
Melihat kedatangan Geraldine membuat Nico dan Erick berinisiatif untuk pergi meninggalkan mereka berdua saja, keduanya berharap kali ini William bisa menyelesaikan masalah perasaannya itu dengan benar.
"Sekarang ada orangnya langsung, gentleman bro! Good luck," bisik Erick sambil menepuk pundaknya memberikan dukungannya.
Setelah itu Erick dan Nico pergi dari sana, meninggalkan William dan Geraldine yang nampak begitu canggung saat berhadapan langsung, William berdehem sebentar lalu berpura-pura biasa saja meskipun jantungnya berdegup kencang.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Geraldine, memulai percakapan mereka.
"I-ya, silakan mau bicara apa?" saking gugupnya William mendadak berbicara formal kepada gadis itu.
"Sial, seharusnya aku yang memulai percakapan ini! Aku yakin dia semakin ilfill sama aku!" gerutunya dalam hati.
"Ikut aku!" ucap Geraldine sambil melangkah pergi menuju taman bunga sampai rumah itu.
William mengikutinya dengan perasaan campur aduk, dia tidak tahu harus berkata apa nantinya, setidaknya dia harus mencoba bersikap jujur dengan perasaannya, diterima atau tidak, itu urusannya nanti. Masalahnya, saat ini dia begitu gugup, takut mendengar apa yang akan diucapkan oleh Geraldine nanti.
Geraldine berhenti didepan bunga-bunga yang sedang bermekaran, dia nampak begitu menikmati keindahan ciptaan Tuhan itu. Sesekali dia menyentuh bunganya pelan, tak berani memetiknya. Bukan perihal takut dimarahi oleh yang punya, tapi lebih takut merusak keindahannya.
"Kau lihat bunga-bunga ini, Will.. Cantik bukan, meskipun mereka berbeda bentuk, warna maupun aroma, mereka tetap kelihatan begitu cantik dan indah disandingkan dalam satu taman ini.." ucap Geraldine masih menikmati keindahan bunga-bunga itu.
William hanya menyimak apa yang akan dibicarakan oleh gadis itu, jujur dia tak mengerti apa yang sedang Geraldine bicarakan, baginya semua bunga itu sama saja, tak ada bedanya.
"Begitu juga dengan para wanita, Will.. Meskipun mereka berbeda karakter, beda rupa dan bentuk tubuhnya, beda juga cara pandangnya, seleranya, tapi mereka tetap sama-sama cantik dengan kelebihannya masing-masing.
Dan adapun pada bunga, bahkan para kumbang jantan berebut menghisap sarinya menyicipi rasa manisnya dari bunga-bunga itu, tanpa memilih bunga mana yang paling cantik, ataupun yang paling wangi, karena mereka tau setiap bunga memiliki ciri khas yang berbeda tapi memiliki sar yang sama juga.." ucap Geraldine lagi.
"Jujur saja, aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Aku tak tahu menahu soal bunga, tumbuh-tumbuhan atau botani lainnya. Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan, Geraldine?" tanya William tak sabar.
Geraldine sedikit memejamkan matanya sambil menghela nafasnya sedikit, kemudian dia memilih duduk disalah satu bangku di taman itu, dia menatap tajam kearah William yang masih berdiri disisi bangku tempat dia duduk.
Lelaki itu tambah salah tingkah dibuatnya, dia tau telah melakukan kesalahan tapi entah mengapa dia merasa tak nyaman saat ditatap langsung oleh gadis itu.
"William, menurut kamu aku seperti apa? Apakah aku sama saja dengan para gadis yang biasa kamu kenal, atau aku berbeda?" tanya Geraldine sambil menatap William serius.
__ADS_1
"Kamu,, memang sedikit berbeda dengan mereka semua, maksudku dari segi penampilan dan sikapnya. Mereka yang biasa aku kenal lebih suka berpenampilan menantang dan suka menempel padaku, tapi kau berbeda dari mereka, kau tak seperti itu.." jawab William berusaha bersikap lebih tenang saat ditatap terus menerus oleh Geraldine.
"Apa yang membuatmu tertarik padaku?" tanya gadis itu lagi penasaran.
"Uhuk, huk!" mendadak William keselek air ludahnya sendiri, dia tak menyangka Geraldine akan menanyakan tentang perasaan William kepadanya itu.
