
Satu minggu telah berlalu, di rumah masih diadakan pengajian secara rutin tiap malamnya, dan ini adalah malam ketujuh di adakannya dan sekaligus pengajian terakhir dimasa berkabung mereka.
"Selama satu minggu ini semuanya baik-baik saja tak ada masalah, baik itu di rumah ataupun di kantor. Semoga ini terus berjalan seperti ini" ucap Nico.
"Iya, kamu benar. Lelah badan juga pikiran terus dihantui oleh perasaan takut dan gelisah setiap ada masalah yang datang.." sahut Reva juga.
"Kamu gak boleh capek, sayang.. Ingat, perut kamu udah mulai membesar, kasihan dedek bayinya" ujar Nico mulai protektif kepadanya.
"Kamu kenapa sih, Mas?! Aku tuh baik-baik saja, dan sehat! Kamu gak usah terlalu berlebihan seperti itu. Yang ada aku capek di rumah seharian gak ngapa-ngapain!" gerutu Reva.
"Bukan gitu sayang, dengarin dulu kalau aku ngomong.." ucap Nico pelan berusaha menenangkan Reva.
"Haha! Tenang, Reva. Suamimu seperti itu karena dia khawatir kepada kamu dan anak kalian, dan kamu juga Nico! Gak usah berlebihan,selama ibunya sehat insyaallah anaknya juga sehat" sahut dokter Anwar, kebetulan beliau juga diundang di pengajian tersebut.
"Aku hanya khawatir aja, Om.." sahut Nico.
"Iya, aku faham betul, kebanyakan memang seperti itu calon orang tua baru, hehe!" ucap dokter Anwar terkekeh.
Kebetulan acara pengajian sudah selesai, mereka berkumpul hanya sekedar mengobrol dan membahas tentang rencana selanjutnya. Apalagi ini weekend dan pengajian terakhir juga, jadi sebisa mungkin semuanya bisa datang.
"Kak Nico kalau didepan kak Reva, bisa lembut dan lemah begitu yah?! Coba kalau didepanku, atau didepan anak buahnya sama orang lain.
Dia adalah definisi manusia batu, kaku dan sangat dingin. Kalau melihat seperti ini, kayak bukan kak nico yang kami kenal" ucap Aaron kepada Ericka.
Mereka sekarang berada dilantai atas, berdiri didepan pagar pembatas melihat kearah bawah tempat kakak mereka lagi beristirahat.
"Itu yang dinamakan bucin alias budak cinta, kamu tau bucin? Bucin itu bisa merubah seseorang menjadi 180 derajat, seperti kamu bilang tadi kak Nico yang didepan kalian sangat galak.
Tapi didepan kak Reva dia malah sangat lembut, selalu mengalah. Jadi apapun yang mau pasangan dia akan menuruti tanpa membantah, bahkan dia akan melakukan apapun demi orang yang dia cintai" sahut Ericka.
Mendengar itu Aaron lalu menatap Ericka, dia menelisik wajah gadis itu. Lalu tersenyum dan kembali mengalihkan pandangannya.
"Apakah aku juga bisa disebutkan bucin itu?" gumamnya.
"Apa?!" tanya Ericka, samar-samar dia mendengar seperti Aaron menggumamkan sesuatu.
"Gak, gak ada. Yuk pindah, gak enak lihatin orang lagi kasmaran, entar kepengen lagi.." godanya sambil mengedipkan matanya kearah Ericka.
"Apaan sih?!" ucap Ericka risih, tapi lain diucap dan lain juga dihati, wajah bersemu merah setelah digoda oleh Aaron.
Mereka sekarang duduk didepan balkon teras dilantai atas, minum minuman soda dingin sambil menikmati pemandangan malam taman belakang rumah itu.
"Nyaman sekali rasanya.." ucap Ericka.
"Iya, nyaman sekali.." sahut Aaron lagi-lagi memperhatikan dirinya.
Kali ini dia tak mengalihkan pandangannya, Ericka menatap wajah lelaki itu, cukup lama mata mereka saling beradu, entah kena hipnotis apa sehingga dirinya tak bisa melepaskan pandangannya dari lelaki itu.
__ADS_1
Aaron semakin mendekatkan wajahnya kearah Ericka, gadis itu terpejam ketika bibir keduanya hampir menyatu, dan tiba-tiba..
Bruk!
"Akh!"
Terdengar suara benda terjatuh seiringnya suara teriakan, Ericka dan Aaron terkejut dan langsung menemui arah suara itu. Didalam kamar Rendy, mereka melihat Andriana begitu kesusahan mengangkat tubuh kekasihnya untuk bangun.
"Biar aku saja.." ucap Aaron.
Dia langsung membopong tubuh Rendy naik kembali keatas kasurnya, Rendy nampak meringis kesakitan, Andriana terlihat sangat khawatir melihat kekasihnya itu.
"Kakak gak apa?!" tanya Ericka khawatir juga.
"Gak apa, tadi mau belajar berjalan tiba-tiba kaki kepeleset dan terjatuh kayak tadi. Maaf yah, udah bikin gaduh.." ucap Rendy merasa tak enak.
"Santai aja Bro, gak apa.. Bukankah kita ini keluarga, saling bantu itu hal yang wajar" sahut juga Aaron.
"Sejak kapan?! Dan kamu temannya Ericka, kok bisa sampai disini?!" tanya Rendy menatap aneh pemuda asing didepannya itu.
Ini adalah pertama kali mereka bertemu, meskipun sebelumnya Andriana sudah bertemu dan berkenalan dengan Aaron, dia belum sempat bercerita tentang Aaron dan semuanya.
"Dia adalah Aaron, orang kepercayaannya kak Nico, dan.. Teman dekatnya Ericka" sahut Andriana.
"Kok aku gak tau?!" tanya Rendy, terlihat dari pandangannya tak suka.
"Maaf, aku gak sempat bercerita." Ucap Andriana merasa tak enak.
"Aku gak marah, hanya kaget saja. Tiba-tiba saja ada orang lain disini yang gak aku kenal, btw... Makasih yah" ucap Rendy datar, setelah itu dia menyelimuti dirinya dengan selimut dan memejamkan matanya.
"Kak.." sahut Ericka.
"Ericka.." Andriana mencegah Ericka membangunkan kakaknya.
"Ayo kita bicara diluar, jangan disini.." kata Andriana lagi.
Mereka semua keluar dari kamar itu, Aaron turun kebawah dan menemui yang lainnya, sedangkan Andriana mengajak Ericka berjalan menuju balkon rumah itu.
"Semenjak kematian ayah kalian, dia menjadi sensitif seperti itu. Dia terus merengek untuk turun dan kembali ke aktivitas seperti biasa, padahal kakinya masih lemas meskipun dia sudah bangun dari komanya setelah satu minggu ini.
Dia memang tak menceritakan atau mengeluh soal itu, tapi aku sangat faham sekali apa yang ada dipikirannya. Dia nekat belajar berjalan kembali, agar bisa kembali ke kantor lagi.
Dan selalu salah faham jika ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginannya, aku gak tau kenapa dia seperti itu, padahal selama ini dia tidak seperti itu" ucap Andriana menjelaskan semuanya.
"Tidak biasanya kakak bersikap seperti itu, kayak bukan kak Rendy saja.." gumam Ericka.
"Tapi ada sesuatu yang aneh,, semenjak kedatangan orang itu, dia jadi seperti itu..." ucap Andriana lagi.
__ADS_1
"Orang itu? Siapa orang itu? Dan kenapa dia datang menemui kak Rendy?" cecar Ericka.
"Aku gak tau, tapi kata Rendy dia teman kuliahnya dulu.." sahut Andriana juga heran.
"Teman kuliah? Setahuku kakak ini orangnya insecure waktu itu, dia jarang banget keluar kamarnya, keluar cuma buat kuliah saja, dia lebih suka menghabiskan waktunya didepan komputernya itu" gumam Ericka.
Dia masih mengingat waktu dulu saat mereka belum terlalu dekat seperti ini, kakaknya masih suka didalam kamar dan memainkan komputernya, dan Ericka dulu masih belum mengerti apapun.
"Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Andriana.
"Apa kakak masih ingat dengan wajah temannya itu? Atau ciri khas apa yang dia pakai itu?" tanya Ericka lagi.
"Emm, apa yah?! Yang aku ingat, ada tato dipergelangan tangannya, dan anting kecil di telinganya" sahut Andriana sambil memikirkan sesuatu.
Degg!
Jantung Ericka berdegup kencang, hati dan pikirannya berkecamuk. Dia takut kakaknya Rendy teracuni pikirannya sama orang itu.
"Kita harus selidiki orang itu, Kak. Gak usah cerita ke siapa-siapa, cukup kita saja yang tau. Terutama dari kak Reva, tau sendiri dia orangnya seperti apa" ucap Ericka sambil setengah berbisik.
"Iya, sipp! Aku juga sangat greget sekali, Rendy sangat berubah, aku merindukan dirinya yang dulu" ucap Andriana menunduk sedih.
Andriana masuk kembali kedalam kamar Rendy menemani sang kekasih, sesuai arahan Ericka dia menaruh alat penyadap dibawah kasur Rendy, jadi siapapun yang datang ataupun berbicara dengannya, mereka pasti tahu semuanya.
"Untung aku masih ada alatnya, jadi bisa dipakai dikamar kak Rendy. Baiklah, sesuai pesan teks kak Andriana, alat itu sudah dipasang.
Mari kita test alat itu, apakah suaranya bagus dan jernih atau tidak" ucap Ericka, dia menyambungkan menggunakan ponselnya, dia memakai earphone dan mendengar jelas suara Rendy mengobrol dengan Andriana.
"Kamu kenapa bersikap seperti itu didepan mereka tadi? Gak enak loh.. Apalagi lelaki itu tamunya kak Nico dan Ericka" ucap Andriana kepada Rendy.
"Aku biasa saja tadi, aku hanya lelah saja kok. Maaf gak bisa kondisikan ekspresiku.." terdengar suara Rendy dengan lembut.
"Ya udah kalau begitu, kamu istirahat aja lagi. Atau mau aku kupaskan buah?" tawar Andriana.
"Gak usah, aku mau tidur aja. Kamu bisa tinggalkan aku sendiri dulu?" pinta Rendy.
"Ya udah kalau kamu mau begitu, istirahat yah. Aku mau turun menemui kak Reva dan lainnya, jika butuh sesuatu hubungi aku, ponselmu ada diatas nakas samping tempat tidurmu" ucap Andriana lagi.
Setelah itu terdengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali, Andriana mengirim pesan ke Ericka jika dia akan turun agar tak dicurigai oleh Rendy, Ericka pun mengiyakan.
Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka dan dia mendengar suara kursi ditarik mendekat kearah kasur Rendy.
"Maaf, tadi ada mereka.." ucap Rendy.
Degg!
Ericka penasaran siapa yang diajak bicara oleh kakaknya itu?
__ADS_1
...----------------...
Bersambung