
Aku tidak pernah menerima tumpungkan panggilan tak terjawab, kecuali dari keluarga Hendra sekitar dua tahun lalu. Dan itu juga di saat papa tidak ditemukan di mana-mana.
Kekhawatiran Harun juga seperti itu kah? Sampai ia menelpon aku lima belas kali?
Bukannya berniat untuk tidak mau menjawab, aku hanya tidak tahu harus bicara apa. Ditambah lagi dia menelpon waktu makan malamku dengan papa. Makan di luar.
[Harun pasti marah sih, habis ini.]
Pesan daring dari Firna. Membacanya saja, sudah bisa dibayangkan wajah Firna yang khawatir.
Padahal aku sudah matikan suaranya. Namun gangguannya membuatku bingung.
Tidak menghentikan aku untuk berbuat begitu. Kurasa aku memang harus lebih tegas dan lebih tegas lagi ke Harun.
Dia marah, aku juga bisa marah. Kalau dia mau bicara, kita kan bisa bicara baik-baik kemarin. Harun yang duluan marah. Aku kan bingung harus bagaimana kalau dia diam terus seperti itu.
[Kenapa sih kamu tidak jawab saja. Ya bilang kita bicara langsung, gitu?]
Aku terdiam.
[Mendingan bilang sekarang deh. Nanti dia makin marah loh.]
Kurasa Firna memberikan pernyataan yang masuk akal. Namun....
[Tidak harus, kan?]
Stiker emoji wajah yang Firna kirimkan, menggambarkan keraguannya atas ucapanku. Ia pun menjawab lagi....
[Aku tahu Harun bisa marah sampai gimana. Dia bisa nyakitin kamu lagi loh.]
Kenapa ya aku tidak mau melakukannya?
Padahal kalau aku mau menyelesaikan segala hal, aku tidak boleh berpaling sedikitpun. Bahkan jika aku dibuat muak akannya.
Muak? Bagaimana bisa aku merasakan itu?
Seakan aku tidak menjawab karena alasan itu.
[Fir. Si kembar gimana?]
Pembicaraan apa yang ingin aku alihkan?
[Tidak ada beda sih. Tapi mereka kayaknya tidak marah lagi ke kamu.]
Aku mengetik...
[Harun tidak ngapa-ngapain kamu sama mereka kah?]
[Aku bingung deh. Kamu tuh maunya gimana sih?]
Heh? Yang aku mau...?
Ups. Papa kembali.
“Belum datang?”
Aku menggeleng. Kurasa ini salah. Memilih tempat yang dijamin enak untuk makan malam. Pasti ramainya akan sulit untuk dikompromi perut.
Papa memilih mengecek ponselnya setelah ditinggalkannya ke kamar kecil. Kalau diingat tadi juga sepertinya ada pesan dari Hendra.
“Kayaknya ada sesuatu dari paman Hendra deh,” aku memanyunkan mulutku.
“Hmm.”
Diam hening di antara kami meski sekeliling kami ribut seperti pasar malam dengan kelompok anak yang pergi tanpa anak-anaknya.
Mulailah, dimana penyakitku kambuh.
“Apa kata paman Hendra?” kepoku yang mengalahkan rasa lapar di perutku mulai beraksi.
__ADS_1
Papa memandangku. Entah apa yang dia pikirkan dalam sejenak itu. Namun pergerakan mulutnya tidak tampak seakan ia ingin menyembunyikannya atau menutupinya dariku.
“Ada sesuatu.”
Masih bisa aku pancing, “Dan itu adalah...?”
Mata papa bermain ke arahku, “Kirana suka sama polisi temannya Hendra.”
...
“Ko, heh, apa?!!” Tu, kenap, kenapa ja, kenapa jadi, anu....
“Phft...,” papa...?????
Sebentar..., “Papa bercanda ya?”
“Tidak,” papa mematikan ponselnya, “Dia beneran suka sama polisi. Yang Rasyi takutin, kemarin.”
Sa, sa sa, sama beliau?! Kok bisa?!!!
Ini adalah cerita yang paling tak terduga di segala pengalaman yang aku terima. Sungguh! Bagaimana kok bisa sampai sana?!
“Mie ayam sama baksonya,” bibi datang membawa pesanan.
“Terima kasih,” papa memberikan makanan di meja depanku.
Mama, anakmu ini tidak nafsu makan karena terlalu kaget, harus diapain ya ma?
Aku memang sayang kedamaian tanpa nenek Kirana ini. Semua masalah juga selesai, walau penyelesaiannya meninggalkan tanda tanya yang besar. Layaknya tanda tanya itu menamparku dengan kepalanya, sampai aku bingung⏤kok bisa?!
KRUUUUUU KUKUKUK!
“Kedengaran. Tidak malu?”
Pa. Papa tahu kalau itu memalukan, lalu kenapa dibahas?!!
Ya. Baiklah, perut. Aku mendengarmu. Mari kita lupakan apa yang kita dengar dan anggap itu bukan bagian dari kehidupanku. Hanya gosip selebriti yang keluar lewat lubang hidung.
