Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Mencoba Memaafkan


__ADS_3

Nico menemui William bersama Reva, Rendy dan Andriana, meskipun William hanya diam saja dan menatap datar kearah lain, semua orang bisa melihat ada banyak luka dari tatapan dingin itu.


"Ternyata disini rupanya kau, hei! Kamu tuh udah tua gak cocok dengan sikap ngambek kayak gitu!" ucap Nico sedikit kesal dengan sikap sahabatnya, yang menurutnya kekanak-kanakan itu.


"Diamlah, aku lagi malas bicara!" sahut William dingin.


"Daripada kamu seperti ini, sebaiknya kamu temui Erick. Dia satu-satunya saudara dan keluarga kandungmu, selain kami sih.. Dia juga sama sedihnya denganmu, kalau kalian bersama mungkin sedikit mengurangi rasa sakit itu.." ucap Nico lagi, dia tak memperdulikan sikap dingin sahabatnya itu.


"Anak itu sudah besar, dia bisa mengurus dirinya sendiri.." sahut William lagi.


"Huft, susah ngomong sama orang keras kepala kayak kamu! Eh, Geraldine! Orang kayak gini yang kamu suka? Mikir lagi deh kalau mau sama dia!" ujar Nico sambil melirik Geraldine yang ternyata juga berada di sana.


"Hei, sudah! Hentikan--" William terkejut saat memutar badannya dan melihat Geraldine berada di sana juga, dia pikir itu hanya bualan Nico saja.


Wajahnya sedikit menegang setelah itu dia kembali dingin seperti semula, dia kembali memutar badannya menghadap dinding kaca menghadap taman bunga. Geraldine nampak sedih melihat ekspresi wajah William yang seperti itu.


"Sebaiknya kita tinggalkan dia sendirian disini, aku mau menemui Erick.. Penasaran apa isi flashdisk yang diberikan oleh opa Harja," ucap Nico sengaja memancing William agar ikut dengannya.


Tapi lelaki itu masih tak bergeming, Nico mendengus kesal lalu menarik istri dan lainnya untuk pergi dari sana, dan mereka beneran menemui Erick ditempat tadi.


Setelah beberapa saat, di ruang keluarga itu nampak sepi dan hening, William sedikit menghela nafas dan ingin berbalik arah ingin pergi dari tempat itu, dia terkejut melihat seorang gadis yang masih setia menunggunya sendirian di sana.


"Geraldine, kenapa kamu masih ada disini?" tanyanya heran.


"Aku lagi nungguin kamu.." jawab gadis itu pelan sambil menatapnya lekat.


Sederhana sekali jawaban itu tapi mampu membuat hatinya menghangat, dia sedikit menyunggingkan senyumnya samar. Kemudian dia berlalu pergi dan berpura-pura cuek melewati Geraldine.

__ADS_1


Gadis itu langsung menarik tangan William sedikit kasar membuat lelaki itu begitu terkejut, dia tak menyangka kalau Geraldine bisa seagresif itu. Entah dalam keadaan sadar atau tidak, gadis itu malah mencium lelaki yang kini dalam pelukannya.


"Maaf.." ujarnya, sesaat setelah melepaskan ciumannya.


William terdiam terpaku dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu, sesaat pikirannya kosong, kaget bukan kepalang. Saat dirinya mulai menguasai dirinya kembali, tapi gadis itu sudah pergi dari sana.


"****, lagi-lagi aku melepaskannya!" gerutunya, mulai keluar dari sana mencari Geraldine.


Setelah cukup puas dia mencari, dia melihat ruang kerja mendiang pak Dewantoro sedikit terbuka pintunya. Dia melihat bayangan Geraldine di sana, niat hati ingin melanjutkan sesuatu yang tertunda tadi, tapi ketika dia hendak memeluk gadis itu, dia malah dikejutkan apa yang dia lihat didepannya.


"Kau sudah datang, kemarilah! Perhatikan ini," ucap Nico sesaat setelah melihat kedatangan William.


Geraldine yang berada tepat di depan William sedikit terkejut saat menoleh kebelakang, dia melihat William tepat berada dibelakangnya dalam posisi ingin memeluknya dari belakang. Rona wajahnya yang cantik sedikit memerah dibuatnya, dia ingat lagi apa yang dia lakukan tadi dengan lelaki itu.


William diam dan langsung berjalan menuju layar laptop yang dihadapan Erick juga, Nico bergeser duduk agar William bisa melihat dan mendengar lebih jelas lagi apa yang dikatakan oleh opa Harja didalam rekaman itu.


"William dan Erick, cucu opa yang sangat opa sayangi. Maafkan opa yang selama ini selalu sibuk dengan diri sendiri tanpa memikirkan kalian, opa juga meminta maaf atas segala keegoisan opa selama ini.


Selama ini hati dan pikiran opa dibutakan oleh harta dan dendam belaka, sebuah kesalahan masa lalu membawa opa banyak menyakiti hati dan hidup semua orang, tidak peduli itu saudara, anak bahkan cucu sendiri yang menjadi korban atas keserakahan opa.


Tolong sampaikan permintaan maaf opa untuk tante dan om kalian, sungguh dari hati yang paling dalam opa menyesal dan ingin bertobat dengan sungguh-sungguh. Ingin rasanya opa menemui mereka langsung, tapi diri ini tak sanggup untuk menemui mereka lagi.


Rasa malu kini mulai menyelimuti hati ini, seandainya rasa malu ini sudah ada dari dulu, mungkin semua kesalahan dan musibah ini tidak akan pernah terjadi sebelumnya.


William dan Erick, sampaikan juga permintaan opa kepada Reva dan adik-adiknya.. Opa menyesal sekali dengan apa yang opa lakukan terhadap mendiang ibunya dulu, opa harap permintaan maaf opa yang tulus ini dapat diterima oleh semua orang. Jika mereka memilih untuk tidak memaafkan, opa pun dapat mengerti..


Karena dosa-dosa opa begitu banyak sekali, dengan itu opa juga malu rasanya dikasihani oleh kalian semuanya. Rasanya opa tak pantas menerima semua kebaikan kalian selama ini.

__ADS_1


William, Erick.. Dalam kurang lebih dua bulan ini, opa banyak merenungi semua dosa-dosa opa, opa baru menyadari ini semua setelah semuanya telah berakhir, rasanya tobat opa telah terlambat..


Opa sudah tak banyak memiliki waktu lagi, hanya menghitung waktu saja saat ini.. Penyakit usia senja sudah lama menggerogoti tapi terlambat menyadari, mau opa memiliki hati sebagus apapun, penyakit ini tetap akan mengambil nyawa opa.


Oleh karena itu, opa menolak donor hati oma Mariani. Sebaiknya hatinya diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkannya, orang baik yang memiliki semangat hidup yang tinggi. Bukan orang yang seperti opa..


William, Erick.. Tetaplah akur dan terus bersama, saling menjaga dan melindungi. Jadilah saudara yang sesungguhnya. Jangan pandang dia lahir dari siapa, tapi lihatlah dia juga memiliki ayah yang sama denganmu..


Opa tak memiliki banyak harta untuk opa tinggalkan untuk kalian, tapi opa masih memiliki beberapa perusahaan dengan atas nama kalian berdua, sengaja opa simpan untuk kalian ketika opa sudah siap melepaskan semuanya.


Tenanglah, itu murni harta langsung opa, bukan dari hasil rampasan ataupun mencuri milik orang lain. Kalian bisa lihat keaslian dan keabsahan kepemilikan tanah, saham juga semua perusahaan itu.


Uhuk, uhuk! Maaf, ini kalau kebanyakan bicara kayak gini, hehe.." ucap opa Harja, seolah baik-baik saja. Padahal terlihat dengan jelas dirinya sangat pucat dan berkeringat dingin diwajahnya, saat mengambil air minum pun tangannya bergetar.


"Pak, saatnya minum obat dan langsung beristirahat!" terdengar suara seorang perawat mengingatkan opa Harja.


Opa hanya mengangkat tangannya lalu mengangguk sebentar, kemudian dia terlihat sedang merapikan sesuatu diatas mejanya, kemudian dia menuliskan sesuatu disebuah kertas lalu menunjukkan kearah kamera.


"Opa Sayang kalian berdua, doakan opa yah agar bisa melewati ini semua tanpa kalian. Karena bagi opa kalianlah segalanya.. I Love You so much!"


Tulis opa diatas kertas itu, membuat semua orang yang melihatnya menangis haru. Reva dan lainnya mendadak hilang rasa benci dan dendam kepada kakek itu, yang ada rasa haru dan kasihan, apalagi saat mereka melihat kearah William dan Erick yang sudah tak malu lagi menangis sesenggukan.


Geraldine menghampiri William dengan perasaan haru dan sedih juga, tanpa sadar dia mengusap punggung lelaki itu untuk menyemangatinya. William berbaik dan memeluk gadis itu sambil menangis, Geraldine mencoba untuk memahaminya dan membiarkan lelaki itu memeluknya.


Sementara Erick disambut dengan pelukan hangat dari Reva dan adik-adiknya, kali ini Nico membiarkan istrinya itu memeluk lelaki lain selain dirinya dan Rendy, toh baginya Erick dan William juga bagian dari keluarga.


Sedangkan Andriana sudah menangis bombay dibuatnya, dia juga ikut memeluk bersama dengan yang lainnya. Tinggallah Nico sendirian, rasanya aneh jika hanya berdiri sendiri, mau ikutan juga sudah tak ada tempat, masa iya dia mau meluk Geraldine juga, bisa kena geplak dia sama William.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2