jadi aku memakai kacamata ini!" balas Aaron kepada mereka berdua.
"Jadi kacamata hitam dan jas itu biar tak terlihat oleh orang jika kamu sedang menahan sakit dan menahan malu begitu, biar kelihatan lebih keren kah??" Jessy pura-pura tak tahu.
Aaron memilih meninggalkan keduanya daripada digoda terus, dia sudah bisa berjalan lancar meskipun terlihat sedikit hati-hati karena harus menjaga benda pusaka miliknya itu.
"Minggu depan kak Nico dan Reva akan mengadakan selamatan untukku, tapi sebelum itu aku harus melakukan syahadat dulu. Masih ada waktu seminggu lagi aku untuk belajar banyak tentang semua ini.." gumamnya sambil membaca buku panduan lengkap tata cara sholat.
Bahkan dia diam-diam ikut sholat jika ada asisten rumah tangganya ataupun anak buahnya yang beragama Islam, sedang menunaikan ibadah mereka.
Sedangkan Ericka sudah mulai bersiap melakukan semua persiapan untuk selametan sunatannya Azzam, dia nampak antusias sekali. Kali ini dia akan merayakannya di panti asuhan Kasih Bunda bersama anak-anak yang lain.
"Biarkan mereka semua merasakan kebahagiaan bersama, nanti kita data beberapa anak laki-laki yang siap disunat dan mau disunat segera, kalau semuanya sudah siap kita adakan saja sunatan massal untuk anak-anak panti ini.." ucap Ericka kepada pengurus yayasan yang baru.
"Baik, Bu. Nanti kami urus semuanya.. Untuk sekarang ini kita fokus dulu selametannya A' Azzam.." ucap kepala yayasan itu.
"Baik, saya tunggu laporannya yah.." ujar Ericka sambil tersenyum sumringah.
Setelah itu dia mendatangi rumah kakaknya, yaitu Reva dan Nico. Dia ingin mengundang mereka secara khusus, dia sengaja tidak ingin melibatkan mereka semua dalam acara ini, dia ingin menunjukkan jika dia bisa dan mampu menjaga Azzam.
"Aku pikir kau sudah tak membutuhkan kami lagi," goda Reva sambil menggendong baby R.
"Nggak lah, Kak.. Aku tidak ingin merepotkan kalian semua, aku tau semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Kak Rendy masih melakukan honeymoon dengan kak Andriana, William dan Geraldine sedang sibuk mempersiapkan hari pernikahan mereka.
Erick? Jangan ditanya, mungkin dari semua orang dia yang paling sibuk. Dia menghandle semua pekerjaan orang, dan dia orangnya kalau lagi sibuk tidak mau diganggu.
Kalian? Aku gak mau kakak kecapekan, nanti si Ryonza rewel jika Mommy gak fokus sama dia, dan kak Nico juga sibuk kan.." ucap Ericka menjelaskan kenapa dia tidak meminta bantuan kepada mereka semua.
"Aku tak menyangka ternyata adikku sudah besar dan dewasa sekali, sepertinya sudah pas menjadi seorang ibu, sangat pengertian sekali. Hehe.." goda Reva sambil melirik suaminya dengan senyuman penuh arti.
"Anggap saja aku sudah jadi ibu, kan anakku si Azzam dan Ryonza! Hehe.." canda Ericka sambil tertawa.
"Enak saja, Ryonza itu anakku!" balas Reva sambil mencibir kearahnya, tertawa bersama.
__ADS_1
.
.
Hari H telah tiba, selamatannya si Azzam telah dilakukan di panti asuhan Kasih Bunda. Begitu ramai dan meriah, bukan hanya ada pesulap dan badut untuk hiburan anak-anak, bahkan Ericka beneran mengundang kuda lumping juga.
"Gak nyangka, bisa semeriah ini! Ini mah melebihi pestanya nikahan kita ya, Yang.." ujar Rendy kepada Andriana.
"Itu berarti si Ericka dan tim sukses membuat pesta ini.." ucap Andriana ikut senang.
Sedangkan Aaron dan lainnya juga ikut datang, mereka sedang duduk disalah satu bangku yang tak jauh dari panggung itu ikut menikmati perayaannya, karena baru kali ini mereka melihat antraksi kuda lumping yang menurut mereka agak ekstrim juga yah..
"Hai.." sapa Ericka kepada mereka semua.
Saat melihat kedatangan Ericka Aaron buru-buru memakai kacamatanya, jadi dia pura-pura tak melihat dan mendengarnya, apalagi mereka juga duduknya deket dengan sound sistemnya.
"Hai, Ericka.." balas Jessy dan Stanley.
"Kenapa dengan dia?" tanya Ericka bingung saat melihat reaksi Aaron yang menurutnya berlebihan.
"Biasa dia, lagi sensi! Cuekin aja!" sahut Jessy sambil menikmati es podengnya.
"Hah, apa?" tanya Ericka tak mengerti.
Ericka hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan mereka, tiba-tiba Erick maju kedepan panggung dan ingin menyumbangkan lagu favoritnya. Semua orang mulai was-was takut itu bocah akan menyanyikan lagu rock metal yang biasa dia dengarkan.
