Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#134 Rusuh di Mall Lagi


__ADS_3

“Ini privasi orang loh,” Firna tidak nyaman dengan semua ini.


Saga semakin menajamkan matanya, “Aku sama Vian lahir samaan. Jadi bisa dianggap aku sama Vian orang yang sama.”


“Alasan bagus,” sindiran tidak langsung, keluar dari mulutku sesaat aku memandang ke arah yang sama dengannya.


Firna menarik-narik bajuku, “Ayo pulang. Biarin mereka date berdua.”


“Kamu tidak geregetan? Mereka keluar bareng terus, tapi tidak ada perkembangan,” aku yang geregetan.


Sejauh ini aku sudah membela-bela untuk pergi. Hari libur seperti ini memang paling menyenangkan itu mencari bahan gosip. Walau tidak bisa diceritakan ke teman-teman luas, aku bisa melihat bumbu apa yang ada di hidangan depan kami.


Kalau perlu, aku akan pastikan kedua orang ini pacaran!


“Btw, kapan kamu cat rambut?”


Saga kenapa tiba-tiba bahas itu?


“Ini namanya wig,” aku memperhatikan lebih jelas kedua orang yang duduk di sisi taman mall itu.


Kenapa lagi nih anak? “Kapan kamu beli wig?”


Tolong nih, kita sedang memata-matai orang, bukannya merumpi pakai teh hangat dan ditemani crossone!


Aku tersenyum, “Sejak aku sadar aku punya banyak uang.”


“Tidak ada gunanya, tapi dibeli.”


Sungguh?! “Ini supaya bisa aku sumpal di mulutmu. Diam bisa tidak sih?!”


“Kalian ngapain?”


Aaaa....


“Oh, Rasyi manis banget rambutnya coklat wavy gitu~?” Riri, salah bahasan tuh.


“Kalian tidak lagi...,” Vian kelihatan lelah khususnya di urat lehernya yang tegang itu.


Memang sih aku merasa hal seperti ini akan ketahuan cepat atau lambat. Penyamaran murahan seperti di komik-komik negeri timur ini terlalu sering terjadi dan terlalu aneh kalau tidak ketahuan.


Namun, aku akui, aku mengharap bisa seperti ini sedikit lebih lama.


“Saga! Kamu tuh! Urusin kerjaan sendiri!” duh, Vian marah beneran.


Riri tertawa, “Ya tidak papa dong, Vin, mereka kan cuma penasaran.”


Bukan begitu juga. Aku lebih paham marahnya Vian kalau keadaannya seperti ini.


“Kamu tidak maju-maju. Tembak cepetan, baru aku bisa pulang!” wah, blak-blakan sekali Saga~ Bodoh!


“Tembak?” Riri kok bingung?


Vian makin dekat kemari, “Diam, Sag!”


“Iya nih. Diem.”


Tidak. Ini keadaannya bukan keduanya mau berkelahi lagi. Keadaannya lebih tepat kalau satunya emosian dan satunya masih bercanda.


Namun tetap saja! Mereka berdua mau meledak!


“Stop.”


Heh?


“Apa lagi kali ini?”


Kak Fares~! Selalu datang layaknya superman yang senantiasa hadir di bangun dan tidurku~


Bangun? Tu, kenapa kak Fares ada di sini?!


Fares memandang ke satu orang walau kedua tangannya masih menahan kepala si kembar, “Clarisa, ngapain?”


Si Clarisa ini malah senyum tidak bersalah, “Date bareng Vivin~”

__ADS_1


Vivin?


Vivin?!


Muka si Vian merah, “Riri!”


Dia Vivin-nya?!


“Oh,” Fares kayaknya sempat kaget, “Terus kalian bertiga?” Fares akhirnya lepasin kepala si kembar.


Duh, nanti aku bisa kelihatan buruk di depan kak Fares....


Langsung aku peluk kak Fares, “Kak~ Aku dipaksa Saga buat buntutin Vian~!”


“Eh! Hei! Penghianat!” Saga berisik!


Fares terdengar menghela nafas, “Rasyi....”


Buang wajah! Buang jauh-jauh!! Tidak tahu lagi tentang malu! Dibuang saja!


“Gimana kalau ikut kakak?” suara Fares bersama dengan tepukan di kepalaku, “Kalian bertiga.”


“Ke mana?”


Benar juga. Kak Fares katanya mau mengurus kuliah. Lalu kenapa dia ada di mall?


“Ngumpul di working space. Bisa pesan ice cream di sana,” kak Fares masih meletakkan tangannya di kepalaku.


“Harus?” tempat seperti itu memang bukan gayanya Saga.


Fares berubah posisi dan menepuk kepala Saga, “Kakak maksa. Ayo.”


Well, daripada disuruh pulang. Aku lebih suka jalan-jalan dengan Fares. Lebih menyenangkan daripada membuntuti pasangan yang tidak pernah jadi ini.


“Have fun,” Fares meninggalkan pesan pada kedua orang ini selagi kami jalan.


Siang ini memang tidak terlalu banyak orang. Ramainya pasti datang di sore sampai malam hari. Kami lebih tidak masalah dengan matahari dan menerobos langsung ke tempat ber-AC seperti ini.


“Sudah cukup sembuh buat berhentiin kalian ribut di mall,” Fares masih tersenyum.


“Aaa... I know, maaf.”


“Kak Fares memang sering ngumpul di mall?” Firna sepertinya tertarik.


Fares memandang perempuan yang di sampingku ini, “Kalau pada bosan di kampus, sering ke sini. Nugas lebih enak dikerjain di luar.”


Memang hidupku penuh dengan drama. Jadi keseharian seperti ini memang terasa asing. Walau hidup Sekar selalu terasa kekurangan banyak bumbu. Namun hidup Rasyi yang terlalu banyak bumbu juga memuakkan.


Well, kurasa memang harus ada kesannya. Selalu harus dinikmati apapun itu.


Termasuk menelusuri tempat baru. Mall ini memang tujuan utama liburan per minggu dengan papa sejak kecil. Namun tentu aku tidak memasuki setiap petak toko. Salah satunya coworking space ini.


Petak yang memberikan ruang duduk yang nyaman untuk bekerja. Dengan ruang-ruang privat yang disewakan terpisah.


Di zaman Sekar tidak ada yang seperti ini. Kebutuhan memang mengubah segalanya.


Sampai akhirnya aku bisa merasakan ruang privat yang bermeja panjang dan banyak kursi yang nyaman. Layaknya ruang rapat yang dibuat estetik.


“Ke toilet mana kamu?”


“Halo~”


“Maaf,” Fares menyapa kawan-kawannya, “No mind kalau mereka ikut ngumpul kan?”


“Apa nih? Jadi babysitter?”


“Ye,” Saga ikut ke kerumunan orang-orang besar itu, “Keren gini dibilang bayi!”


“Kumis tuh cukur.”


“Udah!”


Dia mudah sekali bergaul. Memang sih dia lebih dekat dengan teman-teman kuliah Fares. Namun kalau tidak seluwes Saga, bercanda seperti itu tidak akan mudah.

__ADS_1


“Bah, masih sekolah, warnain rambut!”


Siapa?


“Rambut hitam bagus loh.”


“Lu bilang gitu gara-gara gak bisa warnain rambut kan?”


“Serudung-an, ngapain mikirin warnain rambut kayak Rasyiqa?”


Mereka ngomongin aku?


“Emmm....,” senandung tak keras dariku sudah menarik beberapa dari mereka, “Wig.”


“Owala, wig doang.”


“Real banget. Beli dimana?”


“Ngapain? Mau pakai buat cosplay?”


“Rasyi bagus loh pakainya.”


Kalian ini di sini mengurus urusan kampus atau cuma mau berdiskusi masalah wig? Padahal aku hanya menggunakannya karena aku punya. Tahu seperti ini aku tidak akan pakai wig. Setiap orang heboh sekali.


Namun, aku tidak bisa tidak menyukai suasana ini.


“Ada yang mau pesan makanan lagi kah? Kami mau ke counter nih.”


“Kami kak~!” oh iya, Firna pasti belum makan gara-gara aku ajak pergi.


“Mantan ketua BEM, traktir.”


“Gitu kah?” kak Fares yang sudah duduk tampak tidak menanggapi serius.


“Ye ada Rasyi juga, yang semangat dong.”


Apa hubungannya sama aku? Yang aku dan Firna lakukan hanya duduk di kursi kosong samping Fares.


“Ya udah, kamu yang traktir,” kak Fares masih menanggapi dengan wajah yang tidak berekspresi.


“Wah, gak bisa gitu, Far. Orang misqueen nih.”


“MisKing, MisKing.”


“MisKing, gak tuh.”


Ramai sekali, membuat hatiku senang sendiri. Canda yang tidak berhenti dengan basa-basi yang memenuhi telinga. Tidak ada sisi ketegangan sama sekali. Membuatku tidak bisa menghentikan seringai yang aku rasa sedang aku pamerkan.


“We, Rasyi senyum cantik nye~”


Aku tersenyum sombong, “Iya dong~”


LIhat, bahkan aku bisa bercanda dengan mereka. Meski suara keyboard kak Fares kencang sekali.


“Kakak selesain powerpoint-nya dulu baru nanti kita pulang,” Fares?


Eh? “Kenapa?”


Dia memaku pandangan ke arahku. Terdiam entah kenapa dengan mata yang menelusuri sekitar wajahku. Apa yang ada di dalam pikirannya?


“Cuma...,” Fares seakan bingung, “Itu... kakak masih sakit. Tidak papa ya kita langsung pulang?”


Dia... masih seperti itu. Berbohong.


“Firna,” kak Fares memanggil temanku ini, “Firna mau ke mana habis ini?”


“Aku mau ke rumah nenek, kak. Rencananya Rasyi juga mau telpon om Darma ke sini,” Firna melirik aku, “Kan?”


Mengangguk jelas kepalaku, “Iya.”


“Kalau gitu sebentar lagi kita telpon pak Darma,” Fares kembali fokus ke laptopnya.


Yah... aku kira hari ini hanya akan ada yang senang-senang. Harus aku apakan ya?

__ADS_1


__ADS_2