Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#51 Emosi tak Jelas


__ADS_3

Papa membolehkan aku ikut ekstrakurikuler maksimal dua.


Sebenarnya aku mensyukuri kemarahan papa dan keputusan itu. Karena sekolah ini pelajarannya sangat disiplin bukan main. Menambahkan kegiatan ekstra artinya harus menyediakan tenaga ekstra.


“Capek....”


Bagaimana bisa tidak lelah?! Papa sering mengatakan aku bodoh juga karena ada alasannya. Diri ini sungguh bodohnya tidak mengerti dengan kemampuan tubuh sendiri.


Seenaknya menentukan dua ekskul di hari yang sama.


“Kamu pilih salah satu saja,” Harun berjalan bersamaku.


Aku juga merasa itulah yang terbaik. Hanya saja, aku sudah satu semester mengikuti keduanya.


“Sayang banget~”


“Lepas salah satu, Rasyi,” Harun terdengar tegas walau hari sudah menunjukkan angka enam.


Aku memanyunkan mulutku, “Iya deh. Kalau begitu aku lepas yang Sains saja.”


Rasanya pegal semua. Situasi tubuhku sungguh tidak memungkikan aku berdebat lebih.


Faktanya, beberapa hari belakangan ini aku sering berdebat dengan Harun. Entah kenapa dia sering marah. Pasti ada masalah, tapi aku tidak punya keberanian untuk menanyakannya. Bisa saja yang terjadi malahan dia kembali bertanya apa masalahku.


Harus aku tahan Harun dari masalahku. Kenyataan yang bahkan aku tidak tahu apa. Seakan papa juga bermain rahasia padaku sebagai balasan atas apa yang aku lakukan pada Harun.


“Kenapa harus yang sains?” suara Harun yang berat itu mengganggu telingaku.


Aku terdiam. Sederhananya tentu karena aku anak seni daripada calon ilmuwan. Namun, bukan itu yang ingin aku katakan.


Senyumku lebar, “Harun marah, aku tidak pilih satu ekskul sama kamu~?”


Ia tersenyum aneh. Wajahnya itu tampak imut saat ia mencoba melihat ke arah lain.


Harun tetap Harun. Dia tetap menggelitik hatiku di segala sisinya.


“Teater kan harinya sama. Kita masih bisa pulang bareng,” masih kucari wajahnya, “Kita bisa sekalian malam mingguan~”


Kedua pundaknya turun. Akhirnya dia tersenyum! “Iya.”


Sore ini terasa baik. Aku mulai merasakan weekend yang menyegarkan tepat di depan mataku.


Lebih baik lagi kalau memang tidak ada drama.


Memikirkannya sedikit saja membuat kepalaku pusing. Bisa jadi karena aku terlalu bingung harus bereaksi dengan ekspresi apa.


Wanita yang disebut Kirana, dia jelas-jelas bagian dari banyaknya bawahan kakek. Penjahat yang sudah bermain dengan nyawa Sekar dan Jagad. Bahkan Daffa adalah akibat dari main-main bawahannya. Tidak mungkin lepasnya Kirana adalah pertanda baik.


Namun tidak dengan wajah papa waktu itu. Orang itu tidak waspada sama sekali.


“Sudah?”


Panjang umur kau wahai papa.


Aku mengangguk, “Sudah.”


Kudekati beliau dengan mobilnya yang tak spesial. Pria ini membuka pintu mobil selagi aku mendekati sisi satunya. Melampai kecil ke Harun.


“Paman,” tiba-tiba, Harun memanggil papa?


Gerak papa yang ingin menaiki kursi pengemudi jadi terhenti. Rizki memutar kepalanya ke arah pemuda di sampingnya. Pangkal alis Harun jelas ditekan ke bawah meski aku melihatnya dari sisi lain mobil.


Suasana apa ini?


Mulut Harun terbuka setelah ia berjalan dekat ke arah papa, “Kenapa paman biarin Rasyi ambil ekskul?”


Tubuh papa kembali tegak dengan arah hadapnya masih ke dalam mobil, “Ada apa?”


“Rasyi kecapekan. Ekskulnya kebanyakan. Anda harus hentikan.”


Tu, tunggu. Harun sungguh mengadu hal itu pada papa?


Khas tatapan papa beralih kepadaku, “Rasyi ambil ekskul lebih dari dua?”

__ADS_1


Aku membalas tatapan itu, “Tidak! Rasyi cuma ambil dua!” kukeluarkan kedua jari tangan kananku, “Sungguh!”


“Lebih baik dari lima ekskul,” papa kembalikan ke Harun.


Harun masih belum senang? “Dua ekskul satu hari. Paman seharusnya perhatikan lebih baik! Rasyi itu mudah sakit!”


Semilir angin tidak membantuku sama sekali dalam menenangkan diri. Ketegangan yang menusuk layaknya dedaunan pinus yang kalang kabut di sela rambut. Aku sungguh ingin merangkai puisi untuk menggambarkan seberapa tegangnya pangkal tenggorokanku mengangkat kepala!!


Arah tubuh papa berbalik sepenuhnya ke Harun. Ia bersandar ke sisi kanannya dengan tangan yang saling berlipat.


“Jadi, gimana?”


Jawaban Harun terdengar, “Larang Rasyi ambil ekskul sama sekali.”


Heh? Heh?!! Bukan, tapi bukan, bukan itu kesepakatan kami tadi!!


Papa memiringkan kepala, “Bisa berhasil?”


“Rasyi bisa istirahat Sabtu Minggu. Itu cukup.”


Tunggu. Papa menyetujuinya?! Sungguh?!!


Papa berkata lagi, “Rasyi setuju?”


Harun terdiam. Ia melirik aku yang mulai lega dengan pertanyaan papa. Papa selalu memperhatikan perasaanku terhadap semua keputusannya. Aku hanya berharap tatapan Harun berarti sama.


Harun menangkap lagi wajah papa, “Ini buat Rasyi juga. Dia yang harus dengarkan.”


Eh?


“Paman. Rasyi harus dipaksa.”


Harun, tidak memperdulikan pendapatku?


Tidak. Dia hanya khawatir. Itu saja. Sangat khawatir sampai tidak mampu mendengarkan pendapatku sama sekali.


“Rasyi,” papa memanggilku, “Menurut Rasyi?”


Aku terdiam. Kurasa aku harus ikuti...?


“Jujur,” papa memotong kalimat dariku.


Diam aku. Saling menempelkan kedua bilah bibirku sambil berpikir sejenak. Kupas sekali dan dua kali tentang satu kata yang loncat dari papa.


“Tidak bisa dikurangi satu saja? Rasyi masih mau ikut ekskul,” aku mencoba keluarkan lagi hasil diskusiku dengan Harun sebelum ini.


Mata Harun tajam kepadaku, “Rasyi, ikuti saja!”


Dia... Padahal dia sendiri yang menyuruhku untuk melepas satu dari dua ekskul yang aku ikuti. Sekarang dia malah menyuruhku untuk melepas keduanya tanpa bicara denganku dulu?


“Baiklah,” papa menegakkan lagi tubuhnya, “Satu saja kalau gitu.”


Oh! Papa mendengarkanku!


Harun terkejut, “Paman!”


Papa masih mengunci pandangannya ke Harun, “Hmm?”


“Bukan itu yang kita bicarakan!”


“Kamu harus didengar?”


“Paman, kamu bisa bikin Rasyi kecapekan.”


“Aku rasa Rasyi masih bisa ikuti.”


Harun sungguh sedang tidak senang, “Kelas sudah seharian. Paman kasih ekskul. Itu sudah capek buat Rasyi!”


“Cukup baik satu semester ini.”


“Rasyi selalu lemas di kelas, paman!! Tidak tahu, apa?!!”


“Thanks untuk infonya.”

__ADS_1


Duh. Suasananya semakin... bagaimana ini?!


“Anda bukan ayah yang baik.”


Kenapa pembahasan Harun malah melenceng?!


“Anda main dengan cewek penjahat di rumah Rasyi!”


Heh?


Papa tersenyum, “Wow, akhirnya bahas itu?”


Harun mendekat lagi, “Itu yang anda lakukan, dasar kurang ajar!”


Mereka menambah kecam suasana sekitar. Papa bukannya mencukupkan, dia malah mendengarkan kemarahan Harun.


Aku tidak suka pembicaraan ini. Bagaimana bisa topik simpel tentang ekskul berakhir ke topik rumah?


Harus aku hentikan.


Kudekati mereka ke sisi mobil itu. Berharap bisa meraih tangan lelaki itu.


“Harun. Jangan begitu....”


“Diam, Rasyi,” Harun mengangkat tangannya yang aku genggam.


“Please, Harun. Cukup⏤”


Auw! Dia menepis tanganku?!


“Diam!”


Heh? Perasaan apa ini? Kenapa, bukannya terkejut dengan Harun yang bertingkah seperti bukan dia, tapi aku terkejut dengan gemetar ini. Gelagatnya yang melototkan matanya, seakan memanggil rasa takut yang tak kukenal.


Mengapa aku malah takut?


“Paman. Saya hormat pada anda. Tapi yang anda lakukan tidak bisa diterima! Anda punya anak, tanggung jawab! Jangan lepas begitu!”


Tampaknya papa menghilangkan santai dari bahasa tubuhnya, “Kendalikan dirimu.”


Akhirnya papa melihat ini sebagai ancaman. Menunggu waktu saja sampai Harun juga sadar kalau debat ini berlebihan.


Namun Harun, tertawa?


“Paman yang lepas kendali. Paman babi, apa?! Rasyi sampai pucat cuma mikirin hewan kayak anda! Sadar diri⏤”


“Harun!!”


Yang benar saja!


Dia mengatakan, aku tidak mau memikirkan kalimat selanjutnya. Kakiku sudah hampir tak kuat berdiri di antara mereka. Tanganku, rasanya sakit saat aku berpikir sekelas untuk menamparnya.


Jangan menambah masalah, Rasyi. Tenang!


“Iya!” aku melanjutkan suaraku, “Aku berhenti ekskul!!”


Aku berputar. Mengambil langkah kembali ke sisi sebelumnya. Interaksi dengan pintu mobil dan memasukinya.


“Pa, ayo pulang,” aku memanggil papa yang masih berdiri.


Untunglah papa mendengarkanku. Susul aku memasuki mobil dan menyalakan mesinnya. Harun tak terdengar suaranya apapun sampai akhirnya mobil berjalan pergi.


“Pa, tolong buatkan surat sakit atau apapun. Buat alasan keluar ekskul.”


Hening sampai beberapa detik ia menyahuti, “Minggu depan.”


“Kenapa tidak sekarang?”


“Kenapa Rasyi tidak keluar saja langsung hari ini? Gurunya masih ada di sekolah kan?”


Aku terdiam.


“Satu minggu. Pikirkan saja lagi.”

__ADS_1


Kuanggukkan kepalaku lemas, “Iya.”


__ADS_2