
Firna menyandarkan kepalanya. Digatuk bersamaan dengan kepalaku, “Kita beli makanan duluan yuk.”
“Duitku di kelas,” aku membalas sandarannya, memberikan beban untuknya.
“Aku pinjamin dulu deh.”
“Nanti kalau bapaknya datang gimana?”
“Banyak banget alasannya!”
“Itulah, yang namanya, malas gerak.”
Duduk di pagar semen rendah yang memisahkan tanah pohon dan tanah keras sekolah. Tempat sejuk dengan pohon peneduh yang berjejer di tanahnya. Menyenangkan bisa berleha-leha di sini.
Akan lebih baik kalau guru, yang bertanggung jawab atas jadwal olahraga ini, tidak akan datang sampai waktu habis. Diriku memang orang ekstrovert, tapi bukan atletik.
Pagi nan panasnya menyehatkan, menambah poin kemalasan.
Mungkin, karena perkataan Ira kemarin yang terngiang. Rasanya... aku tidak mau memikirkannya.
“Cantik~”
Siapa yang berdiri dan menutupi matahariku?
Cowok yang wajahnya terlalu gelap di mataku itu akhirnya duduk berjongkok. Mengembalikan sinar matahari yang tak jauh lurus di depanku.
“Dhik, tidak ada kabar bapaknya, apa?” Firna masih bersantai dengan kami yang saling bersandar.
“Gak tahu,” Dhika sibuk dengan apa yang dia bawa.
Eh?! Apa Dhika baru saja menyelipkan bunga di telingaku?
Lelaki ini tersenyum, “Pas!”
Aku tidak bisa berkata apapun.
Dia mewarnai hening ini dengan meletakkan setangkai bunga kecil yang lain ke telinganya sendiri. Senyumnya merekah lagi meski aku tidak terpesona.
Rasanya mengganggu. Apalagi dengan tangannya yang seketika mengaitkan jari-jemariku.
“Gue capek gak?”
Maafkan saya yang tidak tahu sopan santun ini. Standar penilaianku terhadap ketampanan sudah terlalu tinggi untuk anda gapai.
Percayalah, papaku punya ketampanan tidak masuk akal.
“Hei...,” Firna tiba-tiba menongolkan kepalanya di antara kami, “Dipanggil tuh dari tadi.”
“Eh! Dhika!!”
Oh, benar. Ada yang memanggil dari arah tengah lapangan.
“Kita disuruh main basket satu ronde. Yok cowok-cowoknya!”
Aku bisa melihat Harun. Ia menghentikan langkahnya di belakang Dhika yang masih jongkok di depanku. Tampak menakutkan.
“Jangan bolos,” Harun menarik seragam olahraga Dhika.
“Heh! Sakit bejek!”
Pergilah mereka ke tengah lapangan basket itu, meski rampak mengkhawatirkan. Setidaknya banyak cowok yang menyela dengan memulai pertandingan dengan cepat
Bola yang tangguh itu saling diperebutkan. Seluruh perjaka satu kelas dibagi menjadi dua yang mempertandingkan kemampuan menggiring dan melemparnya. Layaknya semua orang di sekolah ini mampu memainkan bola besar itu.
“Harun jago juga ternyata,” Firna berbisik padaku seakan bergosip.
Aku paham atas keterkejutannya Firna. Harun memang tampak sempurna, tapi sebenarnya dia sekedar anak akademik. Tidak pernah aku lihat Harun jago di olahraga lebih dari rata-rata.
“Dhika juga,” Firna melanjutkan percakapannya, “Eh, tapi, mereka berdua kok kayak....”
__ADS_1
Berkelahi. Mataku juga menangkapnya.
Keduanya memang tidak saling berteriak atau memukul. Namun pertandingan dua tim ini jadi tampak seperti pertandingan satu lawan satu. Pertandingan pemanasan sambil menunggu guru datang, berubah drastis ke pertandingan kompetitif.
“Itu murid barunya?”
Aku menanggapi pertanyaan itu, “Iya.”
Loh? Siapa yang bertanya⏤
“Bikin kaget!” suara teriakan Firna tergema di telingaku.
“Kami dari tadi di sini we!” Saga memunculkan wajahnya dari balik Vian yang duduk di sampingku.
“Anak baru cari masalah kah ke Harun?” Vian memandang ke lapangan.
Firna menyandarkan kepalanya lagi, “Rasyi magnet.”
Kupandang teman semasa kecil yang sering mengeluh ini, “Terima kasih untuk pujiannya.”
Suasana jadi sepi. Aku merasa ada yang aneh dengan si kembar yang tidak merespons. Mataku kembali ke kakak beradik ini.
Wajah Saga, keras, tapi aku juga bisa merasakan sedih. Namun Vian... dia menatap ke arah lapangan dengan amarah.
Itu bukan pertanda baik.
Pertama, aku tahu ada tiga orang yang menyukaiku. Kedua, orang-orang ini punya kepribadian tak mudah menyalah dan berharga diri tinggi. Tidak seperti Saga yang memilih melepas daripada ikut rebut-rebutan.
Ketiga, aku tidak bisa membagi otakku untuk kedua masalah ini.
Aku berhasil memperbaiki hubunganku dengan Harun. Namun masalah papa dengan semua tentang mama baru dan pernikahan itu belum selesai.
