
Sementara itu, di kediaman oma Mariani. Mereka semua sedang berkumpul kecuali om Adjid dan tante Sarah tentunya, karena mereka bukan bagian dari keluarga itu lagi, setelah perselingkuhan mereka terungkap dan perceraian tak bisa dihindari.
Maka, dengan kekuasaan oma Mariani mereka berdua diusir dan dipecat dari perusahaan. Mereka juga tak diberikan kekuasaan ataupun kekuatan apapun, benar-benar pergi dengan tangan kosong.
Rasa penyesalan datang terlambat, mereka berdua berusaha menyakinkan om Seno dan tante Sonia agar bisa kembali lagi ke keluarga itu, tapi rasa kekecewaan dan rasa benci keduanya lebih besar, maka peluang untuk kembali sangat tidak mungkin. Meskipun om Adjid dan tante Sarah menggunakan anak-anak mereka untuk mempengaruhi keduanya, tetap itu tak berpengaruh sama sekali.
"Mama sama om apa gak berpikir lagi untuk kembali bersama papa juga tante Sarah? Kami yakin mereka sudah berubah dan bertobat untuk tidak melakukan hal tercela itu lagi.." tanya Zacky berusaha menyakinkan mamanya juga om Seno.
"Ini bukan hanya tentang perasaan saja, Zacky! Tapi tentang kepercayaan dan kesetiaan, mereka berdua telah melakukan pengkhianatan ini sudah belasan tahun! Tidak mungkin tiba-tiba berubah hanya dalam hitungan beberapa hari atau belasan hari doang!" jawab om Seno geram.
"Zacky, suatu saat nanti ketika kamu menemukan orang yang paling kamu cintai dan kamu percayai melebihi hidupmu dan tiba-tiba mengkhianatimu, kamu juga akan merasakan rasa sakit yang sama apa yang dirasakan oleh mama juga om mu ini.." ujar oma Mariani ikut menyahutinya juga.
Saat ini mereka sedang melakukan rapat keluarga, oma Mariani masih terlihat sangat lemah memaksakan diri untuk ikut serta dalam pertemuan keluarga itu.
"Kau tau, oma juga merasakan apa yang dirasakan oleh mama juga om mu ini. Rasa sakit, kecewa dan penyesalan itu sangat sakit rasanya!" sambung lagi oma Mariani.
"Tapi, Oma.." Zacky masih tetap berusaha menyakinkan mereka.
"Tapi apa kak Zacky?! Sudah cukup yah, gak usah dibahas lagi! Kalian ini benar-benar gak punya hati nurani, rasa empati kalian kemana?! Apa gak mikir apa, Mama juga om dikhianati seperti ini, seharusnya kalian merasakan apa yang mereka rasakan!
Bukannya malah mendukung mereka! Lagian yah, papa juga tante Sarah itu selain berselingkuh mereka seringkali kedapatan menyalahi aturan perusahaan, sewenang-wenang dalam berkuasa, masih banyak lagi penyelewengan yang mereka lakukan, apa masih ingin mengelak lagi?!" kali ini Stacy ikut bersuara, dia sudah tak tahan lagi dengan tingkah kakaknya itu.
"Diam kamu, tau apa kamu selama ini! Kamu hanya anak manja, semua kebutuhan kamu selalu papa dan aku yang beri! Apa mama pernah sedikit aja mengikuti maumu, mauku? Nggak kan?! Jadi diam aja!" sahut Zacky geram.
"Iya, aku tau itu! Tapi aku pikir apa yang dilakukan oleh mama sudah tepat, bayangkan jika mama menuruti semua keinginanku apa gak bangkrut mama! Minta dibeliin jet pribadi, Villa mewah di Hamburg, perhiasan berlian langka bahkan pulau pribadi juga!
Dan apa papa juga beliin itu semua? Gak juga kan! Seiring waktu umur bertambah, pengalaman hidup juga banyak, jangan malu bertanya dan mengambil hikmah kehidupan orang lain, kak..
Aku sadar selama ini aku salah, karena aku melihat mama selama ini selalu tak dianggap di keluarga ini padahal semuanya bergantung kepadanya, pengkhianat papa tak bisa dimaafkan apapun alasannya!
Dan aku pikir juga selama ini mereka hanya memanfaatkan keluarga ini saja, tanpa sadar sejak kecil kita sudah dididik dan didoktrin untuk menjadi seperti ini, hilang rasa kasih sayang kepada orang tua, jauh dengan Tuhan, bahkan tidak perduli dengan orang lain.
__ADS_1
Aku gak mau hidup seperti ini terus menerus, kak.. Aku gak mau! Sebaiknya kalian berdua berubah sebelum terlambat, menyesal diakhir nanti juga percuma. Mumpung masih ada kesempatan, gunakan saja waktu ini sebaik mungkin.." ucap Stacy berusaha menyadarkan kedua kakaknya itu, Zacky dan Arlon.
"Sudahlah, jangan sok bijak kamu! Kamu itu masih kecil, tau apa kamu soal kehidupan! Ya sudah jika keputusan kalian seperti itu, sebaiknya kami pergi saja dari sini, dari keluarga ini!" ucap Zacky kesal.
Dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan semua orang dengan perasaan marah, kecewa dan kesal yang amat sangat. Kepergian Zacky meninggalkan Arlon sendirian ditengah-tengah keluarga itu, membuat om Seno sedang berharap anak semata wayangnya ini berubah juga, tapi..
"Aku kecewa dengan kalian, apa kalian tidak menganggap kami ini lagi! Apa susahnya memaafkan mereka dan membiarkan mereka kembali lagi ke keluarga ini lagi, setidaknya biarkan om Adjid dan mama berada di perusahaan kembali atau berikan mereka tunjangan yang sesuai!
