
"Ka-ka-kau telah membohongi aku selama ini?! A-aku kira kau benar-benar tulus kepadaku! Ternyata a-aku hanya di-dimanfaatkan saja!" ucap oma Mariani terbata-bata, dadanya sesak sekali.
"Sayang sekali kau menyadari kenyataan ini setelah tua renta begini, saat kau tak berdaya dan tak bisa melawan lagi, mau tak mau kau harus menerima semuanya!" ucap opa Harja sambil mendorong kursi roda oma Mariani.
Oma Mariani ingin melawan tapi tak bisa, dia benar-benar merasa tak berdaya lagi, disaat dadanya merasa sesak disaat itu juga dia dalam bahaya, karena opa Harja ingin mendorongnya kearah kolam ikan cukup luas dan sedikit dalam di area taman itu.
"Oma? Opa?" tiba-tiba saja dia mendengar seseorang memanggil mereka berdua dan berjalan menuju kearah taman itu.
"Enzy? To-tolong.." ujar oma Mariani saat mendengar suara cucu perempuan satu-satunya itu.
Tapi suaranya sangat lirih dan pelan, opa Harja membekap mulutnya dengan kencang, hingga tibanya Enzy opa Harja langsung bersembunyi dibalik pepohonan, setelah mendorong dengan keras kursi rodanya oma Mariani.
Byurr!
Enzy kaget mendengar suara yang terjatuh kedalam kolam ikan di samping taman itu, dia merasa takut dan curiga jika terjatuh sesuatu di sana, dan apa yang dia khawatirkan ternyata terjadi, dia melihat oma Mariani terjerembab masuk kedalam kolam itu dalam posisi tertelungkup, dan tentu saja dalam keadaannya yang seperti itu, membuatnya semakin panik dan banyak bergerak.
Hingga tak sadar kepalanya terbentur ke batu besar sebagai hiasan kolam itu, dia langsung pingsan dan kepalanya pecah dan berdarah terlihat jelas didalam air kolam itu ada sedikit genangan darah ikut mengambang bersama oma Mariani.
"Oma!!" teriaknya, dia berusaha menyingkirkan Kursi roda yang menimpa oma Mariani.
Dia berusaha sekuat tenaga membawa neneknya itu naik keatas kolam itu, sambil menangis dia berusaha membangunkan neneknya, sambil berteriak minta tolong, dikarenakan tempat itu lumayan jauh sehingga tak ada yang mendengar suara teriakannya, dan tumben sekali tak ada pengawal yang berjaga di sana.
"Oma, tunggu sebentar! Aku akan meminta bantuan!" ucapnya sambil meninggalkan oma Mariani sendirian di sana.
Disaat Enzy pergi meminta bantuan, opa Harja memanfaatkan keadaan untuk pergi meninggalkan tempat itu, dan pergi ke ruangannya dan berusaha menghindari CCtv.
Tidak lama kemudian, Enzy datang bersama yang lainnya. Mereka sangat syok melihat keadaan oma Mariani dalam keadaan basah kuyup dan kepalanya terluka, tanpa membuang waktu mereka langsung membawa oma Mariani ke rumah sakit.
.
.
Saat di rumah sakit, oma Mariani langsung ditangani langsung oleh dokter. Dan secara kebetulan rumah sakitnya merupakan tempat yang sama dengan rumah sakit Ericka dirawat di sana.
William sedang keluar sebentar dari rumah sakit untuk mengantarkan Geraldine pulang, setelah itu dia kembali lagi ke rumah sakit bersama yang lainnya. Saat dia hendak menuju lift ingin naik ke lantai dimana Ericka dirawat, dia tak sengaja melihat rombongan keluarga oma Mariani sedang berada rumah sakit dengan tergesa-gesa.
Mereka semuanya tak menyadari ada William berada di sana, mungkin dalam keadaan panik atau apa jadi fokus mereka masih berpusat kepada oma Mariani saja.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Siapa yang dibawa ke rumah sakit? Ekspresi mereka sama semuanya, oma atau opa? Astaga, apa yang aku pikirkan!" ucapnya sambil mengusap wajahnya kasar.
Pada bersamaan lift pun turun dan terbuka, dia langsung naik dan memencet tombol closed agar segera naik keatas, sementara dibawah rombongan tadi langsung menuju ruang UGD untuk melihat keadaan oma Mariani.
"Enzy, apa yang terjadi? Tadi kami belum sempat bertanya kepadamu saat kejadian itu, kenapa oma bisa berada di sana?" tanya tante Sonia sambil menangis memikirkan ibunya itu.
"Aku sebenarnya juga gak tau, Ma. Aku sedang mencari oma dan opa sesuai yang diminta Papa, karena sudah terlalu lama mereka pergi dan tak kembali.
Aku hendak mencari mereka di ruangan keluarga sebelah barat dekat taman, tapi tak sengaja aku mendengar suara, aku takut sesuatu yang akan terjadi atau masuk kedalam kolam ikat dekat taman itu.
Entah naluri ku atau perasaanku saja, aku merasa tak enak dan takut akan terjadi sesuatu yang buruk di sana, dan ternyata benar, oma tercebur didalam kolam ikan, aku benar-benar panik sekali!
Sehingga tak bisa memikirkan hal lain, didalam pikiranku saat itu adalah bagaimana caranya menyelamatkan oma, itu aja!" ucap Enzy sambil sesekali terisak saat kembali teringat keadaan oma pertama kali dia lihat tadi.
"Makanya kalau mikir tuh jangan yang aneh-aneh deh! Kejadian kan?!" ucap kakaknya, Zacky.
"Zacky! Jaga mulutmu itu, dari tadi kamu yang diminta untuk mencari oma, tapi tak mau dengan berbagai alasan, sekarang adikmu menemukannya masih saja kamu salahkan, bagaimana jika terlambat saja menemukannya?
Karena mama takkan pernah melupakan kejadian ini, dan kamu seharusnya mencarinya tapi dengan kesadaran adikmu dia mau mencari oma! Seharusnya kamu menjadi contoh buat adikmu!" ucap tante Sonia sangat kesal dengan tingkah anak sulungnya itu.
"Bela aja terus dia, ma! Dasar manja, kebanyakan dibela makanya kayak gitu!" ucap Zacky terus memojokkan Enzy.
Meskipun aku sudah memohon dan menangis tak ada yang mau mendengarkan aku, bahkan aku rela jadi kaki tangan kau dan Arlon untuk menculik gadis itu, tapi tetap saja aku salah dimata kalian!" teriak Enzy marah.
"Sudah, cukup!" teriak om Adji, papa mereka berdua.
Akhirnya keduanya berhenti berdebat setelah papanya meneriakinya, om Adji memandangi anak-anaknya dengan tajam dan mengisyaratkan mereka untuk diam karena mereka sekarang ini berada diluar rumah.
"Bisa pelankan suara kalian?! Ini di rumah sakit, semuanya bisa mendengar apa yang kalian bicarakan, salah sedikit, hancur kalian!" ucap om Adji dengan nada yang tegas.
"Tapi, Pa.." Enzy masih merengek minta pembelaan.
"Diam kamu, Enzy! Aku peringatkan kamu, jangan kau sekali-kali membahas tentang penculikan itu diluar rumah, apalagi ada mama disini!" bisik om Adji kepadanya dengan nada sedikit mengancam kepada anaknya.
Mendengar itu Enzy langsung mencelos, dia sangat tak menyukai keluarganya itu, mereka penuh manipulatif, dan pembohong besar, dan kini dia baru menyadari jika yang mereka lakukan selama ini, adalah sebuah kesalahan besar.
Tidak lama kemudian, datang tante Sarah dan om Seno juga Arlon ditemani opa Harja. Tante Sonia bersama suami dan anak-anaknya agak menatap curiga kepada opa Harja, tapi mereka memilih diam karena tak memiliki banyak bukti yang mengarahkan lelaki tua itu.
