
Elena masuk ke ruang kerja pak Dewantoro dengan muka masam, melihat tingkah istrinya itu pak Dewantoro sudah bisa membaca isi pikirannya saat ini.
"Dia hanya menanyakan kebenaran atas kepulangan Ericka, itu saja" ucap pak Dewantoro menjelaskan.
"Aku tak bertanya soal itu!" ketus Elena menjawabnya.
"Terus, kenapa wajahmu nampak begitu masam seperti itu?" tanya pak Dewantoro mulai malas berbicara dengan istrinya itu.
"Kenapa? Apa aku sudah nampak tua bagimu? Tak secantik dulu, dan kau mulai membandingkan aku dengan anakmu yang begitu mirip mendiang istrimu itu?!" tanya Elena mulai emosi.
"Aku tak berpikir seperti itu! Aku hanya bertanya kenapa wajahmu begitu masam, dengan kata lain bertanya kenapa kau begitu cemberut?!
Apa aku salah dalam bertanya? Kau ini, kenapa jadi begini? Biasanya kau tidak peduli dengan penilaianku padamu" ujar pak Dewantoro kesal.
"Sudahlah, tidak usah banyak mengelak kamu, Mas! Kamu senang kan anak haram itu kembali?!" tanya Elena geram.
"Kamu ngomong apa sih?! Lagian dia bukan anak haram, dia terlahir dari pasangan suami istri! Dan hentikan omong kosong ini, Elena!
Aku banyak pekerjaan, jangan ganggu aku! Lama-lama aku gila menghadapi sikapmu ini" ujar pak Dewantoro kesal.
"Baiklah, jika ada apa-apa jangan bicara ataupun meminta bantuanku!" teriak Elena marah.
Dia keluar dari ruangan itu, dia pergi dengan pikiran berkecamuk tak karuan. Tiba-tiba saja hati dan pikirannya gelisah sejak kedatangan Ericka.
"Baru beberapa jam anak itu datang, sudah membuat kepalaku pusing begini!" gumam Elena kesal.
Dibalik dinding sekat ruang kerja dengan tempat mas Bram bekerja ada Ericka sedang memperhatikannya diam-diam, dia tersenyum sinis.
"Ini bukan apa-apa, aku akan membuatmu sakit kepala lebih keras lagi!" gumamnya sendirian.
"Mas, Bram. Ini sudah mulai sore, apa belum bersiap-siap ingin pulang?" tanya Ericka.
"Maaf, Non.. Sepertinya aku akan pulang malam hari ini, suasana hati tuan lagi tidak bagus. Banyak pekerjaan yang belum beliau selesaikan.
Mungkin aku akan lembur larut malam menemani tuan disini" ucap mas Bram merasa tak enak hati dengan Ericka.
"Oh, tidak apa. Kita cari waktu luang aja ya, jangan membuat pekerjaanmu tidak selesai-selesai juga. Baiklah, aku permisi dulu" ucap Ericka pamit.
//
Sementara itu Reva pulang ke apartemen Rendy, dia tak kembali ke rumah Nico. Membuat suaminya begitu khawatir, dia tahu kemana istrinya itu pergi, karena sebelumnya Rendy sudah menghubunginya duluan.
"Rendy, kenapa Reva pergi begitu saja? Apa dia tak memberimu pesan kenapa dia pergi lagi?" tanya Nico.
Dia kini sudah di apartemen itu, tapi dia tak mendapati Reva disana. Dia nampak gelisah sekali.
"Mungkin kak Reva lagi nyari makan kak, soalnya aku tinggal tadi cukup lama. Dia udah keburu lapar, hehe!" jawab Rendy.
Dalam hatinya pun bertanya-tanya kemana kakaknya pergi, karena itu cukup lama dia perginya. Untung saja Nico baru datang jadi dia tak tahu kalau Reva sudah lama perginya.
"Apa ada hal yang penting yah? Itu kenapa dia menghubungi aku tadi, tapi apa dan mengapa?" gumamnya dalam hati.
