Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Pembalasan Reva


__ADS_3

Elena memandangi Ericka dengan pandangan sinis, mana mungkin wanita ini Ericka, gadis buruk rupa dan kumal itu sekarang berubah menjadi seorang putri cantik? pikir Elena.


Pandangannya tak lepas dari Ericka, setiap lekuk tubuhnya dipindai oleh mata jeli nya.


Gadis ini memiliki tubuh cukup ideal, memiliki kulit putih bersih, hidung mancung dengan bibir tipisnya.


Kecantikan alami yang diturunkan oleh Ibu kandungnya, semakin membuat Elena muak melihatnya.


"Apa yang kau lakukan disini, katanya ingin membuat teh untukku?" Tiba-tiba saja pak Dewantoro datang.


Sebelumnya.


Dia mencari istrinya itu, karena tak kunjung datang akhirnya dia menyusul istrinya ke dapur, dia tak menemukan Elena.


Saat di dapur dia melihat ada pelayan di sana, sedang membuat teh dan menyiapkan cemilan untuknya.


"Kemana saja kalian? Kenapa baru membuatkan ku minuman?!" bentak pak Dewantoro.


"Maafkan kami, Tuan." Jawab pelayan itu.


"Apa kau melihat nyonya?" tanya pak Dewantoro.


"Nyonya sedang bersama Nona Ericka, Tuan." Jawab pelayan itu.


Pak Dewantoro bergegas menemui istrinya itu, sekarang apa yang dia lakukan pada Ericka? batin pak Dewantoro.


Karena dia selalu berpikir, jika istrinya itu melihat Ericka bawaannya selalu emosi. Jangankan bertemu, mendengar namanya saja dia meradang.


Saat ini.


Elena mendapatkan suaminya didepannya, semakin kesal saja dia dibuatnya.


Karena saat ini pandangan pak Dewantoro juga tertuju pada Ericka, kenapa wajah ini begitu mirip dengannya? Pikir pak Dewantoro.


Dia memandangi istrinya itu, Elena hanya mendengus kesal dan berlalu pergi.


"Kau-" kata pak Dewantoro, dia tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Dia menelan saliva nya, tenggorokan rasanya tercekat. Ada rasa sakit di dadanya.


"A-Ayah, marah padaku?" kata Ericka berbicara hati-hati, dia tidak ingin kena marah lagi.


Entah, ada perasaan sakit mendengar perkataan putrinya itu. Apa dia selama ini selalu menyakitinya? Begitu takutnya padanya? pikir pak Dewantoro.


Seolah lupa apa yang dia lakukan selama ini pada Ericka, gadis itu menderita akibat ulahnya dan ibu tirinya itu.


Sekarang apalagi, apa dia mulai mengakui Ericka putrinya? Apa dia tak menyadari kemiripan wajahnya dengan mendiang istrinya itu begitu nyata?


Hati sudah membeku, sudah tak ada cinta dan kasih sayang lagi di sana, atau dia gengsi mengakuinya?


"Apa kau akan pergi menghadiri acara kelulusan? Aku dan Ibumu tak bisa menghadirinya, minta Bi Mirna menemanimu" kata pak Dewantoro kaku dengan muka datar.


Dia berlalu pergi meninggalkannya, Ericka merasa terharu selama ini ayahnya tak pernah menatap apalagi berbicara padanya.


"Ayo Nona, kita berangkat jangan sampai terlambat" kata bi Mirna.


Ericka berlalu pergi bersama bi Mirna, diluar sudah ada sopir dan mobil yang menunggunya.


Mobil sedan keluaran lama, dengan seorang sopir tua yang siap mengantarkan dia.


Hanya itu yang dia dapatkan dari keluarganya itu, gadis malang itu harus menghadapi semuanya sendirian.


Di teras rumah besar itu, Mila melambaikan tangan pada mereka. Akhirnya Ericka dan bi Mirna ditemani supir mengantarnya ke sekolah.


