Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Aku Tak Sekejam Dirimu!


__ADS_3

Pak Dewantoro diam-diam membawa Pramudya kesalah satu rumah sakit jiwa diluar kota, menyembunyikannya mungkin lebih baik saat ini. Karena media saat ini sedang gencar memberitakan tentang kasus skandal keluarganya.


Dia tidak ingin kondisi Pramudya malah membuat reputasinya makin buruk dimata para klien dan rekan bisnisnya, dia juga tidak tahu bagaimana nantinya didepan Elena dan anak-anaknya, yang jelas sekarang ini dia sedang bersembunyi didepan para awak media dan juga orang asing.


"Ah, kepalaku jadi pusing gara-gara masalah yang tak pernah aku buat! Elena dan anak-anaknya membuatku stress, mereka tidak pernah membuatku tenang sesaat saja," gumamnya kesal.


Mobilnya melaju cepat mengiringi mobil ambulans rumah sakit jiwa itu menuju rumah sakit yang di daerah cukup terpencil, jauh dari jangkauan awak media dan orang lain. Dia menghubungi Elena kalau dia tidak pulang malam ini, dan ada urusan mendadak.


Tentu saja Elena tidak percaya malah dia berpikir suaminya itu pergi untuk menghindarinya, dan tidak ingin membantunya dalam masalah anaknya itu.


"Aku tau, mas! Kamu pasti pergi dariku kan? Menghindariku dan tak ingin didesak terus-menerus olehku, kan?! Dasar pembohong! Kau bilang ingin berada disisiku selamanya, dan akan membantuku apapun itu yang terjadi!


Tapi nyatanya kau malah lari, dan alasan apa lagi sekarang?! Apa kau sekarang bersembunyi dibalik anak-anakmu sekarang?? Dasar pengecut!" teriaknya marah.


Saat itu dia berada di atas balkon dan sedang duduk sendirian sambil menikmati teh melatinya untuk menenangkan diri, dia tak tahu kalau sedari tadi Milah ada dibelakangnya sedang bebersihan.


Klontang!


Kemoceng ditangannya jatuh tak sengaja dan membuat Elena seketika menoleh kebelakang, dia menatap tajam kearahnya dan berjalan menuju Milah dengan tergesa-gesa.


"Kenapa kamu ada disini, hah?! Kamu menguping yah?! Kamu ingin menertawakan aku, begitu?! Dasar pembantu tak tahu diri! Sini kamu!" teriaknya sambil menarik Milah dan memukulnya memakai kemoceng yang jatuh tadi.


"Ampun, Nyonya! Saya tak bermaksud apapun, saya hanya bekerja disini! Tolong Nyonya, hentikan! Sakit!" teriak Milah kesakitan.


Suara gaduh dilantai atas membuat semua pelayan yang ada dibawah penasaran, tapi mereka tidak berani untuk melihat ada apa diatas sana.


"Kenapa kalian berkumpul disini? Cepat kembali bekerja sana!" perintah bi Mirna.


"Maaf, Bu. Diatas sana ada keributan, kami tak tahu apa yang terjadi dengan nyonya, kalau kami samperin nantinya kami malah kena sialnya lagi" sahut salah satu pelayan yang ada di sana.


"Baiklah, biarkan aku keatas sana, kalian kembali bekerja sana, kalau nyonya tahu bisa-bisa kita semua dipecat lagi!" ujarnya kepada para pelayan itu.


Semuanya mendengarkan bi Mirna dan kembali bekerja, bi Mirna naik keatas dengan perasaan was-was, semakin dia mendekat kearah suara, semakin jelas suara teriakan itu.


"Bersama siapa nyonya di sana? Kenapa suaranya sangat familiar olehku?" gumam bi Mirna penasaran.


Dia mempercepat langkahnya dan betapa terkejutnya dia melihat Milah sudah babak belur oleh Elena, apalagi dia juga melihat Elena seperti kesetanan menarik Milah menuju balkon itu.


"Nyonya!" teriaknya.


Dia buru-buru berlari dan menarik Milah dari tangan Elena, dia tak ingin Milah menjadi korban Elena selanjutnya. Melihat itu, bukannya berhenti Elena semakin menjadi-jadi dia marah menganggap bi Mirna sudah lancang kepadanya.


