
Geraldine masuk kembali kedalam rumah itu, hendak mencari William tapi langkahnya terhenti ketika melihat ada sosok lain yang berada di ruang tamu rumah itu, seorang lelaki tua duduk diatas kursi roda, menatap nanar kepada semua orang yang ada di sana.
"Mau apa lagi dia datang kesini? Apa masih tak cukup yang dia lakukan selama ini?" tiba-tiba saja ada yang berkomentar dibelakang Geraldine.
Ternyata itu Andriana dan juga beberapa orang lainnya, terlihat Reva, Rendy juga Ericka turun dari lantai atas dengan tergesa-gesa. Sedangkan Nico bersama William dan Erick nampak tak senang dengan kehadiran lelaki tua itu, menatap tajam kearahnya tak suka.
"Mau apa lagi? Kami tak ingin memiliki hubungan apapun lagi denganmu, hubungan kita sudah lama berakhir!" ucap William dengan suara bergetar, enggan menatap opa nya itu.
"Aku tau, dan aku takkan mengganggu kalian lagi setelah ini. Kedatanganku kesini ingin mengucapkan terima kasih atas apa yang kalian lakukan terhadap hidupku, meskipun aku tak menginginkannya, tapi Tuhan masih memberikan aku kesempatan sekali lagi untuk hidup.." ucap opa Harja pelan.
"Seharusnya kamu bersyukur dengan apa yang kamu dapatkan sekarang, itu berarti Tuhan masih sayang denganmu dan memberikan kesempatan kepadamu untuk bertobat. Dan gunakan saja waktu yang tak banyak ini untuk merenung dan bertobat!" sahut juga Erick dingin.
"Erick, cucuku... Sudah lama sekali kita tak bertemu, opa kangen.." ucap opa Harja menatap Erick sendu.
Tak ada penipuan dari tatapannya itu, semua orang bisa melihatnya dengan jelas tatapan itu, tatapan penuh rasa rindu. Opa Harja menatap William dan Erick bergantian, ingin sekali dia berdiri dan memeluk kedua cucunya itu, tapi untuk berdiri saja tak mampu, apalagi berjalan kearah mereka berdua.
"Opa.." Reva berusaha tetap tenang menghampiri opa Harja.
"Nak, usia kandunganmu sudah besar rupanya.. Hehe, sepertinya aku lupa dengan umur sendiri, saat melihatmu seperti ini, sadar diri bakal punya cicit, hehe.." kekeh opa Harja, terlihat senyum tulus terukir dari bibirnya.
Dia tak peduli dengan beberapa tatapan tajam dan sinis mengarah kepadanya, dia juga tak menghiraukan ucapan-ucapan tajam, dan hinaan untuk dirinya. Dia hanya ingin melihat para cucunya sebelum dia pergi..
"Opa kapan pulang dari rumah sakit?" tanya Reva lembut.
Entah mengapa saat melihat opa Harja bersikap seperti itu membuat hatinya terenyuh, lupa sudah semua perasaan benci, dendam dan marah itu, yang ada perasaan iba dan haru menyelimuti hatinya saat ini.
"Pak, waktu anda sebentar lagi.." bisik seorang perawat yang sedang menemani opa Harja, yang sedari tadi berdiri diam disampingnya.
__ADS_1
"Sebentar, sedikit lagi.. Aku tak cukup memiliki waktu bersama para cucu-cucu ku ini, sebelum aku pergi izinkan aku mengatakan sesuatu kepada mereka.." sahut opa Harja kepada perawat itu.
"Apa yang ingin opa sampaikan? Katakanlah, kami sibuk!" ujar William masih dingin, Geraldine melihat dirinya dengan tatapan berbeda.
"Aku tau dari tatapan dan kata-kata dinginnya itu, tersimpan rasa rindu kepada opa nya.." gumam Geraldine dalam hati, menatap haru.
"Kamu ini, seharusnya tidak bersikap seperti itu kepada orang tua meskipun kamu sangat membencinya.." ucap opa Harja, masih dengan kata-kata lembutnya.
William terlihat mendengus kesal dengan memalingkan wajahnya, sedangkan Erick pergi dari sana seolah dia sangat membencinya kakeknya. Ericka menyusul Erick yang pergi begitu saja.
"Rick!" panggil Ericka sambil mengikutinya dari arah belakang.
"Gak usah ikuti gw, gw pengen sendiri dulu.." sahut Erick sambil duduk bersila dan bersender di dinding koridor rumah itu.
"Anggap saja aku gak ada, aku juga pengen duduk disini.." ucap Ericka ikut duduk disampingnya.
"Gak, kata siapa?! Aku juga pengen disini aja, emang gak boleh?!" sahut Ericka lagi, tak menghiraukan tatapan tajam Erick.
