Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Siapa Pelakunya?


__ADS_3

Ambulance datang bersama mobil polisi, sopir taksi itu diminta keterangan perihal apa yang terjadi di sana, dengan jujur sopir itu mengatakan semua apa yang dia ketahui dan apa yang dia lihat.


"Dia korban sekaligus tersangka lakalantas yang ada di jalan A, dia pergi naik taksi meninggalkan mobilnya setelah kecelakaan itu terjadi, dan minta diantarkan ke pemakaman ini, begitu?" tanya polisi ke supir taksi itu.


"Sebenarnya beliau tidak mengatakan apapun, Pak. Saya berinisiatif ingin mengantarkannya ke rumah sakit saat dia menyetop taksi saya, dan saya kira dia korban lakalantas nya dan minta dianterin ke rumah sakit.


Setelah setengah perjalanan dia minta diturunkan di pemakaman ini dalam keadaan terluka seperti itu, saya sebenarnya bisa langsung pulang karena dia sudah membayar saya, tapi saya khawatir melihat keadaannya seperti itu, dan berniat ingin menunggunya selesai, saya hanya kasihan saja Pak" jawab sopir taksi itu.


Saat dia di interogasi oleh polisi, dia melihat ada beberapa orang berseragam dan dari penampilannya mereka itu adalah tim forensik digital kepolisian.


"Pemakaman itu mempunyai keamanan yang cukup memadai, kami melihat ada kamera Cctv nya dan orang ini berkata jujur" kata salah satu dari mereka.


"Oh, baiklah. Maaf Pak, mengganggu waktunya, kalau kami datang untuk meminta keterangan lagi, apa Bapak bisa datang memenuhi panggilan kami?" tanya polisi itu.


"Tentu Pak, kalau ada yang bisa saya bantu pasti akan saya lakukan, tapi mengenai korban ini sudah saya katakan semuanya apa yang saya ketahui" ucap sopir itu.


Sopir taksi itu pun ikut bersama ambulance itu, dia merasa bertanggung jawab sedikit atas kejadian semua itu.


Setelah sampai di rumah sakit, dia bertemu dengan beberapa orang-orangnya pak Dewantoro diantaranya adalah mas Bram, mas Bram bertanya perihal apa yang terjadi kepada supir taksi itu, sekali lagi sopir itu menceritakan semuanya.


"Terima kasih atas bantuan dan kebaikan Bapak, kami tidak akan pernah melupakan semua kebaikan ini. Ini tanda ucapan terima kasih kami untuk Bapak" ucap mas Bram.


Dia menyodorkan sebuah amplop coklat dan lumayan tebal, sopir taksi itu menerimanya dengan perasaan deg-degan dan bingung, beberapa kali dia membolak-balik amplop dan memperhatikannya seksama.


"Ini apa, Pak?" tanyanya bingung.


"Itu adalah ucapan terima kasih dari keluarga beliau kepada Bapak, tidak banyak Pak. Tapi kami benar-benar ucapkan terima kasih dan ikhlas memberikan itu" ucap mas Bram lagi.


"Saya juga ikhlas, Pak. Dan saya sama sekali tak berharap imbalan seperti ini" ucap sopir taksi itu merasa sungkan dan tak enak.


Setelah beberapa kali dibujuk akhirnya sopir taksi itu mau juga menerimanya, dia pun pulang dengan perasaan lega karena penumpangnya tadi sudah dibawa ke rumah sakit dan sudah ditemukan oleh keluarganya, saat dia membuka ponsel pak Dewantoro nama mas Bram yang pertama muncul, jadi dia menghubunginya dan menceritakan semua kejadian itu.


"Tidak disangka, hanya bantuan kecil dariku mereka memberi kebaikan seperti ini.." gumamnya.


Dia membuka amplop itu, dan betapa terkejutnya dia melihat isi amplop itu. Ada sepuluh gepokan uang kertas baru setiap lembarnya bernilai seratus ribu, jika ditotalkan semuanya ada sepuluh juta nilainya.


"Siapa orang ini? Kenapa dia memberiku uang segitu banyaknya? Dia bilang ini sedikit, subhanallah.." supir taksi itu sujud syukur atas rezeki yang dia terima tak disangka-sangka itu.


Dia penasaran dengan orang yang dia tolong itu, kebetulan amplop coklat itu ada kepala suratnya yang tertera alamatnya, betapa terkejutnya dia melihat nama perusahaan yang tertulis di amplop itu.


Sebuah perusahaan besar yang ada di kotanya telah memberinya uang dengan nominal yang sangat besar baginya.


"Siapa yang aku tolong? Salah satu eksekutif besar di perusahaan itu kah? Atau pemiliknya langsung? Ah, entahlah! Pokoknya aku sungguh bersyukur dan terima kasih telah memberiku uang ini" ucapnya senang.


.


.


.


Sementara itu di rumah sakit, mas Bram menemani pak Dewantoro ditemani beberapa pengawal dan manajer pak Dewantoro, tak satupun anak-anaknya datang menjenguk ayahnya yang terbaring lemah itu.


Begitu banyak selang yang menempel ditubuh lelaki tua itu, dia belum siuman bahkan dokter memvonisnya koma dan tidak tahu kapan akan sadarnya, dan kemungkinan buruknya, beliau bisa saja kehilangan nyawanya.


Hanya doa yang bisa mereka lakukan saat ini, dan berharap mukjizat dari Allah untuk kesembuhan pak Dewantoro, beberapa kali mas Bram menelpon Reva dan mengatakan kondisi ayahnya, tapi jawaban Reva sungguh menohok siapapun yang mendengarnya.


"Nanti aku akan datang menemuinya, tapi tidak sekarang mungkin nanti, besok atau entah kapan. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya selama ini, dan dia bertobat sebelum dipanggil yang Maha Kuasa" ucapnya.


"Astaghfirullah Reva! Dia ayahmu, tak baik kau ucapkan kalimat seperti itu!" ucap mas Bram sambil menghela nafasnya berat.

__ADS_1


"Kalimat mana yang salah, Mas Bram? Aku tak berkata buruk tentangnya, malah aku mendoakannya dengan baik.. Aku memang bukan anak yang baik, bukan putri yang berbakti kepada orang tua, aku manusia penuh hina.


Tapi, Mas Bram.. Aku juga punya perasaan, punya hati Dibalik kata benci dihati ini ada rasa sayang dan cinta begitu dalam kepada ayahku, aku masih bisa merasakan kasih sayang yang dia berikan sewaktu aku masih kecil.


Tapi bagaimana dengan adik-adikku? Huufft.. Aku sekarang sudah tak terlalu membencinya saat ini, malah aku malah kasihan dengannya. Kini dia menghadapi sebuah kenyataan pahit yang sebenarnya dia ketahui tapi berusaha menutup mata.


Sekarang dia tak bisa berlari ataupun bersembunyi lagi, karena pada akhirnya semuanya sudah terbuka dan faktanya orang yang dia cintai dan paling dia percayai itu mengatakan yang sebenarnya.


Aku yakin ayah menyadari itu semua, aku juga yakin dia sekarang ini lagi menerima hukuman atas semua karma yang dia perbuat selama ini.


Sekarang, aku minta dengan penuh harap kepada Mas Bram.. Untuk saat ini tolong jaga ayah dulu, aku sekarang masih di rumah sakit menjaga Rendy" ucap Reva.


"Baiklah kalau begitu, aku harap semuanya baik-baik saja. Bagaimana dengan Rendy, apa dia baik-baik saja?" tanya mas Bram.


"Dia baik-baik saja, alhamdulilah... Hanya saja saat ini belum bisa bergerak banyak, masih bed rest, lukanya cukup dalam. Aku hanya berterima kasih kepada orang yang sudah mau mendonorkan darahnya. Tapi sayang identitasnya dirahasiakan" ucap Reva lagi.


Seandainya dia tahu yang mendonorkan darah kepada adiknya itu adalah ayahnya, apa yang akan terjadi? Kecewa? Marah? Atau malah senang? Hanya dia yang tahu..


"Baiklah, Non saya tutup dulu telponnya. Mau liat keadaan bapak lagi.." ucap mas Bram.


"Iya Mas Bram, terima kasih.." balas Reva juga.


Mas Bram berulang kali menghubungi Ericka tapi telponnya tak bisa terhubung, dia bertanya kepada beberapa orang tapi tak ada yang tau keberadaannya, bahkan sekretaris, asisten ataupun pengawalnya pun tak tau keberadaannya.


"Terakhir kami lihat nona masih ada di ruangannya, aduh! Bagaimana ini?!" ucap sekretarisnya panik.


Diluar dugaan mereka ada penyusup masuk ke perusahaan itu, penyusup itu menyamar jadi petugas kebersihan, dia masuk keruangan Ericka, saat itu Ericka sedang menerima telpon dari orangnya mengatakan kalau kakaknya Rendy kena tusuk oleh Elena sewaktu di rumah sakit.


Dia tidak fokus jika ada orang dibelakangnya berjalan kearahnya mengendap-endap, mengarahkan jarum suntik berisi obat bius. Dan..


Jleb!


Jarum suntik menancap lehernya, nafasnya tercekat. Dia sempat menoleh kebelakang dan melihat ada seorang cleaning servis menancapkan jarum itu ke lehernya.


"Maafkan saya Bu, saya tak bisa menolak uang.." ucap orang tersebut.


Pandangan Ericka seketika kabur dan jatuh tak sadarkan diri, orang itu tadi langsung menggendongnya dan dimasukkan kedalam bak troli yang biasa mereka gunakan untuk menaruh alat-alat kebersihan itu.


Dia keluar dari ruangan sambil mendorong alat-alat itu seperti tidak terjadi apapun, sedangkan Ericka duduk meringkuk didalamnya tidak sadarkan diri.


//


Ericka terbangun dari pingsannya dan mendapatkan dirinya didalam sebuah kamar, dia nampak asing dengan ruangan itu.


"Dimana ini? Kenapa aku sampai dikurung disini? Siapa yang melakukan ini, tidak mungkin ayah? Elena, Pramudya atau Pricilia? Tidak mungkin mereka, mengingat apa yang terjadi dengan mereka saat ini.


Lalu, siapa yang melakukan hal ini? Aku tak memiliki musuh lain selain mereka.." gumamnya bingung.


Dia dikurung semacam ruangan entah itu kamar atau gudang, yang jelas dindingnya terbuat dari kayu dan lantainya hanya berlapis semen saja, ada dipan kayu, lemari, dan meja kayu yang ada di sana.


Dia hanya melihat teko dan cangkir terbuat stainless steel dimeja kayu itu, dia duduk di sana dan tenggorokannya kering, dia tak berani minum air yang ada di sana. Tiba-tiba..


Aaauuu!


Terdengar lolongan anjing diluar kamar itu, jantungnya berdetak cepat, dia tahu saat ini dia berada ditempat yang sangat terasing sekali, entah itu ditengah hutan atau tempat lain.


"Siapa yang beraninya mengurung aku disini?! Tidak ada waktu untuk berfikir, aku harus keluar dari sini!" gumamnya.


Saat dia berusaha ingin membuka pintu, terdengar suara dari luar bergerak kearah pintu ruangan itu.

__ADS_1


Kresek! Kresek!


Ericka panik, dia kembali ke dipan kayu itu dan tiduran kembali. Terdengar suara pintu kayu terbuka, dia segera berpura-pura belum sadarkan diri dan mendengar langkah kaki mendekatinya.


"Ternyata obat bius itu bagus juga, anak ini masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Bagaimana, apakah kita paksa dia bangun?" terdengar suara lelaki didekatnya.


"Jangan, kita belum dapat perintah dari bos selanjutnya. Kita hanya diminta untuk menjaganya saja" terdengar lagi suara lelaki lainnya.


"Baiklah, kita tunggu saja diluar!" ucap lelaki sebelumnya.


Mereka kembali keluar dan berjaga didepan pintu, pintu ruangan itu ditutup dan mereka kunci lagi. Saat mereka memunggungi Ericka, sekilas Ericka melirik melihat kearah luar, dan dia melihat ada banyak pepohonan diluar sana.


Dia juga mendengar mereka mengunci mereka menggunakan gembok, bukan hal mudah baginya untuk kabur, tapi dia tak hilang akal, Ericka melihat jendela di atas ruangan itu.


Jendela kecil digunakan sebagai ventilasi udara dan juga pencahayaan, dia pikir akan muat lewat sana jika ia nekat kabur dari sana. Ericka memanjat dinding itu melalui meja kayu dan kursi yang dia tumpuk jadi satu.


Untungnya meja dan kursi itu tidak terlalu berat, sehingga dengan hati-hati dia memindahkannya dengan baik. Saat dia berhasil meraih daun pintu, tapi malah terkunci dari luar.


"****! Kenapa harus terkunci sih?!" ucapnya kesal.


Dia menggunakan jepit rambutnya untuk membuka kaitan jendela itu dari luar, dan berhasil! Sejenak hatinya lega, tapi ketika kepalanya melongo keluar, ada perasaan was-was dan takut juga.


Karena ruangan atau gubuk itu berada ditengah hutan, tapi untungnya keadaan masih siang jadi dia tak takut untuk kabur segera.


Ericka memanjat jendela yang lumayan tinggi itu, betapa terkejutnya dia dibawah sana ada anjing berjenis herder sedang beristirahat dibawahnya.


"Sial! Kenapa harus ada anjing disini!" gumamnya kesal.


Kretek!


Terdengar dari dalam suara pintu berusaha dibuka dari luar sana, sepertinya dua penjaga tadi ingin masuk dan sedang membuka kuncinya.


"Aish! Aku harus cepat!" ucapnya.


Dengan perasaan was-was dia langsung melompat dari ketinggian itu.


Bruk!


Aakh!" teriaknya.


Kakinya menghentak keras ketanah yang dia pijak, terasa tulang keringnya ngilu dengan rasa sakit yang amat sangat, dan tentu saja itu mengagetkan anjing yang lagi bersantai itu.


Guk! Guk! Guk!


"Syut, diam!" bentak Ericka.


Tapi anjing itu terus menggonggong tak berhenti membuat kedua penjaga tadi curiga, satunya berusaha membuka pintu gubuk itu, dan satunya lagi berjalan memutar mengelilingi gubuk itu mencari sumber suara anjing tadi.


"Ini tidak benar, aku harus segera pergi dari sini! Tapi kakiku rasanya sakit sekali.." ujarnya meringis kesakitan.


Tap dia berusaha sekuat mungkin berjalan meninggalkan gubuk itu berjalan kearah hutan, dia mendengar suara orang berjalan semakin mendekat kearahnya, semakin cepat juga dia berjalan menuju arah hutan itu.


"Hei, siapa itu?!" tanya seorang lelaki dari arah belakangnya.


Ericka menoleh kebelakang dan melihat salah satu penjaga tadi sedang berusaha menenangkan anjingnya dan melihat kearahnya, penjaga itu terkejut karena orang yang dia tegur tadi rupanya tahanan mereka.


"Hei, disini! Orang itu kabur!" teriaknya memanggil temannya tadi.


Mendengar itu Ericka semakin cepat jalannya, dia abaikan rasa sakitnya di kaki, dia hanya ingin keluar dari tempat itu dan menghindari para penjahat yang ada dibelakangnya, mengejar bersama anjingnya.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2