Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#143 Curhatan Membawa Ribut


__ADS_3

Bagus! Hari ini cerah!


Cewek cantik, yang sedang senang hati ini, mengabaikan desakan papa dokternya untuk menyelesaikan PR dulu baru keluar.


Tema hari ini. Segar, tak takut panas, dan tidak kalah manis dengan bunga Daisy di musim kemarau. Alunan hembus angin di luar pasti akan menerbangkan rambutku yang sengaja aku kepang satu ke belakang.


Dengan lip gloss peach, percaya diri, tidak bisa diam. Bahkan aku tidak segan untuk datang langsung menemuinya.


Ternyata....


Kak Fares tidur di sofa.


“Coba bangunin,” Sari masih mendampingiku.


Aku menggeleng, “Tidak usah, tante.”


Siapa yang tega, tante?!


“Maaf ya, tante tidak tahu kalau kalian mau jalan. Jadi tante biarin,” tante sudah siap meninggalkan kami, “Makan siang di sini kan? Tante buat puding coklat loh.”


Wah~ “Iya~!”


Yah, aku rasa tidak ada rencana lain selain itu.


“Rasyi... ya...?” loh? Kenapa dia bangun?


Kepalanya masih ditopang pegangan sofa di kananku. Aku berdiri seperti ini dan memiringkan kepala sedikit.


Memamerkan wajahku, “Hai~ Kak~”


Waaa! Ja, jangan tiba-tiba bangun seperti itu dong!


“Maaf, kakak ketiduran,” dia berdiri walau matanya masih sipit, “Kakak langsung ganti baju.”


“Loh, tida⏤”


“Bentar ya,” pria ini jelas masih setengah tidur.


Dia pergi begitu saja tanpa dengar apa yang aku bilang.


Kami memang sudah rencana buat kencan siang ini. Itu juga sudah seminggu aku tunggu. Namun....


Tidak!


Langsung aku susul dan menahan tangannya, “Jangan~!”


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Aku beruntung memberikan kado ini ke tante Sari. Jadi aku bisa meminjamnya sebentar. Kubuka kemasan kertas masker yang bulat itu dan memasukkannya di alatnya.


“Rasyi,” suaranya terdengar ragu.


“Ya~?”


“Beneran tidak mau berangkat?”


“Lihat kantung mata kakak. Hitam! Nanti tampannya kurang!”


Kak Fares tertawa, “Terus kenapa Rasyi pakai hoodie-nya kakak?”


“Enak,” aku tunjukkan tanganku yang tenggelam dengan oversized hoodie yang bahkan kugunakan sebagai daster, “Cocok tidak?”


“Tidak kebesaran?”


“Itu intinya yang bikin enak,” aku dorong sedikit dia, “Sekarang tidur.”


Aku memutuskan untuk mengajaknya berbaring di kursi panjang halaman samping. Udara yang tidak panas dengan banyaknya pepohonan seharusnya cukup nyaman baginya untuk istirahat. Ditambah lagi kalau aku pakaikan facial device ini.


Seharusnya ini bisa melembutkan wajahnya sekaligus membuatnya lebih rileks.


“Rasyi mulai ya~”


“Memang boleh buat cowok?”


Mengernyitkan keningku, “Kenapa tidak boleh? Udah tidur saja!”


Kubuat alat yang berbentuk seperti UFO kecil itu menyentuh wajah Fares. Dengan ia menutup matanya, tanganku menggerakkan benda itu berputar-putar di permukaan kulit wajah Fares.


Satu, dua, lima belas menit. Dan aku terus seperti itu sampai tidak terasa kalau Fares sudah tertidur. Aku memperhatikan wajahnya yang terlelap. Detak jantungku yang terngiang di telingaku sendiri⏤


...


Firna?


Yuhuuu Firna. Aku bisa melihatmu dengan jelas. Tidak perlu sok sembunyi di situ. Keluar!!

__ADS_1


“Kenapa, Fir?”


Teman ini memajukan kedua bibirnya selagi memperlihatkan dirinya lebih. Bisa kutemukan wajahnya seakan baru saja mendapati oppa Korea-nya dalam bad ending.


Dan apa yang membuatnya kemari? “Kok ke sini?”


Perlahan dengan hentakan di langkahnya, Firna berdiri di depanku. Aku siap mendengarkan dengan mematikan alat perawatan wajah tadi⏤


Heh? Tunggu! Firna kenapa tiba-tiba memelukku seperti ini?!


“Fir... na⏤”


“Rasyi!!”


Kaget!! Sekarang malah teriak?!


Lah! Dia menangis?!


Aku memegangi ia dengan bingungnya, “Kenapa? Kok nangis?”


“Telat lagi!! Huaaa!!”


Telat? Demi deh! Yang dia bicarakan itu apa?!


Isak tangis itu jelas terdengar bersamaan dengan wajahnya yang bersembunyi di samping telingaku. Dan bisikan tak jelas hanya bisa aku tangkap....


‘Saga sudah punya pacar’


?


?


Heh?


Tunggu, heh?


Manusia seperti apa yang bisa pacaran dengan buldoser itu selain Firna yang tidak terduga ini?


“Tidak mau!!”


Kaget!


“Masa aku harus lepasin dua kali! Tidak adil banget!!”


Bukan itu yang terpenting!


Langsung aku berdiri dan membungkam mulut Firna meski ia lebih tinggi dariku.


Firna tampaknya paham dan seketika terdiam.


“Huuuh....”


Sepertinya kak Fares benar-benar lelah sampai tidak terganggu sedikit pun.


NIh anak deh!


Kutarik dia menjauhi kak Fares. Menduduki sepasang kursi taman dan mejanya yang hanya sekitar lima meter dari Fares. Memaksa perempuan ini duduk di seberangku.


Aku mulai, “Dari mana kamu tahu?”


“Di sini...,” ponselnya?


Itu, sosial media.


Terjadi lagi yang seperti ini.


Hela nafasku menerpa, “Kamu sudah tanya orangnya?”


Firna terkejut, “Gimana sih? Kalau aku tanya langsung dia kan nanti curiga kalau aku....”


Ya ampun.


“Itu intinya! Tanya biar dia tahu kalau kamu suka!” langsung aku gas saja, “Mau nembak kapan lagi? Tunggu burung menggonggong dan singa berenang? Kiamat!”


“Tapi, kalau ini benar pacarnya....”


“Tidak ada kalau-kalau! Ke orangnya, langsung!”


Dia masih mengeluh, “Diminta bantu kok kamu gitu sih?!”


“Ini bantuin, wahai Firna-ku, bidadari yang jatuh dari Amazon. Aku bisa bantu apa kalau kamu tidak berani begini? Bantu menguntit?! Kayak kapan lalu?!”


Dia terdiam sesaat, “Mau?”


“Tidak!”

__ADS_1


“Terus gimana~?!”


“Tembak sekarang!”


“Dia sudah punya pacar!”


Capai! Ini tidak akan selesai! Kami berdua akan menyelesaikan ini kalau insiden kematian warga dinosaurus terjadi lagi!


“Siapa?” heh?


Aduh. Fares bangun kan!


Kutatap Firna melototinya.


Namun ia memasang wajah tak setuju, “Kamu yang ngomongnya teriak-teriak!”


“Kenapa?” kak Fares sampai duduk tegak.


Berdiri aku mendekatinya, “Maaf kak. Tidak papa kok. Kakak tidur saja lagi.”


Hmm? Fares melihat ke arah Firna?


Dia ingin bicara? “Saga tidak punya pacar.”


Wow? Benar-benar pada intinya.


“Ka! Kenapa kakak jadi bahas itu? Hahaha!” Firna langsung berdiri kaku, “Maaf ganggu, permisi!!”


“Firna, bener kok, Saga tidak suka pacaran.”


Heh? “Kenapa?”


Firna kayaknya juga penasaran tidak jadi pergi.


“Kenapanya, kakak juga tidak paham,” Fares lihat ke arah Firna, “Firna kalau mau pacaran sama Saga, Firna yang harus maju duluan. Anak itu gak mungkin nembak siapa-siapa.”


Oh, iya? Aku tunjuk ke arah diriku sendiri, “Dia nembak aku dulu.”


“Tapi tidak minta pacaran kan?”


Iya juga ya.


“Tapi kalau...,” tentu, Firna masih ragu dengan foto itu.


Kalau di sosial media, seharusnya aku juga bisa buka di ponselku. Yak, ketemu!


Langsung aku duduk di samping Fares dan menunjukkannya ke arah Fares, “Ini? Beneran bukan pacar Saga?”


Fares memandang foto itu, “Heheh!” dia, tertawa?! “Itu adik sepupunya Saga.”


Oh?!


“Sepupu?” Firna juga tidak percaya.


Aku mengecek kembali caption yang disediakan, “Saga model orang yang tidak mau ngetik caption sih.”


“Saga jam segini sih pasti main online. Ajak aja main,” Fares melanjutkan ucapannya, “Pelan-pelan juga tidak papa. Tapi jangan sampai tidak mau jujur. Oke?”


Fares-ku yang manis. Selalu jadi sosok kakak yang sempurna. Lihat, seberapa semangatnya Firna sekarang.


“Iya, kak! Terima kasih!” meluncurnya cepat sekali.


Beres juga....


Huuuh!!


Jadi pegal semua. Kurasa ini akhir pekan dan kencan terburuk yang pernah ada. Bukannya menghabiskan waktu berdua dengan memperhatikan seni terindah di dunia⏤yaitu wajahnya kak Fares⏤aku malah jadi tempat curhatan teman.


“You OK?”


Itu kak. Tidak sama sekali.


“Maaf tante ganggu pacarannya~” Sa, Sari?!


“Kami gak pacaran! Bukan! Aku pacar-nya kak Fares! ANU!!! AAAAA!!” diam, Rasyi! Tutup muka!


Tolong berhenti tertawa di belakang wajahku. Makin malu nih!


“Kenapa, bu?” suara Fares bertanya.


“Ini nih, ada paket buat Rasyi.”


Hmm? Kubuka wajahku mendapati Sari yang mendekat. Paket apa yang bisa menyangkut ke rumah Fares?


Aku terdiam sejenak. Oh! Harun! Dia membalas paketku!!

__ADS_1


__ADS_2