
"Kasihan sekali denganmu" ucap Annie ikut menangis mendengar cerita Ayumi.
Hiro memeluk sahabatnya yang sudah menjadi kekasihnya itu, mereka saling menguatkan.
"Tidak apa, asalkan ada Hiro disampingku. Semuanya baik-baik saja" ucap Ayumi sambil menatap hangat kekasihnya itu.
Selanjutnya tiba seorang lelaki berwajah arab bercerita kepada mereka tentang kisahnya, lebih tepatnya kisah adik perempuannya.
KISAH ZAHRAH DAN ZAIN
Beberapa belasan tahun yang lalu, disebuah desa kecil di negeri penuh konflik. Peperangan selalu terjadi di negara itu, entah itu peperangan antar negara ataupun perang saudara.
Ada sebuah keluarga, ayahnya seorang pejuang. Selain seorang petani ayahnya juga ikut berjuang melawan para penjajah dan saudara mereka yang mencoba berkhianat pada negeri ini.
"Ayah, jangan pergi lagi. Kalau Ayah pergi siapa yang akan menjaga kami" ujar Zain, saat itu dia sudah remaja, usianya baru menginjak 16 tahun.
Dia memiliki tiga orang adik, adik keduanya perempuan bernama Zahrah, yang ketiga bernama Malik dan si bungsu bernama Rayyan.
Zahra berusia 14 tahun, Malik berusia 10 tahun dan Rayyan berusia 7 tahun. Sedangkan ibunya ibu rumah tangga biasa, dia biasanya membantu suaminya bekerja di ladang mereka. Kalau suaminya tidak ada, maka anak-anaknya yang membantunya.
Pada hari itu, ayah mereka harus pergi karena mendapatkan kabar bahwa akan ada penyerangan di wilayah perbatasan mereka. Sebenarnya bukan hanya ayah mereka saja yang pergi, rata-rata semua pria dewasa pergi ikut berperang.
"Zain, Ayah titipkan ibu dan adik-adikmu kepadamu. Sekarang beban tanggung jawab Ayah serahkan kepadamu, lindungi dan jaga mereka dengan nyawamu, Nak.
Ayah tahu, semua ini berat untukmu. Maka akan berat sekali jika negara kita terus dijajah dan diteror seperti ini. Ayah dan para pejuang ingin memerdekakan negara kita agar kita semua bisa hidup bebas dan nyaman.
Zain, anakku. Kalian semua adalah harta paling berharga bagi Ayah, tak sekalipun Ayah melupakan kalian. Jadilah anak yang berbakti pada ibumu, dan jadilah sosok kakak pelindung bagi adik-adikmu.
Zain, anakku. Ayah sangat bergantung padamu, ketika Ayah tiada maka semuanya menjadi tanggung jawabmu, bukannya Ayah lepas dari tanggung jawab tetapi Ayah ingin kau menjadi lelaki kuat dan mandiri.
Bisa berdiri sendiri, tanpa bantuan orang lain. Jagalah keluargamu, lindungi mereka. Ayah serahkan mereka kepadamu..." itu pesan terakhir ayahnya.
Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu kembali, beberapa bulan kemudian. Sekitar 6 bulan berlalu semenjak kepergian ayah mereka.
Warga desa kedatangan tamu tak diundang, sekelompok orang asing mendatangi mereka. Berpura-pura memberi bantuan tetapi memiliki maksud lain, selain para orang asing itu ada penduduk lokal bersama mereka.
Orang itu juga membantu membujuk para warga untuk memberikan anak-anak mereka untuk bekerja dengan orang-orang asing itu.
"Ibu tidak perlu khawatir, anak-anak Ibu akan aman bersama mereka. Mereka akan diperlakukan dengan baik, digaji besar dan diberi makan enak.
Kami juga akan memberikan bantuan setiap bulannya kepada keluarga Ibu, jadi tidak ada ruginya. Setidaknya, bebanmu akan berkurang dengan kepergian mereka.
Jadi Ibu tidak perlu memikirkan makan apa setiap harinya, atau takut anak-anakmu tidak bisa menjalani hidup dengan layak. Semua akan ditanggung oleh perusahaan mereka-mereka ini." Ujar lelaki itu.
"Mereka bukan beban bagiku, mereka tanggung jawabku yang diberikan oleh Allah SWT. Jika aku merasakan beban karena mengurus mereka, itu menandakan bahwa aku telah gagal menjalankan amanah dari Allah dan suamiku.
