Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kakak Rindu, Dek...


__ADS_3

Di kantor itu, Pramudya tercengang apa yang dilakukan oleh Ericka kepadanya. Kini, dia harus satu ruangan dan duduk berjejer dengan karyawan lainnya, hanya terpisah dari kubikel saja.


"Apa yang kau lakukan?! Kenapa aku ditempatkan disini?! Aku ini adalah salah satu bos di perusahaan besar ini, kenapa malah dijadikan satu ruangan dengan para pegawai disini?!" bentak Pramudya tidak terima.


"Tutup mulutmu dan kecilkan suaramu itu, bisa sakit telingaku kau teriak-teriak terus dari tadi! Mulai hari ini kau bekerja disini, sesuai dengan kapasitas dan kemampuanmu sendiri, dan aku juga tak yakin otakmu itu sama dengan para pegawai disini, mungkin lebih lemot dari mereka!


Jadi, kau harus lebih awal lagi memulai karena tidak ada yang instan disini. Bekerjalah dengan rajin dan telaten, dengarkan pimpinanmu. Kerjakan apa yang dia suruh, jadilah contoh karyawan yang teladan itu seperti apa!" ujar Ericka memberikan pernyataan.


"Ta-tapi aku.." Pramudya menelan salivanya dengan kasar dengan semua kejadian ini membuatnya bingung seketika.


"Ini adalah Bu Geraldine, dia adalah manajer di devisimu mulai saat ini. Dia akan mengarahkanmu dan mengawasi kinerjamu mulai saat ini, ikuti aturannya dan jangan membantah kalau tidak mau dipecat!" bentak Ericka.


"Jangan macam-macam Ericka!" delik Pramudya marah dengannya.


"Kau yang jangan macam-macam jika tidak hidupmu lebih sengsara dari Pricilia, ikuti saja peraturan di perusahaan ini, ikuti perintahku! Masih bagus diterima di perusahaan ini, jika tidak sudah lama aku tendang kamu dari sini" sambung Ericka lagi.


Pramudya terdiam, dia tak bisa membalas ataupun membantah ucapan Ericka saat ini, karena dia tahu percuma saja berlagak didepannya karena saat ini keluarganya tidak memiliki apapun lagi, kecuali bergantung kepada perusahaan ini.


"Bu, saya minta saudara Pramudya menjadi tanggung jawabmu mulai sekarang ini. Buat dia menjadi sangat disiplin dan mandiri, biarkan dia mengerjakan semua pekerjaan berat, biar tahu dia bagaimana rasanya bekerja itu seperti apa" perintah Ericka kepada Geraldine.


"Baik, Bu!" sahut Geraldine hormat.


Setelah itu Ericka pergi dari tempat itu dan kembali ke ruangannya, Semua karyawan yang ada di sana menatap tajam kearah Pramudya, mungkin inilah saatnya bagi mereka untuk membalas semua perbuatannya selama ini.


"Apa yang kalian lihat!" bentak Pramudya merasa risih.


"Turunkan nada bicaramu, karena kau bukan bos disini! Mulai sekarang kau ini adalah juniornya mereka, anggap saja dirimu ini karyawan yang baru magang! Hormati seniormu, lakukan apa yang disuruh oleh mereka" ujar Geraldine memberikan perintahnya.


Pramudya merasa berada didalam mimpi, bagaimana bisa dalam sekejap dia menjadi orang yang paling bawah stratanya dibandingkan semua karyawannya.


Dia juga tak bisa membantah ataupun melawan semua aturan dan perintah dari Geraldine jika tak ingin diadukan ke Ericka, mau tak mau dia harus melakukannya walau hati rasanya dongkol dan amarah memuncak, apalagi semua karyawan lainnya ikut-ikutan memberinya perintah.


"Pram, ambilkan paket di lobby bawah!"


"Pram, buatkan kopi. Cepat!"


"Pram, tolong bersihkan ruangan bu Geraldine karena para Cleaning Servis lagi ada pekerjaan lainnya, jadi kamu yang harus mengerjakannya!"


"Pram, tolong buang sampah kertas didalam mesin pemotong kertas!"


Dan itu sebagian dari perintah karyawan yang menyuruhnya melakukan itu semua, jika dia mulai malas-malasan maka para karyawan itu mulai mencatat prilakunya dan akan menyerahkannya kepada Geraldine selaku manajer mereka yang bertanggung jawab atas dirinya.


"Ya Tuhan, lelah sekali rasanya! Baru kali ini aku merasakan betapa lelahnya bekerja dan mencari uang!" keluhnya.


Tapi setelah melihat Geraldine yang begitu cantik dan bohay itu, otak licik dan me.sumnya kembali bekerja.


"Aku harus mendekatinya, aku akan memperlihatkan pesonaku kepadanya! Tidak ada wanita manapun yang bisa berpaling dari tatapan dan godaanku" gumamnya sambil tersenyum sinis.


