Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#85 Mari Kita Bicarakan


__ADS_3

Aku benci diriku sendiri.


Bukan. Ini bukan pembicaraan tentang penyesalan hidup yang tidak bisa di korek hilang.


Namun....


“Uhuk! Uhuk!!” tenggorokanku sakit sekali!!


“Minum obat dulu baru tidur lagi,” papa mengelus keningku yang ia singkirkan poninya.


Huuu huhuhu..., menyedihkan!


Tidak salah lagi aku pucat waktu itu di tengah kelas, tapi aku tidak merasa sakit. Aku bahkan kuat untuk berjalan dari parkiran ke lobby rumah sakit yang harus menyeberang panas matahari.


Baru saja aku pulang dan aku langsung tumbang seperti ini?!


Masa dari rumah sakit malah tambah sakit, sih?!!


“Duduk dulu,” papa menuntunku perlahan sampai aku bisa terduduk dengan nyaman.


Perlahan tubuhku, yang seperti mau mogok kerja ini, memahami situasinya. Menggerakkan tangan itu untuk menyambut obat dan gelas yang didekatkan papa.


“Di sekolah ada apa lagi?”


Hmm? Sekolah?


Ada apa di sekolah?


Duh, sungguh! Otakku tidak bisa berpikir. Ingat-ingat hari ini di sekolah ada apa⏤tidak bisa!


Memang kenapa di sekolah... Oh. Iya, benar. Itu juga alasan kenapa aku sakit secara instan sekarang.


“Harun, hmm?”


Aku tersenyum asam. Bisa-bisanya orang tua ini tahu segala hal tentang hidupku. Lebih dari aku yang menjalaninya.


Mungkinkah selama ini ternyata semua orang tahu seperti apa Harun itu? Itu lebih buruk.


Kehidupan pertama yang terlalu monoton, dan yang kedua terlalu warna-warni. Huuuh..., drama sekali kehidupanku. Sungguh dipermainkan dengan anak-anak kurang ajar yang bahkan tidak sampai setengah umur jiwaku.


Sungguh?!


“Berhenti memikirkan sesuatu sampai gini,” papa tampak mengambil satu bungkus kompres dingin.


Mau bagaimana kalau mereka selalu mendatangi aku seperti mimpi buruk. Dan kalau aku berhasil membuka topeng menyeramkannya, aku selalu menemukan mimpi buruk yang lain.


Seperti sekarang.


“Apa Harun juga ancam papa?”


Papa tampak mendekat. Ia merekatkan pendingin yang senantiasa ditempelkan di keningku.


Terdengar jawabannya yang aku tunggu, “Ancam apa?”


“Entahlah. Buat jauhin Rasyi?”


“Tidak sih,” papa memperbaiki duduknya di ujung ranjang, “Cuma suruh biar lebih perhatiin Rasyi.”


Aku menatapnya, “Maksudnya?”


“Dia mengamuk tentang Kirana ke rumah.”


Heh?


Kuberanikan bertanya, “Dia bilangnya apa?”

__ADS_1


Papa terdiam, “... babi kayak papa tidak cocok jadi ayah.”


Heh?


“Apa?!” aku tidak bisa percaya, “Harun begitu ke papa⏤”


(“IYA, MEMANG!!”)


Teriakan rekaman ulang yang baru saja tadi pagi. Lewatnya yang seperti lampu yang berkedip. Membuatku semakin yakin kalau, begitulah jadinya.


Aku bahkan tidak menyalahkan ingatanku akan Harun yang semakin kasar dan tak aku kenali.


Pandanganku masih tak bergerak dari kakiku yang tertutup selimut tebal, “Apa Harun selalu begitu kalau sama papa?”


“Hmm mm,” ia mengiyakan tanpa membuka mulutnya.


Aku mencengkram keras selimut yang sudah menghangatkan sebagian dariku. Beban yang tidak terlihat ini sungguh membuatku semakin mual.


Seketika aku berpikir. Memang sebodoh inikah aku sampai tidak bisa menyadari sikap Harun kepada orang-orang sekitarku? Kenapa aku tidak bisa menyadarinya?


Harun, apa dia sengaja menjaga image-nya di depanku, dan hanya di depanku saja? Dia mungkin merencanakan sedemikian rupa sampai sekarang sejak... tidak mungkin sejak pertama kali bertemu kan?!


“Sejak kapan dia kayak gitu?” aku mulai mencondongkan diriku ke arah papa.


Papa terdiam. Ia mengintip dari balik punggungnya selagi ia duduk membelakangiku di ujung ranjang. Wajahnya yang tak sering bermakna sesuatu itu tetap natural seperti tidak pernah menghadapi apapun.


Namun sekali lagi, aku melihat matanya lebih menunjuk artian. Apa ia sedang khawatir?


Tangannya kanannya yang lebih dekat ke arahku, menjulur dan mengelus samping keningku dengan punggung tangannya.


Suaranya yang rendah mulai terdengar, “Dia ngapain ke Rasyi?”


Kalau pertanyaannya seperti itu, tidak ada hal lain yang bisa aku katakan selain hal-hal baik.


“Tidak ada. Dia lembut kok sama Rasyi,” aku menggenggam tangannya dan menahannya di pipiku, “Tapi Rasyi lihat muka Vian habis babak belur. Kata Firna....”


“Awalnya tidak. Aku sampai kelahi sama Firna. Tapi....”


“Rasyi juga sadar kan, Harun juga bisa kasar.”


“Iya, tapi, Rasyi pikirnya....”


“Itu cuma khawatirnya Harun?”


Aku bisa saja tertawa kalau pembahasannya tidak menyayat hati seperti ini. Papa sungguh membacaku dengan sangat mudah, layaknya buku yang sering menemani dia saat tidak bisa tidur.


Papa menghela nafas. Ia mengubah arah duduknya kepadaku. Sampai harus menaikan satu kakinya ke ranjang.


Tanganku, yang masih bergelantung dengan tangannya, akhirnya turun ke permukaan ranjang. Bergandengan dan tergantung-gantung seperti saat anak kecil yang berjalan-jalan dengan orang tuanya.


“Sekarang, Rasyi mau apa?”


Aku memusatkan keningku ke satu titik di tengah bersamaan dengan menatapnya, “Itu yang Rasyi bingungin. Rasyi tidak tahu.”


“Coba, Rasyi backward dulu. Sebelum ini, Rasyi berharap apa sama orang sekitar Rasyi?”


Hmm? Kenapa membahas itu?


Kalau seperti itu..., “Harun lembut, si kembar jahil tapi ya fun, Firna tidak pernah bohong sama aku.”


“Lalu, masalahnya ada di siapa?”


“Harun.”


Wow. Bagaimana bisa aku tidak pernah menyadari kalau mulutku pun bisa mengatakannya dengan gamblang seperti ini? Sungguh, seberapa banyaknya kejanggalan yang aku terima dari sosok Harun. Aku bahkan tidak percaya sebesar itu padanya.

__ADS_1


Padahal selama ini Harun selalu jadi sosok yang paling lembut.


“Rasyi jangan mikir solusinya dulu. Masih salah itu di Rasyi. Rasyi percaya yang mana? Harun lembut, atau kasar?”


Heh...? “Keduanya.”


Papa kenapa sempat tertawa begitu sih? “Iya, orang memang bisa kasar bisa lembut. Tapi Rasyi percaya atau tidak, Harun punya sisi kasar sampai kayak gitu?”


Aku terdiam. Tidak bisa menjawab.


“Jangan hubungin sama sukanya Rasyi ke Harun. Apa yang Rasyi lihat dari Harun? Sebagai orang aja.”


“Maksudnya?”


“Ini yang salah. Rasyi percaya Harun kasarin teman-teman Rasyi. Tapi saking sukanya sama Harun, Rasyi tidak mau salahkan Harun.”


Heh? Aku seperti itu?


“Papa akui Rasyi itu peka. Terlalu peka. Papa tidak harap Rasyi bisa paham tentang si Hari.”


Apa dia membicarakan bagaimana aku tahu tentang si kakek tidak berakhlak itu?


Itu sudah jelas kan? Aku sudah mendengarnya sejak aku umur delapan bulan... iya ya. Tidak mungkin secara masuk akal anak umur belia bisa paham akan hal itu.


Dan papa menganggapnya sebagai kepekaanku.


“Tapi, peka Rasyi punya titik buta,” dia mengetuk keningku dengan tangan satunya yang bebas.


“Titik buta?” seperti game saja, “Apa?”


“Rasyi tidak pasang prasangka buruk sama orang yang Rasyi suka. Keras kepalanya Rasyi tidak sehat.”


Aku seperti itu selama ini? Penilaianku terhadap orang lain sejauh pilih kasih saja?


“Makanya, Rasyi tidak percaya sama Vian Saga. Kamu pasti bela Harun,” sejenak papa tampak berpikir, “Mereka tahu, makanya sedikit jauhi Rasyi. Rasyi sadar kan?”


Aaaa... ha ha ha... aku teman yang kurang ajar juga ya.


“Sekarang, Rasyi harap Harun gimana?”


Aku terdiam sesaat, “Tidak ancam apa-apa ke siapapun.”


Papa tersenyum samar. Mengelus kepalaku dengan lembut, “Then, bilang ke dia kayak gitu. Yang tegas. Minta maaf yang jelas juga sama Firna.”


Huuuh.... Kurasa itu yang memang terbaik.


“Rasyi, dengerin papa,” dia menggenggam lebih erat tanganku yang tidak lepas dari tadi, “Papa paling tidak suka Harun.”


Eh?


“Tapi, kalau Rasyi memang mau sama Harun. Papa tidak akan halangi. Asalkan satu, kalian perlakukan baik satu sama lain. Tidak ada keluhan, yang besar.”


Ia mendekat dengan mengetukkan keningnya dengan keningku.


“Pastikan itu, hmmm?” suara rendah itu sangat dekat.


Aku tersenyum. Papa, bentuk es batu dingin ini, memberikan rasa hangat yang selalu dinanti. Hihihihi.


“Hihihi, iya,” aku langsung mendekat dan memeluk lehernya, “Love you, papa.”


“Love you too,” dibalas pelukanku⏤eh? “Sekarang tidur.”


Dia tiba-tiba mendorongku untuk berbaring?!


“Tidak mau~ Pegel!!” aku mengeluh.

__ADS_1


“Makanya jangan sakit.”


Iiiiii!!


__ADS_2