Sekarang ini?
Melelahkan.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Huuu...,” nafasku terasa sangat panas.
Ruangan yang tak gelap dan tak terang. Sangat familier, langsung menusuk ingatanku yang masih setengah sadar. Tubuhku mulai menyadari atas terpakunya aku di ranjang sendiri.
Berat. Otot-ototku serasa mati. Pening. Menggigil dan kepanasan secara bersamaan.
Aku menyentuh keningku. Jangan bilang aku sakit lagi.
“Huuuh,” kupaksa tubuhku untuk bangkit duduk.
Sekar selalu merawat dirinya sendiri. Meski sakit berat, dialah sendiri yang membeli dan meminum obatnya.
Namun, aku sangat merasakannya, tubuh Rasyi jauh lebih tidak punya tenaga. Entah benar atau tidak, semua itu selalu dihubungkan ke kelahiranku yang prematur. Aku sering kelelahan dan sakit. Dan sekali sakit, rasanya berat.
“Ii!” aku paksa diriku berdiri.
Bertahanlah setidaknya sampai ke kamar papa.
Satu, dua, tiga langkah. Perlahan tapi pasti. Aku berhasil sampai ke pintu dan membukanya.
Gelap dengan lampu berkekuatan rendah menyebar di seluruh rumah. Kakiku masih bisa menuntunku dekat ke pintu kamar papa, di samping kanan kamarku.
“Papa,” berusaha aku memanggil setelah mengetuk pintu itu.
“Masuk,” papa, dia terjaga lagi.
Kubuka pintu itu. Bertahan di gagang pintu yang aku harap masih kuat menahan beban badanku. Memandang pria yang masih duduk dengan santai di sofa kesayangannya.
“Pa..., kayaknya Rasyi sakit deh,”
Aku mendengarkan suara langkah. Cepat, tidak seperti langkah santai yang biasa.
__ADS_1
Sampai akhirnya sebuah tangan menyentuh wajahku. Bersamaan dengan satu tangan yang menahan tubuhku.
Pemikiranku yang tersendat, baru saja menyadari kalau aku sudah diangkat oleh dokter ini. Lucunya saat memikirkan dia bisa membopongku, memperlakukanku layaknya seorang putri. Membaringkanku di salah satu sisi ranjangnya.
Layaknya makanan setiap hari, papa merawatku.
“Jangan pikirin Ira atau Kirana,” papa memainkan poniku sampai bisa menempelkan pendingin di keningku.
Papa orang yang kelewat pintar. Ia tahu aku akan sakit atau minimal mimpi buruk bila banyak pikiran. Dan otak encer ini paham, masalah itulah yang paling mengganggu.
Lalu aku disuruh untuk tidak memikirkannya? Semudah itu?
Kecuali kalau....
“Berarti papa tidak mau menikah lagi?”
Tangan yang menyiapkan obat itu terhenti. Ia menatapku dalam sunyi.
“Masih mau kok,” dia kembali menggerakkan tangannya.
Obat yang siap di laci mejanya. Dengan segelas air yang pasti ada di samping ranjangnya. Ia menuntunku untuk duduk. Menyusun banyak bantal di belakang agar aku bisa duduk dengan nyaman. Disuguhi obat yang tidak pernah manis.
“Tapi bukan sama nenek kan?”
“Ppht...,” papa hampir tertawa, “Bukan.”
Seharusnya, alasan papa ingin menikah lagi ada kaitannya dengan salah satu dari mereka.
Berarti, Ira?
Jika memang seperti ini, aku tidak bisa melakukan apapun selain menunggu yang bersangkutan.
“Ada yang mengganggu di sekolah?”
Wajahku kembali ke papa selagi aku masih setengah berbaring. Apa dia berpikir masalah sekolah yang sudah membuatku sakit? Memang aku memikirkannya, tapi tidak sebesar masalah ini.
Mau bagaimana pun, aku tidak tenang dengan pertanyaan Ira dua hari lalu. Aku tidak menjawab jelas tentang mau atau tidaknya aku dengan mama baru.
Bukannya tidak mau. Sekar, yang yatim piatu dari bayi, selalu berharap punya keluarga lengkap.
Namun, Rasyi sendiri tidak pernah memikirkan hal itu. Aku menerima saja kenyataan tentang ibu kandungku meninggal di hari yang sama dengan aku lahir.
Apalagi masalah mama baru tergantung papa sendiri.
Meski sepertinya aku akan memilikinya cepat atau lambat.
“Rasyi?”
“Heh? Oh...,” aku melamun? “Tidak kok. Cuma ada anak baru. Harun kayaknya tidak suka sama dia. Kelahi terus.”
“Hoo..., ada yang baru. Gimana orangnya?”
Kenapa dia jadi kepo?!
“Tidak tahu!”
“Ya sudah, istirahat. Biar bisa pikirin ujian semester.”
“Apaan?! Masih lama, uhuk huk!”
“Heh,” asyik ya pa~? Ketawa saja terus!
Dasar dokter jahat! Pasiennya malah dibuat semakin sakit!
Eh? Keningku di samping kanan, menerima kecupan kejutan.
Ia mengelus lembut kepalaku, “Tidur.”
Selalu saja elusannya menang membuatku mengantuk.
__ADS_1