
“Temani aku ke kantin ya?” aku mulai merapikan mejaku.
Dengan semangat, Firna akhirnya siap melepas hari sekolah yang sibuk, “Pas. Aku haus!”
Tubuhku tegap di depan meja dengan siapnya. Meski aku membiarkan satu orang lewat di samping mejaku. Harun, lewat seperti orang asing.
Aku hanya menghela nafas.
“Kita sambil makan ya?” Firna mendahului langkahku.
Yah. Pulang sekolah tidak harus langsung pulang, bukan? Tidak ada yang bilang kita harus pulang tepat jamnya, karena bahkan perpustakaan sekolah selalu buka sampai petang datang.
Kami memilih makan di kantin. Berlama-lama saling bercanda, tak peduli dengan warung yang meninggalkan kami.
Sepertinya tidak hanya kami yang berpikir seperti itu.
“Mereka yang sering di luar pagar kan?” Firna berbisik.
Benar! Mereka kelompok preman yang sering kelihatan di luar sekolah. Sekarang mereka menggunakan seragam? Itu kan sekolah sebelah. Kenapa mereka masuk ke sini?
“Rasyi, balik yuk...,” Firna sepertinya tidak nyaman dengan keadaan.
Mengangguk aku menyetujuinya. Tidak ada alasan bagi kami untuk tetap ada di sini. Orang-orang ini mau melakukan apa, bukan urusan kami.
Heh?
“Harun?” aku menyadari, itu Harun.
Aku tidak menyangka bisa melihat dia, di antara orang-orang garang yang asing ini.
Salah satunya berbicara, “Siapa?”
“Teman sekelas,” Harun menjawabnya dengan tenang.
Untuk apa Harun berkumpul dengan orang-orang garang ini?
Rasanya tidak nyaman, “Kenalan Harun?”
Wajahnya tampak tak senang, “Teman beda sekolah doang.”
Se-garang ini?!
Tu, tunggu!
Langsung aku mendekati Harun yang berdiri di antara lima sampai enam orang dewasa ini. Meraih paksa tangan kanan Harun yang memegang sesuatu.
Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat, “Kamu kok merokok?!”
“Cuma coba,” dia terdengar sangat dingin.
Mencoba?! Yang benar saja!!
Langsung aku tarik batangan mematikan itu dan melemparnya di lantai. Menginjaknya sampai mati.
“Jangan lanjutkan!” aku tarik tangannya. Pasti karena lingkungan orang-orang ini! “Ayo, Harun⏤Aaa!!”
Sakit!
Harun menarik tanganku balik? Namun keras sekali! Sampai aku merasakan seakan luka tanganku kembali.
Wajah Harun tidak biasa lagi, “Sini, kamu.”
“Aaaa!” sakit! Rambutku! Kenapa dia menarikku seperti ini?!
Tarikan keras itu membuatku terhempas ke lantai kantin. Kakiku terlipat, terduduk, di saat tangan kiriku masih ia genggam. Rambut, lutut, pergelangan tanganku. Semua tubuhku sakit.
Bahkan sesak nafasku juga kembali?
“Rasyi!” suara Firna terdengar panik.
“Hei, hei! Jangan dulu. Tenang.”
Firna menjawab lagi, “Jangan pegang-pegang!!”
“Heh, kamu bakal babak belur sama Harun kalo kamu deketin!”
“Harun, dia cewek loh⏤”
“Jangan ikut-ikutan,” suara Harun terasa lebih dingin. Meski tangannya merapikan rambutku? “Kakak bisa kemari karena aku kan? Seharusnya kakak ikutin apa mauku. Balas budi, mana?”
“Sialan! Adik sepupumu gak tahu diri gitu, gimana sih?!”
Aku memandang orang-orang ini. Tidak bisa berpikir jelas akan situasi. Yang bisa aku lihat, mereka panik.
“Kami kemari cuma mau ngumpul doang. Makasih deh sudah biarin kami masuk. Tapi kenapa lu jadi atur gitu?”
Harun terdengar menyayangkan, “Gak mau dengerin, ya? Mau gimana lagi...? Anak-anak dari sekolah seberang gak berotak begini.”
“Bilang apa kamu?!”
“Sudah! Jangan ke-pancing!”
“Aaa!!” tanganku lagi-lagi sakit!
__ADS_1
Genggaman Harun, semakin kencang.
Harun, apa yang terjadi padanya? Bagaimana jalan pikiran yang ada di kepalanya? Tidak paham aku sama sekali.
Aku takut, “Lepas. Lepasin... Harun,” aku takut.
Kurasakan gerakan dari arah Harun meski aku tidak mau memandangnya. Harun terjongkok di samping kiriku⏤aaa... sakit. Panas... Pipiku panas....
Dia menampar pipiku?
“Rasyi, diam. Ya?” suara lembut terdengar seperti ancaman yang menusuk paru-paruku.
Bernafas, Rasyi. Bernafas!
(“Sekarang cucuku menciptakan ini!”)
Tidak! Jangan diingat!
“Harun!” suara Firna, “Lepasin Rasyi sekarang!”
“Berisik!” Harun langsung menarik tanganku lagi sampai aku bisa berdiri.
Sakit.
(“Cucuku memasukkan perekam!”)
(“Dia bawa untuk menghukum kakeknya!”)
Tolong hentikan...
Harun menarikku lebih dekat dengannya, “Jangan sok berani di depanku, Rasyi.”
(“Kamu masih berani di depanku ya?”)
Otak kurang ajar! Jangan kembalikan ingatan itu!
“Ikut!!” Harun berteriak.
Aku merasakan tarikan lebih kencang. Harun membawaku berjalan pergi. Seluruh tubuhku yang seakan sudah menurutinya untuk tidak berani di depannya. Bahkan suaraku menghilang.