Suara, ponselku yang bergetar di atas meja. Panggilan.
Ha hahaha, aku mau makan!! Bodo amat!!
Namun, itu tidak sekali bergetar. Bahkan di suapan pertama yang masih aku kunyah, sudah ada lima kali panggilan.
“Jawab. Ganggu.”
Iya, pa. IYA!
Kurasa aku harus menunda makan malamku untuk sejenak.
Aku berdiri. Berniat membawa panggilan itu ke tempat yang lebih tenang. Kupilih di seberang jalan tak lebar dimana mobil papa terparkir. Masih bisa aku lihat papa dari sini, jadi tidak masalah.
Panggilan lain. Harun sungguh tidak memberi jeda untuk memanggilku malam ini.
Aku tarik nafasku.
Kali ini, aku harus menghadapinya lebih tegas dan menyelesaikannya sampai sungguh-sungguh bersih!
“Hai..., Harun...,” masih terasa ragu di setiap kata yang keluar dari pita suaraku.
Nafasnya sangat terdengar berat.
[“Kamu ke mana? Kenapa telponku dimatiin?”]
Benar kata Firna. Itu yang jadi masalah utama ia menelpon kali ini. Kenapa aku tidak menjawab satu saja panggilannya dan setidaknya menyampaikan alasanku? Dengan seperti itu, tidak akan menjadi alasan baru untuk dia marah.
“Aku lagi di luar.”
[“Itu makin tidak benar! keluar ke mana?! Kenapa tidak kabarin aku sama sekali?!!”]
__ADS_1
Harun? Dia, jauh lebih kasar dari biasanya. Kalau orang lain mendengar, orang pasti berpikir kalau aku sedang dipalak.
Aku tidak bisa menerima yang seperti ini. Kemarin memang kacau, tapi tidak mungkin juga aku biarin semua lebih kacau.
“Please, bisa tidak jangan teriak-teriak?” aku menyandarkan diriku di mobil.
[“Kamu di mana, Rasyi?!”]
“Aku lagi makan sama papa, di luar. Nanti bentar lagi juga pulang. Udah ya?”
[“Rasyi! Jangan ditutup! Kita butuh bicara!”]
Tidak bisa. Bicara seperti ini tidak akan bisa. Harus aku tunggu dia tenang dan baru aku bisa memulai diskusinya lebih tenang juga.
“Kita bicarakan besok saja ya? Biar tatap muka, lebih enak.”
[“Buat apa?! Kita kan cuma...,”]
Hmm? Dia diam sekarang? “Harun?”
[“Maaf. Aku terlalu semangat.”]
Ia terdengar... menyesal.
Akhirnya aku bisa bernafas lebih lega, “Tidak apa. Tapi tolong selanjutnya jangan begini lagi.”
[“Iya. Aku juga minta maaf soal yang kemarin. Aku tidak tahu apa yang terjadi sama aku....”]
Lebih baik dengan ia tenang seperti ini. Sekarang, ayo kita mulai.
[“Kamu marah sama aku, Ras?”]
“... tidak..., cuma....”
Pertama, aku harus perjelas apa keinginan kami masing-masing. Lalu kami harus mendiskusikannya sampai menemukan kesepakatan. Jadi semuanya akan kembali normal seperti keseharian sekolah anak remaja pada umumnya.
“Ada alasan kenapa kamu tidak mau aku sama teman-temanku sendiri?”
[“Aku kan sudah bilang berkali-kali. Mereka tidak ada bantuin, malah bikin repot kamu terus.”]
Baiklah. Dia mempermasalahkan itu. Seharusnya aku sudah menjelaskannya berkali-kali pula. Mungkin aku harus menjelaskannya lagi, lebih jelas.
“Oke, Harun, begini. Si kembar, begitu karena memang sifatnya. Bahkan kadang-kadang aku malah enjoy kok. Kalau Firna, dia kan sahabatku dari kecil. Kamu kan juga tahu.”
Dia tertawa kecil?
[“Kamu bisa tuh hidup aja, tidak pakai mereka.”]
Sungguh, Harun? Apakah memang harus untuk mengejek seperti itu?
“Aku mau bisa senang-senang sama semuanya. Aku tidak suka kalau Harun batasi aku kayak gitu. Paham kok tentang ekskul kemarin, tapi kalau sampai kontrol teman-temanku begitu, tidak bisa dong.”
[“Terus kamu maunya aku biarin mereka ganggu kamu, gitu?”]
“Kalau mereka ganggu ya, aku bisa marahin kapan saja. Seperti biasa, Harun. Biarin mereka jadi mereka sendiri.”
[“Aku tidak bisa terima itu.”]
Aku menghela nafasku.
Sepertinya aku tidak bisa membuat dia setuju denganku. Kalau begitu kami harus cari jalan tengah yang mana kami berdua bisa setuju.
“Oke. Gimana kalau kita bicarain sama si kembar besok? Biar kita tatap muka. Supaya kita bisa cari jalan tengah. Supaya kamu juga puas⏤”
[“Aku ke sana.”]
Tut tut tut!
Eh?
__ADS_1
Aku memandang layar ponselku... Harun?