Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Keluarga Yang Hilang Kembali Lagi.


__ADS_3

Semuanya telah berkumpul, mereka kini tengah menunggu kedatangan om Richard. Harap-harap cemas menunggu kedatangannya, berharap menemukan sebuah jawaban dari pertemuan ini.


"Maaf, apa kedatangan saya terlambat?" tiba-tiba yang ditunggu juga sudah ada didepan mereka.


"Ah, gak kok Om.. Silakan, duduk dulu. Mau pesan apa, Om? Sekalian buat yang lainnya juga aku pesanin makanannya.." ucap Nico dengan ramahnya.


"Lah, emang kakak gak pesan juga?" tanya Ericka sambil melihat menu makanan.


"Udah kenyang, tadi udah makan duluan, maaf Om.." jawab Nico sambil melirik istrinya.


"Haha! Santai aja, kita ini keluarga semuanya, jangan sungkan ataupun malu, ayo Reva, jika ingin pesan lagi, boleh kok. Om yang traktir!" jawab Om Richard senang.


"Boleh yah?!" Reva melirik gemas kepada suaminya itu.


"Iya, boleh. Asal dihabiskan, dan jangan ngeluh kekenyangan ampe gak bisa jalan!" ucap Nico sambil menggelengkan kepalanya melihat Reva yang gak ada kenyangnya itu.


Reva cuek dia sibuk memilih menu baru yang belum dia coba, sedangkan Rendy dan Ericka sibuk memperhatikan omnya itu dengan seksama, lelaki paruh baya itu terlihat begitu percaya dengan mereka tanpa curiga sekali.


"Om, tau dengan kami?" tanya Rendy memberanikan diri.


"Sebetulnya, Om gak tau kalian bahkan berpikir jika kalian tak ada. Tapi aku sangat berprinsip dan memegang teguh amanah, ibuku sangat menyayangi nenek kalian, mereka sangat dekat sekali.


Ketika dia mengetahui bahwa adik dan keponakannya meninggal, hatinya sangat sakit sekali, apalagi nenekku sampai depresi dan kakek meninggal karena serangan jantung.


Mereka semua pindah dari kota ini, menjual semua aset yang mereka miliki, pindah ke daerah lain yang cukup jauh dari sini, mulai usaha dari nol lagi, sambil membuka lembaran baru.


Sampai saatnya ibuku menikah, dan baru mengetahui fakta yang sebenarnya, jika keponakannya yaitu ibu kalian masih hidup, dia berusaha sekuat mungkin untuk menemukannya, tapi tak bisa..


Kekurangan informasi dan data, dan ibumu seperti disembunyikan begitu kuat oleh seseorang, sehingga dia tak bisa melacak dan menemukannya, saat aku sudah besar dan dewasa, kini aku yang diminta untuk menemukan ibu kalian.


Karena usia ibu dan ayah sudah tak muda lagi, dan mereka juga tak se energik dulu, maka dengan sukarela aku membantu mereka mencari keberadaan kakak sepupuku itu.


Sampai dengan satu bulan yang lalu, ibuku meninggal dan memintaku tetap mencari keberadaan ibu kalian, tapi malangnya kami baru mengetahui kalau ibu kalian sudah meninggal juga.


Tapi aku tak berhenti sampai di sana, aku terus mencari tahu selama ini ibu kalian ada dimana, dan mencari informasi dan data lain mengenai mendiang ibu kalian.


Sampai saatnya aku mengetahui mengenai kalian, dan maaf aku tak pernah ada waktu untuk bertemu dengan kalian, karena kesibukan dan lain hal, sehingga aku selalu menundanya" ucap om Richard menjelaskan semuanya.


Mereka terdiam sejenak saat pelayan menyediakan makanan pesanan mereka, mereka dengan santainya menikmati makan siang bersama sambil melanjutkan lagi obrolan dan ceritanya.


"Beruntungnya aku memiliki istri yang sangat pengertian, dan anakku yang memahami ayahnya begitu kesepian ini, haha! Kesepian ini bukan berarti aku selalu sendiri yah..


Maksudnya, aku hanya sendirian. Aku tak memiliki keluarga ataupun saudara lain kecuali merekalah keluargaku, dan kini.. Aku senang bisa menemukan kalian.


