
Sebelumnya, hari itu Reva dan tim harus bertemu dengan calon investor yang akan kembali menanam saham di perusahaannya.
Dan kali ini perusahaan menemui perusahaan Nico, mau gak mau Reva harus menemuinya. Karena tak bisa diwakilkan oleh siapapun karena ini menyangkut tanda tangan kontrak juga.
Nico menatapnya sendu, gadis yang dia cintai begitu dekat tapi tak bisa dia gapai. Sedangkan Reva nampak sibuk dengan berkas-berkas didepannya tak menghiraukan tatapan Nico.
"Semua berkas-berkasnya sudah lengkap, persyaratan sudah kami setujui. Silakan tanda tangan di berkas ini agar bisa didokumentasikan sebagai syarat dan tanda bahwa kerja sama antar dua perusahaan besar ini sudah terjalin" ujar Reva membuyarkan fokus Nico ke dirinya.
"Baiklah, setelah tanda tangan ini semoga nanti ada tanda tangan lainnya" gumamnya.
"Apa?!" tanya Reva menatapnya heran.
"Oh, tidak ada apa-apa" ujarnya tersenyum manis.
"Baiklah, sudah tidak ada pembicaraan lainnya. Kami permisi dulu" ujar Reva.
"Tunggu dulu, Nona. Sebagai perayaan atas kerjasama ini, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Berdua saja" ujar Nico dengan penekanan dikata terakhir.
Melihat itu, semua anak buahnya pergi meninggalkan mereka termasuk anak buahnya Reva.
"Apa-apaan sih kamu! Jangan bikin malu" bentak Reva.
Dia meraih tasnya diatas meja itu lalu hendak pergi juga, tapi tangannya dicekal oleh Nico. Reva terkejut dan ingin melepaskan cengkraman itu tapi tak bisa, genggaman Nico terlalu kuat.
"Lepasin gak?!" ancam Reva.
"Enggak" sahut Nico sambil tersenyum manis.
Setelah itu dia menarik tangannya menuju jalan keluar, mau gak mau juga Reva terpaksa mengikutinya. Dia tak mau membuat keributan di hari pertama mereka menjalin kerjasama perusahaan.
"Kalau tak memikirkan dana investasi itu, aku tak sudi bertemu apalagi diajak makan siang begini" gumam Reva dalam hati.
"Kenapa gak makan siang disini aja?!" tanya Reva ketus.
"Disini enaknya buat minum-minum aja, aku gak suka" jawab Nico sekenanya.
Nico melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota, dia membawa Reva kesebuah restoran yang sebelumnya sudah dipesannya.
Reva hanya diam saja, dia melihat kearah luar menatap jendela kaca mobil itu, sesekali dia melirik Nico yang nampak fokus menyetir.
"Kalau kangen bilang saja, gak usah lirik-lirik begitu" ujar Nico santai.
Mendengar itu Reva gelagapan, dia merasa seperti maling kepergok tuan rumah. Dia mendengus kesal tak memperdulikan Nico, melihat itu Nico hanya tersenyum.
"Kamu mau mengajak aku kemana? Gak sampai-sampai!" gerutu Reva.
"Sabar, sebentar lagi sampai kok" sahut Nico.
Mobilnya berhenti sejenak karena lampu rambu-rambu lalu lintasnya menyala merah, dan seperti biasanya para pengamen mulai berdendang dengan ketcrekannya.
__ADS_1
Reva yang posisinya melamun ke awang-awang tiba-tiba dikagetkan oleh pengamen yang penampilannya nauzubillah! Lelaki bertubuh kekar lengkap tatoan tapi berdandan feminim abis, lengkap dengan make up tebalnya.
"Astaghfirullah!" teriaknya.
Melihat pengamen itu mendekati mobil Nico dan hampir saja menempelkan wajahnya ke kaca mobil samping kemudi mobil itu, Reva yang posisi menghadap jendela kaca itu tentu saja kaget sekaget-kagetnya.
Padahal pengamen itu sebenarnya pengen ngaca doang, buat cacap-cacapan lenongan dan tak tahu ada orang yang terkejut oleh ulahnya itu karena kaca mobil Nico gelap dan gak kelihatan dari luar.
"Reva, hati-hati!" ujar Nico.
Dia kaget melihat Reva tiba-tiba teriakan begitu saja, setelah dia melihat yang ditakuti Reva diapun maklumi. Karena dia tahu, makhluk modelan begitu emang lebih menakutkan dibandingkan begal.
Karena kaget, Reva tak sengaja memegang sesuatu yang tak seharusnya dia pegang. Nico megap-megap merinding geli paha kekarnya dipegang Reva dan hampir naik keatas.
"Re-Reva!" ujarnya.
Menyadari kesalahannya, Reva buru-buru melepaskan pegangannya dan kembali merapat ke jendela kaca mobil itu, untungnya tuh perempuan jadi-jadian udah pergi.
Disepanjang jalan Reva terus merutuki diri sendiri, sesekali dia menjedukan keningnya kekaca mobil itu. Nico langsung bersemu merah, jantungnya sudah berdegap-degup gak karuan.
"Ish, jangan bangun! Tidur aja yang anteng sana, jangan nakal!" teriaknya dalam hati kepada 'adik kecilnya'.
"Su-sudah sampai belum!" ujarnya Reva memberanikan diri memecahkan rasa canggung mereka.
"Sudah sampai" jawab Nico.
Dia memperlambat laju mobilnya menuju sebuah saung masakan sunda, yang terletak tidak jauh dari jalanan tapi berada dipinggiran ibukota.
"Silakan Tuan, Nona" ujarnya ramah.
Sejenak pikiran mereka menjadi rileks melihat hamparan sawah padi menghijau terhampar luas dihadapan mereka, restoran itu memang berkonsep menyatu dengan alam.
'Aku sengaja membawamu kesini, agar pikiran kita bisa rileks sebentar" kata Nico.
Reva hanya diam saja, dia nampak menikmati pemandangan itu. Sejenak dia berpikir, sekali-kali healing begini tak apa.
Melihat itu, Nico beralih tempat duduknya kesamping Reva. Gadis itu tak sadar kalau ada seseorang yang menatapnya begitu lekat, disaat Reva membalikkan badannya tak sengaja bibirnya menyentuh wajah Nico.
"Reva?? Aku gak sangka kamu begitu padakuu, kalau kangen bilang dong! Jangan main sosor aja!" ujar Nico berpura-pura kaget.
"Ck, udah deh! Jangan lebay, kamu sengaja kan duduk dekat aku biar ada adegan mesra-mesraan begitu?!" ujar Reva galak menatap Nico.
"Jangan marah-marah terus, nanti cepat tua" ujar Nico pelan menatap lembut kepadanya.
Wajah mereka saling berhadapan, dengan jarak begitu dekat. Sesaat pandangan menghipnotis Reva, tapi dia berusaha menyadarkan diri.
Cup!
Sebuah kecupan hangat mendarat di bibirnya, Reva terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Apa tadi? Dia langsung mendelik kearah Nico.
__ADS_1
"Kenapa? Kurang lama yah?" goda Nico sambil menyunggingkan bibirnya sedikit.
Karena kesal Reva beranjak dari duduknya, belum hitungan menit dia kembali duduk dan langsung berhadapan kearah Nico. Tadinya Nico ingin menggoda Reva lagi karena kembali lagi kepadanya.
Tapi setelah melihat ekspresi Reva yang nampak tegang, dia tahu pasti ada sesuatu yang dia lihat. Nico ingin membalikkan badannya karena penasaran apa yang dia lihat.
"Jangan menoleh, jangan lihat apapun!" ujar Reva berbisik.
"Emang ada apa di sana?" tanya Nico.
"Syut! Diam, mereka mendekat" bisik Reva lagi.
Kini keduanya saling berhadapan menyamping membelakangi pondok disebelah mereka, ada suara langkah kaki mendekat dan beberapa suara orang mengobrol.
Nico sadar posisi mereka saat ini serba salah, pengen posisi kayak orang pacaran tapi canggung amat, apalagi dengan wajah Reva yang tegang begitu.
"Maaf" bisiknya.
Nico menarik tubuh Reva kearahnya dan memeluknya, Reva terkejut tapi acara marahannya dia tunda dulu karena melihat sosok dia benci berada di pondok sebelah mereka.
Dia menundukkan wajahnya agar tak kelihatan oleh mereka, dia melihat ayahnya bersama Pricilia dan beberapa orang ikut makan bersama dan entah apa yang dibicarakan oleh mereka.
Samar-samar Reva mendengar arah pembicaraan mereka, membicarakan soal perusahaan, uang dan rumah. Entah apa yang mereka bahas saat ini, tapi ada rasa sakit dihatinya melihat kedekatan ayahnya bersama anak Elena itu, anak tiri ayahnya itu.
Tanpa sadar dirinya mencengkram Nico begitu erat, dia kesal dan marah melihat mereka. Tapi tak sadar juga melampiaskan kearah Nico.
"Auh! Aduh, Reva jangan mencakarku!" teriak Nico sedikit berbisik.
"Salah sendiri pakai peluk-peluk segala" ujar Reva sambil melepaskan pelukan itu.
"Maaf, maaf! Aku bingung dengan posisi kita, pacaran tapi tegang amat" goda Nico cengengesan.
"Emang kita pacaran?!" tanya Reva sarkasme.
"Iya, dan sebentar lagi kita akan menikah" jawab Nico santai.
"Apa?! Maksud kamu apa--?" perkataannya terputus karena ada pelayan datang sambil membawa pesanan mereka.
"Silakan pesanan Tuan, Nona" ujar pelayan itu ramah.
"Terima kasih" ucap Reva dan Nico ramah juga.
"Makan dulu, Va. Jangan marah-marah mulu" ujar Nico sambil menyomot buah didepannya.
Reva kesal dengan tingkah Nico yang seenaknya itu, tapi bagaimana lagi emang begitu sifatnya. Ditambah lagi dia tak bisa marah-marah apalagi teriak-teriak yang ada memancing perhatian mereka yang dipondok sebelah.
Akhirnya dia ikutan makan juga, daripada marah-marah nguras energi. Capek!
...----------------...
__ADS_1
Bersambung