
Mereka bertiga sekarang dalam perjalanan pulang, larut dalam pikiran masing-masing. William pulang bersama Robin, selama dia tinggal di Indonesia, dia akan tinggal bersama sahabatnya itu.
Sedangkan Nico pulang sendiri dengan menyetir mobilnya menuju Villa, jarak antara kota ke Villa lumayan jauh tapi dia memaksakan diri untuk tetap pulang ke sana.
Padahal William menyarankan untuknya tidur di apartemen mewahnya, kalau tidak menginap saja di hotel biar tidak terlambat besok harinya.
Dia bersikeras ingin pulang ke Villa saja, karena ada Reva yang menunggunya di sana. Lagian, jika dia masih di kota takutnya keberadaannya dan Reva diketahui oleh Pramudya, dan itu akan membahayakan mereka.
Dia memilih pulang sendiri sedangkan sopirnya sudah disuruh pulang duluan olehnya, rasa lelah dan kantuk dia tahan sepanjang perjalanan demi bertemu Reva.
Matanya sudah mulai berat, laju mobilnya mulai tak seimbang.
Ckiiit!
Mobilnya mengerem mendadak, sedetik saja dia lengah maka tabrakan akan terjadi. Dia sangat terkejut sekali, tiba-tiba saja mobil didepan itu ada di sana.
"Woi! Mau mati lu!" sopir dimobil depan menurunkan kaca mobilnya dan berteriak marah.
Nico sadar dia melakukan kesalahan, lalu menurunkan kaca mobilnya juga.
"Maaf Pak, saya salah. Maaf yah," katanya merasa bersalah.
"Pak-Pak, saya bukan Bapak-bapak tahu! Kalau ngantuk tidur dulu sana!" teriak pengemudi mobil itu.
Lalu dia kembali melaju ketengah jalan meninggalkan Nico yang masih syok, karena hampir saja dia mengalami kecelakaan.
"Sepertinya dia benar, aku harus istirahat dulu. Kalau tidak bisa celaka lagi ini," katanya menghela nafas berat.
Dia memilih rest area yang tidak terlalu jauh dari sana, memesan segelas kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya.
Dia melihat layar telponnya, ada beberapa panggilan tak terjawab dari asistennya yang di Villa. Dia merasa heran, apa terjadi sesuatu di sana sampai mereka harus menghubunginya?
"Halo, ada apa? Saya lagi diperjalanan pulang, sebentar lagi sampai. Ada apa?" Katanya kepada asisten itu.
"Maaf Tuan, saya terpaksa menghubungi Tuan. Karena nona..." asistennya agak ragu menjelaskan maksudnya.
"Karena apa? Ada apa dengannya? Jelaskan, jangan bertele-tele?!" tegasnya.
"Nona dari pagi mengamuk Tuan, katanya ingin kembali ke kota. Kami tak bisa mengabulkan permintaannya, dan sekarang dia mengunci diri di kamarnya" kata asistennya.
Nico menghela nafasnya, dia merasa bersalah juga meninggalkan Reva sendirian. Dia pasti bosan, pikir Nico.
"Baiklah, saya akan segera pulang" katanya.
Setelah menghabiskan kopinya dia langsung bergegas pergi menuju Villanya.
__ADS_1
dari sudut parkiran di rest area itu, ada seseorang yang sedang mengawasinya. Dia terlihat sedang menghubungi seseorang di telponnya.
"Halo Pak, saya sudah mengawasinya dari tadi. Dan sekarang dia lagi di rest area di sekitaran Villa, bagaimana Pak? Apa saya akan terus mengikutinya, karena sebentar lagi dia akan pergi?" Kata pria itu.
"Jangan, nanti dia curiga... lagi pula dia juga sudah melihat mobilmu, hari ini sampai disini. Besok pagi tunggu lagi dia didepan rest area itu, aku yakin dia akan lewat lagu.
Ikuti terus kemanapun dia pergi sampai dia pulang ke Villanya, aku yakin ada sesuatu di sana. Mengerti?!" Kata seseorang ditelpon itu.
"Baiklah Pak, saya mengerti" ujar pria itu sambil menutup telponnya.
Pria itu menatap mobil Nico melaju melewatinya, tentu saja Nico tidak tahu karena pria itu bersembunyi diarea cukup minim cahaya lampu.
Dia adalah pria yang mobilnya hampir ditabrak Nico, ternyata dia tadi sengaja melakukannya agar Nico berhenti sejenak. Agar dia lebih mudah mengikuti dan mengarahkannya.
Nico pulang tanpa tahu apapun kalau dia sudah diikuti sejak tadi siang oleh orang asing.
*
Sesampainya di Villa, Nico bergegas menuju kamar Reva. Dia sangat khawatir sekali dengannya, semoga saja Reva sudah tak marah lagi dan mau diajak berbicara.
Tok! Tok! Tok!
"Reva, kamu sudah tidur? Ini aku Nico, aku hanya ingin melihatmu saja. Kalau kamu sudah tidur, gak apa.
Reva ternyata belum tidur, dia memang sedang menunggu Nico pulang. Begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada pria itu.
Tapi dia sudah bosan menunggu karena dia belum pulang juga, makanya siang tadi dia mengamuk ingin pulang. Sayangnya para pelayan di sana tak mengizinkannya.
Mendengar tak ada suara lagi, Reva pikir Nico sudah pergi dan beristirahat di kamarnya. Dia mendorong kursi rodanya dengan pelan, dan membuka pintu itu hati-hati.
Dia terkejut ternyata pria itu masih di sana, tersenyum padanya ketika dia membuka pintu tadi. Reva masih marah padanya, lalu buru-buru mau menutup pintu kamarnya.
Tapi sayangnya sudah keburu ditahan oleh kaki Nico. Dia memaksa masuk kamar Reva dan menutup pintu itu, dia menggendong Reva dari kursi rodanya ke tempat kasur.
"Sudah malam, kenapa kamu masih terjaga." Kata Nico pelan.
"Aku tak bisa tidur, ada banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan. Tapi sebelumnya, kamu darimana? Kenapa malam sekali pulangnya?
Bukannya kamu pagi tadi bilangnya tidak akan lama? Sampai bosan aku menunggumu!" Ujarnya sambil memalingkan wajahnya.
Nico tersenyum, dia senang Reva begitu perhatian kepadanya. Dia menatap mata Reva dengan lekat, membuat Reva sedikit tersipu.
"Kenapa, apa kamu merindukanku? Maaf, aku hari ini sangat sibuk begitu banyak pekerjaan di kantor. Maaf yah" ujar Nico masih menatapnya lekat.
"Tapi kenapa telponnya sampai mati, jadi aku tak bisa menghubungimu" jawab Reva.
__ADS_1
"Kamu dari pagi menghubungi aku?" Tanya Nico.
"Iya, aku menemukan telpon lain di laci meja itu" ujar Reva seraya menunjuk laci meja rias didepannya.
Nico kesal kenapa para pelayannya begitu ceroboh, sampai ada Hp di laci hingga mereka tidak tahu.
"Kamu tahu itu Hp siapa?" Tanya Nico, Reva menggeleng tidak tahu.
"Lain kali jangan asal pakai yah, siapa tahu itu Hp pelayan yang ketinggalan. Hati-hati lagi yah" ujar Nico lembut, mencoba berbicara hati-hati dengannya. Dia tahu saat ini suasana hati Reva lagi sensitif.
"Iya, aku tahu. Maaf..." kata Reva pelan, dia merasa tidak enak hati mungkin sudah menganggu Nico bekerja.
"Jangan lesu gitu dong, senyum lebih baik daripada cemberut terus" ujar Nico.
Reva pun tersenyum kembali, lalu mulai kembali banyak pertanyaan di kepalanya. Tapi sekarang sudah larut, dia memutuskan untuk bertanya besok pagi saja.
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Ini sudah larut, besok mau bangun pagi lagi 'kan? Sana tidur gih, balik ke kamar kamu" ujar Reva sambil tersenyum manis.
Nico lega Reva sudah tak marah lagi dengannya, dia kembali ke kamarnya dengan perasaan senang. Tiba-tiba dia teringat harus berangkat pagi-pagi sekali besok, dia harus bicara apa lagi pada Reva? Alasan apalagi yang tepat sekarang.
Mengingat Reva itu anaknya pintar, tidak akan mudah membohonginya. Ini saja dia sudah curiga, dia harus bersikap sewajarnya lagi besok pagi.
**
Paginya, Reva belum keluar dari kamarnya. Nico sudah datang masuk ke kamarnya dengan nampan sarapan untuk Reva.
Reva masih tidur nyenyak, tidak sadar ada seseorang menyelinap masuk ke kamarnya. Nico jalan berhati-hati agar Reva tak bangun, dia menaruh nampan sarapan berisi roti bakar isi selai, sandwich dan susu hangat untuk Reva.
Tidak lupa dia menyelipkan setangkai bunga mawar merah kesukaan Reva, sesuai dengan karakternya. Bunga mawar berduri melambangkan seorang gadis berani dan kuat, dari kejauhan nampak cantik dan anggun tapi tidak mudah untuk didekati atau disentuh.
Dan sekarang dia menaruh bunga tanpa duri, dia tidak ingin kekasihnya itu terluka oleh duri bunganya. Ada juga sepucuk surat disampinganya, surat permohonan maaf karena harus ditinggal pergi lagi tanpa pamitan.
Dia menatap lekat wajah Reva, gadis itu tidur dengan pulasnya, wajahnya polos tanpa make up. Begitu cantik alami, Nico semakin jatuh cinta padanya.
Dia keluar meninggalkan kamar Reva dengan perasaan tak menentu, dia harus kuat bagaimanapun juga mereka harus menang atas gugatan yang Reva atau mereka layangkan nanti.
***
Begitulah sekilas balik tentang perjalanan Nico dan para sahabatnya, sebelum mereka datang ke kantor di perusahaan besar milik ibu kandung Reva tersebut.
Usaha mereka begitu keras saking ingin membantu Reva mempertahankan haknya bersama saudaranya yang lain.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1