Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#56 SOS!!


__ADS_3

“Tiup lilinnya~” aku bersemangat.


Setiap kertas warna kalem. Dipotong dan dirancang sangat indah sampai tidak ada yang protes. Tetap mempertahankan unsur simpel yang cocok dengan pemeran utama malam ini. Dilakukan tergesa-gesa pun, semua tetap senang.


Hmm? Kenapa pemeran utama ini tiba-tiba meraih tanganku?


“Terima kasih~”


Aaaaaa!!! Harun mencium punggung tanganku lagi tanpa aba-aba!!


“Ha, Harun! Ditiup lilinnya bukan tiup tanganku!!” aku bicara apa sih?!


“Hehehehe…,” jangan tertawa! “Maaf, aku terlalu senang. Fuuh,” akhirnya dia meniup lilinnya.


“Selamat, Harun,” ibu Harun memberikan pelukan hangat.


Diterima pelukan itu dengan bonus senyum manis Harun, “Terima kasih, ummi.”


“Sesuai kesepakatan,” ayah Harun menepuk punggung Harun dan menyerahkan selembaran? “Kamu bisa pilih.”


Harun, tersenyum lebar!


Apa? Apa apa apa? Lembaran apa itu? Rasanya ingin mengintip. Namun Harun tampak paham dan memperlihatkan apa isinya.


Itu brosur mobil. Tunggu. Harun bakal dapat mobil?!


“Shelomaht.”


Bisakah anda mendahulukan apa yang ada di kunyahan anda lalu bicara setelah menelannya? Saga?


“Rotinya tidak dipotong?” apa cracker di tanganmu kurang, Saga? Sungguh?!


“Hadiahku juga mobil loh, kak. Yang itu,” Vian, dilihat dari ukurannya pun semua orang tahu kalau itu mobil mainan, “Itu yang langka loh kak. Mahal.”


Tunggu! Aku tidak ingat mengundang mereka di acara kecil ini. Kenapa mereka seenaknya datang tak diundang pulang tak diantar?! Duh, aku harap Harun tidak marah karena mereka muncul.


“Oh, Rasyi nanti pulang gimana? Malam-malam begini,” Harun… sepertinya dia terlalu senang sampai tidak mau peduli dengan omongan si kembar.


Tersenyum aku pada pangeran yang berulang tahun ini, “Nanti aku dijemput pak Darma kok.”


“Kami! Dijemput!” oh iya, aku lupa tentang Firna.


“Sering-sering lah traktiran~!”


“Dikasih malah gak tahu diri.”


“Kadonya kami barengan ya~”


“Bilang aja kalau lupa.”


“Kok tidak ke cafe sekalian, Rasy?”


Hmm… karena waktu yang mendesak? “Aku cuma mikir Harun lebih suka yang simpel saja,” Itu tidak bohong sih.


Suasana tak ramai dan tak sepi. Memang hanya sekitar lima teman Harun yang kami undang. Itu pun memang sudah kenal lama dengan Harun. Beberapa di antaranya juga teman-teman tetanggaku.


Potong kue yang sederhana itu terlihat cukup meriah.


Namun, aku mulai merasa sesak lagi dengan Harun yang tidak mau melepas tanganku. Dan aku tidak bisa melawan karena dia terlihat sangat senang.


“Heh, ingat-ingat sama tamunya~!” Saga? Dia menarikku sampai genggaman tangan lembut Harun terlepas.


Senyumnya Harun kok kesannya seram ya? “Rasyi kan tamu juga.”


“Dia penyelenggara,” Vian kok ikut-ikutan?!


“Makin banyak alasan buat kasih terima kasih buat Rasyi.”


“Wah, yang ulang tahun sudah tidak marah-marah lagi?” tolong jangan dipancing, Vian.

__ADS_1


“Mau aku marah?” Harun, jangan!


“Uff!”


“Auw!”


Loh? Kenapa, dimana, bagaimana?


Terputar kepalaku ke arah titik buta dari pandanganku. Mungkinkah terjadi sesuatu di belakangku?


Oh! Penyelamat ketenangan datang!


“Kak Fares~” aku senang sekali melihat dirimu, Fares~


“Kami cuma bercanda, kak!”


“Dianya aja bawa perasaan terus~!”


“Kalau begitu jangan mulai,” Fares menarik kedua buldoser itu sampai aku dan mereka akhirnya berjarak.


Aku berdiri lebih jauh dari semua orang ini. Tidak ingin aku sampai terikat dengan mereka semua. Keributan tidak boleh ditambah oleh siapapun dan apapun. Untunglah kak Fares datang sebelum semakin ribut.


“Kalian ambil makan sana,” Fares menunjuk ke arah dapur.


“Iya, yuk. Yang lain sudah pada makan~” tante punya telinga tajam juga, “Fares juga yuk.”


“Saya nyusul tante.”


Kak Fares memang sesuatu banget. Fares berhasil mengusir si kembar ke tempat yang lebih baik tanpa perlu mengeluarkan usaha banyak.


“Nih, Congrats,” kak Fares menyerahkan sebuah kado kecil.


Wah, kira-kira apa isinya ya?


“Iya,” Harun menerimanya tanpa senyum sama sekali.


Apa mereka berdua masih berkelahi? Padahal kak Fares selalu bilang tidak terjadi apapun. Namun reaksi Harun tidak mengatakan demikian. Kalau benar seperti kata kak Fares–dimana ia bilang Harun sekedar tidak mau dimanja lagi–seharusnya perkelahiannya tidak selama ini.


Harun memang aneh belakangan ini. Marahnya dia sampai mengajak mulutnya sendiri mengejek jelas ke arah papa.


Fakta itu menyakiti nuraniku, tapi Harun hanya khawatir padaku.


Ya, pasti itu semua karena emosi yang meluap-luap.


“Terima kasih sudah sempat datang, kak~” aku sangat ingin menggantikan Harun menyambut hangat kak Fares.


“Iya,” dia tersenyum, sendu? “Kakak langsung ya. Ada perlu di kampus.”


“Yah, cepat banget~” padahal aku merasa aman kalau ada kak Fares.


Belakangan ini aku selalu dibuat lelah dengan ketegangan antara Harun dan si kembar. Kak Fares satu-satunya yang bisa mengendalikan tingkah mereka.


“Maaf ya?” Fares mengelus kepalaku yang masih merengut.


Mau bagaimana lagi dengan ketua BEM yang terkenal ini. Lepaskan saja.


“Hati-hati~”


Kubiarkan Fares pergi memberikan salam pergi kepada ayah Harun. Sampai akhirnya dia sungguh pergi.


Loh? Loh kok?! “Kenapa langsung buka?” aku melihat Harun tanpa suara sudah membuka kado dari kak Fares, “Apa isinya?” sungguh, kepo?


Heh?!


“Makan rotinya yuk. Nanti tidak kebagian.”


Harun? Dia mengalihkan pembicaraan? Bahkan dia menyembunyikan kado yang baru saja dia buka tadi. Jadi makin kepo isinya apa!


“Isinya apa, Harun–hmmp!” tunggu! Dia tiba-tiba menyuapi aku sepotong cake!!

__ADS_1


“Hehehe…,” dia tertawa?!


Aaaaargh! Overloaded!!


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Makasih pak~!” Firna menuruni mobil.


Gelap. Jam menandakan hari sudah harus diakhiri dan saatnya mendedikasikan waktu untuk memperbarui tenaga untuk esok hari.


Perumahan mewah ini sudah sepi walau lampu tidak tanggung-tanggung terangnya. Firna tidak masalah berjalan sendiri ke rumahnya. Tentu karena letaknya yang berseberangan dengan rumahku. Dan saatnya aku masuk ke rumahku sendiri.


“Saya pulang ya non,” pak Darma pun tidak ingin berlama-lama jauh dari rumahnya.


Aku mengangguk, “Iya, hati-hati.”


“Siap non~!” bapak yang selalu semangat sekaligus kalem, memang tidak ada duanya.


Kupastikan senyumku mengantarkan beliau pergi dengan kendaraan kesayangannya.


Peregangan sedikit untuk tubuhku yang lelah. Meski kakiku masih sangat rajin mengantarkanku ke pintu depan.


Loh? Aku kok baru sadar? Di carport* rumah ada kendaraan. Jelas-jelas ini bukan punya papa. Kunjungan tamu kah? Jam sepuluh malam?


Terbuka pintu didorong tanganku. Pintu berdaun dua itu memperlihatkan aku akan ruang tamu yang sepi selayaknya tak digunakan dalam jangka waktu yang lama.


Sekarang muncul pertanyaan, dimana papa?


Kututup pintu rumah. Menguncinya dengan kunci yang selalu disembunyikan di lemari kunci gantung tak jauh dari sana. Pergi lagi ke ruangan lain yang bisa jadi terdapat papa di sa... na...?


Heh? Papa kenapa bersandar di dinding? Kenapa dia dan... tante Ira... berciuman?


Mulutku terbuka lebar, “Pa... pa?”


“Hah! Rasyi?!”


Aaaaa....


“I, itu! Rasyi! Kamu tidak sengaja!”


Aaaaaa....


“Tante pulang duluan ya~ Aaa!” dia pun pergi dengan menabrak banyak hal, “Pintunya dikunci!!”


Aaaaaa....


“Heh hehehe,” papa tertawa?! “Kuncinya di lemari.”


“Oh iya,” tante masih saja salah tingkah, mencoba membuka pintu dan syukurnya berhasil, “Dah~!”


“Kuncinya jangan dibawa.”


“Maaf!” dia melempar kunci itu selagi ia lewat dan menutup pintu.


Aaaaaa....


Itu tadi..., “Mata Rasyi pasti minus!” iya! Itu pasti yang terjadi!


Senyumku masih bertahan melihat papa yang bermain dengan bibirnya. Kemerahan di bibirnya pasti karena mataku aneh. Itu karena mustahil yang aku pikirkan saat ini sungguh terjadi!


Papa, tolong jangan tertawa dan jawab saja kalau benar aku sedang minus!


Langkahnya yang tiba-tiba mendekat itu membawa tepukan di kepalaku. Dan ia pun pergi. Tunggu, itu berarti... mataku tidak salah?


Dia dan tante Ira tadi sungguh... berciuman?!


Aaaaa aaaaaa...!


Wahai mama di surga, SOS!

__ADS_1


___________________________________________


^^^*Carport itu tempat parkir terbuka yang biasa di depan rumah. Gak kayak garasi yang tertutup dinding. Tapi sering juga diberi atap.^^^


__ADS_2