Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#7 Kabar Pembuat Onar


__ADS_3

Aku sempat tahu ceritanya.


Katanya papa dan mama mendapat beasiswa di sekolah ternama di kota sebelah. Letaknya memang tidak jauh sampai perlu harus terbang atau naik kapal. Secara bersamaan, jaraknya jauh lima jam dari rumahku.


Sekolah yang katanya saingan dari sekolahku saat ini. Jadi aku kira kesamaannya akan sebelas dua belas. Kuat akan koneksi dengan alumni. Bahkan aku dengan pendanaan acara ini sepenuhnya dari para alumni yang sudah mencapai apa yang namanya kesuksesan.


Tidak jauh berbeda dengan sekolahku kan?


Bukan berarti aku tak terkejut.


Ini hotel atau istana? Kok silaunya seperti emas dimana-mana?


Melihatnya walaupun sudah duduk disini dalam satu jam, tetap tidak bisa membiasakan mataku. Jadi seperti ini isi di dalam hotel yang terkenal pernah dikunjungi artis-artis itu?


“Fuuh,” aku tidak menyangka aku akan merasakan lelah di keadaan yang seharusnya menyenangkan ini.


Saking kayanya orang-orang ini, kami bahkan diberikan fasilitas menginap di hotel ini. Dan aku baru tahu itu kemarin sore. Mungkin karena hari sudah malam dan tidak mungkin papa menyetir sampai tengah malam tanpa istirahat.


“Wah, Gading ya?”


Sepertinya bertambah lagi satu orang yang ikut merapat.


“Gimana kabarnya, kok tidak kelihatan?”


Itu jadi dua orang.


Papa melipat tangannya di depan tubuhnya, “Kalau kalian carinya Gading, ya tidak ketemu. Aku sudah ganti nama sekarang.”


“Sekarang jadi dokter Rizki,” paman yang tempo hari di rumah sakit ikut menanggapi, “Kalau tidak ada kak Dito, aku juga tidak mungkin tahu.”


“Anakmu?” seseorang bermain tunjuk ke arahku, “Mirip! Cantik ya~?”


Keluarlah kau, senyum basa-basi untuk membalas basa-basi mereka, “Terima kasih.”


Aku selalu tidak suka dengan keramaian yang asing.


Walaupun keadaan tempat dan suasana dewasa yang ributnya masih tenang, tetap saja aku ada di suatu tempat bersama dengan mungkin lebih dari empat puluh orang di dalamnya.


Papa duduk di sampingku, aku tidak perlu khawatir untuk kambuh. Aku bisa saja menanggapi orang-orang dewasa ini untuk beberapa lama.


[“Ayo duduk, mau kita mulai acaranya”]


Pengeras suara dari atas panggung. Saat aku mulai menyadarinya, sepertinya band dangdut yang sedari tadi bermain sedang dihentikan sesaat.


Orang-orang tua ini akan mulai sibuk mengikuti acara dari penata acara di atas panggung itu. Ya, acara pada umumnya. Doa, sambutan, semua hal yang membosankan. Sepertinya mereka juga mengundang beberapa guru mereka masa dulu.


Kalau si papa…, tentu saja dia tidak pernah tertarik dengan apapun.


“Gading!!”


Kaget!


“Kak Dito, jangan kagetin orang terus dong.”


“Aku tidak kagetin siapa-siapa,” paman berisik itu mengeluarkan mata penuh kebodohannya.


Paman. Dengan segala hormat, aku kaget!

__ADS_1


“Kok kak Dito di sini? Ini acara untuk satu angkatan saja kan?” papa memegangi kepalanya.


Orang yang ribut itu mengambil duduknya di sampingku. Sungguh. Dari banyaknya kursi di banyaknya meja bundar yang menyebar di aula yang silau ini, kenapa harus di sampingku?


Wahai gendang telingaku tersayang, bertahanlah bersamaku.


“Emang kenapa~?! Suka-suka dong!” suaranya yang seperti preman itu terlihat tidak serasi dengan ekspresinya yang tersenyum lebar, “Kalau bukan aku, kamu tidak bakal ketemu teman-teman kamu! Aku yang bilang ke mereka-mereka~!”


“Mungkin karena terlalu lama tidak berkumpul, sulit untuk meluangkan waktu,” iya papa. Kau bermaksud mengatakan kalau itu tindakan yang merepotkan, bukan?


“Rasyiqa~” beliau kenal aku?! “Sekolah dimana sekarang?”


Lagi-lagi aku keluarkan senyum manis, “Di SMA Martadhinata.”


“Oh~ Sama dong dengan anakku!”


Paman, maaf, tapi saya harap tidak bertemu dengan dia. Anda yang lebih tua dari papaku saja berisik. Bagaimana kalau versi mudanya?!


“Vian juga?” oh, percakapannya dilanjutkan papa.


“Iya! Saga yang menyuruhnya. Saga banget kan?! Hahaha!!”


… oke. Ha ha ha?


“Itu keputusan bagus sih. Mereka juga mampu,” papa meminum teh kemasan botolnya, “Berarti, mereka jadi junior-nya Rasyi ya?”


Juniorku? Mereka? Eh, kita membicarakan berapa anak sih?


“Benar juga!” paman itu bertambah lagi semangatnya, “Rasyiqa. Tolong temenan sama mereka ya? Kadang-kadang mereka nakal sih, tapi namanya juga anak muda! Biasalah!! Hahaha!!”


Ha ha ha ha…. Memikirkannya saja sudah menguras habis tenagaku.


Loh? Bukan! Papa bukan sedang mengejek atau semacamnya seperti yang biasa ia lakukan dengan kalimat cantiknya.


Dia benar-benar meminta tolong?! Masalah apa lagi yang beliau ingin limpahkan pada anakmu ini, papa~?!


Apa yang spesial dari adik-adik ini? Kalau melihat dari bapaknya, seharusnya mereka tidak ada masalah dengan sosial. Jangan bilang aku diminta untuk menyelesaikan kelakuan mereka yang paman sebut nakal. Separah apa nakalnya mereka?!


Inilah hidupku… mudah-mudahan mereka tidak berteriak setiap kali mereka berbicara.


Tunggu dulu. Saga dan Vian kan namanya tadi? Kedengaran familiar. Mungkinkah aku mendengarnya sebelum ini? Dimana ya?


“Nah, terus si Anggar….”


Oh, topik yang mereka bicarakan semakin lebar di tengah lamunanku. Meja bundar untuk delapan orang ini membahas berbagai macam hal. Kabar masing-masing, pengalaman mereka, bahkan pengetahuan investasi.


Wah. Pembicaraan orang-orang sukses sekali ya~ Namun, sepertinya mereka juga tidak lupa bercanda dan saling berbagi tawa.


“Heh,” hm? Papa tertawa?


Kalau aku lihat, ternyata papa berbaur dengan baik juga dengan percakapan mereka. Bahkan sesekali dia tersenyum dan tertawa bebas.


[“Eh, Gading! Dengerin dulu, aku mau sambutan!”]


Wah, yang ada di panggung sadar kalau dia tidak dipedulikan. Mic itu tidak membantu juga ya.


“Terima kasih! Selamat malam!” papa? Dia bisa membalas seperti itu?

__ADS_1


Pastinya semua orang tertawa.


“Haha! Sudah selesai! Turun! Hahaha!”


“Bapak ketua kelas, skip saja pak. Hahaha!”


[“Sedikit saja ah. Formalitas.”]


Kukira papa itu selalu saja kaku, ternyata bisa bercanda dengan leluasa seperti itu ya. Memang sih. Papa seperti sudah membuka dirinya ke publik setelah semuanya selesai dua tahun lalu.


Apalagi sekarang papa seperti bercanda dengan wanita di sampingnya. Laki-laki seperti apapun akan tertarik dengan perempuan ya….


Heh?


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Lagi apa?” Harun meletakkan tasnya dan langsung mengambil duduk di sampingku.


Aku mengangkat pensilku menjauh dari sketsa kurang kerjaan yang aku buat, “Nganggur.”


Hari lain di sekolah pagi ini. Perlu sekitar tiga puluh menit sebelum upacara Senin dimulai. Murid-murid ini perlahan-lahan hadir dan memenuhi kelas, siap dengan topi abu-abu mereka.


“Gambar apa sekarang?”


“Hm… tidak tahu,” ini sekedar untuk menyibukkan tangan saja, “Oh iya, Harun!”


“Kenapa?” dia melipat kedua tangannya dan meletakkannya di ujung meja di sampingku.


Jariku menyentuh ujung bibirku, “Harun kenal yang namanya Vian dan Saga tidak?”


Mata Harun berkedip beberapa kali, “Vian, Saga?”


“Siapa sih yang tidak kenal?” Firna, teman sebangkuku sudah datang.


“Firna kenal?”


Dia meletakkan tas di belakang Harun yang seenaknya duduk di kursinya, “Wira kan suka komplain tentang mereka. Masa tidak ingat?”


Wira? Teman cowok basket yang suka mengomel itu?


“Mereka sering bikin onar dimana-mana padahal siswa baru,” Firna menyangga tubuhnya dengan tangan kanan yang tegak lurus dengan mejanya.


Duh, bahkan mereka sudah terkenal? Ini akan pertemanan yang akan mengganjal sampai ke dasar orang lambungku. Apa aku pura-pura lupa saja ya?


“Memangnya mereka siapanya Rasyi?” Harun mulai berdiri dan mempersilahkan Firna untuk mengambil duduknya.


“Bukan siapa-siapa sih~” aku bersandar ke kursi kayu yang biasa itu, “Ayah mereka kenalannya papa. Kayaknya papa kenal mereka juga.”


Namun, kalau mereka se-rusuh itu, aku rasa akan lebih baik mengabaikan apa yang papa dan paman Dito katakan tempo hari. Tuh, papa belum pernah membahasnya lagi sejak pembahasan terakhir, sampai pulang setelah pulang.


“Eh?! Ada yang berkelahi!”


“Siapa?!”


“Sagara Sovian sama kakak kelas!”


“Uuuu…,” Firna terdengar canggung, “Baru juga diomongin.”

__ADS_1


Kedengarannya merepotkan.


__ADS_2