__ADS_1
"Ma.." ucap Enzy kepada mamanya sambil melirik opa Harja.
"Tenanglah.." sahut tante Sonia, dia faham apa yang dirasakan oleh putrinya itu.
"Bagaimana dengan ibu, Mas?! Ya ampun, kok bisa begitu!" ucap tante Sarah langsung menghampiri om Adji. Dia langsung bergelayutan dilengan om Adji tanpa malu.
Padahal di sana ada tante Sonia dan om Seno dan lainnya, sepertinya mereka tak malu lagi dengan hubungan mereka itu, tapi sepertinya om Adji masih sadar dan berusaha menghindari tante Sarah.
"Ibu masih dalam penanganan, kita tunggu saja hasil dari pemeriksaan dari dokter.." ucap om Adji, dia salah tingkah setelah semua mata menatap tajam kearahnya dan tante Sarah.
"Kalau mau bermesraan jangan disini!" ucap Enzy dengan ketus sambil melirik kearahnya dan juga tante Sarah.
"Enzy!" bentak om Adji.
"Jangan bentak anakku, jika kalian punya rasa malu seharusnya tau bagaimana caranya bersikap!" kali ini tante Sonia tidak diam saja.
Baginya, dia masih bisa menahan semua pengkhianatan suaminya dengan iparnya itu, tapi dia tak terima jika anaknya ikut merasa malu dan sakit hati oleh pengkhianatan mereka.
"Seno, kenapa diam saja! Apa kamu gak malu dengan sikap istrimu itu?!" tanya tante Sonia kepada adiknya itu.
"Aku sudah menalaknya tiga hari yang lalu, saat ini surat perceraian kami masih diproses di pengadilan agama. Dia datang sebagai selingkuhan suamimu!" ucap om Seno datar dan dingin sekali.
"Papa! Apa-apaan ini?!" tanya Arlon dia tak percaya, juga dengan yang lainnya.
"Kenapa kamu kaget seperti itu, Arlon? Bukankah seharusnya kamu senang, karena sebentar lagi mama kamu akan menikah dengan om Adji yang jabatan dan pangkatnya lebih tinggi dibandingkan Papamu ini?
Sehingga kau dan Mamamu itu tak pernah menghormati aku sebagai kepala keluarga? Sebagai suami dan papamu? Tapi kalian lupa, jika lelaki itu hanyalah mantu dirumah ini, dan aku adalah pewaris yang asli setelah tante Sonia juga anak-anaknya tante Laras, sama seperti kalian, mereka juga berhak atas semua ini!
Tapi setelah melihat tingkahmu dibelakangku selama ini, aku akan memikirkan lagi mengenai hak warisku nanti untuk diberikan kepadamu, kau mengkhianatiku bersama Mamamu itu, diam-diam menusukku dari belakang!" akhirnya om Seno mengungkapkan perasaannya itu.
"Ta-tapi, Pa! Aku melakukan hal itu atas desakan Mama dan om Adji juga oma!" ucap Arlon sedikit gugup dan gentar juga dia.
"Biarkan saja, Arlon! Kau ikut saja dengan Mama, lihat oma saja memihak Mama dan juga Om Adji, pasti dia akan memberikan semua hartanya kepada kita dibandingkan anak-anaknya itu!" sahut tante Sarah tanpa malu.
"Jangan terlalu yakin dulu, apa kalian yakin dengan semua ucapan ibuku? Dia saja tega mengkhianati suaminya dan anak-anaknya, apalagi kalian yang orang luar? Baginya, semuanya sama saja, dia tak mudah percaya dengan semua orang, kecuali satu orang..." ucap tante Sonia menatap tajam kearah opa Harja.
Mereka semuanya mengikuti arah mata tante Sonia memandang, mereka semua juga melihat kearah opa Harja dengan pandangan curiga, marah, kecewa dan tentu saja... Takut.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung