Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#21 Debat Saja lagi!


__ADS_3

“Kok Sovian bisa masuk IGD?”


Fares mengeluarkan tatapan sendu. Bisu mengambil alih mulutnya.


Padahal Sovian selama ini sehat-sehat saja. Bahkan terlalu banyak energi untuk mengerjaiku. Tanda-tanda masalah tidak terlihat sama sekali.


Seketika tangan menepuk kepalaku. Ini pasti tangan Fares.


“Jangan terlalu khawatir,” suaranya yang menenangkan. Padahal Fares pun tahu IGD bukan hal baik.


“Sakit apa?” Harun melipat tangannya. Ia tidak terlihat khawatir.


“Tidak parah kan?” aku menggenggam tangan Fares yang belum lepas dari kepalaku, “Iya kan?”


Fares menggosok pelan rambutku yang masih terikat, “Tidak papa kok. Cuma asma.”


Asma? “Kalau sampai ke IGD, bukannya malah buruk?!”


“Itu masih gejala kambuh biasa kok. Ini bukan pertama kali. Tapi asmanya kadang makin parah karena Vian suka cuek,” Fares melepaskan tepukan kepalaku dan menggerakan kedua tangannya menahan bahuku, “Sebentar lagi juga selesai kok.”


Bukan pertama kali? Maksudnya ini sering terjadi?


Samar-samar teringat.


Kembar ini termasuk terkenal di sekolah. Apapun tingkah mereka, selalu terbawa arus percakapan penduduk sekolah. Tanpa mencari tahu, berbagai kabar sampai di telingaku.


Salah satunya tentang Sovian yang tidak pernah sekalipun ikut pelajaran olahraga. Bahkan di grup basket, dia hanya bertugas menjadi asisten manajer atau semacamnya.


Hmm? Pipiku ditekan oleh kedua tangan dengan hangatnya. Kak Fares?


“Sudah. Jangan terlalu dipikirkan,” Fares menarik ikatan rambutku yang terasa berantakan. Ia merapikan sedikit rambutku yang terurai dengan jemari itu, “Papanya Rasyi sudah di dalam. Pasti tidak apa.”


Aku menarik poniku dan merapikan sebisanya.


Kelakuan manis layaknya seorang kakak kandung. Sungguh bisa membuatku tenang ikut tersenyum.


“Iya,” aku juga harus percaya.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Rasyi....”


Hmm? Siapa?


Kubuka mataku. Tubuhku terasa kaku. Apa mungkin karena aku tidur dalam posisi duduk?


“Rasyi, ayo pulang. Biar kakak antar.”


Hmm? Oh, kak Fares. Pasti aku tertidur di pundak Fares selagi menunggu kabar Vian. Jam berapa ini?


“Vian sudah di pindah di kamar inap kok,” loh, paman Dito sudah berdiri di depanku, “Nak Rasyi pulang aja.”

__ADS_1


Aku menggeleng sambil menggosok kecil mataku, “Boleh kan jenguk Vian sebentar?”


Beliau tersenyum lebar, “Oke, ayo.”


“Harun,” kata Fares mengingatkanku akan Harun yang masih duduk di sampingku, “Pulang aja duluan, Rasyi bisa kakak antar⏤”


“Tidak. Aku bisa antar Rasyi.”


Fares layaknya tak bertenaga untuk menjawabnya.


Ya, semuanya sudah lelah. Dengan kabar Vian sudah baik, semua ketegangan itu tentu meninggalkan rasa lemas.


Dengan rumah sakit yang sudah sepi, kami menuju kamar yang dimaksud.


Oh, papa sudah menunggu di depan pintu. Ia menatapku yang akhirnya sudah berdiri di depannya. Kami berdiri di sana selagi yang lain masuk ke ruang inap kelas satu, melihat keadaan Vian.


Rizki mengelus pipiku dengan kedua tangannya. Membawanya mengitari wajahku selayaknya ia membersihkannya dengan tangan kosong.


Wajah itu menyambutku seakan ia memang khawatir, “Kita pulang.”


“Sebentar saja, Rasyi mau lihat Vian.”


Tak banyak berkomentar, ia memberikan dorongan pelan punggungku untuk memasuki ruang yang masih terbuka. Memasukinya dan membiarkan suara pintu tertutup.


Sovian, di samping wajahnya yang tampak lesu dan tak bersemangat, ia tampak kuat menduduki ranjang bersih serba putih itu. Tidak salah lagi kalau ia kambuh, tapi seharusnya ia baik-baik saja.


Ia melihatku masuk, memikirkan hal lain di balik matanya yang lurus ke arahku, “Mana Saga?”


“Saga tidak ada kelahi kan?” menunjukkan jelas dalam pikiran itu terlintas banyak hal, “Dia sudah dapat peringatan. Gak ada kelahi lagi kan?!”


Aku merasa harus menjawabnya, “Tidak kok.”


Dia menghela nafas. Sepertinya dia sungguh sayang dengan saudaranya. Walaupun ia adalah sosok pembuat onar yang merepotkan.


“Terus, sekarang dia di mana?”


“Yang sakit itu kamu. Tidak usah manjain dia,” papa dengan kalimat kejamnya, “Besok pulang istirahat dulu di rumah. Kalau kamu sekolah, nanti ketular bodohnya Saga. Aktifnya tidak pakai pikir.”


“Hmmm... benar juga,” rasanya aneh mendengar persetujuan dari orang tua akan hinaan pada anaknya.


Namun aku tidak bisa tuli akan nasihat papa dan tidak bisa pula menentangnya. Sovian harus istirahat sebelum kambuh lagi.


“Saga tidak bodoh,” Vian, ia masih kuat untuk bersikap marah di tengah lemas tubuhnya.


“Tapi dia buat repot. Ke kamu ke anakku. Sampai dia bingung mau apa kayak orang tidak bisa mikir,” aku juga SAYANG papa! “Jangan bikin buruk sakitmu sendiri.”


Ha ha ha, benar memang. Aku yang tidak tiap hari bertemu Saga saja sudah lelah.


“Kalau tentang anak dokter kan itu karena dia sendiri,” dia menatapku dengan kesalnya, “Kak Rasyi, maaf sudah merepotkan. Tapi tolong berhenti cari perhatiannya. Tidak ada yang minta kakak begitu.”


Apa?! Dia bilang apa di tengah sakitnya itu?

__ADS_1


“Vian!” suara wanita ini terdengar jelas kemarahannya, “Rasyiqa udah tunggu kamu di sini dari sore. Begitu caranya terima kasih?”


Paman Dito memegangi kepalanya, “Anak ini sudah ketularan Saga. Sampai lupa diri.”


Setuju kan semuanya? Vian tidak sakit. Itu hanya sakit satu malam saja. Dia sehat sekarang~!


“Dasar...,” duh Harun, tenang.


Kini, saat ini, detik ini, aku yang akan mengatakannya.


“Maaf aku suka ikut-ikutan,” aku masih mempertahankan senyumku, “Sepertinya pertemuan pertama kita tidak akan berwarna kalau bukan kalian yang menyapa duluan. Bukankah akan menyedihkan kalau kalian tidak duluan mengejekku~?”


Aku berhasil membuat seisi ruangan hening.


“Kalian memberikan aku surat, buket dan bahkan toples penuh dengan ejekan kalian yang kreatif. Aku sungguh terharu. Makanya aku khawatir saat Saga cuekin aku kemarin-kemarin,” aktingku yang hebat... tunjukkanlah wajah sedih.


“Mereka ngapain?” paman Dito terkejut.


“Tenang, paman. Mereka hanya melakukannya satu bulanan lebih. Daripada itu, mereka sudah dengan baiknya memberikan tugas kelompok mereka padaku? Manisnya, bukan~?”


“Vian!” ibu itu marah.


“Aa, itu...,” sampai keringat dingin tuh pasiennya~


“Loh? Vian dan Saga tidak beritahu?” aku berubah sedih meski bukan di hati, “Apa aku jadi mengacaukan surprise atau sesuatu? Maaf. Seharusnya kita lebih banyak kumpul dan cerita-cerita. Seandainya kalian lebih percaya kalau aku peduli sama kalian⏤”


“Heh!”


Kulanjutkan senyumku, “Wah papa, Rasyi sedang sedih nih~ Masa diketawain~”


“Heh, maaf,” papa~ Bukannya sudah selesai waktunya tertawa? “Lanjutkan.”


Dinosaurus ini pasti paham kalau aku sedang marah. Tambah lagi sekarang, ya aku pastinya lebih marah lagi mendengar dia tidak serius.


Untung tawa papa kelihatan tampan. Kalau tidak dia akan jadi pusat kemarahanku lebih dulu daripada si kembar membawa sial ini.


Ya, orang yang tidak ahli menunjukkan rendah diri ini harus pertama kali dimarahi karena merepotkan orang. Bahkan tidak ada rasa terima kasih sama sekali selama aku membantu mereka. Perlu diberi pelajaran seperti apa biar dia kapok?


“Vian!” paman Dito, dia sudah tidak bisa menahan amarahnya, “Kamu itu kakaknya Saga, seharusnya kamu bimbing adik kamu biar tidak keterlaluan! Malah ikutan tidak jelas!”


“Itu cuma bercanda, ayah,” suara pelan Vian bukan dari kondisi tubuhnya, tapi karena ia tahu dia tertangkap basah.


Padahal aku hanya menyinggungnya. Tidak aku sangka orang tuanya tidak tahu tingkah anak mereka dan keluhanku menjadi aduan tidak langsung.


“Kakak kelas yang kamu ganggu itu anaknya dokter yang rawatin kamu dari kecil! Kamu bikin malu ayah!”


“Sudah, kak,” papa tiba-tiba memotong amarah paman Dito. “Tidak bagus buat mentalnya Vian. Nanti malah tambah buruk.”


Paman Dito menghela nafas, “Maaf, Gilang, anakku ini kebanyakan tingkah,” ia berikutnya menatapku, “Maaf ya nak, repotin kamu.”


Duh, situasinya semakin berat, “Iya kok, paman.”

__ADS_1


“Bukan itu, kak,” papa memulai lagi percakapan, “Ada hal, yang perlu anak-anak sendiri yang selesaikan.”


__ADS_2