
Sementara ditempat lain, ada sebuah keluarga besar sedang berkumpul di sebuah ruangan besar. Didalam gedung bertingkat nan mewah itu, mereka membahas sesuatu rahasia kelam dimasa lalu.
Ada dua orang tetua di sana, mereka sepertinya sangat dihormati keluarga itu, dari penampilan mereka sangat jelas sekali mereka dari kalangan atas, kaum jetset diatas level tertinggi.
Tapi apa artinya sebuah titel dan penghargaan, jika semuanya diawali sebuah kebohongan, penipuan terbesar yang ada disebuah keluarga.
"Sampai kapan kita merahasiakan ini semua? Anak-anak sudah besar, mereka semua akan tau nantinya. Begitu banyak informasi yang bisa mereka dapatkan nantinya" ujar seorang wanita paruh baya kepada dua tetua yang ada di sana.
"Apa yang dikatakan oleh kakak ada benarnya, Ibu.. Kita harus mengakhiri semuanya sebelum terlambat, yang aku dengar anak itu sudah menyerahkan semua kepada anak-anaknya Larasati pohan.
Kita tidak bisa melakukan semuanya lagi, karena memang tidak ada yang bisa kita lakukan lagi untuk saat ini" sahut lagi seorang lelaki berusia sekitar 40 tahunan itu.
"Diam kalian berdua! Bagaimana bisa anak seorang Mariani bisa berkata seperti itu, jangan jadi pengecut! Ingat, kita sudah mempertahankan ini semua sudah puluhan tahun.
Dan tidak mungkin kita lepaskan begitu saja kepada mereka, aku menikah dengan ayah kalian saat usiaku masih sangat belia, dan lelaki itu tak sekalipun mencintaiku, dia hanya mengingat istri dan anaknya yang sudah mati!
Siapa tahu, jika anaknya masih hidup dan dia baru mengetahui ketika dia sudah mau mati, dan sialnya dia menyerahkan semua hartanya kepada anak dan cucu-cucunya! Dia tak menghargai sama sekali aku yang selama ini berada disisinya!" ucap seorang wanita tua, usianya hampir mendekati usia 80an tapi daya ingat dan fisiknya masih sangat kuat, meskipun dia berjalan dibantu oleh kursi roda atau pakai tongkat.
Tak menyurutkan semangatnya dalam mempertahankan haknya, menurutnya. Padahal sang suami dan mertuanya sudah meninggalkan banyak harta untuk dirinya dan anak-anaknya hingga cucunya, dan takkan habis begitu saja.
Tapi keserakahan dan dendam menyelimuti hatinya, rasa benci dan kecewanya pada sang suami belum tuntas, dan dia limpahkan juga kepada anak dan cucu tirinya.
Di samping oma Mariani ada juga seorang lelaki tua, dia tak memakai kursi roda seperti oma Mariani tapi dia selalu memakai tongkat sebagai penompang tubuhnya saat berjalan.
Nama kakek itu adalah kakek Harjamukti biasa dipanggil opa Harja, dia adalah adik kandung dari kakek Reva dan adik-adiknya. Dan ternyata kakek Harja juga yang menukar ibunya ketika masih bayi dengan bayi yang sudah meninggal di rumah sakit waktu silam.
Tante Sonia dan om Seno adalah anak dari oma Mariani, istri kedua dari ayah Larasati pohan. Mereka sebenarnya orang baik, tapi didikan dan cara pandang mereka diubah oleh ibu mereka semenjak sang ayah meninggal.
Mereka dituntut tetap menjaga semuanya agar tak ada yang merebut semuanya termasuk kepada anak cucunya Larasati Pohan, dan gilanya itu menurun ke cucu-cucunya.
Disaat anak-anaknya mencoba menyadarkan sang ibu, tapi cucu-cucu sang ibu malah mendukungnya, semua watak keras kepala, egois dan serakah ibu mereka diwariskan kepada anak-anak mereka.
Dan suami tante Sonia dan istri om Seno pun tak peduli, yang bisa berpikir waras di rumah itu hanya mereka berdua saja sepertinya. Didalam ruangan itu selain ada oma Mariani dan opa Harja, ada juga tante Sonia bersama suaminya, dan om Seno dan istrinya, di sana juga ada beberapa orang kepercayaan mereka, mereka yang selama ini menjalankan perintah nyonya besar dalam mengatasi atau menangani rencana kotor mereka selama ini.
"Ibu, ini sudah sangat lama.. Tak ada gunanya melibatkan anak-anak juga, toh semuanya sudah berakhir sejak lama.. Ayah juga sangat mencintai kita, dan kita tak kekurangan apapun.
Apa lagi yang kurang? Lagian, Larasati juga sudah tidak ada. Hanya tinggal anak-anaknya saja, kasihan mereka.. karena mereka juga cucu-cucu ibu juga" ucap tante Sonia menyakinkan sang ibu.
"Bukan! Mereka bukan cucuku, karena aku tak melahirkan ibu mereka! Jangan coba-coba menghalangiku lagi, jika tak suka pergi saja atau tidak cukup diam saja seperti selama ini!" ucap sang ibu.
Oma Mariani pergi meninggalkan ruangan itu, ada salah satu asistennya membantu Oma dengan mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan itu.
"Kalian lihat, kan? Ibu kalian sangat keras kepala dan dia tidak akan berhenti begitu saja, apa kalian tidak bosan membicarakan hal itu terus? Percuma kalian berusaha, tidak akan pernah bisa merubah hatinya" ucap opa Harja sambil tersenyum sinis.
"Kami tau, Paman.. Tapi kami takkan pernah menyerah sampai ibu sadar dengan apa yang dia lakukan selama ini, adalah salah. Ini semua akibat ulah Paman sendiri, menghasut ibu untuk melakukan ini semua" ucap tante Sonia terlihat marah pada opa Harja.
__ADS_1
"Kenapa pula salahku? Ibumu yang berbuat begitu, kenapa pula Paman yang disalahkan, haha!" ujar opa Harja sambil terkekeh pergi meninggalkan mereka.
"Sayang, sudahlah.. Tak ada gunanya kau melakukan semua itu, ibu takkan mau mendengarkan. Jangan sampai beliau marah dan akan berdampak pada pekerjaanku juga.
Kau tau sendiri, jika suasana hatinya buruk maka dia bisa saja memberikanku pekerjaan yang sangat banyak!" ucap suami tante Sonia.
"Apa yang dikatakan oleh Mas Adji ada betulnya, Mbak.. Kami yang tak tau apa-apa ini pasti akan kena dampaknya juga jika ibu marah, bisa-bisa uang belanjaku dipotong lagi sama ibu.." sahut tante Sarah, istrinya om Seno.
"Kalian ini... Yang ada dipikiran kalian hanya pekerjaan, jabatan, uang dan belanja saja! Apa kalian tak mencoba berpikir sedikit saja untuk membantu kami untuk menyakinkan ibu agar tak melakukan rencananya itu?!
Tolong realistis sedikit saja, semuanya takkan bertahan selamanya, uang dan semuanya gak akan dibawa sampai mati!" bentak tante Sonia kesal dengan sikap suami dan adik iparnya itu.
"Loh, ini sangat realistis sayang! Dengan uang dan semuanya kita bisa memiliki segalanya, termasuk rasa hormat dan segan dari orang-orang. Jika kita tak memiliki itu semuanya, kita akan dihina dan diinjak-injak oleh orang!" sahut sang suami.
"Betul itu, aku saja kalau lagi kumpul-kumpul bersama teman sosialita ku semuanya pakai barang branded, jika gak, akan dihina habis-habisan. Euh, gak banget!" sahut lagi tante Sarah.
"Seno, suruh istrimu itu diam jika tak ingin aku sumpal mulutnya pakai tisu ini!" geram tante Sonia.
"Iya, kak. Maaf, ya sudah.. Kita akhiri saja pertemuan ini, masih banyak pertemuan dan pekerjaan lainnya menunggu. Kalian berdua pergi saja sama yang lain, aku ingin berbicara dengan kakakku dulu.." ucap om Seno kepada istrinya dan suami kakaknya itu.
"Tapi sayang, aku masih pengen disini! Kita pergi sama-sama saja yah.." rajuk tante Sarah.
"Iya, betul itu! Emang ngomong apa sih pakai rahasia-rahasiaan segala" sahut om Adji.
"Bukan urusan kalian, ini masalah antara kakak dan adik!" sahut om Seno dingin.
"Pasti ada sesuatu yang mereka bahas dan tak ingin kita mendengar ataupun mengetahuinya" ucap tante Sarah kepada om Adji.
Mereka sudah diluar ruangan itu, dan masih ada beberapa orang didepan berjaga di ruangan itu dan melarang siapapun masuk kedalam tanpa seizin om Seno maupun tante Sonia.
"Aku ada ide, bagaimana kita lihat mereka dari ruang pengawas Cctv saja? Dari sana kita bisa melihat apa yang mereka lakukan.." sahut om Adji.
"Tapi percuma saja, toh kita takkan bisa mendengar apa yang mereka katakan" ucap tante Sarah kecewa.
"Tidak apa, yang penting kita tau apa yang mereka lakukan di sana. Dengan ini bisa jadi laporan kita kepada ibu, dan dapat komisi lagi darinya, haha!" ucap om Adji sambil memeluk pinggang tante Sarah.
"Ish, Mas! Jangan disini, masih ada orang!" bisik tante Sarah.
Keduanya berjalan keruang pengawas Cctv dilantai itu, bukan rahasia umum jika semua orang yang bekerja dengan mereka tahu tentang hubungan gelap mereka itu, hanya saja hubungan itu belum diketahui oleh anggota keluarga itu.
