Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#22 Kita Sudahi Konfliknya


__ADS_3

“Ayo pergi, kak Dito,” papa memegang pundak beliau. Sebelum akhirnya papa memandang lurus ke arah pasangan seniornya,  “Kakak juga.”


Wanita ini masih ragu untuk mengikuti papa keluar ruangan, “Tapi kan....”


“Ayo sayang,” paman Dito tampaknya tak ragu.


Entah kenapa, aku merasa kalau para orang tua ini sedang berkomunikasi batin. Yang pasti orang-orang ini mendengarkan arahan singkat papa. Gelagat mereka beranjak siap untuk keluar ruangan.


“Kamu juga, Fares,” papa sempat menepuk pundak Fares sebelum keluar dari pintu.


Fares kelihatan ragu. Mungkinkah dia bingung, mau mengikuti atau tetap di ruangan yang bisa saja meledak kapan saja. Tidak ada yang tidak tahu, aku dan si pasien bukan hubungan yang sebaik itu.


“Dadah, kak Fares~” aku tersenyum.


Persis seperti yang dikatakan papa. Lebih baik aku menyelesaikan ini sendiri.


Fares tampak sedih, tapi ia membalas senyumanku. Pintu pun tertutup dengan keempat orang itu keluar dari ruangan.


Kamar inap yang mewah ini sungguh menjadi tempat yang sepi. Dengan hanya kami bertiga. Dengan ruang kanan-kiri, penuh pasien yang mengistirahatkan mata. Aku hanya berharap ruangan ini cukup kedap suara.


“Mau kamu apa?” Vian, gelagatnya mengatakan ia tidak suka satu ruangan denganku.


Jikalau dia main jutek, aku semakin semangat memainkan peran~ “Sakit hati nih kalau kamu dan Saga terus anggap niatku jahat. Aku tuh khawatir loh.”


“Sudahlah, Rasyi.”


Hah, awalnya aku bangga dengan Harun yang mempersilahkan aku mengambil alih. Barangkali inilah pesisir dari kesabarannya.


Tampang tak bersahabat Harun ditunjukkan jelas dari kilat matanya, “Kalau tidak mau diurus, susahkan kalian sendiri. Khususnya kembaranmu itu. Rasyi udah kasih perhatian, dia malah kurang ajar. Orang bodoh. Jadi orang bodoh juga, silahkan!”


Lekat aku pandangi lelaki ini, “Harun....”


“Kamu terlalu banyak belain mereka,” suara lembut itu tertuju padaku, “Orang yang pikir benar sendiri kayak mereka cuma bisa sembunyi kalau tahu mereka salah. Siapa yang tidak tahu kalau dia cuma bisa makan pedulinya orang. Bodoh!”


“Sudah bilangin Saga gak bodoh!!”


Duh. Itu topik sensitifnya dia ternyata.


“Uhuk! Huk!”


“Vian?” aku melangkah mendekatinya, mengecek apa ia baik-baik saja.


Tebasan itu menepis tanganku yang hendak meraihnya, “Saga tidak bodoh. Dia cuma sering marah.”


Apa itu yang terpenting dari keadaannya sendiri. Dia ada di IGD bukan tanpa alasan, “Iya. Sekarang istirahat saja deh⏤”


“Saga cuma lagi marah sama sakitku kekang bebasnya dia. Tapi siapa peduli?! Yang penting dia gak sakit kayak aku! Terserah mau bilang kami pembuat onar atau apa. Soalnya ada aku yang temani!! Uhuk!”


Aku menahan bahunya, “Kamu bisa temani kalau kamu sembuh.”


“Siapa yang sakit?! Aku gak sakit!!”


Hatiku bergetar.


Boleh untuk bersemangat, tapi bukan berarti bisa menganggap sakitmu tidak ada.


“Lepas! Dibilangin aku gak sakit!!”


“Tolong, Vian⏤Auw!”


Heh? Sagara? Pasti dia yang menggenggam bahuku keras dan menariknya menjauhi Vian.

__ADS_1


“Sialan!” Harun, ia menahan punggungku.


“Kenapa? Kamu mau masukan aku ke penjara gara-gara nyerang pacarmu?!” Saga terpancing.


“Bisa saja. Tapi tidak mungkin karena kalian pasti merengek!” Harun sudah berdiri tepat di wajah Saga selagi ia menahan gerakku.


Layaknya melayani, wajah penuh marah itu didekatkan lagi, “Lihat saja siapa yang merengek nanti. Kita selesaikan ini!”


Selesaikan apanya?! Itu malah memperdalam masalah! Bukan begitu caranya menyelesaikan konflik anak SMA!! Kalian jangan berani-beraninya ikutan orang dewasa yang penuh drama deh!!


“Dengan senang hati!” Harun menyingsing lengan panjang kemeja ringannya.


Tunggu! Kalian serius?!


“Aku minta maaf!!” loh? Vian?! “Huk uhuk!! Ngik ngik...,” itu bukan batuk lagi. Nafas Vian tersendat.


“Vin, tarik nafas!” Saga tampak panik.


Aku harus membantunya, “Vian duduk tegak⏤”


Harun? Menahan tanganku? Ia menariknya lebih menjauhi dari tempat sebelumnya.


“Rasyi, sudah! Tinggal saja!” Harun serius mengatakan itu?!