"Aku menyukaimu karena kau berbeda dengan mereka semua, karena aku tak pernah menemukan gadis sepertimu sebelumnya. Kau terlihat misterius bagiku, kau susah aku dekati, aku jadi--" perkataannya langsung dipotong oleh Geraldine.
"Jadi kamu hanya penasaran saja, sekarang bagaimana? Apa kau masih penasaran juga? Jika aku bersamamu, telah menjawab semua rasa penasaranmu itu, apa kau akan meninggalkan aku juga seperti yang lainnya?!" tanya Geraldine dengan tatapan sedikit mengintimidasi dengan suara bergetar.
"A-apa?! Bu-bukan seperti itu?! Kau salah faham," William benar-benar pusing dengan pertanyaan Geraldine, dia tak menyangka jika gadis itu akan berpikir seperti itu tentangnya.
"Lalu, kenapa kau tak langsung tanyakan kepadaku tentang orientasi seksualku! Apa kau pikir aku ini beneran, les bi?!" William tambah salah tingkah dengan pertanyaan Geraldine yang brutal dan tak disangka-sangka itu.
"Oke, oke.. Tenang, bisa aku jelaskan sebentar.. Huft, sebelumnya aku minta maaf jika kamu marah ataupun merasa tersinggung dengan sikapku selama ini, tapi aku beneran tak sedikitpun menilai rendah kamu seperti yang kamu pikirkan itu.
Aku sedikit banyak tau tentang kamu dari sahabatmu itu, iya itu Rendy! Tapi aku juga mencari tahu sendiri tentangmu, awalnya aku percaya jika kamu tidak menyukai 'lelaki', tapi setelah mengetahui masa lalumu, aku tau itu tak semerta-merta kamu mau melakukan karena menyukainya.
Tapi itu salah satu agar kamu tak berhubungan dengan setiap lelaki, akibat traumamu dulu. Tapi aku yakinkan sama kamu, jika aku tidak akan pernah menyakiti ataupun merusak kepercayaanmu sedikitpun, itu jika kamu mau memberiku kesempatan untuk membuktikan jika aku berbeda dari semua lelaki yang kamu kenal dulu.." ucap William mencoba memberikan penjelasan kepada Geraldine.
"Aku tau setiap langkah yang aku ambil, apapun itu akan memiliki sebuah resiko atau tantangan tersendiri, termasuk bersama kamu nantinya. Iya, aku akan mencoba berada disisimu sampai kamu siap, bukan tentang rasa penasaran tapi tentang perasaan.." kali ini William mampu berbicara serius dan menatap mata gadis itu dengan tenang.
Geraldine merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapan mata itu, dan entah mengapa hatinya merasa tergelitik saat ditatap seperti itu. Tiba-tiba perasaannya menjadi nyaman dan hangat, dia bingung dengan perasaannya itu, ada apa dengan hatinya? Sebelumnya dia tak pernah merasakan hal seperti itu jika bertemu dengan lelaki lain.
William mendekatinya lalu duduk di samping gadis itu, dia mencoba meraih tangan Geraldine tapi gadis itu masih menjaga jarak dengannya, William mencoba sedikit tenang, dan bersikap biasa saja.
"Aku tak pungkiri jika aku memiliki masa lalu yang buruk terhadap para wanita, dan aku telah mendapatkan karmanya karena setiap wanita yang benar-benar aku cintai selalu pergi meninggalkan aku.. Entah itu balasan bagiku, atau aku yang membalas rasa sakitku kepada para wanita itu? Entahlah..
Sekarang aku ketemu sama kamu, aku takkan membicarakan tentang masa lalumu, karena aku juga memiliki masa lalu. Jika kamu tak ingin membahasnya, maka mari sama-sama kita lupakan, jika kamu tak sanggup melupakannya, maka aku siap menemanimu sampai kau benar-benar bisa melupakan semuanya.." ucap William.
Setelah itu dia bangkit dari duduknya dan sedikit menghela nafasnya, menatap ke sekelilingnya dan bersiap melangkah pergi, tapi tatapan matanya tak sengaja menangkap ada dua bocah yang mengintipnya, dia mendengus kesal.
"Aku takkan memaksamu, jika kau tak merasa nyaman berada di dekatku maka aku akan menjauh darimu, yaah.. Mungkin sangat sulit bagiku melakukannya, tapi aku akan mencoba asalkan kamu merasa nyaman dan tenang," ucap William sambil berjalan pergi.