“Rasyi! Harun dasar! Lepasin Rasyi!”
“Dibilangin diam dulu!”
(“Berisik!”)
“Adek lu, Anwar! Nanti kita lagi yang disalahin!”
“Cih! Harun, mau ke mana?! Balik!”
(“Rasyiqa, sayang~”)
(“Aku tidak suka itu.”)
(“Duduk!”)
(“Rasyiqa!”)
(“Dengarkan kakek, paham?”)
Papa... Aku takut....
BRUK!!
Suara apa itu...?
“Sialan⏤”
“Tetap di sana, Harun.”
Siapa....
Hangat? Seseorang memelukku?
Bisa kurasakan nafasku mulai normal selagi suara-suara menghilang dari kepalaku. Kuberanikan diriku melihat siapa yang memelukku itu.
Aa....
Derasnya tetesan air mataku tercurahkan oleh hangat pelukan itu. Bergetar, lega.
“Kak Fares...!”
Elusan lembut di kepalaku dengan suara tenangnya, “Iya. Ini kakak. Tidak papa. Rasyi tidak papa.”
Syukurlah.
Syukurlah.
Syukurlah.
“Rasyi, balik sini!” itu suara serak Harun!
“Kubilang, tetap diam di situ,” suara Fares terdengar lebih dingin, “Vian. Tolong pegangin Rasyi dulu.”
__ADS_1
Aku bisa melihat Fares tersenyum setelah ia melepaskan pelukanku. Sebesar apapun aku tidak mau melepas pelukannya, tuntunan Fares yang kuat mendaratkan tanganku ke atas tangan Vian.
“Kalian mau ngapain sama Firna, hah?!” Saga? Berteriak.
Sejak kapan ada Vian dan Saga di sini?
“Gak ada.”
Firna berlari ke arah kami setelah mereka mengangkat tangannya dari Firna. Ia mengutamakan mendekati aku daripada memeriksa dirinya sendiri.
“Rasyi,” dia menahan wajahku.
“Kita tunggu dokter Rizki. Seharusnya masih otw,” Vian masih menahan pundakku.
Papa? Kemari?
“Kalian masih mau diam di sini?” aku menyadari Fares masih menghadapi orang-orang itu.
“Iya, ketua OSIS~ Kami keluar~” nada mengejeknya sungguh menggambarkan tak senangnya.
“Aku tidak kepikiran. Kalian biarin Harun begitu,” Fares terdengar marah?
Aa! Kenapa mereka malah menarik kerah baju Fares?!
“Denger ya, tuli! Kami tidak ada kaitannya sama konflik kalian! Emangnya kami babysitter?”
“Mentang-mentang anak cemerlang, kamu bisa seenaknya?”
“Paling dihajar juga dia nangis!”
Jangan!
“Kak Fares!” aku harus lakukan sesuatu!
“Rasyi, kak Fares bisa sendiri,” Vian menahan pergerakanku.
Tapi⏤
“Gaaah!!”
Orang asing itu, malah kesakitan?
Terlihat, kak Fares mencengkeram dan memutar tangan orang ini sampai ke batas kemampuan sendinya. Kak Fares sekuat itu? Padahal orang yang dia hadapi jauh lebih besar.
“Mau mulai?” Fares membalas ucapan mereka.
“Iya! Maaf maaf! Sialan, tanganku!!”
Fares melepas tangannya dan membentaknya sampai ia hampir jatuh. Keringat dingin tampak keluar dari wajah garang orang asing ini.
“Sialan!”
“Udah! Kamu nyoba hajar Faresta, kamu yang habis,” dia, yang dibilang kakak sepupu Harun kan?
“Anwar!”
“Enam lawan satu aja, Faresta tetep bakal menang, bodoh!”
Orang-orang asing ini tidak bergerak, tidak berkata apapun. Sampai akhirnya satu persatu mereka pergi.
Termasuk si Anwar ini.
“Anwar, pergi ke rumah paman Aldi,” Fares menghentikan langkah pria ini.
“Iya, kak, paham,” Anwar ini memandang Harun yang masih terbeku di tempatnya, “Run Harun, sorry nih ya, aku harus beritahu ortu kamu.”
Harun kembali tampak marah, “Awas kamu⏤!”
“Tidak ada mengelak!” Fares berhentak lebih kencang? “Diam saja yang tenang. Paham?!!”
Aku mengerti kenapa Harun tampak tertekan seperti itu. Bahkan meski bukan aku yang dimarahi, aku merasakan hawa berat itu tersendiri.
“Yah, dah,” Anwar pergi meninggalkan kami.
Hening ini sangat tidak nyaman. Rasa takut yang masih tersisa kuat ini tidak membiarkan tubuhku berhenti bergetar.
Namun, seluruh tenagaku seakan habis. Bahkan untuk bicara.
Senyum Fares yang mendekat seperti mau menenangkanku, “Rasyi tunggu papa di sini ya?” tatapannya kembali dingin saat berpaling, “Kita pergi sekarang, Harun.”
Tak mau menjawab, Harun hanya membalas tatapan dingin lain.
“Harun!”
Suara yang menghentak lainnya dari Fares. Pundak Harun yang tegang akhirnya mau menurut untuk mendekat.
Namun, tangan Fares berhasil aku tahan.
“Rasyi tidak papa. Saga bisa bela diri. Ayah bakal ke sini juga. Tidak perlu takut. Tunggu sebentar lagi, ya?”
Aku... Tidak bisa mengelak.
“Terima kasih,” elusan terakhir sebelum ia pergi.
__ADS_1
Ya, Fares dan Harun, pergi.