Ting! Tong!
__ADS_1
Suara bel berbunyi, Rendy dan nico nampak sumringah karena Reva sudah kembali. Nico buru-buru membukakan pintunya dan menyambut istrinya itu.
"Kamu?! Kenapa ada disini??" tanya Reva heran melihat Nico yang membukakan pintu apartemen itu.
"Aku menunggumu sayang,, aku menunggu di rumah tapi kamu gak pulang-pulang, aku kan jadi khawatir.." ujar Nico.
"Aku masih ingin disini dulu, nanti juga bisa pulang sendiri. Aku bukan anak kecil yang harus dijagain terus" ujarnya.
Dia masuk kedalam apartemen itu diiringi oleh Nico, dan ternyata Rendy sudah kembali tengah asik makan di ruang TV. Reva begitu kesal sekali melihatnya, dia langsung menghampirinya.
"Enak yah, pulang telat sampe orang nungguin kelaparan! Mana kayak gak punya dosa lagi lu, gak ngabarin apa-apa!" ujar Reva kesal sambil memukul Rendy.
"Auh! Sakit Kak, jadi orang kok kasar banget! Kak Nico tolongin napa!" Rendy bersungut-sungut kesal juga.
"Untuk hal ini aku mendukung Reva, enak banget kamu makan enak-enak sedangkan kakakmu nungguin disini kelaparan.
Iya ya sayang... Kamu masih laper kan? Aku juga bawain kamu makanan, eh makanannya mana?" tanya Nico kebingungan tidak menemukan makanan diatas meja makan.
Dan ternyata makanan itu sudah diatas meja didepan Rendy, dia makan dengan santai disana.
"Ya ampun, Rendy! Itu makanan buat Reva!" teriak Nico kesal.
"Makan dikit doang, jangan pelit-pelit nanti kuburan sempit.." jawabnya enteng.
"Sudah gak apa, aku sudah makan tadi dari luar.." ucap Reva berbohong.
"Tuh kan, apa kataku tadi. Kakak pasti lagi keluar buat beli makanan" sambung Rendy, meskipun hatinya jadi tidak enak dengannya.
Krruuk~~krruuk!!
Suara perut Reva berbunyi dengan kencang sampai kedengaran oleh mereka semua, Reva bersemu malu karena ketahuan berbohong tadi.
"Katanya sudah makan, kok perutnya sampe berdendang gitu?!" ujar Rendy menatapnya merasa bersalah.
"Emm, lapar lagi!" jawab Reva Singkat.
"Aku tadi bawa makanan lebih, gak kamu makan semua kan, Ren??" tanya Nico pada Rendy.
"Gak lah, Kak. Tadi juga aku udah makan, liat makanan enak jadi pengen lagi. Eh, sampe lupa! Sebentar ya Kak, aku ambilkan makanannya" ujar Rendy beranjak dari duduknya.
Dia menyiapkan makanan untuk kakaknya itu, makanan dia beli tadi masih utuh untuk bagian Reva plus makanan dibawa Nico, meja makan itu hampir penuh olehnya.
"Silakan makan, tuan putri.." ujar Rendy menggoda Reva sambil membungkukkan badannya.
Reva melengos kesal sambil menuju meja makan itu, dia langsung makan tanpa ba-bi-bu dan cuek dilihatin oleh Rendy dan Nico menatapnya aneh melihatnya makan kayak orang kesurupan itu.
"Bodo amat! Aku hari ini benar-benar lagi kesal, mana lagi lapar ditinggal lama ama ini bocah, dapet berita senang tapi gak bisa ketemu, ditambah lagi harus bertemu dengan ayah dan wanita gila itu!
Akh! Aku benar-benar kesal, kesal, kesal sekali!" gumamnya dalam hati.
Sedangkan Rendy maupun Nico menelan ludah saat melihat Reva makan dengan lahapnya.
"Kesurupan ini anak.." gumam Rendy menggelengkan kepalanya heran melihat kakaknya itu.