__ADS_1
Geraldine masih duduk terdiam sambil memikirkan setiap kata dari ucapan-ucapan William, entah mengapa hatinya menghangat saat sedikit menyadari arti dari ucapan lelaki itu, tak sadar air matanya sampai menetes, saat dia menengadahkan kepalanya, lelaki itu sudah pergi.
Sementara itu, William nampak kesal dan gemas terhadap Erick dan Nico yang habis mengintipnya, tapi bukannya merasa malu karena ketahuan tapi keduanya malah mengacungkan kedua jempol mereka.
"Kau hebat, bro! Itu namanya gentleman," ucap Erick yang terlihat bangga.
"Gak sia-sia kau ikut denganku selama ini, bangga akunya!" sahut pula Nico.
"Apaan, dari tadi aku tremor tau! Mau copot rasanya jantungku, dia terus-menerus menatapku tanpa kedip, belum lagi pertanyaannya bikin dag-dig-dug, jantung rasanya tak aman!" jawab William sambil mengelus dadanya.
"Tapi setidaknya kau akhiri dengan indah, kata-kata terakhirmu tadi sangat puitis dan romantis, kalah si Dilan anak mang Jajang, haha!" goda Erick lagi.
"Puitis, endasmu! Udah ah, aku haus!" ujar William sambil meninggalkan keduanya pergi dari sana.
Dia masih penasaran apa yang dipikirkan oleh Geraldine sekarang, apa dia masih belum bisa menerimanya, atau mungkin ada hal lain yang membuatnya tak bisa menerima William selain rasa traumanya itu.
Disisi lain, ada tiga orang yang sedang asik menyaksikan drama percintaan secara live, gratis dan tentunya real dikehidupan nyata, sedikit kecewa dengan ending ceritanya.
"Bagaimana, apa mau dibantu jalan ceritanya agar sesuai keinginan penonton?" tanya Reva sambil menatap kedua adiknya sambil menahan senyumnya.
"Gak usah, biarkan skenario Tuhan yang melakukannya. Kita mah tonton dan kasih dukungan saja mana yang terbaik untuk keduanya," jawab Rendy masih melihat kearah bawah, menatap Geraldine yang masih duduk diam ditaman bunga itu.
"Tapi serius aku nanya, Kak.. Emang kak Geraldine beneran les bi? Tapi aku perhatikan kayaknya enggak deh, hanya saja dia tak pernah menanggapi atau tertarik dengan lawan jenis dalam artian, jika ada lelaki yang mulai mendekatinya dia menjauhkan diri dengan cepat, kadang bersikap dingin kepada mereka.
Setahuku, jika kaum pelangi itu tak menyukai lawan jenisnya mereka akan bersikap biasa saja layaknya seperti orang biasa, ataupun menganggap teman pada umumnya, kadang mereka akan menanggapinya dengan joke ataupun berpura-pura suka juga, ada juga yang langsung mengakui jati dirinya, tapi kalau di negeri kita agak susah yah begitu..
Yah, intinya gak kayak Geraldine gitu, jadi wajar jika berita simpang siur mengenai jati dirinya masih diragukan semua orang, dan tak salah juga kalau kak William juga masih kebingungan selama ini," ucap Ericka ikut memberikan tanggapan mengenai general manager perusahaan nya itu.
"Setahuku waktu sekolah dan kuliah dulu sih begitu, dia anaknya pendiam dulunya. Dan tak suka banyak bicara tentang dirinya, kami hanya berteman biasa saja tidak pernah membahas hal pribadi.
Tapi dulu, dia pernah kedapatan dekat dengan seorang wanita, dan kau tau wanita itu dulunya seorang influencer dan mengakui jika dirinya les bi dan memiliki pacar wanita juga, tapi identitas pacarnya dirahasiakan, nah waktu itu kami lihat mereka nampak begitu akrab, entah siapa yang duluan memulai, maka gosip mengenai dirinya les bi menyebar begitu saja, dan dia juga diam aja gak pernah menanggapi soal gosip itu, seolah sengaja dia lakukan, entah untuk apa.." jawab Rendy sambil mengingat masa-masa itu.
Sedangkan dibawah mereka saat ini, Geraldine mulai bangun dari duduknya. Dia terlihat mulai memantapkan hatinya untuk memberikan jawabannya kepada William.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung