Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sebuah Jebakan


__ADS_3

Hari itu, Elena meminta bertemu dengan mr. Robert untuk membicarakan tentang perjanjian mereka.


"Kenapa kau memintaku untuk bertemu, apakah gadis itu sudah ditemukan?" tanya mr. Robert.


"Bukan, bukan soal itu. Tapi aku ingin membicarakan soal hutang piutang kepada anda, suamiku sudah memberitahu kepadaku bahwa dia telah mempunyai uang untuk melunasi hutang-hutang kami kepala anda, termasuk dengan bunga-bunganya." Ucap Elena dengan percaya diri.


"Apa?! Haha! Emang kau pikir berapa dolar hutang kalian kepadaku?! Itu ratusan ribu dolar! Bahkan jika digabungkan dengan bunganya, jumlahnya bisa mencapai jutaan dolar!" ucap mr. Robert memandang sinis kepadanya, meremehkan perkataan Elena.


"Jika anda tak percaya, mari akan saya tunjukkan buktinya" ucap Elena.


Dia menyodorkan layar laptop didepan mr. Robert, di sana terlihat bukti transaksi antar bank dan tertulis transaksi berhasil.


Melihat itu mr. Robert tak semerta-merta percaya, dia meminta orang kepercayaannya untuk mengecek keaslian transaksi itu, setelah yakin itu asli barulah dia sedikit lega. Tapi tak semudah itu melepaskan mangsa begitu saja.


"Oke, kau sudah membayar hutang-hutangmu beserta bunganya. Darimana kalian mendapatkan uang untuk melunasi semua hutang kalian? Apakah sehabis menipu orang?


Berhutang lagi? Atau, menjual sebagian aset perusahaan kalian?? Haha! Aku tak peduli soal itu, aku hanya ingin mengatakan jika kalian bangkrut lagi dan membutuhkan dana besar, aku siap melayani lagi. Haha!" ucap mr. Robert puas tertawa mengejeknya.


Elena tersenyum kecut mendengar ucapannya itu, jika dipikir-pikir benar juga katanya. Darimana suaminya mendapatkan uang sebanyak itu? Kenapa dia tak sempat berpikiran seperti itu?


Seketika hatinya merasa cemas, jangan-jangan apa yang diucapkan oleh orang tua itu ada benarnya juga.


"Aku tak peduli soal itu, yang jelas semua urusanku dan keluargaku kepada anda sudah selesai, dan jangan menghubungi kami lagi. Karena kita sudah tak ada urusan lagi" ujar Elena memutuskan hubungan dengan mr. Robert.


"Baiklah, tapi janji tetaplah janji. Kau sebelum pergi harus menepati janjimu untuk menemukan gadis itu dan memberikan dia kepadaku" ujar mr. Robert menatapnya tajam.


"Tapi perjanjian itu berlaku disaat kami masih berhutang dengan anda, dia merupakan bagian dari transaksi pelunas hutang kami.


Dan sekarang anak itu sudah tak dibutuhkan lagi, karena kami sudah melunasi semua hutang-hutang kami kepadamu" ucap Elena, dia tak mau direpotkan lagi dengan urusan Ericka.


"I don't care, kalian tak bisa pulang ataupun lepas dariku sebelum menemukan gadis itu!" ucap mr. Robert.


"Dari awal kalian sudah salah dalam berurusan dengan orang, kalian tahu apa akibatnya menjalin suatu hubungan denganku?


Yaitu perjanjian seumur hidup! Kalian dibawah pimpinanku selamanya, aku tak peduli apa pendapat kalian yang jelas kalian tak bisa lepas dariku selamanya" ucapnya lalu pergi meninggalkan Elena dan Pramudya.


Elena masih diam terpaku dengan ucapan mr. Robert tadi, dia tak menyangka akan seperti ini akhirnya. Dia pikir akan berakhir tapi ternyata dia ditipu oleh penjahat itu.


"Ibu, bagaimana ini?" tanya Pramudya cemas.


"Mau gimana lagi, kita harus menemukan gadis itu! Setelah itu kita bebas pergi dari sini" ucapnya geram.

__ADS_1


"Tapi katanya tadi, kita takkan bisa lepas darinya" Pramudya merengek seperti anak kecil saja.


"Diam! Bagaimana pun juga kita takkan bisa lepas darinya, tapi setidaknya kita bisa pulang. Jika kita di rumah setidaknya kita bisa bebas dari kekangannya" ucap Elena lagi.


Tiba-tiba ada yang datang lagi menemui mereka, ternyata dia salah satu orang kepercayaan mr. Robert, dia membawa map amplop coklat lebar ditangannya.


"Mr. Robert memintaku memberikan informasi tentang gadis itu kepada kalian, agar mempermudah kalian mencarinya" lalu dia melemparkan amplop itu didepan mereka.


"Bagaimana, apa kalian masih berpikir dia jahat kepada kalian?! Lihat, dia bahkan membantumu mencari informasi tentang gadis itu saat ini" ujar lelaki itu seraya meninggalkan mereka lagi.


"Bagaimanapun juga dia tetap rentenir dan juga iblis berwajah manusia! Apapun alasannya dia mencari informasi tentang anak itu sama sekali tak menguntungkanku!" gumam Elena.


Dia sama sekali tak terima diperlakukan seperti oleh penjahat itu, bagaimana tidak selama ini dia adalah bosnya disaat masih di rumahnya. Dan sekarang dia adalah budak di rumah itu.


Akhirnya Elena bersama Pramudya dibantu juga oleh beberapa anak buah mr. Robert mencari tahu tentang Ericka yang diberikan alamatnya selama ini dia tinggal.