Sementara itu di ruang tamu, setelah puas melihat mereka semua dan sedikit berbasa-basi opa Harja pun berpamitan pulang, tak ada satupun yang ikut mengantarkannya keluar untuk pulang, bahkan air putih pun tak sempat dia minum.
"Opa, sebentar lagi Rendy akan menikah dan aku juga akan melahirkan, datang dan doakan kami.." ucap Reva lagi, hanya dia yang menyambut kedatangannya dengan baik.
"Wah, begitu ya.. Selamat kalau begitu, pasti! Pasti opa akan mendoakan kalian semua dengan doa-doa yang terbaik,,, opa pamit pulang yah, dan tolong titip William dan Erick juga, maaf kami selalu merepotkan kalian," ucap opa Harja sambil merengkuh kedua tangan Reva dengan tulus, Reva merasakan tangan tua itu bergetar saat menyentuh tangannya.
Setelah itu opa Harja pun pergi, Reva ingin mengantarkannya pulang sampai didepan rumahnya tapi dicegat Nico, tapi sebagai gantinya Nico yang akan mengantarnya sampai ke depan rumah.
"Nak, terima kasih sudah membantu dan menjaga mereka selama ini. Jika bukan karenamu dan yang lainnya, mungkin aku terus hidup dalam kemunafikan.. Dan terima kasih juga sudah menemani kedua cucuku, tolong titip ini untuk mereka," ucap opa sebelum pergi meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
Nico menerima sebuah flashdisk kecil ditangannya dari opa Harja, setelah itu dia melihat opa Harja dibantu oleh perawat tadi naik ke mobil mirip ambulans, tapi tertulis juga itu milik sebuah rutan rehabilitasi.
"Sepertinya opa akan ditahan di yayasan rehabilitasi, mengingat usianya dan juga penyakit yang dia derita juga, rasanya tak mungkin dia ditahan di penjara biasa.." gumam Nico sambil melihat iringan mobil polisi yang ikut mengawal mobil yang membawa opa pergi.
Setelah itu dia kembali fokus dengan apa yang dia genggam saat ini, dia hendak mencari William di ruang tamu tapi sudah tak ada siapa-siapa lagi di sana. Ternyata William bersama Reva dan Rendy juga Andriana berada di ruang keluarga.
Sedangkan Erick ditemani Ericka juga Geraldine, Nico menghampiri mereka bertiga dan ikutan duduk juga di sana. Awalnya mereka saling tak peduli, tapi lama-lama aneh juga duduk bersejajar dideretan koridor itu.
"Jujur, aku risih melihat kalian kayak gini. Aku gak mau diperhatiin kayak gitu, aku gak butuh dikasihani!" ucap Erick kesal.
"Ngomong aja kalau pengen ngomong, gak usah kayak gini," ucapnya lagi ketus.
Ericka, Geraldine dan Nico saling pandang dan tersenyum geli. Ada benarnya juga ucapan Erick, mereka gak cocok buat melankolis apalagi sama Erick, gak akan pernah bisa.
"Opa nitipin ini buat kau dan William, diliat! Jangan hanya disimpan aja, aku tau kalian berdua pura-pura kuat dan seolah-olah gak butuh opa lagi. Tapi ingat, bagaimanapun juga beliau adalah kakek kandung kalian berdua.
Bukannya aku sok bijak, tapi aku lihat juga opa beneran sudah berubah, aku bisa melihat dari tatapan dan suaranya ketika berbicara tadi dengan Reva, dan juga denganku sebelum dia pergi..
Mumpung beliau masih ada, temuin jika ada waktu. Jadilah cucunya yang baik setidaknya sekali aja, biarkan dia tak merasa sendiri di ujung usianya itu. Jadikan pengalaman kami sebagai pelajaran bagimu juga, jangan setelah pergi baru menyesal kemudian.." ujar Nico panjang lebar.
Setelah itu dia pergi meninggalkan Erick dan berjalan menuju William bersama dengan yang lain, sementara Ericka dan Geraldine memberi semangat kepada Erick lagi, dan memberikan waktu untuk Erick untuk benar-benar sendirian, agar bisa merenungi dan memikirkan kakeknya itu.
"Ericka, setelah aku pikirkan.. Sepertinya aku akan memilih untuk bertindak sebelum menyesal, melihat kejadian ini membuat aku kembali berpikir, meskipun berbeda konteks dan masalah, tapi aku tak mau menyesal dikemudian harinya.." ujar Geraldine.
Ericka hanya mengangguk saja saat Geraldine berbicara seperti itu, dia tak mengerti maksud dari ucapannya tapi berusaha memahami dan memberinya semangat.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung