
Aku merenggang kecil.
Minggu UTS sudah selesai!
Bahkan dengan bangganya aku bisa menyelesaikannya tanpa remedial. Namun bukan berarti semua selesai.
Karena bulan libur se-Indonesia belum sampai, kami harus melanjutkan semester genap. Walau harus membagi semester lagi dengan liburan di tengah.
“Asli, tiba-tiba banget.”
“Harun tuh, dia ikut student exchange, buat apa?”
“Gak ada yang denger, dia gak bilang-bilang?”
Gosip sesama cewek ini tampak semakin panas. Apalagi dengan tatapan menusuk dari orang-orang yang tidak pernah puas ini.
“Tidak tahu juga,” aku menjawab seadanya saja, “Cuma pingin belajar saja mungkin? Harun kan anaknya akademik banget.”
Tidak ada niat aku memuaskan rasa haus mereka. Lebih baik jawab saja hal biasa yang masuk akal.
“Kenapa kamu tinggalin Harun?” Gista?
Dia mulai lagi. Untung saja aku berhati baik. Kalau tidak aku akan menganggap kalimat itu sebagai penghinaan besar dan langsung memanggil buldoser.
Aku tersenyum kaku, “Tinggal apanya? Kalau dia mau belajar di luar, masa aku halangi?”
“Iya, Ta. Kamu suka banget mikir aneh-aneh,” Firna sepertinya tidak bisa menutupi ketidaksukaannya.
“Siapa juga yang tidak tahu kalau kalian cekcok.”
“Yang di-cekcok-in apa emang?”
Gista, kamu menggali kuburan sendiri~
“Itu...,” Rasyi, tunjukkan wajah sedihmu, “Aku sempat tidak setuju dia pergi gitu. Dia keras banget katanya sudah putuskan semuanya. Sedih sih, tapi aku harus tetap hargai kemauannya kan? Itu hak dia juga. Makanya aku tidak bisa apa-apa.”
Tidak ada yang lebih baik dari kenyataan yang valid tapi dibatasi.
“Ya, mau gimana lagi sih.”
“Rasyi cuma mau dukung aja.”
Itulah caraku mengatakan, kamu bukan teman baik karena kamu tidak mau membiarkan Harun memilih.
Buktinya Gista tampak semakin kesal.
“Kemarin kalian antar dia berangkat?”
“Boro-boro,” Firna membuka mulutnya lebih dulu, “Kasih kabarnya saja waktu sudah berangkat.”
Yah, itu juga karena aku tidak mau tahu menahu lagi sih. Sesedih apapun aku tentang apa yang terjadi pada kami, aku tetap tidak nyaman berhadapan dengannya.
“Kemarin aku sempat kasih kado kenang-kenangan sih,” satu ide meluncur bebas di kepalaku, “Gimana kalau kita kirimin paket kado oleh-oleh dari semuanya?”
“Rasyi, selalu saja kreatif.”
“Boleh kali ya kita bilangin ke kelas nanti.”
“Perlukah kirim makanan pasar?”
“Basi duluan! Hahaha!”
Tawa manis dari cewek-cewek imut ini. Membuatku merasa semakin tua saja.
Kurasa aku sedikit lebih tenang. Harun tidak pernah menjawab kontak apapun dariku. Jadi, aku rasa, ini bisa membantu kami tetap terhubung.
“Guys, bu Jahna!”
__ADS_1
Kelas yang ramai semakin ramai. Banyak anak-anak yang tidak siap berusaha mengejar waktu yang tersisa untuk kembali ke mejanya. Tiga menit, beliau datang dan kelas dimulai.
Mari kita memanaskan otak.
“PR kemarin ayo dikumpul. Ketua kelas, tolong ambil satu-satu,”guru ternyata memulai hal yang membuat kelas semakin kalang kabut.
Banyaknya orang yang belum menyelesaikan tugasnya membuat mereka semakin cepat menggerakan pulpennya. Namun waktu habis tetap habis. Ketua kelas masih mengumpulkan tugas itu bersama Wira, si wakil ketua.
“Loh?” bukuku mana? Kok tidak ada?
Aku yakin sekali buku itu bahkan tidak sempat kumasukkan ke dalam tas atau kolong meja. Firna dan aku memeriksa jawaban kami berdua dan itu berlangsung sampai jam kosong tadi.
Lalu kenapa tidak dimana-mana?
“Ras, Ras, buku,” Wira mendatangiku.
Huuh..., kurasa aku harus hadapi ini.
Kuangkat tanganku sampai guru di depan itu sadar, “Bu, maaf. Buku saya hilang, bu.”
“Hilang gimana maksudnya?”
Ya tak tahu lah~ “Tadi masih ada, di meja bu, waktu cek-cek bareng Firna. Tapi sekarang tidak ada.”
“Ya, udah. Coba tulis jawaban nomor satu di papan tulis. Nih soalnya.”
Jelas banget, beliau tidak percaya.
Untung saja aku minta bimbingan papa untuk PR kali ini.
Aku berjalan ke depan kelas. Melenggok percaya diri akan suruhan yang aku terima.
Pekerjaan rumah yang memusingkan itu sungguh-sungguh sudah selesai aku kerjakan. Jadi hal seperti ini mudah selama aku menghitungnya dengan tepat. Karena bagi papa, lebih baik aku tidak sekolah, dari pada sekedar menyalin jawaban.
Saat seperti ini aku berterima kasih dengan cara kejam papa dalam mengajar. Membuatku berpikir, bagaimana caranya Fares bertahan akan hal ini?
Fares sayang, jangan ada di kepalaku sebentar, ya? Aku mau fokus dulu.
Baris pertama, kedua, ketiga. Kimia memang sulit untuk diingat per-langkahnya. Namun aku sudah berhasil ke baris terakhir. Jawabannya.
“Oke, kamu bisa duduk. Ibu kasihkan PR dua kali lipat selanjutnya. Untuk sekarang kamu tidak perlu mengumpul.”
Wow, kukira hukumannya akan lebih berkeringat. Itu lebih baik.
“Terima kasih, bu.”
Aku kembali pada tempat dudukku. Dengan Firna yang tampak sangat ingin bicara.
“Kamu taruh di mana?” bisik perempuan ini mendekatkan mulutnya.
“Aku mau tanya, lihat tidak? Di sini tadi.”
Menggeleng dia, “Ketukar kali sama yang lain.”
“Buku cantik begini masih ketukar?” aku memamerkan sampul buku yang aku percaya keunikannya.
“Siapa tahu kan?”
Aku tidak percaya. Sampul memang diproduksi masal, tapi aku juga sengaja membeli yang sulit untuk dicari.
“Udah ah. Nanti pikirnya,” aku membuka buku catatanku.
Kejadian apapun itu, aku harus siap untuk PR yang lebih banyak dari guru di depan kami. Selain dengan bahasan itu, guru sudah mulai menjelaskan. Aku harus memperhatikan jadi setidaknya aku tahu apa yang aku bingungkan. Tentu sebelum papa menyerang.
Terbiasa dengan catatan yang warna-warni, membuatku bermain dengan alat tulis yang cerah.
Menghabiskan waktu menyusun tulisan dengan rapi, membuat waktu berlalu.
__ADS_1
“Banyak banget PR-nya,” Firna dengan tawa garingnya.
Aku memutar mataku, “Yah, untung papa bisa diminta bantu.”
“Enak ya, punya ayah ganteng.”
“Penyakit jomblo kamu sudah stadium empat ya?”
“Hih, siapa juga yang ngomong?”
Iya. Terima kasih sudah mengingatkan aku akan kejombloanku yang sudah lebih dari empat puluh tahun.
Aku merapikan buku dengan benar sekarang, “Nanti bantuin aku tanya anak-anak kalau punya bukuku ya?”
“Tanya Iqbal tuh. Paling dia yang ambil,” Firna menunjuk orang belakang di ujung sana.
Ya, tidak salah. Karena dia yang paling terakhir kalau soal PR. Sehingga menyalin menjadi jalan keluar favoritnya. Namun ia tidak baik dalam meminta izin.
“Iqbal~!” aku langsung berdiri dan memutar pandanganku padanya, “Buku PR-ku di kamu?”
“Ye, tuduh aja kerjaan!”
“Kan biasanya kamu yang suka ambil tidak bilang... itu gunting kukuku kan?!”
Dia diam, tapi dengan tanpa bersalah masih menggunakannya.
“Ih! Jangan sembarang potong kukunya! Bikin kotor!” aku tidak menyukainya tapi aku harus menunggu.
“Iya, nanti aku kembaliin.”
Berdiri tegak aku di sana, “No. Kutungguin sampai selesai!”
Aku melihat ke arah kananku. Sekilas memandang rak buku dinding, hasil dekorasi kemarin. Berbagai buku sumbangan sudah ada di....
Tanganku menarik satu buku yang terlentang di atas berbagai buku itu. Memastikan apa yang kulihat tidak lebih dari lima detik. Benar, ini buku PR-ku. Namun, apa buku punya kaki untuk berjalan sendiri ke sini?
“Nih,” Iqbal menyerahkan gunting kuku ke arahku.
Langsung aku ambil. Membuat wajah kesal seperti biasa kulakukan.
“Sok imut.”
“Biarin!” aku langsung pergi kembali ke mejaku.
Duduk dan Firna menyadarinya.
“Bener di Iqbal?”
Kepalaku menggeleng. Mencoba mengecek buku itu, “Bukan. Nemu di rak belakang....”
Eh?
“Kok gitu bukunya?!”
Itu juga yang aku pertanyakan.
Di depannya memang baik. Sampul indah itu masih menempel kuat di buku itu. Namun tidak dengan dalamnya. Lembaran banyak itu hangus dirobek-robek.
Tentu saja ini kelakuan orang. Namun siapa? Kenapa?
Otakku pasti sedang lemot. Ya tentu, aku pastinya sudah sadar kenapa dan siapa.
Firna ikut mengecek bukuku, “Kok. Kok.... Siapa?”
“Tidak tahu,” aku berbohong.
Karena aku tahu Gista pasti habis kalau aku melanjutkan konfliknya.
__ADS_1
Nak, kamu mau bully tante tua ini? Ya sudah! Aku akan menantikan usahamu selanjutnya! Silahkan!