Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Seseorang Di Pemakaman


__ADS_3

Nico masuk kembali ke kamar Ericka, William menunggu diluar kamar itu, saat Nico masuk Ericka sudah agak tenangan disisi Aaron. Jessy dan Stanley keluar, sepertinya mereka sedang melakukan sesuatu, entah apa itu.


"Ericka, apa kamu sudah baikkan?" tanya Nico hati-hati.


"Alhamdulillah, Kak.." ucap Ericka, sedikit lebih tegar dibandingkan tadi.


"Kamu... Bersedia turun kebawah, Reva belum bisa. Tapi kalau kamu gak bisa juga gak apa.." ucap Nico sambil tersenyum.


"Gak apa, Kak. Aku bisa, ayo kita turun.." ucap Ericka sambil turun dari ranjangnya.


Mereka turun dari kamar Ericka menuju lantai bawah, di sana sudah banyak pelayat yang datang. Mereka secara bergantian mengucapkan bela sungkawanya ke Ericka, dia hanya tersenyum dan mengangguk, dan tiba-tiba..


Prang!


Mereka dikejutkan oleh suara benda pecah dari ruang tamu, mereka berlari melihat apa yang terjadi di sana, betapa terkejutnya Ericka dan Nico melihat siapa yang di sana.


"Ini semua gara-gara kalian, dasar anak-anak tak tahu diri! Jika kalian tak membangkang suamiku pasti masih hidup, dia mati gara-gara kalian, bangs*t! Aggrh!" teriak wanita paruh baya itu.


Mereka terkejut melihat Elena ada di sana, ternyata dia meminta izin untuk pulang sebentar dari penjara, untuk melihat jenazah suaminya untuk terakhir kalinya.


Tapi dia malah berbuat ulah dengan ribut di rumah duka, para petugas langsung menenangkannya, dan kembali menariknya dari tempat itu, karena dia mengamuk terus akhirnya dia diborgol dan diikat menuju mobil tahanan kembali.


"Dasar gak ada kapoknya, gak sadar diri betul orang itu!"


"Menyesal aku dulu pernah bergaul dengannya!"


"Itu yang disebut karma, apa yang kita tabur dan itulah yang kita tuai!"


Begitu banyak ucapan dan cibiran para pelayat tentang dirinya, mereka akhirnya mengetahui apa saja rahasia kelam keluarga itu, tentang pengkhianatan, dan perlakuan kejam Elena dan anak-anaknya itu.


"Ericka, kau tak apakan?" tanya Nico.


Karena dia tahu, Ericka lah yang sangat dirugikan saat ini. Perasaan gadis itu hancur sebelum menerima kasih sayang yang tulus dari ayahnya, belum lagi semua perlakuan ibu tiri dan anak-anaknya itu.


"Gak apa, aku baik-baik saja.." Ericka masih menatap miris kelakuan ibu tirinya itu.


Mereka masih menunggu dengan sabar kedatangan jenazah sang ayah, Ericka diam sambil melihat disekelilingnya, begitu banyak kenangan di rumah ini, entah kenangan baik ataupun buruk.


Nguung.. ngiiing... ngguuungg!


terdengar suara ambulans pembawa jenazah mendiang pak Dewantoro sudah mendekati rumah duka, semua orang mulai bersiap menyambut kedatangannya.


Perasaan Ericka mulai gamang, dia tak tahu harus apa, dia bingung. Tiba-tiba tangannya menjadi hangat oleh genggaman Aaron, lelaki itu menguatkannya kembali, Ericka membalasnya dengan senyuman.


Orang-orang yang ada di sana, membantu mengangkat jenazah kedalam rumah, Nico, Aaron, Stanley bahkan Jessy pun ikut membantu juga.


Setelah jenazah dimandikan, tidak butuh waktu yang lama mereka segera membawa jenazah untuk disholatkan di masjid yang terletak tak jauh dari rumah itu, setelah itu mereka pergi membawa jenazah sang ayah ke makam, dimana mendiang istrinya dimakamkan juga, sesuai wasiatnya.


"Sebelum meninggal, bapak sempat berpesan kepadaku jika dia meninggal nanti, dia ingin dikuburkan disamping mendiang istrinya, itu yang dia ucapkan sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir" ucap mas Bram.


Dia masih terpukul dengan bosnya itu, orang yang sudah belasan tahun menjadi atasannya, meskipun pak Dewantoro terlihat kejam dan dingin, dia begitu perhatian dan peduli dengan karyawannya, terutama orang-orang yang bekerja lama dengannya, seperti mas Bram ini.


Wajahnya masih memerah, mata yang masih sembab, dia sangat kehilangan sosok bos yang baik dengannya itu, terlihat ada anak dan istrinya juga ikut bertakziah, mereka juga sepertinya merasakan kebaikan pak Dewantoro.


"Lihat, dibalik begitu jahat dan kejamnya ayah.. Masih begitu banyak juga orang yang peduli dan menangisi kematiannya, apa ibu juga dulu begitu? Ada yang menangisi kematiannya setelah difitnah dan diasingkan oleh suami dan orang-orang?


Apa dia juga mendapatkan doa-doa dari orang banyak? Apa ada yang peduli dengannya waktu itu?" ucap Ericka sambil memandangi pusara sang ayah.

__ADS_1


"Ibumu orang baik, pasti banyak orang yang datang mendoakannya. Percayalah.." ujar Aaron menenangkan hatinya.


"Ericka?! Kau Ericka anaknya Larasati kan?!" tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.


"Maaf, ibu paman dan bibi siapa?" tanyanya bingung.


Dihari pemakaman ayahnya dia dikejutkan oleh kedatangan sepasang suami istri bersama seorang anak perempuan usianya sekitar 10 tahunan.


"Aku pamanmu, Richard Pohan. Adik sepupu ibumu.." ucap paman itu sambil memandangi Ericka dengan berkaca-kaca.


"A-apa?!" tanya Ericka bingung sekaligus terkejut.


"Aku sudah lama sekali mencari keberadaan kak Larasati, mendiang ibu dan ayahku sempat menceritakan semua kejadian yang sebenarnya yang terjadi, mengenai ibumu.


Tapi mereka tak percaya jika ibumu sudah meninggal sejak bayi, dan tak yakin bayi yang mereka kubur itu adalah dia.


Setelah mereka melihat adik lelaki kakekmu datang diam-diam ke rumah sakit waktu itu, mereka juga diam-diam juga mencari keberadaan ibumu.


Tapi semuanya terlambat, mereka harus pindah dari rumah dan tempat tinggalnya karena harus menemani nenek dan kakek yang masih terpukul atas meninggalnya anak dan cucu mereka" ucap paman itu menceritakan semuanya kepada Ericka.


Gadis yang baru berduka itu masih bingung dengan semuanya, dia tak tahu harus bersikap seperti apa. Apa benar orang ini adik sepupu ibunya?


"Maaf, kami masih berduka. Tolong jangan membuat kegaduhan!" ucap Aaron seolah mengerti keadaan Ericka saat ini.


"Tapi aku bicara apa adanya, mendiang ibuku berpesan untukku untuk mencari keponakannya yang masih hidup, waktu itu. Meskipun aku terlambat mengetahui semuanya, setidaknya aku bisa menemukan kalian juga.." ucap paman itu memelas.


"Om Richard?!" tiba-tiba Nico datang menghampiri mereka, sepertinya dia cukup kenal dengan orang itu.


"Kau, kenal dengan orang ini?!" tanya Aaron tak sabaran.


"Nico kau kenapa ada disini?" tanya pak Richard bingung.


"Aku habis mengurusi pemakaman ayah mertuaku, dan ini adalah adik iparku" ucap Nico memperkenalkan Ericka kepada pak Richard.


'Apa?!" tanya pak Richard kaget.


"Nah, sekarang Om kesini lagi nyekar atau gimana?" tanya balik Nico.


"Iya, aku habis mengunjungi makam kakak sepupuku, dan siapa sangka aku juga bakalan menghadari makam suaminya juga.." ucap pak Richard.


"Maksudnya?" tanya Nico bingung.


"Papa, ayo kita pulang. Ini sudah sore sekali, kasihan Zoya.." istri pak Richard memanggil suaminya.


"Lain kali aku akan menceritakan lagi semuanya, aku permisi dulu.." ucap pak Richard pamit.


Dia pergi bersama istri dan anaknya, mereka menggunakan mobil hitam yang cukup mewah, dikawal oleh beberapa orang.


"Mereka siapa, kau kenal baik dengan mereka?" tanya Aaron penasaran.


"Sudah aku katakan tadi, dia itu teman mendiang ayahku, tentu saja aku tau. Dan apa tadi?! Kau mulai berbicara santai denganku, kau..kau.. Mau kuhajar kau?!" ucap Nico pura-pura marah dengan Aaron.


"Hahaha! Kan calon kakak ipar, bicara santai dikit gak apalah, haha!" ujar Aaron sambil tertawa menanggapi Nico.


Sedangkan Ericka hanya diam saja, dia memperhatikan mobil yang membawa sepasang suami istri dan anaknya tadi.


"Benarkah mereka itu adalah keluargaku juga? Ada apa sebenarnya ini? Kenapa begitu banyak rentetan kasus dan misteri yang tersimpan selama ini?

__ADS_1


Jika mereka benar keluarga ibuku, berarti selama ini ibu bukan anak yatim biasa, ya ampun apa yang terjadi sebenarnya, rahasia apalagi sekarang?" gumamnya dalam hati.


Mereka kembali lagi ke rumah setelah dari pemakaman, mereka nampak begitu lelah sekali, saat pulang, semua tamu pelayat sudah membubarkan diri.


Ada beberapa pelayan yang sedang membersihkan tempat sekaligus menyiapkan buat acara tahlilan nanti malam.


Nico langsung membersihkan diri setelah pulang dari makam, sedangkan William pulang dulu sebelum kembali lagi ke rumah ini, begitu juga dengan Aaron dan lainnya.


Ericka masuk kedalam kamarnya, dia melihat kakaknya ada di sana, Reva bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun, Ericka memeluk kakaknya dari belakang.


"Hei, ada apa ini? Bau, sana mandi!" goda Reva.


"Kak, bisa bicara sebentar" pintanya.


"Boleh, apa? Kamu mau ngomong apa?" tanya Reva sambil membereskan beberapa pakaian adiknya itu.


"Biarkan saja dulu, Kak. Nanti ada pelayan yang akan membereskan" ucap Ericka saat melihat kakaknya begitu sibuk itu.


"Kita tak memiliki banyak pelayan lagi, kita hanya butuh beberapa saja mengurus rumah ini, sesuai fungsinya saja. Kita takkan meneruskan gaya hidup hedon Elena," ucap Reva menjelaskan semuanya.


"Iya, aku mengerti.." sahut Ericka.


"Baiklah, katakan.." ucap Reva lagi.


"Apa mendiang ibu punya saudara lain? Maksudku, apa kakak mengetahui tentang keluarga ibu? Seingatku ibu itu lahir dan dibesarkan di panti asuhan," tanya Ericka bingung.


Degg!


Jantung Reva berdetak kencang mendengar ucapan adiknya itu, dia baru sadar jika Ericka tak mengetahui masa lalu mendiang ibu mereka, dia hanya tau ibunya anak yatim piatu dan menikah dengan ayah mereka.


"Aku harus apa? Apa aku harus menceritakan semuanya kepada Ericka? Termasuk penculikannya waktu itu?" gumam Reva.


"Sebenarnya--" tiba-tiba ada suara ketukan dari luar memutus pembicaraan mereka.


Tok!


Tok!


Tok!


"Permisi, Nona... Ada tamu yang ingin bertemu dengan kalian" ucap Milah dibalik pintu kamar itu.


"Siapa?!" tanya Reva.


"Saya kurang tahu, katanya keluarga mendiang ibu kalian.." ucap Milah lagi.


Degg!


Degg!


Reva dan Ericka terkejut dan jantung mereka berdegup kencang mendengar berita itu, Ericka berpikir jika itu adalah orang yang mereka temui di pemakaman tadi.


Sedangkan Reva berpikir jika itu adalah keluarga dari mendiang kakeknya, entah itu oma Mariani ataupun anak dan cucu-cucunya.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2