Bukankah mereka juga punya andil bagi kemajuan perusahaan selama ini? Sebaiknya kalian juga memikirkan hal itu juga, aku kecewa sama papa juga oma.. Bukankah oma yang selama ini selalu mendukung mereka, bukan?! Kenapa sekarang malah berpaling?!" ucap Arlon dengan penuh kemarahan.
Dan dia pun ikut pergi meninggalkan tempat itu, menyusul Zacky pergi meninggalkan rumah juga keluarganya itu. Melihat itu mereka semua tertunduk sedih, menyesali semuanya karena terlambat menyadari semua kesalahan ini.
"Seandainya sejak dulu kita melakukan ini, mungkin hal ini tidak terjadi. Aku kehilangan suami dan anakku.." ucap tante Sonia dengan menahan sebak didada.
"Jangan kamu sesali ini semua, Sonia! Jika itu adalah sebuah kesalahan, maka ibulah yang paling merasa menyesal. Karena semuanya berawal dari keegoisan dan keserakahan ibu sendiri.
Memaksakan kalian menikah dengan orang yang tidak kalian cintai, tidak dianggap oleh pasangan juga anak karena ibu sendiri penyebabnya, maafkan ibu Sonia, seno..." ucap oma Mariani lirih, air matanya jatuh ke pipinya yang sudah berkeriput itu.
"Stacy, apapun yang terjadi kau tetap menghormati papa dan kakakmu.. Meskipun mereka begitu, dia tetap keluargamu. Jangan pernah lelah untuk menyadarkan mereka, kamu hanya satu-satunya harapan kami, nak.." ucap om Seno juga terharu.
.
.
Sementara itu, diluar rumah, Zacky dan Arlon berada didalam mobil yang sama sambil mengamati rumahnya itu, rumah dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan bersama, sekarang mereka seolah menjadi orang asing di rumah sendiri.
"Sekarang bagaimana?" tanya Zacky.
"Kau sudah tau jawabannya, mustahil mama juga papamu kembali lagi. Satu-satunya harapan kita adalah opa Harja, tapi kakek tua itu tiba-tiba menghilang begitu saja!" jawab Arlon terlihat begitu kesal sekali.
"Tentu saja, dia pasti melarikan diri karena semua rencananya gagal total! Aku yakin dia sekarang ini sedang merencanakan sesuatu, tapi gak tau apa itu! Aku harap itu apapun rencananya itu bisa menguntungkan kita semua!" ucap Zacky lagi.
__ADS_1
"Kau benar, sudah sejak dulu semua aturan dan semua hal dia yang merencanakan, kita sudah terbiasa bekerja dibawah naungannya. Apa benar yang dikatakan oleh Stacy kalau selama ini kita telah salah dididik, apa kehidupan hedon yang kita miliki selama ini ada hubungannya Dengan opa Harja ya?" ujar Arlon mulai menerka-nerka.
"Ada apa denganmu?! Apa kau mulai terpengaruh oleh ucapan bocah itu?! Jangan ngawur, bro! Apapun yang kita lakukan ini sesuai yang kita fahami sejak kecil, jadi setiap kesalahan yang kita lakukan tidak sepenuhnya itu adalah salah kita!
Ini adalah kesalahan mereka para orang dewasa yang mengajarkan kita hidup seperti ini, jadi jangan salahkan kita karena sudah terbiasa hidup hedon! Aku gak mau tau, kita juga berhak atas semua perusahaan dan bisnis ini!" ujar Zacky berapi-api.
"Kau benar juga, jadi.. Bisnis yang dijalani mamaku bersama papamu bisa kita handle sendiri, karena mereka sudah tak memiliki izin lagi jadi kitalah yang akan menggantinya, haha!" tawa Arlon senang.
Setidaknya, meskipun mereka tak memiliki lagi harta benda dari oma dan keluarganya, mereka akan memiliki harta lain peninggalan bisnis kedua orang tua mereka, meskipun bisnis itu bisnis gelap.
.
.
Disebuah Villa tua, yang terletak tak jauh dari perkebunan milik warga, ada seorang kakek tua sedang duduk sendiri di kamarnya, dia merenung sambil menatap kosong diluar jendelanya.
Bukan meratapi nasibnya, bukan pula merenungi arti kehidupannya selama ini. Tapi sedang memikirkan balas dendam berikutnya, tatapan kosong itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah tatapan penuh amarah, antara dendam, benci dan kecewa jadi satu.
"Aku tak menyangka kalau aku akan dikalahkan oleh seorang wanita tua sepertimu, Marni! Aku tidak akan jatuh sendirian, jika aku jatuh.. Maka kau juga harus jatuh!" ucapnya.
Tok!
Tok!
Tok!
Seseorang masuk kedalam kamarnya, seorang pelayan datang membawakannya cemilan dan minuman hangat. Opa Harja menatapnya lekat, seolah mengerti maksud dari kakek tua itu, pelayan itu memberikan sebuah tablet Android kepadanya.
"Hem, bagus! Mereka ternyata terlalu ceroboh, tidak belajar dari sebuah kesalahan. Pastikan kedua kedua bocah itu menghadiri pestanya, biarkan mereka membuat ulah di sana, aku tak perduli!
Kapan perlu biarkan seluruh keluarganya ikut menghadiri pesta anak-anak ingusan itu, pastikan Marni sendirian malam itu, maka aku akan datang menemaninya, hahaha!" ucap opa Harja dengan tawanya itu dengan keras.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung