Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#78 Teraduk-Aduk


__ADS_3

Kumainkan ujung rambutku. memperbaiki bandonya selagi menggandeng tas tenteng kecoklatan muda.


Selagi sepatu loafer coklatku menapak di lantai bersih mall. Memamerkan sepasang blouse jingga dan celana jeans tanggung yang kukenakan.


“Mau beliin apa?” tanyaku tanpa basa-basi.


Vian mengangkat kedua bahunya, “Tidak tahu,” dia memandangku, “Makanya aku ajak kamu.”


Apa yang bisa aku pikirkan? Yang aku tahu tentang Saga hanya dia yang hiperaktif dan kebanyakan tingkah.


Harus aku berpikir lebih jauh, “Apa saja yang sudah pernah kamu kasih?”


“... Lupa.”


Itu tidak membantu sama sekali!


“Ada kejadian yang baru-baru ini berkesan?”


Vian berpikir, “Senin kemarin Saga jatuh dari kendaraan.”


Aa?! Sungguh?! Itu yang pertama kalinya keluar dari mulutmu?! Kamu berharap untuk kasih hadiah lukisan tempat dan waktu dia jatuh?! Lucu!!


“Yang kesannya bagus!”


Vian tertawa senang seperti berhasil menjahiliku, “Apa ya...?” setidaknya dia berpikir.


“Waktu kecil?”


“Oh. Dulu cita-cita dia jadi robot gorilla.”


Heh?!


Aku tak bisa berkata apapun. Itu berkesan, benar. Namun aku tidak yakin dia mau membahasnya.


Di sela langkah kami yang santai di tengah kerumunan, aku masih memutar otak, “Yang lain?”


“Oh!”


Apa?


“Hal yang berkesan kan?” dia mendapatkan sesuatu?


“Apa?”


Sesaat aku terdiam. Memperbaiki jalan pikirkan yang sempat tersendat memandang pergelangan tangan Vian. Bukan masalah tentang gelang karet yang ia kenakan, tapi tentang arah jari telunjuknya.


Lelaki ini menunjuk ke arahku.


Kedua bibirku melekat satu sama lain. Ini sungguh suasana yang tidak bisa aku respon. Rasanya sulit.


“Kalau... orang lain?” aku mencoba mencari jalan keluar.


Vian terdiam sesaat. Di tengah rambutnya yang tampak rapi, wajah nakalnya masih terlihat jelas sedang berpikir. Namun tidak memakan banyak detik, ia menurunkan jarinya.


“Kami pernah kelahi waktu kecil. Gara-gara ada cewek jatuh waktu main.”


Aku menghela nafas. Setidaknya dia mengikuti topiknya, “Terus?”


“Kami saling salahin. Ceweknya sendiri yang berhenti-in.”


Langkah kami yang berlanjut entah ke mana memberikan kesan kami tidak melakukan apapun. Meski nyatanya aku ingin mengetahui lebih dalam tentang kisah yang satu ini.


Tersenyum aku penasaran, “Berhentiin? Pakai apa?”


“Dia kasih kami permen satu-satu ke mulut.”


Auw~ Manisnya~ Hihihi, “Terus?”


“Dia gandengin tanganku sama Saga sambil bilang, aku tidak kenapa-napa, jangan marah lagi. Habis itu dia malah ajak kami ke rumah dia. Dia kasih kami gelang yang sama kayak dia.”


Hmm? Kok?


“Katanya sih buat tanda sahabat. Waktu kecil memang orang kayak gitu ya?”


Rasanya kok... dia....

__ADS_1


Aku berhenti di depannya. Mencoba mencari perhatiannya lebih, “Kamu suka dia ya?”


Vian tampak terkejut⏤oh! Pipinya merah!


“Itu cerita lama! Dia sekarang sudah pindah jauh!” dia menutupi wajahnya yang jelas-jelas sudah seperti tomat.


Hihihi! Lucunya~


“Aku...,” hmm? “Kami jadi biasa rebut-rebutan. Tapi, gara-gara cewek itu pindah, Saga jadi... biasa ngalah. Aku... tidak bisa.”


Aku tetap tidak berkomentar. Berusaha menjadi pendengar yang baik.


Vian tampak tertawa kecil, “Sekarang juga. Dia mudah menyerah, dan aku malah cari kesempatan. Aku kakak yang egois ya?”


Dia membicarakan tentang aku kah?


Mereka memang pernah berkelahi setelah mencoba dekat denganku. Tak lama dari itu, mereka tenang. Dan mungkin itu juga karena Saga tidak mau berebut.


Layaknya yang pernah mereka keluh kesahkan di kala Vian masuk rumah sakit beberapa lama yang lalu. Ini pasti bentu sayangnya Saga.


Tu..., sepertinya aku kelewatan sesuatu.


“Vian! Kakaknya?!”


Ia tampak terkejut. Menatapku aneh.


Tidak. Yang aneh itu aku. Seharusnya aku sudah tahu. Vian berkepribadian lebih dewasa.


“Aku kelihatan banget bukan kakak?” wajahnya tampak sedih.


Kok pesimis seperti itu?!


Diam..., “Hihihihi!”


“Kenapa?” Vian tidak senang.


“Lucu saja. Padahal aku yakin Saga sayang banget sama kamu.”


“Ha?”


“Aku tidak yakin.”


“Mau coba?” aku menelengkan kepalanya, “Kasih deh apa saja jadi kado. Dia pasti hargain apapun itu. Biar kamu senang.”


Sesaat setelah hening, aku bisa melihat Vian tersenyum! Manis~


“Dia tidak pernah komplain kadoku sih.”


Aku masih memamerkan senyumku. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan tentang hubungan kakak adik kembar ini.


“Gimana kalau kita kasih Saga boneka gorilla? Hihihihi~” aku tertawa membayangkan reaksi Saga.


“Buat apa?” Hmm? Siapa?


Kupastikan pemilik suara di belakangku ini. Aku pandang lagi Vian di depanku memastikan dia tidak kemana-mana⏤


Loh?! “Saga?!”


“Yah...,” Vian terlihat lemas, “Kenapa sih ke sini?”


“Kita kan sudah sepakat!” Saga kenapa marah?


Vian membalas, “Aku kan mau coba!”


Duh! Kenapa kalian menghilangkan rasa kagetku dengan rasa panik?!


“Terserah deh!” Saga memegangi kepalanya, “Tapi jangan nangis kalau tidak bisa!”


“Hii! Siapa juga yang nangis?”


Sudah? Kalau begitu, biarkan aku memperbaiki keadaan!


“Saga~ Kenapa kok di sini? Ada janjian sama teman?” berusaha aku layaknya tak bersalah.


Lelaki ini kerut keningnya, “Samberin kalian.”

__ADS_1


Huuuh... ternyata dia sudah tahu.


Aku memandang si kakak tidak becus ini, “Gimana sih?! Seharusnya pertahankan jadi kejutan!”


“Kejutan?”


Uups! Dia belum tahu?!


“Surprise~” aku tersenyum membuka tanganku. Berharap dia juga berpikir kejutannya hanya pertemuan kita di mall ini.


“Ha?” Saga kebingungan memandang Vian, “Vin, kamu beneran bohongin Rasyi tentang HBD kita?!”


Heh? Bohong?


Dia bilang apa tadi? Lewat? Ulang tahunnya lewat? Maksud Saga, ulang tahun mereka sudah lewat?!


Aku pandang Vian, kenapa dia diam?


Saga menemukan sesuatu, “Kamu bohong ke Rasyi kalau kita HBD kan, Vin?!”


“Lumayan buat dicoba, kan?”


Heh?


“Ras, kamu tidak tahu kami ultah kapan?” Saga kembali mengajak bicara aku yang bingung bukan kepalang.


“Kapan?”


“Agustus!”


Heh? Tapi kan... kami baru saja sampai di Januari.....


Langsung aku menatap Vian. Wajah nakalnya tidaklah wajah semata. Ia benar jahil dan tidak berhati saat mengerjai orang. Urat leherku terasa tegang dibuatnya.


Sungguh!!


“Tuh, kan! Rasyi jadi marah.”


“Salah kamu juga, bohong!”


“Bukan bohong kalau kamu tidak kasih tahu!”


“Bukan gitu konsepnya!”


“Daripada datang-datang bawa ribut!”


“Kamu yang bawa masalah dari awal!”


Aduh!! Capai deh!


Langsung aku berdiri di antara mereka dan merangkul kedua lelaki yang kebanyakan tenaga itu. Buldoser ini harus ditenangkan meski aku masih marah.


“Mending kalian traktir aku ice cream,” aku langsung tarik mereka, “Tidak ada penolakan!”


Berusaha menghindari khalayak yang lebih ramai, aku membawa mereka ke cafe yang sering aku kunjungi dengan papa. Aku tidak peduli mereka marah atau apa dengan kelakuanku, yang pasti hakku lebih banyak untuk marah⏤


Tu... mereka tertawa?


“Sorry,” Vian masih saja tertawa.


“Habis dah tabungan kita, heheh!” Saga malah senang.


Meski rencana jalan hari ini kacau, aku merasa tidak bisa marah lagi. Kedua kakak beradik ini terus bersemangat dan memastikan aku menikmati hariku.


Semangkuk ice cream besar, berburu sepatu, ke art center. Kunjungan kami semua menurut minatku.


Aku sungguh melupakan amarahku dan kembali. Sampai waktu berakhir....


“Kami... langsung balik, Ras,” Saga tampak tak nyaman.


Diri ini yang lebih tidak nyaman lagi mencoba tersenyum, “Iya, bye....”


Untunglah kedua Adam itu pergi tanpa mencari keributan baru. Aku masih tersenyum berpikir belum tentu semua berakhir.


Memang aku seharusnya pulang dengan sang ayah yang sedang bersandar nyaman di mobilnya itu. Namun....

__ADS_1


“Kita bicara sebentar,” Harun memandangku tanpa senyum.


__ADS_2