Aku seorang Ibu, sudah tanggung jawabku mengurus anak-anakku. Pergilah, aku tak tertarik dengan bujuk rayumu. Harta bukanlah segalanya bagi kami.
Ini semua hanya titipan dari Allah SWT, setidaknya kami bersyukur apa yang telah diberikan kepada kami selama ini. Dan Alhamdulillah anak-anakku tumbuh sehat dan mereka bahagia" tolak ibunya Zain dengan halus.
__ADS_1
Lelaki itu pulang dengan perasaan kecewa, dia meninggalkan gubuk tua itu dengan tangan kosong. Saat dipertigaan desa itu, dia dicegat oleh seorang anak perempuan didepannya.
"Paman, apakah benar yang kau ceritakan tentang perusahaan itu? Dan kenapa mereka membutuhkan kami yang masih anak-anak ini?" Zahrah menatap lelaki itu penuh keingintahuan nya.
Lelaki itu tersenyum licik, sepertinya anak ini masuk dalam perangkapnya. Dia menghampiri Zahrah dan menatapnya penuh keyakinan.
"Itu semuanya betul, Nak. Bayangkan, pulang kerja kau bisa bersekolah dan bermain. Akan banyak anak-anak sepertimu kelak di sana, kau takkan repot mengurus rumah dan adik-adikmu lagi.
Kamu juga bisa membangun rumah baru dan tidak perlu tinggal di gubuk itu, dan ibumu tak perlu lagi ke ladang, adik-adikmu bisa makan enak dan punya mainan baru setiap harinya.
Bagaimana, apakah kau tertarik dengan pekerjaan itu? Ingin keluargamu bahagia, kan?" bujuk lelaki tua itu.
Zahrah pulang ke rumah depan hati penuh bimbang, dia mengatakan kepada lelaki itu untuk memikirkannya dulu sambil membujuk ibunya.
"Ibu, Zahrah ingin bertanya pada Ibu." Gadis itu duduk bersimpuh menengadah kearah sang ibu.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?" ibunya nampak khawatir kepada putri satu-satunya itu.
Karena Zahrah tidak pernah duduk bersimpuh seperti itu kepadanya, jika dia melakukan hal itu ada dua kemungkinan, satu dia berbuat salah dan meminta maaf dan kedua dia pasti meminta sesuatu kepadanya.
"Ibu, ayah sudah lama pergi dan tak kembali. Biasanya dia tak pernah pergi begitu lama, paling lama hanya tiga bulan dan ini sudah memasuki bulan ke tujuh.
Ibu, jujurlah. Apakah ayah masih bersama kita atau tidak lagi?" tanya Zahrah berkaca-kaca.
"Astaghfirullah, Nak. Istighfar! Jangan sekali-kali berpikir seperti itu, ayahmu masih ada. Dia masih berjuang demi negara kita" dengan suara bergetar ibunya menjelaskan itu kepada putrinya itu.
"Ibu, jangan berusaha menutupi sesuatu demi sebuah kebohongan. Katakanlah, Bu... Kami akan ikhlas menerimanya.
"Nak, ayahmu sekarang sedang berjuang agar kita mendapatkan kebebasan itu-" Zahrah tak pernah menyela omongan ibunya, baru kali ini dia melakukan hal itu.
"Bukan kebebasan seperti itu, Bu! Aku ingin bebas bersekolah, dan mencapai cita-citaku. Tidak seperti negeri ini, jangankan sekolah, hidup aman saja susah. Untuk makan saja berebut.
Apakah para pemimpin negara ini mengerti kita, apakah mereka membantu kita! Apakah mereka memikirkan nasib pejuang dan keluarganya..." ujar Zahrah pelan sambil menangis.
"Ibu, aku sudah lelah dengan kehidupan disini. Aku ingin sebuah perubahan, aku akan pergi. Maka dari itu izinkan dan doakan aku agar selamat dan bahagia selalu.
Ibu, aku akan pergi bersama orang asing itu demi sebuah kehidupan yang lebih baik lagi. Aku ingin mewujudkan keinginan kita semuanya, maka dari itu izinkan aku pergi.
Dan restui aku, doakan aku..." Zahrah menangis dan berlari menuju kamarnya.
Ibunya begitu syok dengan permintaan anak gadis satu-satunya itu, dia tak menyangka jika sang putri memiliki sebuah keinginan yang besar. Karena selama ini Zahrah tidak pernah berbicara atau mengatakan semua keinginannya.
Dia gadis pemalu dan pendiam, dia selalu mendahulukan kepentingan adik-adiknya. Dia selalu memendam semua keinginannya sendirian, karena dia tahu mereka tidak bisa mewujudkan keinginannya itu.
Sampai pada saat itu, dia mengungkapkan semua isi hatinya dan rasa rindunya pada sang ayah.
Ibunya hanya menangis karena tak pernah mengerti tentang anak gadisnya itu, karena tak pernah tahu keinginannya. Dia hanya meratapi nasibnya.
"Ibu, kenapa masih ada disini? Ayo, Bu... Kuantarkan ke kamar dan beristirahat lah" ujar Zain dengan lembut kepada ibunya itu.
__ADS_1
"Tidak, Nak. Biarkan dulu Ibu disini sendirian" ujarnya sambil menangis.
Zain menatap wanita paruh baya yang sangat dia hormati itu, dan bertanya apa yang terjadi. Ibunya menceritakan semua keinginan Zahrah dan menyesal tidak bisa mewujudkan keinginannya.
Zain menuju kamar adiknya itu dengan perasaan hancur, hancur karena tak bisa menjaga adiknya, hancur juga melihat ibunya terluka.
"Zahrah! Zahrah! Bukakan pintunya, aku ingin berbicara" ujar Zain mengetuk pintu kamar adik perempuannya itu.
Tapi tak ada jawaban dari dalam, dia mengira Zahrah mungkin sedang tertidur maka dia membiarkannya.
Hingga pagi pun tiba, dia tak keluar juga dari kamarnya. Biasanya dia membantu ibunya membuat sarapan atau sekedar membersihkan rumah mereka.
Tapi hari itu berbeda, perasaan Zain tidak enak hatinya gelisah dia mendobrak pintu kamar itu dan benar saja, adiknya sudah tak ada.
Dia berlari keluar rumah berharap menemukan adiknya tapi nihil, malah dia mendapatkan fakta baru bahwa beberapa anak di desanya juga pergi menghilang.
Mereka menduga anak-anak itu pergi bersama orang asing itu, entah diculik atau keinginannya sendiri. Karena ada beberapa anak memiliki cerita yang sama seperti Zahrah.
Zain dan beberapa pemuda lainnya berniat mencari keberadaan anak-anak itu, maka dari itu dia pergi tanpa pamit pada ibunya. Pada saat itu ada Malik adiknya.
"Malik, Kakak akan pergi mencari Zahrah. Kakak perempuanmu, sekarang tanggung jawab rumah ini ada ditanganmu. Jaga ibu dan Rayyan.
Lindungi mereka dan jaga mereka, menurutlah kepada ibu, bantu pekerjaannya dan jangan terlalu membebaninya.
Dan kepada Rayyan, lindungi dan jaga adikmu satu-satunya itu. Jangan sering bertengkar dan mencobalah untuk mengalah padanya.
Kakak Akan pergi, titip salam pada ibu, dan sampaikan maafku padanya" ucap Zain kepada adiknya, Malik.
Saat itu Malik berusia 10 tahun dan dia cukup mengerti dengan ucapan kakaknya itu, dia hanya berkata iya dan janji saja karena tak kuasa menahan tangis akan perpisahan itu.
Dan itu terakhir Zain bertemu dengan keluarganya, sampai dia dan para pemuda berhasil menyelinap keluar dari negaranya dan menemukan informasi keberadaan anak-anak itu.
Niat ingin membantu mencari anak-anak itu dan ingin membawa kembali adiknya, malah dia terkurung di tempat itu tak bisa kembali. Beberapa pemuda yang ikut dengannya pun terpisah dengannya, dan tak tahu kabar masing-masing.
Dan sampai saat inipun, dia tak tahu keberadaan adiknya. Masih hidupkah atau tidak? Ada atau tidak ada dia di sana, dia tak tahu.
"Hidupmu juga menyedihkan" ucap Annie, mengusapkan air matanya.
Ericka teringat dengan kakak-kakaknya, betapa hubungan tali persaudaraan itu begitu kuat. Hingga bisa melakukan hal yang berbahaya demi saling melindungi.
"Aku yakin, kakakku juga melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan" ujar Ericka berusaha kuat didepan semua orang.
"Apakah dia akan pergi sepertiku?" tanya Zain.
"Tidak, tapi jauh lebih dari itu" ucap Ericka.
Dia tahu, betapa nekat dan kuatnya kakaknya itu, sehingga bisa melakukan apa saja demi dirinya. Siapa lagi kalau bukan Reva.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung