
“Rasyi.”
“Hmm?”
“Ras!”
“Hmm?”
“Rasyi! IIh!!”
Aku merengut pada perempuan ini, “Apa sih? Udah emang kukuku?!”
“Udah dari tadi!” dia menutup botol cat kuku yang baru ia gunakan di tanganku, “Kamu yang bengong bengong bengoooong kerjaan.”
Oh. Itu bukannya melamun. Hanya saja itu.... terpesona. Benar, itu kata yang benar.
Pernah sekali dua kali membuatku berpikiran. Aku terbilang tiba-tiba untuk menyadari aku menyukai Fares. Lalu apa yang membuatku menyukainya bahkan membuatku sampai tidak menyadarinya?
Jawabannya sudah ada di hatiku saat ini. Aku tidak pernah punya kakak. Dan sekali aku merasakan memiliki kakak, itu adalah Fares. Yang pada dasarnya tidak punya hubungan biologis sama sekali. Sekali kebaikannya menancap, tidak bisa dilepaskan.
Sikap yang biasanya kepadaku itu yang membuatku senang.
Well, kalau ditanya tentang tipeku, sebenarnya Fares yang paling mencakupi semua kriteria. Lembut, baik dan tampan....
“Rasyi!!”
WAAAA!! Sungguh, Firna?! Bagaimana tidak kaget kalau kamu teriaknya di samping telingaku seperti itu?!
“Sakit tahu, telingaku! Sakit!!” aku berteriak membalasnya.
“Siapa yang melongo dari tadi?!”
“Tidak perlu teriak di telinga juga!!”
“Kamu juga teriak!!”
“Capai deh! Tidak kelar-kelar!”
“Ya udah! Berhenti teriaknya!”
“Kamu juga berhenti dong!”
“Kalian berdua bac...!!”
Lah? Ada yang ikut dari kamar sebelah. Itu adik sepupunya Firna kan? Kasar juga dia.
Mataku dan Firna saling bertatapan. Namun layaknya bukan apa-apa, kamu hanya tertawa tidak jelas. Bukan hal baru, kami selalu tidak bisa berhenti berdebat dengan suara keras, kemudian hilang tegang dengan tertawa.
“But, seriously deh. Mikirin apa lagi sih? Cepat tua, banyak mikir.”
Masih aku tertawa, “Semuanya aja disambungin sama cepat tua.”
“Iii, beneran~ Tidak lihat Anggar? Kebanyakan mikir, mukanya kelihatan tua.”
“Kedengeran, bangs...!!”
Kami berdua tertawa lagi.
Firna menatapku, “Serius. Mikirin apa lagi kamu?”
“Aku, itu. Kemarin tuh... itu lah~!” aku tidak bisa menggambarkan apa yang terjadi di closing Anniv kemarin.
“Apa sih~?!”
Banyak yang membicarakan aku sebagai pelakor di khalayak ramai. Tanpa sulit-sulit mengenal mereka, mereka sudah menjadi musuhku sepertinya. Namun kak Fares datang dengan senyum seperti es batu di tengah musim kemarau. Seperti itu~?
__ADS_1
“Senyum-senyum sendiri, serem tahu!”
“Ya, itu lah~”
“Capek, anj...!”
“Iih, kok kasar?!”
Temanku satu ini malahan mengamuk tidak jelas. Suara angel, tapi malahan mengeluarkan umpatan yang tidak indah sama sekali.
“Rasyi,” loh? Ibunya Firna? “Papa nyari tuh.”
Papa?
Aku menjawab, “Iya, tante.”
“Rasyi tidak makan di sini. Sekalian ajak papanya~”
“Mama,” Firna mengeluarkan wajah tak senangnya.
Aku paham sih kenapa Firna seperti itu. Siapa yang tidak merinding mendengar ucapan tante selagi wajahnya seperti....
Yah, aku paham juga sih, kenapa tante bisa terpesona seperti itu. Papa kan keterlaluan tampannya. Bahkan ibu yang masih lengkap dengan suami ini sampai tidak bisa memalingkan pandangannya. Hanya saja, aku berharap keluarga ini masih harmonis.
Lebih baik aku membawa papa cepat pergi dari sini. Tetangga pun bisa jadi lebih berbahaya.
“Talk later, Fir,” aku membawa ponselku dan melangkah pergi dari ranjangnya.
“Bye,” Firna sudah paham keadaan.
“Iiih, gak makan dulu~” beliau, benar-benar ibunya Firna.
Aku tersenyum, “Kalau makan, pasti bibi sudah bikin di rumah, tante.”
“Hmmm... sayang ya.... Kapan-kapan ikut makan ke sini, gitu. Ajak papamu.”
Kami harus mengakhiri rumpi kami. Sepertinya Sabtu ini papa punya rencana lain. Papa tidak akan sulit-sulit menjemputku bila tidak ada rencana.
Jendela itu sudah terlihat jelas jalan komplek. Dan pintu yang terbuka membuat cahaya memantul di mataku. Memudahkanku menangkap rumahku yang tak jauh di seberang jalan. Beserta papa yang ternyata mengurus mobilnya.
“Papa manggil Rasyi?” aku berhasil melewati pagar rumahku sendiri.
“Papa mau ke Riza. Kalau ikut, cepat.”
Riza? Papa mau mengunjungi makan kak Riza? Sekarang tanggal.... Hari ini dua puluh Mei!
Ini, hari ulang tahun kak Riza.
Papa menutup pintu mobilnya, “Ikut tidak?”
“Aa, iya.”
Di luar bisa saja papa tenang, tapi aku tahu papa masih terguncang dengan hanya melihat tumpukan tanah anaknya sendiri. Padahal lebih mudah kalau papa meminta saja untukku menemaninya.
Yah, ini terjadi setiap tahun. Papa tahu kalau aku pasti paham.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Plastik murah yang transparan membawa warna warni bunga dan dedaunan berbau manis. Hanya untuk dua tempat. Meski aku baru-baru saja ikut kemari setelah masalah Hari selesai, tapi kebiasaan ini sudah menjadi sangat menusuk.
Tidak mengenal mama dan Riza pun, aku sudah merasakan kesedihan mendalam hanya dari telapak tangan papa.
Pria ini tidak hanya selalu sibuk dan tempatnya yang memang terbilang jauh, tapi juga punya hati yang sebenarnya rapuh. Karena itu juga, papa jarang kemari. Namun ia selalu memastikan datang di hari ulang tahun mereka.
Jika kak Riza masih ada, seharusnya umurnya sekarang... 23 tahun.
__ADS_1
Yah, karena aku tidak pernah mengenalnya, aku juga tidak bisa membayangkan seperti apa ‘misalnya’ itu.
Hmm?
“Papa?”
Dia berjalan pelan sekali setelah kami keluar mobil. Bahkan, tangannya... bergetar.
Punggungnya tersentak, “Iya... ayo.”
Langkahnya semakin berjarak selagi tangan yang menggenggam tangan kananku itu semakin erat. Aku hanya diam mengkhawatirkannya. Mencemaskan satu-satunya keluarga yang pernah aku miliki ini.
Eh? Papa berhenti lagi?
Kuintip apa yang ada di depan tubuhnya yang lebih besar dariku itu.
Itu, Fares?
Ia, yang duduk jongkok di samping gundukan milik kak Riza, mulai berdiri dan tersenyum ke arah kami.
“Siang, paman,” telengan kepalanya yang sangat melengkung itu berhasil menemukanku di belakang papa, “Hai, Rasyi.”
Tidak! Jangan menggodaku di kuburan seperti ini, Fares!!
Heh? Papa kembali menarikku maju. Berhenti di sisi kanan tanah itu. Rizki melepas tanganku dan duduk merendah di sana. Membiarkan aku berdiri di sampingnya. Wajahnya tampak jelas tak bersemangat.
“Terima kasih sudah datang,” papa sepertinya menunjukkan kalimat itu pada Fares.
Kak Fares tampak mengepal plastik bunganya, “Saya cuma berkunjung saja.”
Papa mengulurkan tangannya kepadaku. Meminta bunga-bunga yang kubawa. Aku memilih ikut jongkok di sana sambil menahan plastiknya terbuka di pangkuanku. Kami menambahkan lagi bunga itu di atas bunga yang pasti baru diberikan oleh Fares.
Kami tidak banyak bicara. Hanya papa yang sibuk menaburi bunga di makam kak Riza dan mama yang memang bersampingan.
Aku membantu sedikit menghabiskan bunga yang ada di plastik itu. Dengan sekali-sekali diganggu oleh rambut yang lupa aku ikat.
Mengganggu banget.
Heh? “Kak Fares?”
Dia melakukannya lagi! Fares meraih rambutku dan merapikannya.
Tidak!! Aku malu sekali! Di depan papa nih!
“Rambut Rasyi panjang, jangan lupa diikat,” suara Fares, kyaaaaa!!
Papa berdiri! Aku tidak seharusnya terpanah dengan Fares di tempat seperti ini! Ini tempat berkabung!
Langsung aku berdiri, “Rambut Rasyi tidak apa!”
“Apa?” Fares jadi ikut bingung kan.
“Fares,” suara papa?
Fares yang sudah berdiri di kiriku, menatap papa yang ada di kananku, “Ya?”
“Kamu masih luang?” papa berjalan memutari petak kak Riza.
“Iya, hari ini saya tidak ada kuliah. Setelah ini saya mau langsung pulang.”
“Ikut ke rumah.”
Heh?
“Kenapa ya, paman?”
__ADS_1
“Ada yang perlu dibicarakan,” papa, tampak sangat serius?