Entah belum tau atau tak mau tahu, mereka kurang yakin soal itu. Tapi mereka tak mau pusing dengan urusan pribadi tuan mereka, yang penting mereka bekerja dan digaji tepat waktu.
Sementara di ruangan tadi, tante Sonia dan om Seno masih berdiam diri. Mereka sedang menunggu waktu, selang beberapa menit kemudian mereka pergi dari sana menuju ruang sebelah.
Di saat tante Sarah dan om Adji melihat ke kamera, mereka berdua sudah tak ada lagi di sana. Dan tentu saja keduanya merasa kesal dan gagal lagi mendapatkan komisi dari mertuanya.
__ADS_1
"Disini kita aman, tak ada yang mengawasi kita. Baik itu Cctv ataupun dari mas Adji dan Sarah.." ucap om Seno pelan.
"Kau, tak apakah?" tanya tante Sonia khawatir dengan adiknya itu.
"Mungkin hati Mbak sudah mati untuk mas Adji, tapi hatiku sakit rasanya melihat kenyataan jika istriku berkhianat kepadaku, apalagi selingkuhannya adalah kakak iparku sendiri" ucap om Seno sedih.
"Sudahlah, kau meratapinya juga percuma. Dia takkan sadar, karena aku dulu juga begitu. Lelaki itu berulang kali selingkuh, selalu ku maafkan dan sekarang dia berselingkuh dengan adik iparnya sendiri, kali ini tak ada maaf lagi.
Kita akan membalas mereka, tapi dengan cara yang rapi. Jangan biarkan mereka bermain terlalu lama dan menguasai semuanya, kita harus menyingkirkan mereka berdua, sampai keduanya miskin dan tak punya apa-apa lagi" sahut tante Sonia tegar.
"Kakak hebat, meskipun aku lelaki aku tak sekuat dirimu. Kita disini berjuang sendiri, tak ada dukungan dari siapapun. Aku harap ada keajaiban dari Tuhan untuk mengirimkan seseorang menolong kita" ucap om Seno hampir putus asa.
"Jangan pasrah, dan jangan terlalu menyerahkan ini kepada takdir, karena Tuhan pun tidak akan berbuat apapun kepada kita jika kita terlihat lemah.
Aku dan kamu sejak dulu berusaha menyadarkan ibu semenjak ayah masih ada, tapi tak pernah berhasil. Bahkan kita merahasiakan ini semuanya, sampai ayah meninggal pun dia tak tahu apa-apa tentang pengkhianatan istri dan adiknya.
Dan sekarang kita berusaha menebus dosa atas diamnya kita selama ini, semoga ayah di sana mengampuni kita. Kita harus menolong anak-anaknya Larasati, meskipun dia saudara tiri, tapi dia tetap saudara kita.
ibu tak pernah berpikir atas semua pengkhianatannya kepada paman, akan berdampak juga kepada anak dan cucu-cucunya. Lihat dia berselingkuh dengan paman, dan kita berdua diselingkuhi juga sama pasangan kita.
Aku harap anak-anak kita tidak mengalami apa yang menimpa dengan kita, masih banyak waktu kita bisa menemukan anak-anak Larasati dan mencegah mereka mendekati keluarga ini, sebelum bahaya mengintai mereka" ucap tante Sonia lagi.
"Iya, kakak benar juga. Tapi apa kita harus bergerak sendiri lagi? Bukankah akan mencurigakan?" tanya om Seno.
"Tidak, tidak semuanya orang-orang di rumah ini berhati batu. Ada seseorang yang akan membantu kita.." jawab tante Sonia.
"Siapa orang itu? Keluarga atau pelayan?" tanya om Seno penasaran.
"Ada, kau akan tahu nanti" jawab tante Sonia sambil tersenyum penuh arti.
Diam-diam tante Sonia sudah lama merencanakan semuanya, dia meminta bantuan kepada orang itu, yang sudah melakukan semua rencananya itu dengan baik.
Sementara itu di dalam kamarnya, opa Harja sedang menunggu cucu kesayangannya di sana. Tidak lama kemudian masuk seseorang kedalam kamarnya.
"Opa.." sapa cucunya itu.
"William, cucu opa.." ucap opa Harja sambil tersenyum ramah.
Siapakah William ini? Apakah dia William yang sama dengan sahabat Nico?
......................
Bersambung
Untuk bab ini saya fokuskan dulu untuk keluarga mendiang kakek Ericka bersaudara yah, agar cerita kedepannya nyambung satu sama lain.
__ADS_1
Ini adalah keluarga ayah mendiang Larasati Pohan dan ini adalah kisah konflik keluarga itu, kira-kira tante Sonia dan om Seno bersatu atau gak yah sama Reva dan adik-adiknya melawan sang nenek?
Yuk simak terus dan jangan lupa dukungannya untuk othor receh ini 🥰🙏