Tibalah mereka disebuah apartemen mewah, tak semua orang bisa masuk hanya para penghuni dan para petugas yang bisa masuk kedalam apartemen itu dan tentunya harus memakai id card pengenal lainnya.


"Kita tak bisa masuk, bagaimana ini?! Apa kalian tak diberikan petunjuk atau peralatan lainnya untuk menyamar oleh mr. Robert?!" ujar Elena kesal kepada orang suruhan mr. Robert itu.


"Jangan memerintah kami, Nyonya! Anda bukan bos kami, kami hanya menemani kalian disini dan membantu sedikit saja itu jika ada yang menghalangi kalian dalam bertindak!


Semuanya harus kalian yang kerjakan dan lakukan sendiri, sudah bagus bos kami membantumu mencarikan info tentang gadis itu" ucap para pengawal itu ketus.


"Bagaimana kami mau bertindak, anda saja bergerak saja belum!" jawab pengawal itu lagi.


Saat ini Elena dan lainnya berdiri tak jauh dari gapura pintu gerbang apartemen mewah itu, mereka benar-benar tak bisa menyusup kedalam, karena pengamanan apartemen itu begitu ketat.


Kamera Cctv ada dimana-mana, pengawal banyak berpatroli disetiap tempat. Bahkan dibeberapa titik tertentu ada semacam sinar laser untuk mendeteksi penyusup gelap.


Di saat mereka masih kebingungan bagaimana caranya agar bisa masuk kedalam tiba-tiba ada sebuah mobil Ford Mustang hitam melewati mereka keluar dari gerbang apartemen itu.


Kaca mobil dikursi belakang terbuka sedikit, terlihat wajah seorang penumpang dibelakangnya. Seorang gadis yang sangat familiar oleh Elena maupun Pramudya, hanya saja gadis ini memakai kaca mata hitam dan membuat mereka sedikit ragu tentangnya.


"Ikuti mobil itu!" seru Elena terhadap yang lainnya.


Mereka naik ke mobil mereka dan mengejar mobil yang membawa seorang gadis yang begitu mirip dengan Ericka, mereka berusaha menyeimbangkan laju jalan mobil mereka dengan mobil itu.


Elena dan Pramudya ingin memastikan bahwa gadis itu benaran Ericka ataupun bukan, seolah sudah tahu dirinya diikuti gadis dimobil itu membuka kaca mobilnya lebih lebar lagi.


Dia menoleh kearah mobil yang berjalan sejajar dengan mobilnya, gadis itu tersenyum sambil membuka kaca matanya. Elena terkejut begitu juga dengan Pramudya.

__ADS_1


Gadis itu benar-benar Ericka tapi dia kelihatan lebih cantik dan lebih anggun, sangat berbeda dengan Ericka yang mereka kenal.


"Apa kalian mengikutiku?!" tanya gadis itu lewat jendela mobilnya.


"Siapa kau?!" tanya Elena penasaran.


"Menurutmu aku siapa??" tanya gadis itu sambil tersenyum misterius, dialeknya sangat berbeda dengan mereka.


"Apa kau... Ericka?!" akhirnya Elena menanyakan hal itu.


"Siapa itu Ericka?! Aku Selena..." ucap gadis itu.


"Oh begitu, maaf kami salah orang" ucap Elena.


Mobil gadis itu terus berjalan lurus sedangkan mobil ditumpangi Elena dan Pramudya memilih berhenti dibahu jalan, sedangkan mobil para pengawal tadi terus mengikuti mobil itu.


"Benar dugaanku, gadis itu tidak mungkin Ericka! Gadis itu begitu cantik dan anggun, dari caranya berbicara dia pasti sangat terpelajar dan tentu pasti orang kaya.


Mana mungkin Ericka bisa seperti itu, mungkin saat ini dia menggelandang entah dimana, atau mungkin sekarang menjadi wanita penghibur disuatu tempat" ucap Elena.


"Tapi, Bu. Kita mendapatkan informasi ini dari mr. Robert langsung, tak mungkin dia salah" ucap Pramudya ragu dengan pikiran mereka.


"Apa yang diucapkan oleh putramu itu benar, tidak mungkin bos kami salah! Dia mengirimkan orang yang cukup hebat dan berpengalaman dalam mencari orang.


Kau saja yang tak bisa menilai, kau selalu menilai orang dari bungkusnya saja" sahut sopir mobil itu.


"Lebih baik kau telpon si bos, untuk memastikannya" ucap sopir itu lagi.


Dan benar saja, saat Elena menelpon mr. Robert untuk memastikan bahwa apa yang dia lihat tadi apakah benar itu Ericka atau bukan, dia langsung kena bentak mr. Robert.


"Dasar bodoh! Kau tak bisa memakai otakmu jika bekerja, untung saja aku meminta anak buahku menemanimu kesana jika tidak entah sampai kapan aku harus menunggu!" bentak mr. Robert kesal.


"Ta-tapi" Elena terus berusaha menyampaikan argumentasinya.


"Sudah, cukup! Temui aku sekarang disini, nanti aku akan share lock lokasinya. Kau benar-benar tak guna, sudah dikasih informasi tentang gadis itu tetap tak bisa bekerja!" ucap mr. Robert seraya menutup telponnya.


"Bagaimana caranya aku bekerja seperti itu?! Aku tak pernah menguntit orang!" teriak Elena kesal juga.


Setelah itu mereka menuju ke lokasi sesuai alamat yang sudah dikirimkan oleh mr. Robert, mereka tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti saat di sana.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2