
Reva dan Ericka berjalan beriringan, mereka turun kelantai bawah dengan perasaan was-was dan bertanya-tanya siapa yang datang itu.
"Nona.." sambut bi Mirna.
Dibawah sudah ada beberapa orang menunggu mereka, Reva mengenali beberapa orang yang duduk di sana, mereka adalah pengacara dan notaris yang dipercayai oleh Nico dan mendiang kakeknya untuk mengalihkan sebagian hartanya untuk anak dan cucunya.
"Bapak? Ada apa, apa masih ada yang ingin dibicarakan lagi? Bukankah sudah saya katakan, saya akan menerimanya setelah kedua adikku sudah kembali?" tanya Reva bingung sambil melihat kearah pengacaranya.
Dia tak menyadari ada juga beberapa orang yang tak dia kenal ada di sana, malah sekarang dia dicecar berbagai pertanyaan oleh Ericka.
"Maksudnya apa, Kak? Apa Kakak mengenal mereka? Mereka siapa? Dan ada hubungan apa aku dan kak Fendy dengan semua ini?!" tanya Ericka lebih bingung lagi.
"Hemm, anu.. Maaf, Kakak gak sempet cerita ke kamu apa yang terjadi sebenarnya, karena waktunya gak tepat" jawab Reva bingung harus menjelaskan dengan apa agar adiknya itu bisa mengerti.
"Maksudnya?!" tanya Ericka lebih bingung lagi dia dengan sikap kakaknya itu.
"Maksudnya kalian dapat rezeki nomplok yang datang tak disangka-sangka, dan itu seharusnya bukan milik kalian, hanya nyasar aja kemari, salah alamat!" tiba-tiba ada yang menyahuti omongan mereka.
Ericka dan Reva melihat kearah suara yang datang tadi, mereka melihat ada seorang lelaki tua yang sudah sepuh datang menemui mereka, dia juga datang ditemani beberapa orang-orangnya berpenampilan rapi.
"Maaf, kakek siapa yah?" tanya Reva mencoba tetap sopan.
"Kamu gak perlu tau siapa aku, cepat kamu hapus surat perjanjian atas ahli waris atas namamu dan adik-adikmu itu. Aku bisa menggantikannya yang lebih banyak lagi!" ucap kakek tua itu ketus.
"Sebelumnya saya harus tau dulu, anda siapa? Dan tolong perkenalkan diri anda dengan baik-baik, saya lihat anda dan orang-orang ini seperti orang yang terpelajar dan orang yang sangat terhormat, jadi bersikaplah yang sopan di rumah orang!" kali ini Reva menjawabnya dengan dingin.
"Hem, sikapmu ini sama persis seperti mendiang kakekmu, galak dan bodoh! Aku peringatkan lagi padamu, cepat hapus surat wasiat itu dan serahkan kepada kami.
Jika tidak--" kakek itu hendak mengancam mereka.
"Jika tidak, kalian mau apa?!" tiba-tiba Nico datang dari atas anak tangga menyahuti si kakek.
Kakek itu dan orang-orangnya terkejut dengan kedatangan Nico dengan tiba-tiba, mereka pikir anak itu tidak ada di rumah. Nico berpenampilan sangat rapi, lengkap dengan kain sarung dan baju koko muslimnya, karena dia hendak mengadakan pengajian untuk mendiang mertuanya.
Reva dan Ericka sumringah melihat kedatangan Nico, setidaknya mereka bisa menunjukkan kepada kakek tua itu kalau di rumah itu masih ada lelaki yang bisa melindungi mereka.
"Kau?!" sang kakek melotot melihat kearah Nico.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini, jangan berulah! Jika kalian macam-macam atau membuat keributan aku tak segan melaporkan kejadian ini kepada polisi.
Kapan perlu saya udang pers biar rame sekalian, kakek.. Pergilah, sebentar lagi orang-orang akan datang karena kami akan mengadakan pengajian untuk mendiang ayah mertuaku.
Jika kalian mau, silakan ikut bergabung dengan kami. Jika tidak, silakan pergi dari sini lewat pintu yang sama saat kalian menerobos tadi" ucap Nico dingin.
Kakek itu terdiam, dia tak bisa menjawab omongan pemuda itu. Yang dia anggap lancang kepadanya, sambil melotot si kakek berdiri menggunakan tongkatnya dan melihat kearah Reva dan Ericka.
__ADS_1
"Aku akan pergi, tapi ingat aku akan kembali dan mengambil yang seharusnya menjadi milikku! Lagian, kalian sudah kaya memiliki banyak harta warisan dari mendiang ayahmu itu.
Dan aku yakin kalian tak butuh lagi warisan itu, jika masih tak puas juga aku akan mengirimkan seratus milyar kepada kalian sebagai gantinya" ucap kakek itu pergi meninggalkan mereka.
"Jika kau mampu mengganti hak waris itu dengan uang sebanyak itu, berarti nilai warisan itu melebihi itu. Waww, kau rela kehilangan lebih banyak uang untuk itu, mencurigakan, apa ada sesuatu dibalik itu?" tanya Nico curiga.
"Jaga bicaramu itu! Lancang kamu yah?! Aku hanya mengambil apa yang seharusnya aku miliki, dan uang itu sebagai imbalan saja, syukur-syukur aku kasih dan seharusnya mereka tak mendapatkan sepersen pun," ucap kakek itu.
"Sudahlah, Kek. Sudah tua lebih baik perbanyak ibadah saja daripada ngurusin harta mulu, dan lagian itu memang hak mereka, jangan coba-coba mengintimidasi mereka ataupun berbuat diluar nalar.
Karena aku akan langsung menemuimu jika itu terjadi, sekarang anda sekalian pulang dan bawa kakek ini, kasihan kemana-mana jalan aja masih dituntun!" ucap Nico kepada yang lainnya.
"Dasar kau, lancang padaku! Lihat saja nanti.. Hh..hh" jawab kakek itu dengan nafas ngos-ngosan, menahan amarahnya yang sudah memuncak.
"Cepat kalian pergi, repot jika dia pingsan di sini!" usir Nico.
Mereka pergi dengan gusar, sementara para tamu dan pelayat sudah banyak yang hadir untuk menghadiri acara pengajian pak Dewantoro, mereka kembali sibuk dengan aktivitasnya lagi dan berusaha untuk bersabar menghadapi ujian ini.
"Pak, kalian jangan pergi dulu. Kita akan membahas soal ahli waris itu lagi setelah acara pengajian selesai" pinta Nico kepada Pengacara dan notarisnya.
"Baik, Pak. Kami akan menunggu dibalkon luar.." jawab pengacara itu.
Kemudian mereka mengadakan pengajian itu dengan hikmat dan khusuk tanpa ada gangguan lagi, sementara diluar sana sebelum acara pengajian dimulai dan ketika orang-orang belum banyak datang.
William melihat ada mobil yang sangat familiar dimatanya terparkir dihalaman luas depan rumah itu, dan dia juga melihat orang-orang yang ada di sana.
"Sebaiknya aku memperhatikan mereka dari sini, agar aku bisa mengawasi mereka dari jauh dan tau apa yang akan mereka rencanakan selanjutnya" gumamnya lagi, dan tiba-tiba..
Puk!
"Astaghfirullah, Ya Allah! Ya Robbi, Ya Karim!" William tiba-tiba latah karena kaget, untung latahnya bagus.
"Hei, Bro! Ngapain ngumpet disini? Kayak maling aja!" dan ternyata itu Aaron dan anak buahnya.
Mereka tersenyum geli melihat William yang kaget karena latah tadi, setelah itu William buru-buru menarik mereka ikut bersembunyi dari sana.
"Apa yang kau lakukan?! Kami gak mau ikut-ikutan permainanmu ini!" ucap Aaron kesal.
"Syut, diam! Nanti mereka bisa dengar" bisik William sambil mengarahkan telunjuknya kearah rumah besar didepan mereka.
Mereka melihat kakek tua tadi alias opa Harja keluar dari rumah itu dengan wajahnya yang terlihat gusar dan kesal sekali, dia terlihat tidak senang dan menuju parkiran mobil mereka.
Dimana letaknya tak jauh dari persembunyian William dan lainnya, Aaron mengerti ternyata anak itu dari tadi sedang mengamati orang-orang ini, dan dia juga bingung karena tak mengenal mereka, ketika ingin bertanya William mengisyaratkan dirinya untuk diam dulu.
"Aku gak mau tau, kalian cepat singkirkan mereka sebelum semuanya menjadi milik mereka dan menguasainya. Jika itu terjadi, kalian juga yang rugi karena kalian takkan mendapatkan apapun dari itu!
__ADS_1
Sudah puluhan tahun aku menunggu, dan sekarang adalah kesempatannya, aku gak mau sampai aku mati harta itu tak jadi milik keluarga kita.
Aku harap kalian berdua masih memiliki otak waras, jangan seperti orang tua kalian itu, semakin tua semakin bodoh!" ucap opa Harja memarahi kedua cucu kakaknya itu.
William diam tertegun, dia melihat langsung sosok sifat asli yang sebenarnya opa Harja, yang dia kenal sebagai kakek penyayang itu ternyata memiliki hati yang kejam dan sangat bengis.
Rombongan opa Harja sudah pergi dengan mobilnya meninggalkan rumah Nico.
William keluar dari persembunyiannya bersama yang lain, dia kelihatan syok karena melihatnya langsung sifat asli sang kakek. Saat pagi tadi dia bertemu dengannya sikapnya sangat berbanding terbalik dengan sikapnya tadi, ditambah lagi semua ucapan tante Sonia itu ternyata benar semuanya.
"Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan disini? Hei, kenapa diam saja? Ayo jawab, dan apa hubungannya dengan keluarga Ericka?!" cecar Aaron sambil menyusul William yang pergi begitu saja dari sana.
Sementara itu, Ericka terlihat termenung setelah acara pengajian selesai, dia hanya duduk diam didalam kamarnya. Dia masih bingung dengan semua kejadian tadi sore, siapa sebenarnya kakek itu? Dan apa yang dimaksud oleh mereka tadi?
"Satu yang membuatku bingung sekaligus, karena aku mengenali dua orang yang duduk disampingnya tadi, iya.. Aku masih hafal dan ingat betul, mereka yang ada didepan gubuk ditengah hutan waktu itu!" gumamnya lagi.
"Apa mereka semua terlibat dengan semua kejadian yang menimpaku waktu itu, apa tadi harta, ahli waris? Akh! Ini membuatku gila!" teriaknya frustasi.
Tok!
Tok!
Tok!
Reva masuk kedalam kamarnya, dia melihat Ericka tiduran dikasurnya dan terlihat merenung, Reva tau apa yang dipikirkan oleh adiknya itu.
"Kenapa sudah masuk kedalam kamar? Kan acaranya belum selesai, kasihan tuh Aaron nungguin dari tadi.." ucap Reva berusaha selembut mungkin kepadanya.
"Aku lelah, Kak.. Biarkan saja dia pulang, lagian pengajiannya juga sudah selesai," sahut Ericka malas.
"Memang pengajiannya sudah selesai, tapi masih ada beberapa tamu yang yang masih tinggal, dan... Kakak juga ingin membahas sesuatu dengan kamu dan lainnya" ucap Reva pelan.
"Apa itu?!" tanya Ericka penasaran.
"Sebaiknya kau turun dulu dan bergabung dengan yang lainnya, mereka sudah menunggu juga.." ucap Reva lagi.
Mau gak mau Ericka mengikuti keinginan kakaknya itu, dan lagipula dia juga penasaran dengan kakek tua bersama dua orang yang pernah dia lihat di hutan waktu itu.
"Tak apa, aku ikut saja. Aku masih bingung dengan semua ini, apa saja rahasia yang disembunyikan selama ini? Begitu banyak misteri yang tak aku ketahui?" gumamnya.
Dia mengikuti kakaknya dari belakang, pikirannya kacau bahkan dia sempat berpikir jika kakaknya juga diam-diam menyembunyikan sesuatu yang besar darinya.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1
Semangat hati dan tenaga othor mulai kendor... jika suka ceritanya tolong supportnya, terima kasih 🙏🙏