__ADS_1
Berbeda dengan Rendy, Nico malah berpikir jauh tentangnya. Dia tersenyum-senyum sendiri melihat Reva makan begitu, entah apa yang ada didalam pikirannya itu.
//
//
Di kediaman pak Dewantoro, malam sudah tiba para pelayan sudah menyiapkan makan malam untuk keluarga itu.
Mereka semuanya datang ke meja makan itu, Pak Dewantoro, Elena, Pramudya dan Ericka. Saat Elena ingin menarik kursi dekat suaminya tempat dia duduk, Ericka langsung menyambarnya lebih dulu dan duduk di sana.
"Dasar anak kurang ajar! Apa kau tidak lihat aku sudah mendekati kursi itu?! Kayak tak punya kursi lain saja!" bentak Elena lagi.
"Ups, sorry Bu.. Aku gak liat, maaf yah.." ujarnya sambil tersenyum sinis.
"Minggir! Ini tempatku!" ujar Elena ketus.
"Kursi lain kan ada, kenapa harus ingin kursi ini?" tanya Ericka cuek sambil memakan makanannya.
"Dari dulu ini tempatku, tak ada yang boleh duduk di kursiku!" jawab Elena kesal.
"O ya, aku tak lihat namamu disini, ooh.. Aku tau sekarang, jadi ibarat tahta kursimu ini seperti Singgasana permaisuri begitu?! Tak ada yang boleh duduk dekat raja kecuali permaisurinya, meskipun itu putrinya??
Biasanya yang bersikap seperti itu adalah permaisuri jahat, menurut cerita-cerita kerajaan jaman kuno.. Selir jahat merampas tahta permaisuri setelah dia memfitnah dan membunuh sang permaisuri asli dan menggantikan posisinya secara paksa setelah mempengaruhi sang raja.
Bahkan dia cemburu dengan putra mahkota, dia tak ingin anak tirinya itu merebut tahtanya dan berniat ingin menghancurkannya seperti yang dia lakukan pada mendiang permaisuri yang asli.
Waaah, ternyata ada kisah aslinya yah.. Ckck, aku gak tau kalau itu terjadi dihidupku juga" ujar Ericka membual soal cerita itu untuk menyindir Elena.
"Apa maksudmu itu?!" bentak Elena tak terima.
"Kenapa kau marah?! Apa kau merasa jadi permaisuri seperti itu?" tanya Ericka memancingnya kembali.
"Diam! Kita berkumpul disini untuk makan malam, bukan berdebat ataupun menghina satu sama lain. Jangan buat selera makanku hilang" ujar pak Dewantoro kesal melihat istri dan anaknya itu mulai ribut lagi.
"Kau, Ericka. Pindah dari tempat dudukmu itu, jangan memancing keributan" sambungnya lagi.
"Aku lagi makan, tak bisa pindah. Kalau mau, tunggu aku sampai selesai makan!" jawabnya kesal dengan sikap ayahnya itu.
"Kau--" Elena begitu marah, tapi dia harus menahan sikapnya itu karena tak ingin suaminya semakin murka lagi.
"Aku mohon, Ericka. Mengertilah.." ujar pak Dwantoro pelan, dia sudah lelah dengan semua perdebatan ini.
Ericka tersenyum puas melihat ayahnya itu memohon seperti itu, setidaknya lelaki ini sudah menunjukkan dirinya sudah lelah dengan segala sikapnya saat ini, bagus!
"Baiklah jika ayah sudah memohon seperti itu, aku tak tega dengannya.. Kasihan, lagian aku sudah selesai makannya, silakan makan disini. Jangan lupa tolong bereskan bekas tempat makanku" ujar Ericka sambil tersenyum sinis menatap Elena.
"Kami ini!" teriak Elena tak terima direndahkan olehnya.
Ericka melengos pergi, setidaknya dia sudah puas membuat lelaki itu memohon padanya dan mempermalukan wanita itu.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1