Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#93 Hari Libur


__ADS_3

Ini semakin parah.


Pertama, Harun melakukan hal yang keterlaluan di belakangku.


Kedua, saat aku mau memperbaikinya, Harun seakan punya peraturannya sendiri. Dan kami malah berkelahi besar.


Ketiga, papa sudah tahu dan jadi turun tangan.


Dan sekarang, semuanya seakan tidak bisa diperbaiki sama sekali.


Lalu aku harus apa?


“Hei,” belaian lembut itu justru mengejutkanku, “Jangan melamun terus.”


Aku langsung tersenyum, “Hihihi,” sungguh aku tidak bisa memikirkan respons lain.


Tidak ada kedamaian akhir-akhir ini. Bahkan sosok yang aku merasa akan membuat aku lebih tenang sedang bersitegang denganku. Kak Fares masih saja memilih untuk menjauhiku.


Dia di mana sih? Kita kan perlu diskusikan banyak hal. Setidaknya berikan aku waktu untuk meminta maaf.


Aku tahu ini salah Harun. Namun, salah siapapun itu, kak Fares pantas menerima permintaan maaf. Pria ini tidak melakukan apapun yang salah dan ia malah harus menerima banyak hal buruk.


Harus aku pikirkan cara untuk bertemu dengannya meski hanya sebentar.


“Coba donatnya, tante yang buat loh,” Sari mengulurkan aku sepiring donat buatan rumah dengan segala topping yang menggoda.


Well, dengan senang hati. Masuklah kau ke mulutku, donat!


“Kita pulang,” kembali saat dimana papa akan menyerah.


Langsung aku menahan lengan bajunya untuk tidak kemana-mana. Walaupun ternyata Sari ada di sini, tetap saja kita harus memikirkan rencana untuk Anniv. Ini sudah di penghujung Januari.


“Aku mau lanjut kerja,” tante Ira sepertinya juga mau menyerah.


Kutahan kedua tangan mereka. Melancarkan tatapan mata melotot untuk para dewasa yang kehilangan semangat ini. Berusaha menekankan, ‘jangan sekali-sekali berpikir untuk tidak memikirkan ini dengan lebih serius!!’


Sari duduk bersama kami dengan Daffa yang sibuk menyerahkan dan mengambil mainan yang ada di tangan Sari.


Aku membuka pembicaraan, “Tante Sari tidak urusin catering lagi?” tersenyum agar terlihat pengalihan ini natural.


“Nanti ada tamu. Teman-teman tante mau main ke sini.”


Terbuka wajah Hendra yang sedari tadi santai membaca korannya, “Siapa?”


Kebingungan Sari menatap suaminya, “Aku tidak bilang? Teman-teman yang kemarin ketemu, mereka mau main ke sini.”


Maksudnya termasuk mantan pacarnya tante Sari? Sepertinya memang benar, karena reaksi wajah Hendra tidak menyenangkan.


Uuuuu~ Ada yang tidak bisa menahan cemburunya~


“Oh, mantan kakak gimana kabar?” Ira sepertinya mau mengerjai si Hendra.


Namun Sari tampak biasa saja, “Satria? Dia juga ikut. Kenapa?”


“Tidak papa sih~ Ternyata fine-fine aja ya padahal udah putus.”


Sari tersenyum, “Kan sudah putus bukan berarti tidak teman lagi.”


Wah. Tambah panas tuh si paman Hendra. 


Aku hanya tertawa kecil melihat tante Ira yang sedang senang menjahili kakaknya sendiri dengan berbagai macam cara.


Hmm? Papa mau pergi ke mana?


“Rasyi sudah makan siang?”

__ADS_1


Aku memandang Sari lagi, “Sudah, sebelum berangkat tadi.”


”Ikut makan malam di sini kan?” Sari tampak senang menyambut aku di rumahnya.


Dia tetap saja menganggapku anaknya meski bukan terhubung oleh darah. Kasih sayang Sari sungguh berkesan.


Meneleng kepalaku, “Tidak tahu sih. Terserah papa kalau itu.”


“Kok terserah papa? Rasyi mau tidak?”


Apa yang menghalangiku. Semua PR-ku selesai lebih awal, dan Sabtu yang panjang ini tidak perlu memikirkan pelajaran. Berkah bagi sekolah Fullday.


Kuhabiskan donat sampai habis dari tanganku, “Mau dong. Masakan tante kan enak~”


Sari tertawa manis dan masih mengelusku lembut.


“Kak Sari,” loh, balik lagi si papa, “Ada orang.”


“Oo!” Sari tampak senang berdiri dari duduknya, “Sudah sampai.”


Sari berjalan dengan anggunnya menuju pintu depan yang terbuka. Aku masih bisa melihat wajah orang-orang itu karena tempat ini masih ada terhubung dengan ruang tamu.


“Yang mana mantannya, kak?” Ira masih saja berlanjut.


“Ira, diam,” Hendra sepertinya sudah lebih dari cukup untuk menerima ejekan dari adiknya.


Aku jadi ikut penasaran dan memandang ke arah ruang tahu yang ramai. Berusaha mencari tahu yang mana paman Satria ini.


“Sini tangannya,” hmm? Papa?


Ternyata dia sudah memegangi kotak P3K, yang aku yakini itu persedian dari mobil papa. Mungkin karena itu papa keluar tadi.


Kubiarkan papa merawat luka di tanganku.


“Oh, yang itu kah?” tante Ira terdengar bersemangat.


Aku jadi ikut bersemangat, “Yang mana? Yang mana?”


Oh. Ada laki-laki yang tersipu saat bicara dengan Sari. Jelas sekali kalau dia menyukainya. Meski anak satu-satunya Sari sudah ada di semester tiga perkuliahan, Sari tetap saja wanita cantik yang anggun.


Dan..., suaminya sedang cemburu di sini.


Hihihihi! Lucu sekali melihat paman Hendra seperti ini. Jarang-jarang loh paman Hendra menggambarkan ekspresi asam.


“Loh?”


“Dia....!!”


Ups. Sepertinya, si Satria itu sudah keterlaluan. Dia duduk dekat sekali dengan istri orang. 


Duh duh! Paman Hendra jadi bergerak kan. Kalau seperti ini, yang ada malah akan jadi perkelahian.


Aku harus hentikan.


Loh? Papa? Kenapa papa menahanku untuk berdiri? “Biarin saja. Hendra paham kontrol diri.”


Dari mananya?!


“Kakak begitu lagi,” Ira masih santai saja? “Lihat deh, Rasyi, tuh~”


Apanya⏤sejak kapan paman Hendra duduk di antara Sari dan Satria itu?


Memang tidak bisa terdengar jelas karena terlalu ramai di sana. Namun sudah jelas. Hendra sangat tegas dan tenang duduk di sana sedangkan si Satria tegangnya sampai ke alisnya.


Dan Ira tadi bilang ‘begitu lagi,’ kan?

__ADS_1


Sari tampak ramah memberikan kudapan pada paman Satria ini, dan Hendra tidak memberikan reaksi saat Satria menerimanya. 


Eh, tapi kok?!


Paman Hendra tiba-tiba merengut? Ke arah Sari?


Tidak, itu bukan marah seramnya paman Hendra, dia seperti..., Hendra jadi, bagaimana ya aku menjelaskannya...?


Aku menemukannya, “Kayak anak kucing,” iya, itu!


Heh? Kenapa Ira dan papa malah tertawa?


“Gitulah. Malah cari perhatian,” Ira masih belum bisa berhenti tertawa.


Aku kebingungan, “Kenapa paman tidak marah ke mantannya tante Sari?”


Misalnya mantan balik menggoda istrinya, tentu suaminya akan marah kan?


“Huuuh...,” papa menghela nafasnya, “Lingkungan Rasyi ternyata terlalu toxic....”


Toxic?


Kenapa? Kan wajar kalau Hendra marah kan?


“Marah bukan berarti selesai,” papa menyangga wajahnya dengan siku di pegangan kursi, “Paman Hendra paham itu.”


Hmmm..., memang sih. Kalau semuanya bisa selesai tanpa pertikaian akan jauh lebih baik. Apa semua masalah seharusnya selesai dengan seperti ini? Maksudku, hal yang wajar kan kalau manusia saling berdebat?


Bahkan aku dan Fares seperti itu. Walaupun itu tidak pernah terjadi....


Loh? Panggilan dari ponselku?


“Siapa?” papa, dia tampak waspada.


Aku pastikan dari siapa itu, namanya jelas terlihat, “Vian....”


Kenapa dia menghubungiku?


“Halo, Vin?” apa ada yang darurat?


[“Ras, kamu di rumah kak Fares kah?”]


Eh? “Iya. Kenapa?”


[“Kami ada di luar.”]


Heh? Di luar rumah? Dia dan Saga?


“Ngapain?”


[“Mau masuk tapi banyak tamu. Panggilkan kak Fares keluar bentar.”]


Ini suara Saga.


“Kak Fares lagi gak di rumah.”


[“Yah....”] 


[“Di kampus kali?”] 


[“Bisa sih... ya udah. Kami langsung ke sana. Kututup.”] 


Eh? Mereka mau ke Fares?!


“Tunggu! Aku ikut!”

__ADS_1


__ADS_2