"~~ BlankPink in your Area~~ Yeyeyee~~"
Semua orang spontan melongo, gak disangka dia malah nyanyi lagu Kpop yang sangat terkenal itu, beberapa anak-anak ada yang ikutan jingkrak-jingkrak nyanyi bersama. Maklum, jaman sekarang anak-anak pada hafal lagu kekinian.
Jessy yang asik menikmati es podeng martabak telor, langsung melompat keatas panggung dan ikutan berantraksi bersama Erick mengikuti alunan lagu dan gerakan dance lagu itu.
"Oh my god! What are' U doing, men! Ups, Sist?!" teriak Stanley dia malu sekali dengan kelakuannya Jessy.
Jessy adalah penggemar berat BlackPink, dia jika mendengar lagu idol itu diputar, dia tidak kuat ingin ikut dance dan bergoyang ala dancer profesional.
Sedangkan Aaron hanya pura-pura tidak kenal saja, dia benar-benar dibuat pusing sama tingkah asistennya yang satu itu.
.
__ADS_1
.
Setelah beberapa jam kemudian, acara akhirnya selesai juga. Mereka memang tidak merayakan selametan itu sampai malam, mengingat waktu istirahatnya anak-anak juga, beberapa snack dan bekal juga hampers mereka bagikan ke beberapa anak yatim juga atau ke beberapa tetangga yang kurang mampu, agar lebih berkah kata pak Ustadz.
"Ericka.." dengan tekad yang sedikit dipaksakan Aaron memberanikan diri mendekati wanita yang dia cintai itu.
"Iya? O, hai!" ujar Ericka senang sekali akhirnya Aaron mau menyapa dan mendekatinya lagi.
Karena hampir sebulan kedatangan Aaron ke Indonesia, mereka jarang sekali bertemu bahkan terkesan Aaron sedikit menghindar darinya, dia sempat berpikir jika lelaki itu mulai bosan dengannya, tapi setelah diyakinkan oleh Reva dan lainnya, dia berusaha untuk mempercayai bahwa dia saat ini sedang sibuk mengurus perusahaannya yang baru merintis di Indonesia.
"Apa minggu depan kamu ada waktu?" tanya Aaron.
"Aku selalu ada waktu untuk semua orang, tanpa terkecuali termasuk kamu.. Ada apa?" tanya balik Ericka.
"Aku,, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.. Jawab dulu, baru aku jawab pertanyaanmu itu.." ucap Aaron sambil menelan ludahnya sedikit kasar.
"Ya?" Ericka masih bingung dengan sikap lelaki itu.
"Menurutmu aku bagaimana, ah! Maksudku, apa aku... Emm," Aaron nampak bingung tak bisa mengutarakan maksudnya.
"Dengar, aku bangga bisa mengenalmu.. Aku menyukaimu tanpa melihat latar belakangmu, kamu lelaki terhebat yang pernah aku kenal, yah kecuali kedua kakak laki-laki itu tentunya, haha!
Emm, kau cinta pertamaku, dan aku harap yang terakhir juga.. Aku baru pertama kali merasakan debaran didada saat bertatap muka dengan lelaki, yaitu dengan kamu.. Kamu juga yang bisa membuat aku merasa nyaman, bisa menjadi diri sendiri dan bisa melakukan apa saja demi diriku ini..
Padahal aku dulu bukan siapa-siapa, kamu mau membantuku.. Dan aku yakin selepas itu adalah instruksi dari kak Nico yang memintamu membantuku, kamu pasti akan membantu dan menolongku juga, kan?" tanya Ericka sambil menatap lekat wajah lelaki tampan yang dia cintai itu.
"Dan kamu juga wanita yang sudah menyadarkan aku apa itu artinya cinta, karena cinta tak selalu berurusan dengan hubungan dua orang dewasa, tapi juga bisa diartikan tentang hubungan keluarga, persahabatan dan hubungan sosial juga..
Aku seorang anak yatim, sama denganmu.. Aku dibantu dan ditolong oleh kak Nico, selama ini hubungan kami hanya sebatas timbal balik, dia menolongku dan aku membalas kebaikannya dengan caraku sendiri.
Sekarang menganggapnya sebagai saudara mungkin lebih baik, maka rasa sayang itu lebih kuat dibandingkan hubungan balas budi. Karena tanpa diminta jika saudara membutuhkanmu, maka kita akan datang sendiri dan membantunya..
Itu yang akan pelajari dari kamu, dari kak Nico dan semuanya.. Aku bahagia bisa mengenal kalian semuanya, terima kasih.." balas sambil menatap Ericka lebih dekat lagi.
Kini keduanya nampak terhipnotis oleh kebersamaannya, tiba-tiba Aaron langsung tersadar ketika bibirnya hampir mengecup bibir Ericka.
"Astaghfirullah, bukan muhrim! Bukan muhrim!" ucapnya langsung mundur beberapa langkah sambil mengusap wajahnya.
"Hah, apa?" Ericka terkejut mendengar Aaron beristighfar.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung