
“Tante...?”
Wanita itu tersenyum di saat celemeknya masih terikat rapi di depannya, “Iya, sayang?”
“Tante Sari bisa ajari Rasyi yang ini?”
Dikerut keningnya itu, “Rasyi belajar apa?”
Langkahku berlanjut dan mendekatinya, “Kewarganegaraan. Yang nomor empat.”
Wanita ini menuntunku untuk duduk di meja makan yang bersih. Duduk berdampingan, memperhatikan satu titik yang sama dalam buku cetak itu.
“Rasyi belajar buat apa? Kan sudah selesai ulangannya.”
Aku tersenyum. Memang sudah lewat satu minggu sejak ulangan akhir semester-ku. Remedial-ku juga sudah lama aku selesaikan.
Namun, aku tidak mau melepas pelajaranku.
Lewat sebulan. Sebanyak itulah sudah hari berlalu sejak aku keluar rumah sakit. Dan sebanyak itu pula, papa dan Hendra disibukkan dengan pengadilan.
Meski semua sudah aman, tapi aku tidak bisa tenang.
Lucunya, aku malah mencari pengalihan dengan belajar.
“Sayang?”
Hmm? “Oh! Iya, Rasyi bingung yang⏤”
Eh?! Ada suara mobil berhenti!
Terdengar pintu rumah terbuka. Lalu banyak langkah. Di dalam pikiranku, itu pasti papa.
Itu benar.
“Gimana?” Sari menanyakan suaminya yang melangkah bersamaan dengan papa.
Hendra melakukan perenggang kecil, “Masih lanjut. Mereka melawan terus.”
“Sedikit lagi,” Fares yang baru sampai, merekahkan senyumnya, “Pasti menang kok.”
Sari ikut tersenyum, “Syukurlah.”
Aku sudah menghadapi peristiwa tidak mengenakkan ini seumur hidup. Dan itu juga karena mereka tidak bisa dituntut. Bukti yang tidak cukup, sama saja seperti saringan rusak.
Tidak terkecuali kali ini.
“Kirana-nya?” aku berbicara dengan suara rendah, “Dhika?”
Dua orang yang berhasil masuk ke lingkungan aman yang dibangun papa. Lelaki bernama Dhika bahkan bisa menjadi teman sekelasku.
Tidak aneh, kalau mereka keluar dari masalah ini. Mungkin juga bersama banyak rekannya yang lain.
Aku... takut.
“Papa pastikan anak itu dapat yang lebih parah,” Rizki meletakkan jaketnya di salah satu kursi meja makan.
Merenung, berasumsi bahwa itu tidak cukup menenangkanku, “Tapi kata kak Fares cuma bisa tiga atau lima tahun.”
Hening ini memberitahuku kalau tidak ada yang bisa membantah hal itu.
“Kami berhasil mojok mereka sampai 7 tahun,” Hendra menghilangkan detik senyap ini, “Papamu itu keras kepala. Bisa aja mojok lagi pakai bukti lain.”
Bukti lain? Aaa..., aku ketinggalan lagi kah?
Tentu saja, Rasyi. Seperti itulah papamu.
“Ayo Sari, kita langsung pulang,” Hendra bersiap untuk pergi.
“Tidak makan dulu?” Sari melepas celemeknya.
Hendra memandang istrinya ini, “Ini bukan rumah kita, Sari.”
Sari tertawa manis, “Iya, tapi kan kamu capek. Belum juga nyetir pulang.”
“Fares yang nyetir.”
__ADS_1
Hendra langsung melempar kunci ke arah anaknya. Fares yang terkejut merentangkan tangannya, menangkap kunci yang sekian detik melayang itu.
Ditentukan sudah oleh kepala keluarga, mereka langsung pulang saat ini juga. Yah, pada dasarnya mereka punya buah yang perlu di kupas sendiri.
“Belajar?” terasa kaku dengan papa yang bertanya dulu.
Aku mengangguk, “Rasyi bingung yang ini.”
Hmm? Papa?
Saat kami mengeluarkan kata belajar di pembicaraan kami, biasanya yang akan kami lakukan selanjutnya adalah belajar dan mengajar. Namun saat ini papa malah mengelus dan menyisir kecil rambutku dengan jarinya.
“Pa?” aku kebingungan. Sedikit terganggu dengan tangannya yang menelusuri wajah dan kepalaku.
“Sudah tidur siang?”
Hmm? “Tidak. Kenapa?”
Kembali hening. Canggung yang membingungkan ini hanya diwarnai dengan papa yang menarik kursi di sampingku. Masih saling berpandangan.
“Yang mana yang bingung?” pertanyaan tiba-tiba papa.
Aku menunjuk satu soal, “Yang ini. Ini kan⏤”
Eh? Eh?!
Papa mencium keningku?
Bingung dan tambah bingung, aku kembali memandangnya.
“Lanjutkan,” papa mengatakannya seperti ia tidak melakukan apapun.
Rizki bertingkah aneh sekali. Lelah?
Namun, mata yang menggelap itu hanya muncul saat satu hal. Khawatir. Dan satu hal yang ada di depannya adalah aku.
Aku tersenyum. Hal sedih ini malah membuatku senang. Rizki sungguh ayah yang terlalu baik untukku yang pernah merasakan menjadi anak yatim piatu.