Didalam kamarnya, Rendy memandangi adiknya dari jendela kacanya.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali, mirip sekali dengan ibu" katanya tersenyum, matanya berkaca-kaca.


Masih jelas ingatannya, sosok ibunya yang cantik. Wanita ramah yang dihormati semua orang.


Benar-benar malang nasib anak-anak itu, tak ada kebebasan di rumah itu. Untuk bertemu saja tak bisa.


Pemilik rumah serasa tamu, sedangkan tamu seperti pemilik rumah.


ilustrasi gambar



Ericka


*


Ditempat lain.


Elena Bexxa datang ke agensinya, dia datang bersama Pricilia.


Elena memperkenalkannya kepada beberapa staf di sana, ada coach atau pelatih juga dan beberapa guru kepribadian.


"Mereka ini akan melatih mu disini, turuti semua setiap ajaran mereka. Jangan mengeluh apalagi kabur.


Ingat, jika kamu sudah berniat ingin menjadi model profesional, lakukan yang terbaik.


Menjadi model profesional itu tak mudah, apalagi untuk setingkat Revalina, kau takkan mampu menyainginya jika malas-malasan" kata Elena Bexxa.


Dia sengaja menyebut nama Reva, untuk memacu semangat putrinya itu. Dia tahu, putrinya itu tidak mau tersaingi oleh Reva.


Bagaikan pucuk ulam pun tiba, Reva pun datang menemui mereka.


Dia diminta datang untuk menjadi contoh tanda kesuksesan, sekaligus penyemangat buat para model pemula.


Reva terkejut, siapa tahu kalau pemula itu adalah Pricilia.


"Baiklah, aku akan tinggalkan kalian disini. selamat atas diterimanya di agensi kami Nona Pricilia.


Dan aku juga minta Nona Reva dan lainnya untuk membantunya sebaik mungkin" kata Elena berlalu pergi diikuti beberapa staf lainnya.


Tinggallah mereka dengan para coach dan guru lainnya.


"Untuk hari Nona Pricilia, kami akan mengajarkanmu latihan dasar dulu. Untuk sebagai contoh kami minta Nona Reva memperagakan cara jalan Model itu bagaimana" kata salah satu coach itu.


Reva memulai memperagakan aksi Modelnya, dia terlihat sangat profesional sekali.


Semua coach di sana kagum padanya, kecuali Pricilia dia geram melihat Reva dikagumi semua orang.


Saat Reva akan melewatinya, dia sengaja mengulurkan kakinya sehingga Reva terjatuh.


"Ups, sorry. Aku ga sengaja, kamu ga apa-apa 'kan?" Kata Pricilia sok perhatian.


Saat dia membantu Reva bangun, dia sempat membisikan sesuatu ke telinga Reva, membuat Reva mendelik dan mendorongnya hingga jatuh.


"Auh! Sakit!" Dia meringis kesakitan, sontak semua coach dan guru pelatih lainnya membantunya bangun.


"Reva, apa yang kau lakukan? Tidak pantas seorang Model profesional sepertimu melakukan hal itu!" bentak salah satu coach di sana.


"Tapi Coach dia-" Reva belum selesai ngomong, sudah dibantah oleh pelatihnya itu.


"Sudahlah, untuk hari ini sampai disini saja, Reva kau kembali saja keruangan mu sendiri!" Kata coach lagi.


"Tidak apa Coach, aku baik-baik saja." Kata Pricilia dengan muka sedikit memelas itu.


"Ah, Reva kau membuat kami kecewa. Baru saja menjadi Model terkenal, kau sudah lupa diri. Sia-sia saja apa yang kami ajarkan padamu" lanjutnya lagi.

__ADS_1


Lalu mereka pergi meninggalkan ruangan pelatihan itu, meninggalkan Reva sendirian dengan tatapan tak percaya.


Sebelumnya dia selalu dipuji dan dikagumi oleh mereka, sekarang berubah karena insiden kecil ini.


Pricilia sengaja keluar terakhir, dia tersenyum sinis kepada Reva.


"Ingat, itu baru permulaan. Kau akan ku buat menderita disini." Katanya menyunggingkan bibirnya.


Tapi dibalas dengan tatapan tajam dan senyuman sinis juga dari Reva.


"Kau tahu, akibat ulah mu ini akan berdampak buruk padamu sendiri.


Ibumu akan marah padamu, kau telah membuat Model kesayangannya terluka" kata Reva sengaja memprovokasi Pricilia.


Dia sengaja melakukannya, karena dia tahu sebentar lagi Elena Bexxa akan datang.


Mendengar perkataan Reva tadi, Pricilia meradang. Dia tidak terima jika ibunya lebih memilih Reva dibandingkan dirinya.


Dia langsung menyambar rambut Reva yang panjang itu, dia menjambak rambut itu sekuat tenaga membuat Reva menjerit kesakitan.


Pada saat yang tepat, Elena datang bersama para staf dan coach nya. Dia datang tujuannya untuk menghukum Reva karena mendorong putrinya itu.


Siapa sangka, yang dia lihat malah Pricilia menyakiti Reva. Didepan para staf dan coach lainnya, Elena tak bisa berbuat apa-apa.


Dia tidak ingin menjadi pilih kasih atau dipandang tak bisa tegas, dia malu dengan tingkah putrinya itu.


"Hentikan! Apa yang kau lakukan?!" teriak Elena.


Kedatangan Elena dan beberapa orang di sana membuat Pricilia terkejut, dia tak menyangka akan kehadirannya.


Reva tersenyum puas bisa membalas perbuatan Pricilia.


"I- Ibu, ini tidak seperti-" Pricilia berusaha menjelaskan.


"Aku disini sebagai pemimpin, hormati aku!" bentak Elena.


Nyali Pricilia menciut, dia tidak terima dia diperlakukan oleh ibunya seperti itu didepan Reva dan semua staf dan coach disini.


Dengan muka merah padam dan malu, dia berlalu pergi.


"Maafkan kelakuannya Nona Reva, dia masih pemula. Tolong ajarkan dia pelan-pelan, dan tentunya dia akan diberi sanksi setelah ini" kata Elena berusaha bijak, tentu saja karena ada para staf dan coach lain disini.


Reva hanya menyunggingkan senyumnya, dia juga berlalu pergi sambil merapikan rambutnya yang berantakan ulah Pricilia tadi.


"Aku juga ingin lihat, bagaimana kau akan memberi sanksi kepada putri manja mu itu?


Selama ini kau selalu berpura-pura didepan orang. Rasanya menyenangkan melihat drama Ibu dan anak ini" gumam Reva.


Elena sudah menduganya, ini akan terjadi. Tapi ini terlalu cepat untuk melakukan sebuah kesalahan.


"Maaf, Bu... anda yakin tetap menerima Nona Pricilia di agensi ini? Kami semua tahu dia putrimu, tapi tidak sesuai dengan kebijakan di perusahaan ini.


Sepertinya dia tak mencukupi persyaratan menjadi model di agensi ini" kata salah satu coach disitu.


Para coach yang ada, tadi tidak menghadiri acara pertama. Makanya mereka datang bersama Elena untuk diperkenalkan kepada Pricilia.


Tapi yang mereka lihat, suatu hal yang tak di duga. Gadis itu malah memperlihatkan tingkah jauh dari seorang model.


Tak ada ke anggunan di sana, malah beringas sekali. Mereka takut Reva kecewa lalu, meninggalkan agensi.


Itu juga yang ditakutkan Elena, dia tak bisa mengontrol Reva jika dia mengamuk juga.


Belum tadi pagi dia melihat perubahan Ericka, sekarang malah membuat Reva kecewa.


Dia benar-benar frustasi dan stress hari ini. Ah, kepalaku. Elena memijit kepalanya yang pusing itu.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2