Aku harap hubungan kita terus terjaga dan silahturahmi ini terus terjaga, kini aku merasa lega, meskipun aku tak bisa menemukan ibu kalian disaat mendiang masih ada, setidaknya aku masih bisa diberi kesempatan untuk bertemu kalian.

__ADS_1


Aku harap di akhirat sana, mereka berkumpul semuanya. Ayah dan ibuku, ayah dan ibu kalian, saudara-saudara mereka berkumpul semuanya, dan pencarian telah berakhir.


Dan sekarang, kita membangun hubungan baru lagi, jangan sungkan ataupun malu, jika ada perlu apapun hubungi saja Om ini, karena kita adalah keluarga.


O ya, sampai lupa! Ada salam dari tante kalian, maaf dia tak bisa ikut, maklum dia juga wanita karir, dia begitu sibuk dengan berbagai kegiatannya. Anak om ada dua, yang satu laki-laki bernama Azka dia masih sekolah di menengah atas, dan di kecil bernama Zoya, masih SD. Kau sudah bertemu dengannya waktu di pemakaman, Ericka.." sambung om Richard lagi.


"Iya, Om. Akan kami ingat juga. Sampaikan salam dari kami juga kepada tante juga adik-adik yang di sana, btw.. Om juga bentar lagi bakalan jadi kakek juga, hehe.." sahut Nico senang.


"Siapa? Reva? Waaahh,, senangnya bakalan nambah anggota baru lagi kita, haha.." sahut om Richard tergelak.


Reva hanya tersenyum malu sambil mendelik kearah suaminya, karena dia belum siap dengan kata-katanya tadi, untuk gak tersedak tadi saat minum.


Setelah selesai perkenalan dan obrolan yang cukup panjang, mereka memutuskan untuk kembali lagi ke kantor masing-masing, mereka pikir mereka akan melewati hari itu sampai sore, ternyata tidak.


Ternyata om Richard tidak sekaku atau sedingin itu, ternyata dia sangat ramah dan baik, sangat supel, humble dan family man.


Mereka menjadi tenang dan nyaman jika bersamanya, dia memang sosok yang mengayomi dan melindungi sekali, sifat ke bapakan muncul begitu saja.


Ericka seperti merasa bertemu dengan sosok ayah lagi, dia bagaikan anak hilang yang haus kasih sayang orang tua, dan kehadiran om Richard membuatnya nyaman.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Rendy kepada Ericka.


"Gak apa-apa kok.. Hanya saja aku merasa nyaman saja saat pertama bertemu dengan om Richard, meskipun dia bukan om kandung, tapi dia sangat mengayomi kita.


Tidak ada lagi drama-dramaan ataupun cerita tragis lagi, aku gak mau seumur hidupku dihabiskan dalam sebuah cerita membosankan seperti itu," ucap Ericka.


"Iya, sudah cukup drama ibu tirinya. Kalau bisa gak ada drama keluarga jahat lainnya. Ya udah, kakak balik lagi ke kantor, pasti Andriana sudah lama menunggu, apalagi pekerjaan di yayasan lagi banyak-banyaknya.." ucap Rendy lagi.


"Ngomong-ngomong soal pekerjaan, apa kakak tidak berniat untuk kembali ke kantor ayah?" tanya Ericka hati-hati.


"Tidak, untuk urusan pekerjaan kantor, perusahaan dan bisnis ayah kamu handle sendiri yah, kalau kamu butuh bantuan, kakak bisa bantu juga, karena selain mengurus yayasan ibu, kakak juga menghandle perusahaan dan bisnis ibu juga, bahkan gini-gini kakak juga punya bisinis sendiri juga, gak melulu punya orang tua, hehe.." tawa Rendy.


"Kalau kak Reva gak usah dipikirkan juga, dia juga menghandle kantor pusat milik ibu bersama bisnis miliknya sendiri, dia juga harus bantu suaminya menjalankan perusahaan milik mereka sendiri.


Dia juga tak kalah sibuknya dengan kita, tau sendiri bisinis kak Nico seabrek gitu, belum lagi wancana pengalihan warisan mendiang kakek untuk ibu dan kita, hufft...


Ini akan menjadi Pr panjang buat kita, dan harus amanah! Setelah semuanya selesai, kakak pengen hidup tenang dan damai, tidak ada lagi perseteruan lainnya" ucap Rendy lagi.


