
Kenapa aku mengingat semua itu?
Masa kecil dengan kak Riza. Rasyi yang masih kecil. Juga, rencana matang paman. Padahal banyak sudah aku lupa.
Lalu, ruangan apa ini? Serba kayu. Tidak ada yang punya rumah semi permanen begini.
“Aa!” sakit, kepalaku.
“Pelan.”
Ada orang?
“Paman....”
Ini aku lagi tiduran di kasur kapuk. Badanku kaku semua.
“Santai saja dulu. Bentar lagi kita pulang,” paman jawab lagi.
Cuma bisa tidur. Untung paman masih bisa kelihatan. Dia mengotak-atik HP-nya. Sambil duduk bersandar dinding.
Pintu di luar, kelihatan langit. Ini bukan di dalam kamar biasa.
“A, ada apa ini ya, paman?”
Tapi paman tidak langsung jawab, “Pantai. Dermaga. Jatuh. Ring a bell?”
Dermaga... aa... aku tenggelam ya?
Bicara lagi paman, “Menyusahkan saja. Semuanya dibikin panik.”
“Maaf,” aku cuma bisa tertawa kering, “Ayah, ibu?”
“Ayahmu tukar info ke lifeguards. Ibumu bersih-bersih. Kamu, istirahat.”
“Saya paham.”
Paman memang bukan orang yang suka dibuat repot.
Diam. Tidak ada suara.
Yang begini bikin ingat-ingat apa yang aku lihat tadi. Ingatan indah. Ingatan tidak baik. Ingatan yang... tidak pernah aku tahu pernah terjadi.
Salah satunya....
“Paman,” aku masih tidur.
“Intinya saja.”
“Saya cuma ingat sesuatu. Tapi....”
“Intinya.”
“Maaf,” aku rasa paman lagi capek, “Apa sebelumnya saya pernah ketemu Hari?”
“Hmm?”
Memang kedengarannya aneh, tapi, “Apa saya pernah ketemu, tidak tahu, waktu saya kecil?”
“Dari mana pertanyaan itu?”
“Saya tiba-tiba ingat. Waktu mau ditangkap dulu, dia pernah bilang kalau saya sudah besar. Katanya dulu saya tidak bisa gerak kalau di depannya dia,” aku masih lihat atap, “Tapi saya tidak pernah ingat ketemu sama dia.”
“Hmm....”
Tidak ada jawaban?
Coba tanya lagi, “Paman tahu sesuatu?”
Nafas paman kedengaran sekali, “Kamu sudah besar sih....”
Dia memang tahu sesuatu, tapi paman apa mau bilang?
“Paman cuma tanya sekali,” dia benar bikin orang tunggu, “Kamu yakin mau tahu?”
Tidak ada yang bikin ragu, “Iya,”
Paman masih diam?
__ADS_1
“Ibumu mati-matian biar bikin kamu lupa. Kamu bisa tidak sadar, tapi setelah kejadian itu, kamu tidak pernah bisa sesenang kayak dulu.”
Benar-benar ada yang begitu dulu?
“Kak Sari selalu takut, kalau kamu tidak bisa bahagia. Makanya dia senang saat ada Rasyi. Karena hanya saat ada Rasyi saja, kamu bisa ketawa.”
Aku, pernah begitu?
“Kamu benar yakin?”
Itu topik yang berat. Tapi paman tawari dari awal karena memang ada hak untuk tahu.
Kalau itu memang penting, aku harus tahu.
“Tolong, paman, ceritakan.”
Nafasnya paman keras sekali, “Kamu ingat kapan Riza meninggal?”
“Ya?” arah pembicaraan yang tidak nyaman.
Tidak salah ingat, itu waktu paman dibawa pergi oleh Hari. Sama juga tante Nisa dan kak Riza. Aku tidak tahu kabar apa-apa setelah itu.
Kami tiba-tiba ada di kuburan saja.
Padahal aku dengar paman sudah berusaha kabur dari Hari. Sudah menikah dan punya kak Riza. Tapi ternyata mereka kembali lagi. Jadi kacau⏤
“Riza meninggal. Kamu jadi saksi matanya.”
Aa... apa?
“Bahkan, cuma kamu yang tahu apa yang terjadi.”
Itu, pernah begitu?
“Berdasarkan kesaksian kamu, mereka mukuli Riza, sampai....”
Tidak pernah, tidak pernah ada ingatan tentang itu.
“Waktu Nisa berhasil ke ruangan kalian. Cuma ada kalian berdua. Kamu cuma... duduk di samping Riza.”
Berhenti, tolong.
“Kenapa saya di sana?”
Paman berhenti sejenak, “Kak Sari bilang kamu pernah mau ketemu Riza. Waktu paman mau dibawa Hari, kamu datang. Cuma pakai sepeda sendirian.”
Aku melakukan itu?
“Tidak ada yang tahu lebih banyak. Kami juga tidak mau tanya lebih banyak. Kak Sari mutusin buat bawa kamu rehab. Biar kamu lupa semuanya.”
Tidak ada yang aku ingat sama sekali.
Kenapa?
Aku adik, dan kakak yang buruk.
“Tidak ada yang bisa disalahkan juga. Waktu itu kamu masih tiga tahun-an.”
Bagiku itu bukan kabar baik, “Kak Riza masih umur empat tahun. Tapi....”
“Karena ini tidak ada yang mau bahas lagi. Kamu terlalu lemah hati.”
“Paman, kita sedang bicarakan anaknya paman.”
Dia, kedengaran tertawa, “Aku tahu. Percaya atau tidak, kita berdua sama. Sama-sama salahkan diri sendiri tentang Riza meninggal. Ada di sana, tapi tidak bisa apa-apa.”
“Saya paham. Paman melalui banyak hal.”
“Tidak. Kamu tidak paham. Makanya aku tidak mau bilang.”
“Saya paham.”
“Kalau cuma cari siapa yang salah, apa itu artinya paham?”
Apa yang dia mau ucapkan?
“Satu hal lagi,” paman bicara lagi, “Waktu itu. Kamu pernah bilang, selama kalian ditangkap, kamu selalu diminta Riza buat tutup mata sama telinga.”
__ADS_1
Kak Riza?
“Kenapa?”
“Menurutmu buat apa itu?”
Aku tidak tahu.
Paman menghela nafas, “Kalau kamu mau cari kesalahan biar bisa kamu bayar, lihat diri sendiri. Salah kamu itu, tidak hargai kerja keras Riza buat lindungi kamu.”
“Tolong, paman, jangan bikin rumit.”
“Tidak. Ini sudah jelas. Riza juga pernah jadi kakakmu. Gimana jadinya kalau dia lihat kamu nangis? Dia tidak mau juga. Pikirkan saja seperti posisimu dengan Rasyi.”
“Paman bermaksud bicara apa?”
“Fine. Intinya, kalau kamu hidup seperti mati begini, buat apa anakku mati?”
“Paman berharap aku apa?!” ternyata aku sudah duduk.
“Berhenti berpikir. Lakukan apa yang bikin kamu senang. Jangan bikin aku susah cuma gara-gara kamu selalu merasa bersalah.”
Dia sadar sama angin yang masuk dari pintu.
“Kamu tidak salah apa-apa. You did great,” paman diam, tapi mau ngomong lagi, “Terima kasih.”
Tidak... tidak tahu mau jawab apa. Angin dari luar benar-benar rasanya kencang sekali.
Paman fokus lagi ke HP, “Kamu mikirin saja dulu gimana kamu mau urusin anakku.”
Oh!
“Rasyi di mana, paman?”
Lihat ke sini, paman kelihatannya malah bingung. Dia lihatnya ke samping kiriku. Ra⏤Rasyi!
Ter, ternyata dia sudah tidur di kasur kapuk lain sampingku. Berarti dari tadi dia sudah tidur di sini. Suaranya tenang banget kalau dia tidur, sampai tidak kedengaran apa-apa.
“Dia sempat tegang lagi waktu kamu jatuh. Walau masih sakit, lebih baik lihatkan kalau baik-baik saja. Rasyi masih tidak stabil.”
“Iya...,” aku lihat terus ke arah Rasyi.
Mukanya kelihatan capek banget. Kalau sudah tahu bagaimana Rasyi, tidak salah lagi dia pasti panik.
Rasyi....
Ikuti kata paman yang paling benar. Tidak boleh kasih kesan buruk ke antara aku dan Rasyi. Mau gimana pun, aku... tetap sayang Rasyi.
Kuelus Rasyi. Maafin kakak ya, kakak terlalu kekanak-kanakan.
“Hmm....”
Aa, kebangun.
Cepat sekali dia duduk begitu. Dia tidak pusing kan? Tapi, mukanya masih, kelihatannya dia masih belum sadar.
Mau cari sesuatu. Lihat ke papanya, terus lihat ke aku. Lihat lagi ke lain, tapi tidak ada reaksi.
Rasanya selalu bikin mau ketawa.
“Kak Fares?”
Senyum ke dia, “Ya?”
Matanya jadi besar, “Kak Fares?!”
“Heh,” aku ketawa beneran, “Kenapa?”
Dia masih tidak percaya ya? Coba aku tepuk kepala dia. Bisa bantu sedikit bedakan dia lagi tidur atau tidak.
Aa, dia malah mau nangis.
“Rasyi?” kaget, Rasyi tiba-tiba peluk aku.
Tidak bilang apa-apa, tapi tahu kalau dia lagi nangis.
Peluk juga dia, “Maaf. Rasyi takut ya? Kakak tidak papa kok sekarang.”
__ADS_1
Angin sejuknya datang lagi.