Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kusangka Begal, Ternyata..


__ADS_3

Ericka pulang dari panti itu dengan perasaan marah, kesal, kecewa dan sedih. Bagaimana bisa mereka kecolongan lagi, mereka tak bisa mengawasi dan menilai para pegawai mereka dengan baik, tapi kalau dipikir wajar saja, kedua kakaknya sibuk, dia juga tak bisa membantu banyak selama ini.


Semua yang mereka pikirkan akan baik-baik saja dan semuanya telah selesai, ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang harus mereka bereskan.


"Aku pikir ini semua karena ulah Elena, dia yang menempatkan semua benalu dan parasit ini kesetiap panti dan yayasan termasuk juga beberapa perusahaan milik ibu ini.


Tapi ternyata semenjak dulu mereka memang sudah ada, memanfaatkan kebaikan dan kepolosan mendiang ibuku, dan lewat pengalaman itu juga dia bisa menjerat Elena, bahkan sekarang dengan mudahnya dia membodohi kami semua!


Ini tak bisa dibiarkan, aku harus memberitahukan semua ini kepada kakak-kakakku, agar mereka tahu apa saja dilakukan oleh orang-orang ini!" geramnya.


Dia meraih ponselnya didalam tas, dia menekan tombol nomor telepon Erick dan memerintahkan sesuatu kepadanya.


"Erick, kamu bisa membuka akses keamanan di panti ini? Nanti aku kasih tau nama panti ini beserta alamat lengkapnya, aku harus memeriksa sesuatu disni. Aku lihat ada beberapa pintu yang tak bisa dibuka sembarangan.


Aku penasaran ada apa didalam sana, apa ada sesuatu yang tak boleh aku ketahui? Aku juga melihat ada brankas besi didalam ruangan ketua panti, aku ingin tau ada apa didalam sana," kata Ericka memberi perintah.


"Gampang itu mah, tapi setidaknya aku harus tau alamat elektronik yang ada di sana, agar aku bisa melacaknya langsung dari sini, sehingga aku bisa meretasnya.


Jika tak ada, kamu harus meletakkan sensor disalah satu titik terdekat benda tersebut, agar bisa terkoneksi oleh alatku dan lebih mudah melacaknya," ucap Erick menjawab Ericka dengan santainya.


"Aku punya alamat surelnya, bahkan ketua panti ini juga memberikan no ponselnya kepadaku, apa itu cukup?" tanya Ericka.


"Itu lebih dari cukup untuk melacaknya, gampang! Btw, buat apa kamu nyuruh aku ngebobol keamanannya? Mau ngerampok kamu?!" tanya Erick iseng.


"Jangan aneh-aneh deh kamu! Buat apa aku ngerampok segala, aku hanya butuh semua informasi tentang panti dan mungkin juga yayasan dari sana. Aku tak mungkin minta langsung, nanti dicurigai lagi. Ya sudah, pokoknya kerjakan saja tugasmu!" ucap Ericka lagi.


"Siap, tapi mulai besok aku gak bisa stay terus di kantor. Kak Nico minta aku melakukan sesuatu untuknya, pekerjaan lainnya yang gak jauh dari lacak melacak kayak gini juga!" ujar Erick lagi sambil menghela nafasnya berat.


"Yah, mau gimana lagi kan keahlianmu memang itu, haha! Ya udah yah, aku tunggu paling lambat besok pagi, bye!" ucap Ericka menutup telponnya.


"Sial, bos kepepet! Aku mana bisa ngejar waktu secepat itu, gak gampang ngebobol keamanan yang ketat seperti itu, lebih baik aku diminta meretas hal lain ajalah, lebih aman!


Oh Iya, aku lupa lagi mau ngasih tau ke dia tentang opa Harja sama yang lainnya, coba aku hubungi lagi dia, mudah-mudahan langsung diangkat, agar tidak terlambat jadinya!" ucap Erick lagi.


Tapi sayangnya saat dia kembali menghubungi nomor ponsel Ericka, malah tak tersambung lagi, dia tak bisa melacak keberadaan Ericka karena nomor ponselnya mati, dan keberadaan mobilnya tak terdeteksi.


Karena ponselnya Ericka habis baterai, ditambah lagi cuaca buruk membuat sinyal juga tak bisa mendeteksi keberadaannya, entah kenapa hari ini dia merasa kurang beruntung sekali, tapi dibilang kurang beruntung dia bisa menemukan sebuah fakta mengejutkan di panti itu, tapi tetap saja faktanya sangat menyakitkan.


"Kenapa harus hujan dan baterai ponselku habis sih?!" gumamnya kesal.


Karena keberadaannya saat ini berada dipinggir kota, dan jarak antara panti dengan kawasan perkotaan cukup jauh, ditambah lagi lokasinya sangat sepi membuatnya bingung harus bagaimana.


"Disini tak ada toko ataupun perumahan yang bisa aku singgahi, benar-benar sepi, bagaimana bisa panti itu dibangun ditempat seperti itu? Dan kenapa pembangunan tak dilanjutkan sampai ke panti? Setidaknya kalau ada perlu apa-apa, orang-orang panti gak perlu jauh-jauh perginya.


Untuk menuju pom bensin saja sangat jauh, ugh! Aku mau mampir sebentar ke sana, mau ngecas sekalian mau nyari makanan, ini sudah telat makan siang.." ujar Ericka bermonolog sendiri.


Bham!


Tiba-tiba ban mobilnya pecah begitu saja, sungguh sialnya dia hari ini, dia panik sekali mengontrol arah laju mobilnya, mobil itu itu terus melaju kedepan, Ericka berusaha mengontrolnya agar tak menabrak dinding pembatas jalan tersebut karena disampingnya ada hutan dan juga lembah sedikit curam kebawah.


"Aku harus bagaimana ini?!" teriaknya panik.


Dia jadi teringat kembali dengan ajaran Aaron waktu dulu, jika suatu saat nanti dia dihadapkan dengan situasi seperti ini, dia harus tenang, fokus saja kesetirnya, mencari celah untuk bisa menghentikan arah laju mobil dengan mengeremnya pelan-pelan.


Dia melakukan semuanya dengan benar, tapi masalahnya bukan hanya satu bannya bocor diperkirakan ada dua atau tiga yang bocor, akal sehatnya bekerja jika ini bukan kecelakaan biasa.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang hendak mencelakai aku, tapi siapa?! Apa ibu ketua panti itu sudah tahu penyamaranku? Tapi dia selalu bersamaku, aku tak melihatnya bersama orang lain dan ponselnya hanya bersamanya beberapa menit saja.


Tidak mungkin dalam waktu beberapa menit itu dia sudah menyadari siapa aku, dan mulai merencanakan semua ini!" gumamnya lagi.


Ericka sudah melewati area sepi itu, dan hujanpun mulai berhenti dia mulai mendekati area perkotaan, dia nekat membanting setir kearah samping sebelah kiri dan menabrak pohon besar yang ada dipinggir jalan.


Braakk!!


Dhuaaarr!!


Mobilnya menabrak pohon itu sangat kencang, hingga membuat sebuah suara ledakkan cukup keras mengagetkan semua orang yang ada di sana. Ericka pingsan, untung saja dia memakai sabuk pengaman, dan mobilnya juga memiliki safety ball disetirnya, hingga kepalanya aman dari benturan keras, tapi tetap saja itu membuatnya terguncang dan pingsan ditempat.


"Halo, bos! Eksekusi berjalan lancar, target berhasil dilumpuhkan!" ujar seseorang yang berada didalam mobil sedang memperhatikan mobil Ericka yang sedang kecelakaan itu.


Mobil itu terparkir di seberangnya memperhatikan mobil Ericka sambil menelpon seseorang, dia tersenyum sinis dan puas melihat hal itu.


"Pastikan anak itu benar-benar celaka, dia itu sumber masalah, bagaimana bisa dia tahu semua ini, kalau dia tahu semuanya berkaitan dengan kita, maka hancur sudah reputasi dan usaha kita selama ini!" ucap orang ditelpon itu.


"Baik, bos!" orang yang memakai jaket kulit hitam dan memakai masker itu keluar dari mobilnya.


Dia hendak menghampiri mobilnya Ericka tapi dia tak bisa karena begitu banyaknya orang yang menonton kecelakaan itu, sehingga dia terus terdesak mundur kebelakang.


Dia sempat melihat ada seorang anak laki-laki menggendong Ericka keluar dari mobilnya, dia juga melihat anak laki-laki itu bersama teman-temannya seperti sedang mengamankan barang-barang berharganya Ericka agar tak dijarah oleh orang lain, yang mengambil kesempatan dalam kesempatan.


"Anak itu lagi, brengsek! Kenapa aku terus berhubungan dengannya, aku pikir dengan mematahkan kakinya dengan menabraknya kemarin dia sudah kapok dan terbaring di rumah sakit.


Tapi kenapa dia malah berkeliaran disini bersama teman-temannya lagi, aku tak boleh meremehkannya begitu saja, bocah itu tak bisa dianggap remeh!" geram lelaki itu.


Dia hendak berbalik arah menuju mobilnya, tapi malah menabrak seseorang dari belakangnya.


Tringg!


"Aakh! Ibu, tolong ada begal!" teriak anak itu.


Sontak semua orang menoleh kearah mereka, anak itu menangis sambil mundur kebelakang takut menghindarinya, semua mata tajam menatapnya, membuat lelaki itu gemetaran, dia tak mau mati konyol digebukin massal oleh orang-orang ini.


"****, bukannya mendapatkan anak itu malah aku dituduh begal lagi, aku harus pergi dari sini sebelum terjadi apapun padaku!" gumamnya panik.


"Eits, mau kemana kau?! Habis mau nyelakai orang kau mau kabur yah?! Hajar!" ujar salah satu lelaki memprovokasi semua orang agar menghajarnya.


"Ti-tidak, kalian salah faham! Anak itu hanya takut saja kepadaku, a-aku bukan begal!" ucap lelaki itu ketakutan.


"Terus pisau itu bagaimana?!" tanya lagi orang-orang.


"I-itu bukan punyaku!" jawabnya mengelak.


"Ahh! Banyak cingcong kau, hajar saja dia!" ucap lelaki itu.


Tak ayal dia mendapatkan beberapa bogem mentah dari beberapa orang, tidak lama kemudian datang beberapa polisi ingin memantau lokasi kecelakaan, tapi mereka malah melihat ada perkelahian beberapa orang dengan seorang lelaki yang sudah babak belur.


"Hentikan, apa yang kalian lakukan!" teriak salah satu oknum polisi itu.


"Ini Pak, ada begal!" ujar salah satu warga.


"Aku bukan begal! Aku punya banyak uang, itu mobilku, bukan seperti kalian! Dasar miskin!" ucap lelaki itu marah kepada mereka semua, dia meludahkan darah dari mulutnya akibat perkelahiannya dengan para warga.

__ADS_1


"Tunggu dulu!" ucap polisi itu menatap curiga kepada lelaki itu.


Dia meminta para warga untuk tidak mengintimidasinya lagi, tapi tetap tangannya tak dilepaskan begitu saja, terlihat beberapa polisi itu menatapnya curiga dan seperti sedang menghubungi atasan mereka.


"Jadi mobil SUV hitam itu adalah milik anda, sesuai dengan nomor platnya B 234****?" tanya polisi itu kepada lelaki itu.


"Iya, benar itu mobil saya.." jawab lelaki itu sedikit ragu.


"Saudara harus ikut dengan saya, karena menurut informasi yang beredar dari kalangan kepolisian anda sejak kemarin sudah menjadi DPO atas sebuah kecelakaan yang melibatkan siswa SMA, mari ikut saya!" ujar polisi itu menggeret paksa lelaki itu.


"A-apa?! Tidak mungkin!" ucapnya tak percaya.


"Huuu, dasar bandit kau yah! Sudah begal, pelaku tabrak lari, dasar penjahat kau!" ucap para warga menyorakinya.


Hampir dia kembali menjadi amukan warga, kalau tidak polisi melindunginya dari mereka semua yang lagi marah, mobil dan pisau lipatnya dibawah sebagai barang bukti kejahatannya.


"Sial, kenapa jadi begini!" umpatnya kesal.


Puk!


Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya, ternyata itu adalah lelaki pertama yang meneriakinya tadi, dia tersenyum sinis kepadanya dan membisikkan sesuatu.


"Inilah akibat bermain terlalu dalam, ini belum seberapa,, tunggu saja nanti di penjara, masih ada yang menunggumu untuk bermain!" ucap lelaki itu sambil meninggalkan penjahat itu.


"Siapa kau?!" tanyanya kesal.


"Aku, aku adalah salah satu anak yang kalian kejar kemarin!" jawab lelaki itu, lebih tepatnya anak muda itu.


"A-apa?!" penjahat itu ternganga kaget mendengarnya.


Dia masih ingat kejadian kemarin siang saat terlibat kejar-kejaran dengan geng motor yang baru diketahui adalah sekumpulan remaja SMA yang bolos sekolah, ada beberapa motor yang terlibat dengannya dan juga beberapa temannya didalam mobil itu.


Hanya saja, Azka kurang beruntung hingga dia ditemukan dan menjadi targetnya untuk dilumpuhkan, tapi sayangnya anak itu malah selamat dan sehat-sehat saja. Yah, penjahat ini adalah pelaku tabrak lari yang melibatkan Azka sebagai korbannya.


"Azka, orang itu sudah babak belur dihajar oleh warga, sekarang dia sudah dibawa ke kantor polisi sebagai pelaku tabrak lari kamu.." ucap temannya itu melapor lewat telponnya.


"Bagus, sewajarnya begitu!" jawab Azka sambil menyeringai.


"Bagaimana dengan kakak itu?" tanya temannya lagi.


"Sudah dibawa ke rumah sakit, syukurnya dia baik-baik saja, tapi aku gak bisa hubungi kerabatnya, ponselnya mati!" jawab Azka.


"Gimana dong, kasihan kalau dia ditinggal pergi sendirian.." ucap temannya merasa iba.


"Tenang, biar aku saja yang menemaninya. Kamu ingat apa yang aku bilang semalam, kalau ada kakak cantik yang menolongku, itu dia.." jawab Azka sambil tersenyum melihat kearah Ericka diruang UGD itu.


"Wah, kebetulan sekali! Ini yang disebutkan tabur tuai, apa yang kita tanam maka itulah yang kita dapat, seperti kakak ini, apa yang dia buat dengan menolongmu, maka Tuhan juga memberikan jalan menolongnya disaat kesusahan seperti ini, dan orang itu kamu, Azka!" ucap temannya speechless.


"Iya, sepertinya kami ini berjodoh, haha!" jawab Azka asal.


"Ngaco, dia lebih pantas jadi kakakmu! Ya udah, share lock rumah sakitnya, aku juga mau kesana.." jawab temannya terkekeh mendengar ucapannya tadi.


"Oke, ditunggu!" sahut Azka lagi.


Dia menatap Ericka yang masih pingsan itu dengan tatapan lembut, dia senang akhirnya mereka bertemu kembali, walaupun pertemuannya harus seperti ini.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2