"Apa yang kau lakukan, hah?! Kau ingin melawanku, begitu?!" bentaknya.


"Maaf, Nyonya. Anda sudah melewati batas, anda sudah melakukan kekerasan fisik pada salah satu pegawai di rumah ini, anda bisa dituntut karena hal ini!" geram bi Mirna kesal.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu yah?! Berani-beraninya kamu bicara seperti itu kepada saya! Apa kau tidak tahu, bahwa bajingan kecil ini sudah mengintipku, dan mencuri dengar apa yang aku katakan tadi!" teriak Elena sambil menunjuk Milah memakai kemoceng ditangannya.


"Benar begitu?!" tanya bi Mirna kepada Milah.


"Tidak, Bu. Saya hanya bekerja saja, tidak bermaksud untuk mendekati Nyonya, bahkan saya juga tidak mendengar jelas apa yang dia katakan..." jawab Milah pelan.


Dia benar-benar sudah lemas karena dipukuli dan disiksa oleh Elena, dia jika ditanya hanya menggeleng saja.


"Alah, bohong kau! Sengaja kan kamu bersikap begitu, biar aku terlihat jahat padamu!" ujar Elena dan kembali ingin memukul Milah.


Dengan sigap bi Mirna menghalanginya dan akhirnya dia yang terkena pukulan nyonya rumah itu, dan pas saat itu juga Ericka datang dan melihat semua kejadian itu.


"Hentikan, brengsek!" teriak Ericka murka.


Elena terdiam dan melihat ada Ericka bersama beberapa orang datang menghampirinya, dia langsung melempar kemoceng ditangannya dan berlahan mundur kebelakang, menuju balkon itu.


"Apa kau juga ikutan gila seperti anakmu itu, hah?! Berani-beraninya kau melakukan hal itu di rumahku!" bentak Ericka sambil berjalan kearahnya.


Sedangkan bi Mirna dan Milah sudah dibawa oleh beberapa pelayan yang datang untuk membantu mereka, sedangkan Ericka bersama beberapa pengawal datang menghadang Elena yang semakin terpojok itu.


"Mundur, jika kau semakin mendekat aku akan loncat kebawah!" teriak Elena.


"Loncat saja, aku tak peduli!" ujar Ericka sambil tersenyum sinis.


"Dasar rubah licik! Kau sekarang semakin melunjak rupanya, tunggu saja kalau ayahmu itu kembali, aku akan memintanya mengusirmu dari rumah ini!" teriaknya lagi.


"Silakan saja kalau bisa, yang ada aku akan mengusirmu dari rumah ini! Rumah ini atas nama mendiang ibuku, kau tak pantas tinggal disini dan seharusnya kau yang pergi!" bentak Ericka marah.


Elena yang sudah terpojok itu tak sadar kalau dirinya sudah tersudutkan dipinggir balkon dan berpegangan dengan pagarnya, karena gugup melihat Ericka yang semakin dekat dengannya, dia tak sadar pegangan terlepas dan dia tergelincir.


Elena langsung terjatuh dari balkon lantai dua yang tinggi itu, dia sudah berpikir akan mati seketika ketika badannya menyentuh tanah yang ada dibawah sana, pikirannya jauh melayang memikirkan anak-anaknya, dan tiba-tiba..


Grep!


Dengan begitu cepat dan sigap Ericka langsung menangkap tangan wanita yang sudah menyiksanya belasan tahun itu, wanita yang sudah merebut posisi ibunya, wanita yang menghancurkan keluarganya.


"Ka-kau?! Kenapa?!" tanyanya bingung dan serba salah.


"Kalau ingin turutkan hati, aku ingin melihatmu mati mengenaskan dibawah sana! Tapi aku bukan kau, aku bukan benda tak memiliki perasaan. Aku tak ingin mengotori hati dan pikiranku hanya karena benci kepadamu!" ujarnya langsung menarik Elena kembali keatas dibantu oleh beberapa pengawalnya.


Elena terduduk lemas di balkon itu, bagaimana tidak dia hampir saja mati mengenaskan tadi jika Ericka tak menolongnya. Dia menatap Ericka dengan tatapan aneh, anak ini menolongku? gumamnya tak percaya.


"Sebaiknya kau diam saja di kamar dan tak boleh keluar, bisa-bisa kau akan membunuh orang jika dibiarkan lagi!" ujar Ericka sambil menatapnya dingin.


Dia memerintahkan beberapa pengawalnya menggeret Elena menuju kamarnya dan menguncinya dari luar, wanita itu masih diam tak percaya apa yang terjadi dengannya sekarang. Setelah terkunci di kamarnya dia baru sadar, dan menggedor pintu dengan kencangnya.

__ADS_1


Brak!


Brak!


"Ericka, buka pintunya! Cepat, jangan kurung aku disini! Ericka, kataku buka, buka! Jangan sampai ayahmu tau, kau bisa celaka!" ujarnya terus berteriak ingin dibukakan pintu.


Ericka tak menggubrisnya, dia meninggalkan Elena sendirian berteriak seperti orang gila. Dia meminta bi Mirna bertanggung jawab atas Elena sekarang, dia meminta bi Mirna langsung yang mengawasinya, dan tidak membiarkan orang lain yang mengawasinya.


"Aku ingin kau memberikan dia makan tiga kali sehari pagi, siang dan malam. Jika ingin menemuinya minta beberapa pengawal menemanimu.


Kita jangan sampai kecolongan, kalau dia kabur dan berbuat ulah lagi kita takkan bisa mengontrolnya lagi. Jangan lupa bawa beberapa botol air mineral jika dia haus nantinya, dan tisu bersama kotak sampah, aku tak ingin dia mengotori rumahku!" perintahnya.


Bi Mirna dan beberapa pelayan juga pengawal mengangguk setuju dengan perintahnya itu, setelah itu Ercka menuju kamarnya sambil berpikir apa yang terjadi tadi.


"Ya Tuhan, untung pikiranku langsung waras. Jika tidak aku bisa membunuh orang, meskipun aku tak membunuhnya melalui tanganku, tapi jika membiarkan dirinya dalam bahaya, bukankah sama saja aku menginginkan dirinya celaka??" gumamnya sambil merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu.


Triiing!


Triingg!


"Iya, halo siapa ini?" tanyanya sambil mengangkat telponnya.


"Ericka..." terdengar suara lembut menyapanya.


Ekspresi wajahnya langsung berubah, perasaannya jadi campur aduk antara takut, senang, sedih, malu dan kecewa menjadi satu. Suara itu membuatnya rindu mendalam, suara seseorang yang selalu melindunginya sejak kecil.


"Kak..." sahutnya.


"Akhirnya, aku pikir kau takkan mau dihubungi olehku. Ternyata aku salah, adikku sangat baik dan lembut... Tidak mungkin melakukan hal itu kepada kakaknya, kan?" tanya Reva lembut.


Ericka hanya diam, dia menahan isak tangisnya agar kakaknya tak mendengar suara itu, dia tak bisa berkata ataupun menjawab ucapan Reva, dia tak tahu harus bereaksi apa.


"Kakak, menghubungimu karena kangen, Dek.. Maaf yah jika kakak ganggu aktivitas kamu yang begitu sibuk" ucap Reva lagi.


"Tidak, kak.. Kamu sama sekali tak menggangguku, yang ada aku sangat senang sekali, dan maaf jika aku tak menghubungimu duluan" ingin sekali dia menjawab seperti itu, tapi sekali lagi dia hanya diam saja.


"Semoga kamu baik-baik saja di sana, kalau ada waktu, sempatkan sedikit saja waktumu untuk bertemu dengan kakak. Karena aku sangat rindu sekali denganmu, mari kita bercerita lagi seperti dulu.


Atau makan bersama lagi, o ya... Sebentar lagi kamu jadi tante, Dek! Kakak harap kamu jadi tante yang baik untuknya, haha! O ya, dari tadi kakak ngoceh terus, maaf yah! Selamat istirahat yah, sampai ketemu nanti" ucap Reva sambil menutup telponnya.


Setelah telponnya mati, keduanya tak bisa menahan isak tangis mereka, baik itu Reva maupun Ericka sama-sama menangis kencang dan tak bisa menahan perasaan mereka lagi, dua bersaudara sama-sama menahan rindu yang amat dalam, dipisahkan oleh ego dan balas dendam yang tak pernah usai.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2