“Harun!” kencang kutarik tanganku lepas dari keegoisan itu, “Mending kamu panggilkan papa.”


“Rasyi!”


“Harun, tolong!”


Tidak ada waktu untuk memperpanjang perdebatan. Bagus bila memang ia mendengarkanku. Namun jika tidak, maka bukan waktunya untuk meladeni dia. Vian dalam keadaan tidak baik.


Aku menerobos Saga yang kuyakini tidak sudi kalau aku mendekat. Beberapa kali aku pernah melihat papa bekerja. Real-nya, tindakanku bisa membantu.


“Uhuk! Huk!” ia masih saja tertunduk dengan lemasnya.


Kutahan wajahnya agar tetap tegak. Saluran pernafasannya harus lancar, “Bernafas pelan-pelan, yang tenang,” aku rendahkan suara berharap ia ikut merendahkan pundaknya.


Nafas mulai lebih tenang, tapi belum cukup.


“Pakai inhaler dulu,” Saga yang sudah paham situasi, langsung membantu Vian menggunakannya.


Sekali.


Dua kali.


Tiga kali.


Untunglah. Hanya beberapa kali menarik inhaler, ia sudah membaik.


Kulepaskan pelukanku yang menahan tubuh dan wajahnya, “Sudah tenang?”


Dia mengangguk bersamaan dengan nafas yang kembali normal.


Suasana tegang sudah hilang. Wah, ternyata Harun juga ikut hilang. Ia pasti mendengarkanku untuk memanggil papa.


“Maaf,” hmm? “Aku minta maaf sudah bikin susah kakak,” kenapa Vian masih mempermasalahkannya?


“Aku...,” Saga? “Minta maaf sudah ngerjain, sudah ngejek terus.” 


Wah, itu tidak terduga. Sovian masih bisa saja, tapi Sagara... Sungguh?

__ADS_1


“Sudah kan? Puas?” apa yang dibahas saga kali ini? “Kamu mau apa lagi?”


Eh? Dia pikir aku melakukan ini semata-mata untuk mendapatkan permintaan maafnya?


“Aku di sini bukan untuk itu,” kulepas genggaman pada Vian.


Saga menyipitkan matanya tampak curiga, “Terus, ada maksud lain apa?”


Nih anak deh, “Kita harus berhenti salah paham. Aku kemari karena papa memanggil. Lalu aku tidak sengaja tahu Vian masuk rumah sakit. Gimana aku tidak khawatir?”


“Kenapa harus khawatir?! Mana ada orang yang baik tapi gak ada alasannya! Apalagi kita musuhan!” Saga melipat tangan dan tampak meneliti aku.


Oh... Loh?


Kalau dipikirkan, aku memang mengikuti kata hati untuk berkutak langsung dalam keseharian mereka yang tidak damai. Namun aku tidak pernah memikirkan kenapa aku merasakan itu.


Rasyi memang suka kepo dan ikut campur walau tidak suka diperlakukan sama. Ya, itu karakter negatif.


Meskipun begitu, aku selalu mempunyai alasan. Contohnya seperti masalah papa. Tentu itu masalahku sendiri karena kau sudah masuk ke dalamnya sejak sebelum aku bereinkarnasi.


Lalu kalau masalah ini... Apa alasannya?


“Alasan apa, terserah. Kami sudah minta maaf. Bisa keluar sekarang?!” marah Saga tidak tanggung-tanggung.


“Sag, apa gunanya kita minta maaf kalau begitu?” suara Vian terdengar sangat pelan.


Haaa, sudahlah, “Iya, aku keluar.”


Tidak ada alasan lain selain memang khawatir. Dan sejauh ini, mereka baik-baik saja.


“Aku juga minta maaf,” aku harap mereka menerima ini serius, “Dan Vian, kalau masalahmu dengan Saga bisa jadi pikiran kamu, lebih baik cerita dan minta maaf. Hanya masukan.”


Hal itu memang masalah sederhana, tapi tak berarti itu bukan apa-apa. Vian saja sampai kambuh saat memikirkannya. Akan lebih baik mereka menyelesaikan masalah sekecil apapun, termasuk Saga yang tidak bersemangat.


Lagipula itulah awal kekhawatiranku pada mereka.


Namun, mau bagaimanapun, itu tetap keputusan mereka.


“Kenapa Vian harus minta maaf?” Saga kelihatan tidak suka.


Vian kelihatan ragu, “Tidak. Bukan apa-apa.”


Dia mau mengurungkannya hanya karena itu? “Saga, Vian menyesal sudah halangi kamu gara-gara sakitnya. Dia sampai begini buat temani kamu loh. Maafin saja, ya?”


“Marah?” Saga menunjuk Vian, “Yang marah kamu, kan?”


Heh?


“Soalnya kan aku tidak paham sama badan kamu. Sering maksa kamu macam-macam.”


Eh?!


Tunggu. Tunggu! Sebelum kerumitan ini semakin membingungkan, mari kita luruskan sejenak.


Jadi Vian berpikir Saga marah karena dia sakit. Dan Saga mengira Vian marah karena tidak dipedulikan sampai sakitnya kambuh.


Kenapa mereka malah sama-sama bingung?!


Aku berpikir sejenak sambil memainkan jariku di atas bibir, “Kayaknya kalian harus ceritain perasaan satu sama lain.”


“Ih, ngapain?”

__ADS_1


Oh, ya tuhan.


__ADS_2