Pelukku menghangatkan tangannya, “Papa temani Rasyi nonton ya?”
“Iiii~!”
Ayah ini butuh santai sedikit! Ikut acara atau hiburan mungkin sesekali.
Oh, itu mengingatkan aku! Sebentar lagi papa ulang tahun!
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Nih, Rasyi.”
Aku tersenyum, “Thank you, Harun~”
Masih fokus aku pada mangkuk di depanku. Bumbu-bumbu yang banyak aku aduk menjadi satu.
Dapur sore ini cukup sibuk.
“Ada yang bisa dibantu?” Harun mendekatiku.
Hmm? Memang Harun bisa membantu apa? “Bantu potong-potong, bisa? Sama Firna?”
“Bisa,” Harun mendekati Firna yang ada di seberang meja dapur.
“Non, ini saya campur sekarang ya?”
“Iya, bi. Tolong.”
Kami berempat memang seperti tidak ada kerjaan. Libur sekolah yang masih seminggu ini tidak ada jadwal yang pasti untuk keseharian kami. Sampai akhirnya aku bawa mereka untuk membantuku memasak.
Semuanya untuk sedikit surprise birthday untuk papa.
“Ras, ini kado buat paman ya?” Firna menyadari sebuah kotakan kecil di meja makan.
“Hmm? Bukan,” aku kembali sibuk dengan hal lain, “Itu buat kak Fares.”
Firna masih sibuk memotong-motong, “Oh, iya. Kak Fares hari ultahnya sama kayak paman, ya?”
__ADS_1
“Tidak ada buat paman?” Harun ikut ke percakapan.
“Papa tidak suka surprise,” kuangkat bahuku, “Tapi aku tetap mau kasih. Jadi aku kasih aja yang tidak mungkin papa tolak. Makan malam.”
PRAK!
Wa!! Kok? Harun! Dia kencang sekali mempertemukan pisaunya dengan tatakan di bawahnya! Ia memotong wortel, atau berkelahi?!
Harun masih sibuk dengan pisaunya, “Kapan mau kasih kapan?”
Jangan bilang, Harun marah? Marah kenap⏤
“Rasyi!!”
Apa? Kenapa? Siapa?!
“P’misi!”
Wow. Duniaku yang sempit, ternyata punya rasa sosial yang tinggi ya~? Satu di sini, semuanya ikut!
“Hai, Vian Saga,” hai makhluk yang selalu saja tidak terduga~
Ada urusan apa lagi mereka disini?
Saga berteriak, “Apaan sih, tidak undang-undang!”
Undang? “Undang acara apa?”
“Surprise party,” Saga tampak meletakkan kado besar di meja makan.
Eh? Kan memang tidak ada pesta. Mereka membicarakan apa sih?! Dan, bagaimana mereka tahu aku mau siapkan surprise.
“Heh! Otak kering!” wah, Firna bisa kasar juga, “Yang aku bilang itu bantuin Rasyi aja, tidak ada undangan!”
Tu, tunggu. Firna yang kasih tahu... oh iya. Firna kan semakin sering main game online dengan Saga. Firna bilang mereka juga sering berbagi cerita, apa lagi Firna suka menggosip.
“Lah? Kalian tidak mau undang tamu?!” Saga heboh.
“Kalian mau rayain apa sama paman? Aku aja bingung mau ngomong tentang apa,” Firna balik ke pekerjaannya.
“Paman?” Vian ikut merumpi, “Ini bukan kejutan buat kak Fares?”
Oh. Jadi itu salah pahamnya?
Aku kembali menuangkan dan meratakan bumbu ke potongan ikan salmon dengan santainya, “Ini buat papa. Aku tidak ada niat kasih surprise kak Fares soalnya dia sibuk terus. Aku cuma siapin kado.”
“Bilangnya dari tadi dong,” Saga, aku tabok pake ikan mentah, mau?!
Vian membuang nafas, “Kan aku bilang kita, langsung aja ke kampus kak Fares. Nanti keburu habis jam istirahatnya.”
Oh? “Kalian mau ke kak Fares?”
“Iya,” Vian menjawabku, “Mau ajak ngopi aja sih.”
“Kalau gitu aku titip itu dong,” aku menunjuk kado kecil itu.
Aku memang tidak bisa asal lupa ulang tahun kak Fares. Bukan hanya sekedar menganggapnya saudaraku, tapi juga karena dia selalu ingat ulang tahunku dan selalu memberikan aku kado.
Tidak terkecuali baju dan anting-anting bertema kupu-kupu yang aku kenakan sekarang.
“Yang ini?” Vian menunjuk kado itu, “Apa isinya?”
“Card holder kulit~” aku tersenyum, “Tolong ya~”
Setidaknya aku bisa tenang untuk hal yang satu ini. Mudah-mudahan kak Fares suka hadiahnya.
“Ya sudah. Sana,” Harun sekarang tersenyum?
“Kak Harun gak kasih kado?” Saga, membawa kadonya.
Harun tersenyum, “Biar nanti aku ajak makan.”
Sudahlah! Jangan berisik! Yang aku lakukan hari ini adalah hal penting!
Aku hanya ingin memperbaiki keseharianku dan papa.
__ADS_1
Muak sudah! “Kalau tidak mau bantu, pergi sana!”