Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Azzam, Anak Yang Malang


__ADS_3

Satu jam, dua jam Ericka menunggu tapi tak ada yang datang menjemputnya, malam semakin larut banyak gerai toko mulai tutup. Jalanan mulai lengang, adik kecil tadi duduk bersama Ericka di emperan toko tidak terlalu jauh dari perempatan tadi.


"Kamu tidak pulang? Nanti orang tuamu mencari.." kata Ericka kepada anak itu.


"Gak ada, Kak.." jawab anak itu pelan.


"Hm, orang tuamu sudah meninggal.. Maaf yah, Kakak gak tau" ucap Ericka lagi sambil menatap anak itu sendu.


"Hehe.. Maksudnya gak ada yang nyariin, tapi kalau kakak bilang mereka udah meninggal gak salah juga sih, karena hati mereka sudah lama mati.." jawab anak kecil itu sambil tersenyum getir.


"Usiamu berapa?" tanya Ericka terharu, anak ini terlalu kecil untuk mengatakan itu semua.


"10 tahun, Kak.." jawab anak itu sambil menunduk.


"Rumahmu dimana? Kamu punya saudara?" tanya Ericka penasaran.


"Rumahku tidak jauh dari sini, perkampungan dibawah tol sana.. Aku punya adik tiga, tapi semuanya pergi" jawab anak itu.


"Pergi?" Ericka tambah penasaran dengan cerita anak itu.


"Ayah dan ibuku menjual mereka, gak tau sama siapa. Kata mereka gak punya uang buat makan, padahal ada uang untuk itu, tapi ayahku lebih suka mabuk-mabukan, judi dan suka gebukin orang termasuk aku.." anak itu memperlihatkan bahunya yang memar dan ada bekas cakaran juga.


"Kasihan,, kamu sudah merasakan hal seperti itu dan dipisahkan juga dengan saudara-saudaramu, bagaimana dengan ibumu?" ucap Ericka sambil sedikit terisak mendengar cerita anak itu.


Entah mengapa hatinya perih setiap kata keluar dari mulut anak lelaki itu, dia merasa sedang mendengarkan kisahnya sendiri.


"Aku gak tau, dia kalau siang selalu tidur dan bangun sebentar cuma buat marah-marah saja, kalau malam dia pergi, katanya kerja.. Gak tau kerja apa" anak itu bercerita dengan bibir bergetar.


Refleks Ericka meraih bahu anak itu dan memeluknya, anak itu menangis dibahu Ericka, entah berapa lama dia menahan itu semua, keluarga toxic ditambah lingkungan buruk membuatnya seperti ini.


"Siapa namamu? Apa kamu gak sekolah, tiap hari mulung yah?" tanya Ericka berusaha menenangkan anak itu.


"Namaku Azzam, Kak. Aku putus sekolah kelas 3 SD, terpaksa mulung daripada gak makan" ucap anak itu sambil menghapus air matanya.


'Kamu,, mau ikut Kakak?" tanya Ericka hati-hati.


"Kemana?" tanya anak itu polos.


"Ketempat yang lebih baik daripada disini, tapi kakak harus izin dulu kepada orang tuamu" ujar Ericka.


"Boleh, tapi aku rasa mereka tidak akan perduli" jawab anak itu, dan tiba-tiba..


"Azzam!" terdengar suara teriakan dari seberang jalan itu.


"I-Ibu?" anak itu gemetaran melihat sosok wanita didepan mereka.

__ADS_1


Wanita berpenampilan seksi dengan pakaian serba minim itu menatapnya dengan tatapan tajam, dia menghampiri mereka dengan wajah yang terlihat begitu marah.


"Apa yang kau lakukan disini? Bukannya pulang malah keluyuran! Siapa wanita ini, pacarmu?!" tanya wanita itu tak ada akhlak.


"Tolong bicaralah yang sopan, tak baik bicara seperti itu didepan anakmu! Dia ini terlalu kecil untuk mendengarkan itu semua!" bentak Ericka marah.


"Siapa kamu? Ngaca dulu kalau mau mengatakan seperti itu kepada orang lain, lihat dirimu! Penampilan kotor, dan aku yakin tak punya uang dan mau mendekati anakku, cih!


Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum ayahnya melihat kalian, anak itu bisa dilihat dibunuh olehnya, dan kau bisa jadi mainannya" ucap wanita itu datar.


Dari penampilannya wanita ini seperti seorang wanita penghibur dengan dandanan menor, sambil mengunyah permen karet dan rokok disela jarinya. Ericka menatap Azzam ketakutan bersembunyi dibalik punggungnya.


Entah sudah seberapa parah mereka menyiksa anak ini, sampai begitu traumanya. Dimana anak-anak lain begitu senang bertemu dengan ibunya, tapi anak ini malah ketakutan.


"Aku akan membawa anak ini!" ucap Ericka tegas.


"Boleh, asalkan kau beri aku uang! Tak banyak 5 juta saja, ahh! Seharusnya aku bisa minta lebih kepadamu, setidaknya 10 juta, tapi melihat penampilanmu yang kotor dan bau ini, aku yakin sama kere nya denganku, mungkin lebih miskin lagi, haha!" ucap wanita itu meremehkan.


Disebelah mereka diujung jalan mereka melihat ada beberapa lelaki bertubuh besar berjalan kearah mereka, terlihat Azzam dan ibunya ketakutan. Ericka sampai berpikir jika salah satu mereka pasti ayah anak ini.


"Apa yang kalian lakukan ditempat ini? Dan kau apa tidak bekerja?! Disini tempatnya sepi tak ada pelanggan disini!" ucap seorang lelaki bertubuh besar dengan tato di lengannya.


"Lelaki ini pasti ayahnya Azzam, dari gerak-geriknya sepertinya dia tak peduli sama sekali dengan anak ini," gumam Ericka dalan hati.


"Aku baru pulang dari seorang pelanggan, dia turunkan aku di sana. Aku melihat anak ini bersama wanita licik ini, katanya mau membawa anak ini bersamanya, haha!" ucap wanita itu sambil tertawa mengejek Ericka.


"Berapa kau minta!" jawab Ericka sambil menatap tajam wajah lelaki bengis itu.


"Haha! Kau menantangku Nona manis, anak ini sama sekali tak ada harganya, jika kau ingin dirinya, ambil saja!" jawab lelaki itu tersenyum licik.


Ericka terperangah dengan jawabannya itu, benar-benar tidak masuk akal! Ada orang yang sama sekali tak menganggap anaknya sendiri, bahkan tidak ada harganya sama sekali dimatanya sedikitpun.


"A-apa?! Apa yang kau lakukan, kita bisa rugi jika dia membawa anak begitu saja! Siapa yang akan membersihkan rumah? Mencuci baju? Masak? Siapa??! Kecuali jika ia membayar sejumlah uang!" jawab ibu Azzam protes.


Ericka pikir ibunya masih ada hati tapi sama saja, sempat dia berpikir ibunya protes karena suaminya akan membiarkan anaknya pergi begitu saja, tapi setelah mendengar ucapannya tadi membuat Ericka ingin cepat-cepat membawa anak itu pergi dari mereka.


"Tenang sayang, dari penampilannya aku yakin dia takkan mampu membayarnya, jangankan satu juta, seratus ribu saja dia tak punya" jawab lelaki itu meremehkan Ericka.


"Kata siapa?! Aku memiliki segalanya, Bahkan aku bisa membeli harga dirimu itu!" ucap Ericka gusar.


"O ya?! Kalau begitu keluarkan barang milik berharga punyamu, gak perlu yang muluk-muluk! Uang seratus ribu saja, apa kau punya?!" tantang ayahnya Azzam.


Ericka terdiam, dia diculik dan dibawa ketengah hutan! Mana ada uang atau benda berharga lainnya, Hp saja dia tak ada padahal benda pipih itu selalu dia bawa.


"Hahaha! Sudah kuduga, kau tak punya uang! Mudah saja, kau boleh bawa anak itu pergi dengan satu syarat, kau harus bekerja denganku malam ini, layani beberapa lelaki dapatkan uang dari mereka, atau... Harus tidur dengan kami disini secara bergantian, bagaimana?!" tawar lelaki bejat itu.

__ADS_1


Wajah Ericka memerah menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun itu, dia tidak terima dengan penghinaan ini.


"Kau jangan bersikap kurang ajar padaku! kau lihat perhiasanku ini, semuanya bernilai ratusan juta, kau bisa ambil semuanya!" teriak Ericka sambil memperlihatkan gelang cincin dan kalungnya.


"Bisa saja itu palsu, barang imitasi! Banyak dijual disini, perak murahan dibuat seolah emas putih yang sangat berharga, haha! Kau tak bisa menipuku, Nona!" ucap lelaki itu sambil mendekati Ericka.


Ibunya Ericka terdiam, matanya terus memandangi perhiasan Ericka takjub. Dari cara pandangnya, sepertinya dia tahu dengan semacam perhiasan seperti itu.


"Tunggu dulu, sepertinya gadis ini benar. Perhiasan ini asli!" teriak ibunya Azzam.


"Dasar wanita, tidak bisa melihat perhiasan sedikit langsung terpikat! Bahkan mudah tertipu dengan barang palsu seperti ini!" jawab lelaki itu.


"Tidak ini benaran asli!" jawab ibunya Azzam sambil menarik gelang ditangan Ericka.


Gadis itu terkejut tiba-tiba wanita itu merampas gelang ditangannya, dia merasa sedikit perih dipergelangan tangannya karena sempat ketarik oleh ibu Azzam saat merampas gelangnya.


"Dia benar.." sahut Ericka.


"Tidak, aku tidak peduli dengan itu semuanya! Aku yakin kau jauh lebih berharga, hehe! Ayo ikut denganku!" ucap lelaki itu menariknya dengan kasar.


"Tidak, lepaskan! Lepaskan kataku!" teriak Ericka ketika lelaki itu bersama teman-temannya menyeretnya pergi.


"Tidak Ayah! Jangan bawa kakak itu, aku akan pulang! Aku akan nurut lagi kepada Ayah dan Ibu, hiks!" Azzam menangis melihat Ericka ditarik paksa seperti itu.


"Apa maksudmu, hah?! Akan nurut lagi katamu?! Berarti selama ini kamu tidak terlalu patuh pada kami?! Dasar anak sialan, kamu pantas dapat hukuman!" teriak wanita itu tadi sambil memukuli Azzam.


"Ampun, Bu! Ampun, Azzam tidak akan nakal lagi! Huhu!" anak itu berteriak kesakitan.


"Hentikan! Baiklah, aku akan ikut dengan kalian, bebaskan Azzam! Dan kau silakan ambil gelangku sebagai gantinya" ucap Ericka putus asa saat melihat Azzam digebukin ibunya seperti menggebukin maling saja.


"Heh! Apapun benda ditanganku itu sudah menjadi milikku, haha! Jadi aku tak perlu minta izin darimu lagi!" jawab wanita itu sinis.


Ericka benar-benar marah, dia menggigit tangan salah satu lelaki yang memeganginya tadi dan menendang mereka, dia berlari sambil menarik tangan Azzam.


Dia tidak tahu kemana akan pergi, yang ada di kepalanya saat ini harus kabur melarikan diri dari mereka semua, dan tentunya menyelamatkan anak ini juga.


Sementara diseberang jalan ada mobil sedan Mercedez Benz terparkir, si sopir diam mengamati siapa saja didepan jalan itu dan melihat semua kejadian itu.


"Halo, aku telah menemukan nona muda. Tolong kirimkan bantuan segera!" ucap orang itu.


Mobilnya mengarah ke kantor polisi yang terletak tidak jauh dari sana, sedangkan Ericka menarik Azzam berlari sejauh mungkin untuk menghindari kejaran para lelaki bejat dan wanita tak tahu diri itu.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


Selamat malam tahun baru an yaaahh 🎉🎉🎊


Jangan lupa dukungannya buat othor makin semangat bikin ceritanya 🥰🥰🙏


__ADS_2