"Aku juga maunya begitu, Kak. Kalau bisa sebagian harta milik ayah dan ibu kita wakafkan saja atas nama mereka, dan biarkan itu jadi amalan untuk mereka, biar tak ada lagi beban untuk kita.


Karena memiliki harta banyak juga tak menjamin hidup tenang dan nyaman, buktinya kita selalu dikejar dan diteror terus sama orang-orang serakah itu.


Apa kita berikan saja semuanya, agar mereka semua berhenti mengejar kita? Setidaknya oma Mariani mungkin akan menerima kita sebagai keluarganya yang lain.


Bukankah menyenangkan punya keluarga dan hidup bahagia selamanya? Biar sama-sama senang, sama-sama hidup tenang.." ujar Ericka mengungkapkan keinginannya.

__ADS_1


"Jika usulmu untuk mewakafkan sebagian harta ayah dan ibu, aku setuju dan kak Reva juga pasti setuju, apalagi untuk kepentingan umat banyak, untuk kepentingan semua orang dan bermanfaat untuk kebaikan, kami akan setuju.


Tapi jika kamu membiarkan semua warisan dari kakek untuk diberikan untuk mereka, hanya demi sebuah keluarga. Aku tak rela dan tak setuju. Kamu harus pikirkan kak Nico dan orang-orang yang selama ini menjaga amanah itu bertahun-tahun lamanya.


Mereka rela melakukan apa saja agar amanah yang diberikan untuk mereka tetap terjaga, bahkan orang yang katanya keluarga itu bisa melakukan apa saja demi semua itu.


Menculik kamu, dan mungkin saja tanpa kita ketahui mereka telah melakukan banyak hal diluar nalar.


Jika kita berikan semua warisan itu, apakah semuanya akan berhenti? Apa oma Mariani dan antek-anteknya akan berhenti dan menerima kita sukarela?!


Tidak akan pernah, Ericka! Baginya kita ini musuh yang harus dimusnahkan, baik itu perlu, tapi bodoh jangan! Kita harus bisa menilai orang, mana yang patut diperjuangkan dan mana yang patut ditinggalkan!" ucap Rendy geram dengan mereka.


"Iya, kakak benar. Dan maaf, tak terpikirkan olehku soal itu, huft.. Tolong jangan beritahukan soal ini kepada kak Nico, bisa habis dicincang aku olehnya.." sahut Ericka.


"Haha! Iya, ini rahasia kita. Sudah bagus kamu menceritakan hal ini kepada kakak, jika sama kak Reva kamu pasti sudah di ceramahi olehnya, sehari semalam, haha!


Dan satu hal lagi, jangan sekali-kali bercerita soal apapun tentang keluarga kita kepada orang lain, meskipun dia baik denganmu, ini rahasia keluarga, faham?!" tanya Rendy lagi.


"Iya, aku faham kok.." jawab Ericka mengangguk.


Mereka terpisah dengan mobil yang berbeda, setelah lumayan jauh perjalanan, Ericka baru ingat jika dia ingin bertanya perihal hubungan kakaknya dengan Andriana.


"Huft, besok-besok saja deh ketemunya.." gumamnya sendiri.


Tiba-tiba saja mobil mereka disalip oleh sebuah sepeda motor sport trail, motor itu sedang kejar-kejaran dengan sebuah mobil van hitam, dan..


Brak!!


Motor trail itu ditabrak dari belakang oleh mobil Van itu, setelah menabrak mobil itu terus berjalan ngebut meninggalkan motor itu ditengah jalan dengan penumpangnya tergeletak begitu saja.


"Pak, berhenti sebentar, tolongin dia! kasihan.." ucap Ericka.


Sopirnya menghentikan laju mobilnya, ada juga beberapa mobil dan motor kendaraan lain yang berhenti mencoba menolong orang itu.


Ericka mendekati orang itu, helmnya tertutup menutupi wajah orang itu, saat dibuka wajahnya sangat familiar sekali, mirip seseorang, tapi entah siapa.


Saat diperiksa, dia seorang remaja yang masih sekolah, terlihat dari seragamnya yang tertutupi oleh jaket kulit yang dia pakai saat itu, Ericka membiarkan mobilnya untuk membawa anak itu ke rumah sakit.


Anak itu pingsan, Ericka membopongnya kedalam mobilnya, dia sempat melihat nama anak itu di nam tag baju seragamnya.


Azka Alexander Pohan. SMK Budi Luhur X.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2