Bahkan dia tidak tahu siapa sebenarnya Geraldine itu, dan dia juga takkan bisa memperkirakan nasibnya akan lebih tragis dari adiknya itu.


//

__ADS_1


Sementara itu, di kediaman tuan dan nyonya Nico Abraham,, Reva sudah bersiap-siap ingin menemui adik yang sudah lama dia rindukan. Dia beberapa mematut diri didepan kaca, sambil tersenyum-senyum membayangkan apa saja akan mereka obrolkan nantinya.


"Cieee.. Yang lagi senang,, suaminya berdiri aja dari tadi dicuekin bae!" sindir Nico.


Dia sejenak merasa tersingkir dari sisi istrinya itu gara-gara sang adik ipar sendiri, ada rasa cemburunya melihat Reva begitu antusias dan nervous saat ingin bertemu dengan Ericka, adiknya sendiri.


"Kamu pernah gak sih kayak gini kalau mau ketemu aku?!" tanyanya manyun.


"Apaan sih, Nic! Kayak bocah aja, yang aku temui ini adikku sendiri, adik kandung! Masa sama Ericka aja cemburu, biasanya juga kalau sama Rendy enggak!" sahut Reva cuek sambil dandan didepan cermin nya itu.


"Kalau sama Rendy kamu gak kayak gini.." sahut Nico pelan, lagaknya kayak bocah ngambek!


"Duhhh, kalau sama Rendy itu hampir saban hari disamperin mulu! Jadi biasa aja" kata Reva mulai memakai aksesorisnya.


"Udah gak usah ngambek kayak gitu, kesel gw liatnya! Ya udah, kamu juga siap-siap gih, ikut aku juga" ujar Reva mulai jengah diambekin terus sama Nico.


"Beneran nih sayang?! Serius?! Yess, tunggu yah!" jawab Nico senang.


Reva hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Nico akhir-akhir nampak berubah, seperti anak kecil, suka ngambek gak jelas, tiap malam maunya ditemani makan buah asem-asem kecut gitu!


"Ini anak semenjak akur sama aku, sifatnya jadi berubah kayak gitu. Aneh! Apa karena aku udah welcome sama dia, jadi dia ngerasa cuek aja gitu?! Apa selama ini aslinya dia kayak gitu?


Emm, ini patut dicurigai dan harus aku selidiki! Btw, ini kenapa badanku rasanya lemes-lemes kayak gini yah, jadi males mau keluar! Tapi gimana dong, aku udah niat banget pengen ketemu Ericka.


Dan Nico pasti ngambek lagi kalau gak jadi jalan, sifatnya ntar makin menjadi-jadi lagi, masa iya aku kudu ngebujuk dia terus tiap kali ngambek! Ini mah kebalik!" ujarnya ngebatin.


"Sayang... Aku udah siap, yuk jalan" sapa Nico keluar dari ruang ganti baju.


Dengan stelan tuksedo serba hitam dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu, dia juga memakai sepatu kulit warna hitam senada dengan setelan tuksedonya, rambut disisir rapi klimis dengan memakai pomade super licin dan memakai jam tangan mewahnya membuatnya menjadi sangat berkelas dan jauh diatas level yang sangat berbeda dari sebelumnya.


"Kamu ngapain sih, Nic! Kita tuh cuma ketemu sama Ericka, paling juga ngobrol santai makan di cafe-cafe! Bukan mau menghadiri pesta mewah atau mau meresmikan gedung!" ujar Reva mulai pusing dengan kelakuan sang suami.


"Kok gitu reaksinya? Seharusnya kamu senang aku berpenampilan kayak gini biar gak malu ngenalin suamimu kepada adikmu itu!


Ish, jadi males kayak gini! Padahal dari tadi dia juga bolak-balik cari baju yang bagus sampe isi lemari berantakan kayak gitu.." ujar Nico ngambeknya mulai kumat.


"Astagaaaaa, ya udah! Ya udaahhh... Maaf ya sayaaaangg, yuk jalan, mumpung belum terlalu siang" ujar Reva mulai melembutkan gaya bicaranya,gedek!


"Tapi kamu kan gak suka aku kayak gini..." Reva udah kayak ngurus bayi gede kayak gini mah.


"Sudah, cakep kok! Maaf yahh.." ujar Reva lagi.


Akhirnya dengan bersusah payah menenangkan hati Nico, mereka pergi juga menemui Ericka. Mereka tahu Ericka tidak akan di rumah jam segitu, dia pasti ada di kantor, pikir Reva.


Mereka datang menemui Ericka di perusahaan itu, agak kaget juga mereka melihat ada sedikit perubahan dalam perusahaan itu, dari depan saja orang-orang tak bisa masuk ke perusahaan itu sembarangan, kecuali para karyawannya itu juga harus menggunakan id card agar diperbolehkan masuk.


"Maaf, Bu. Kami harus menghubungi Bu Ericka dulu" ujar Security dengan sopan.


Mereka semua yang ada di sana tahu siapa Reva dan Nico, tapi mereka juga harus melaksanakan peraturan perusahaan itu juga.


"Apa?! Kak Reva dan suaminya datang ingin menemuiku?" Ericka terlihat bimbang antara ingin bertemu dan tidak.

__ADS_1


"Aku belum siap,, tapi jika tak bertemu kak Reva pasti salah faham, aku harus bagaimana?" gumamnya bimbang.


"Baiklah, katakan kepada mereka aku akan menemuinya. Tapi mungkin agak lama karena ada meeting sekarang" ujarnya beralasan.


"Sudah saya sampaikan, Bu. Kata bu Reva tidak apa, dia akan menunggu" ujar security itu.


Ericka menghela nafasnya berat, dia merindukan kakaknya tapi dia juga tak kuat jika harus bertemu sekarang, dia takut hatinya goyah. Karena dia tahu, sekuat-kuatnya Reva dia takkan tega melakukan semua hal yang dia lakukan selama ini.


Jika Reva sekuat itu, mana mungkin dia terus-terusan menjadi sasaran empuk para pendosa itu. Ericka malah berniat ingin menjauhi kedua kakaknya agar mereka tidak terlibat dengan apa yang dia lakukan selama ini.


Dia tidak ingin kedua kakaknya malah kena imbas atas perbuatannya kepada para benalu di keluarganya itu, dia tahu kalau Elena itu nekat, dia bisa saja melukai kedua kakaknya untuk membalas perbuatannya itu.


Satu jam sudah berlalu, Ericka belum juga turun menemui mereka, Reva masih sabar menunggu tapi tidak dengan Nico. Dia mulai uring-uringan, capeklah, kakinya pegellah!


"Siapa suruh berpakaian seperti itu!" gumam Reva kesal dengan tingkahnya Nico.


"Pulang yuk.. Ericka kayaknya lagi sibuk banget, besok aja deh kesini lagi" ujar Nico mulai tak betah.


"Tunggu sebentar lagi.." sahut Reva sabar.


"Lama! Udah satu jam lebih, ngapain sih diatas?! Masa meeting lama banget! Alasan itu, dia gak mau ketemu kamu!" celetuk Nico.


Membuat hati seorang Reva sakit, dia tak bisa menyalahkan Nico jika dia berujar seperti itu, karena pada awalnya Reva juga berpikir begitu.


"Apa dia masih marah padaku?!" gumamnya sedih.


"Ya udah, kita pulang ..." ujarnya lirih.


Sebelum pulang dia sempat menitipkan sebuah pesan kepada security yang berjaga, dia menitipkan sebuah secarik kertas untuk adiknya itu. Setelah itu dia pergi dari sana dengan perasaan yang begitu sakit.


"Mau kemana?" tanya Nico menatap kearah Reva yang sedari tadi diam saja.


"Pulang ke rumah" jawab Reva singkat.


"Em, nanggung udah berpenampilan rapi kayak gini tapi gak kemana-mana! Masa iya langsung pulang, kita cari makan dulu yah. Sebentar aku cari restoran bagus disekitaran sini" ujar Nico.


Mereka masuk kedalam mobil dan menuju restoran yang dituju oleh Nico, sepanjang jalan mereka hanya diam-diaman. Nico melihat Reva memandang kearah luar kaca mobil itu, dia juga melihat ada cairan bening keluar dari mata istrinya itu.


"Aku tak ingin mengganggunya hari ini, sepertinya dia tak bisa diganggu... Kasihan, dia harus gagal lagi bertemu dengan Ericka. Aku harus melakukan sesuatu untuknya, aku tak ingin melihat istriku seperti ini lagi" gumam Nico dalam hatinya.


Sementara itu, Ericka harus diam-diam menangis setelah membaca pesan singkat dari kakaknya itu, ada rasa bersalah yang amat besar dihatinya itu.


Ericka sayang, dek... Kakak senang akhirnya bisa kembali bertemu denganmu, walaupun waktu tak memihak kita... Tapi kakak percaya, jika kamu sama halnya dengan kami yaitu aku dan Rendy, ingin bertemu dan kembali bersama seperti dulu lagi. Sempatkan sedikit saja waktumu untuk bertemu dengan kami walau sekali saja, aku masih berharap denganmu. Kakak akan selalu menunggumu sampai kapanpun...


Setelah membaca surat kecil itu, hatinya Lulu lantak menangis pilu karena merasa bersalah telah menyakiti perasaan kakaknya dan tak bisa mewujudkan keinginannya itu.


"Maafkan, Eri kak ... Maafkan, Eri..." ujarnya sambil terisak memeluk kertas itu.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2