
“Papa tidak benci kejutan,” matanya yang sipit seperti biasa, beralih menjadi senjata sangat mematikan di detik ini, “Tergantung kejutannya apa.”
“Rasyi minta maaf.”
“Kejutan, harusnya sengaja.”
Iya, pa. Kupahami dengan benar akan pesan anda. 'Tidak mungkin tidak sengaja. Kalau tidak mau melakukannya, kenapa tidak dicegah?'.
Namun itu bukan sepenuhnya salahku.
“Rasyi sengaja kok,” aku memanyunkan mulutku, “Itu salah papa juga. Kalau papa diam tenang di rumah, Rasyi tidak perlu pikirin papa.”
“Alasan yang bisa diterima,” wajah itu mengatakan bahwa hatinya berkata sebaliknya.
Tentu saja dia mengartikan sebaliknya.
Kuteleng kepala dan mengeluarkan mata sedih, berusaha menangkap simpatinya, “Papa semarah itu kalau Rasyi dapat nilai jelek? Rasyi juga sudah berusaha~”
“Papa tidak marah.”
Aku terdiam. Mencernanya satu dua tiga suap,“Papa bohong?”
“Iya.”
Haduh. Lebih baik aku dimarahi dengan teriakan yang membangunkan matahari di malam hari. Kelewat pahitnya bila harus menerima permainan kata-kata indah milik papa.
Nasibku yang malang.
Tatapan mencekam itu aku dapatkan dari sang ayah yang baru saja pulang dari status dicari. Dan itu karena nilai ujian tengah semester sebulan lalu yang hancur. Aku sudah membayarnya dengan ujian remedial. Namun nilai tetap saja rendah.
Wajahku bertambah kesal, “Ulangannya memang susah. Banyak yang dapat rendah. Rasyi masih bisa remedial dapat rata-rata.”
“Banyak orang bodoh yang dapat segitu.”
Terima kasih atas pujiannya.
“Papa tidak masalah,” dia menghempas tumpukan kertas lembar jawabanku, “Tapi kalau sampai kedua kali, berarti sudah sengaja.”
Beliau tidak lain membicarakan tentang ujian harian yang kulakukan baru seminggu lalu. Nilainya jauh lebih pendek dari ujian tengah semester. Tinta merah bertulisan dua puluh.
Iiih! Aku punya alasan! “Soalnya waktu itu Harun bilang kalau dia tahu papa hilang. Dia kira papa diculik....”
Mengenal otakku, waktu itu pasti tidak bisa menerima dan malahan tertekan.
“Memang.”
Apa dia bilang?! “Jangan bilang begitu!!” aku memandangnya sambil memutar rotasi dudukku di sofa, menghadapnya, “Papa itu pergi karena diundang. Bukannya diculik!”
Papa mengetuk keningku dengan jari telunjuknya, “Daripada itu. Belajar, besok ujian lagi kan?”
Lagi-lagi bahasannya dilencengkan.
Hmm? “Papa mau ke mana lagi?!”
Ia menghentikan gerakannya mengenakan jaket kulit, “Ke kuburan.”
Eh? Kuburan siapa? Jangan bilang ada orang lain yang kehilangan... Apa aku harus mengetahuinya?
Kuberanikan untuk bertanya, “Siapa?”
Mata coklat itu lagi-lagi menggelap. Layaknya ia berkecamuk dengan hal yang ia tak kehendak di balik wajah tak berekspresi.
“Sekar.”
__ADS_1
Heh? Dia bilang apa?
“Ulang tahunnya bulan lalu. Papa tidak sempat ke sana.”
Aku terdiam. Benar juga. Sejak beberapa tahun lalu, papa selalu mengunjungiku tidak hanya di hari kematian di bulan April tapi juga di hari ulang tahunku. Padahal aku sendiri tidak peduli lagi dengan ulang tahunku di bulan September. Semua itu bukan diriku lagi.
Dan orang dingin ini masih belum melepas simpatinya.
“Pa, Rasyi ikut.”
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Warna putih kamboja khas daerah yang penuh duka, di samping melati yang baunya menyengat. Sore yang indah di langit yang kemerahan. Udara yang bahkan lebih panas lembabnya daripada siang tadi.
Nisan itu selalu menendang hati nuraniku, dimana namanya membawaku teringat dengan masa lalu.
Kilasan kehidupan dari pekerja kantoran, Sekar. Aku tidak tahu harus berduka atau bersyukur dengan jiwaku yang turun ke sosok lain.
Bahu papa yang rendah dibawa duduk terlutut di depan tumpukan tanah. Tak sepertiku, papa tidak menyukai gundukan itu. Getaran yang menandakan rasa takut berbanding terbalik dengan sikapnya.
Mata itu tertutup seakan mengharapkan sesuatu.
“Kita pulang,” pria ini berdiri setelah berhasil membuka mata.
Hatiku pun melarang untuk membiarkannya di sini lebih lama. Akhirnya mulut hanya berkata iya. Kami pergi tanpa sepatah kata.
Eh?
Menghentikan langkah, bersembunyi di badan papa dengan perasaan aneh.
“Sore,” papa tampaknya juga tidak nyaman.
Wanita itu membuang wajahnya, “Iya.”
Huh, dia tidak akan main tampar lagi kan?
“Pak dokter. Tumben,” itu pasti Dewa, kurasa benar mereka punya hubungan sekarang.
“Maunya kemari September lalu, tapi ditunda.”
“Terima kasih, dok, sudah disempatin.”
Suasana tampak baik, tapi tidak dengan wajah-wajah mereka. Khususnya, Nita, orang yang kudengar paling meluapkan amarahnya pada papa saat tahu Sekar dalam keadaan koma.
Aku menyadari bila tatapan itu mencuri perhatianku. Ia layaknya memperhatikan sebagian dariku yang muncul dari balik papa.
Bagaimana ya? Kami memang teman dari SMA. Tapi saat menjadi Rasyiqa, kesan terhadap satu sama lain jadi terlihat kusut seperti benang bekas pakai.
Disenyumin saja, mungkin?
Heh?!
“Aaa!!” aku hampir tidak bisa mempertahankan keseimbanganku.
Tetapi, pelukan wanita ini memastikan diriku tetap berdiri.
“Hiks... Hik...,” ke, ke, Nita kok. Kenapa dia menangis?!
Aku melakukan apa? Rasyi, kamu melakukan apa?!
“Nit?” Dewa, tolong aku....
Tolong jangan seperti bapak yang tuanya tidak terlihat di depan sana. Diam saja seperti tiang lampu yang belum ada kabelnya!!
__ADS_1
Kepala Nita yang terjuntai rambut sebahu itu tersentak. Ia mendorong pelukannya dan memandangku dekat. Entah kenapa mata itu layaknya berkata kalau bukan aku yang dia lihat.
Ada apa sih dengannya? Bila sampai sesedih ini, bisa jadi karena itu?
“Tante ditipu belanja online?” mulutku terbuka.
Sampai akhirnya aku sadar ucapanku terlalu acak untuk orang yang saling tidak mengenal. Tampak jelas keanehan di wajah kedua dewasa ini.
“Aaaa..., semua orang bisa sedih karena ditipu~” aku tersenyum.
“..., iya,” Nita mulai menjauh.
Kenapa jadi canggungnya seperti aku berteriak 'hei, aku kenal tante Nita seperti tante Sekar loh~ Hebat kan~?'. Mungkin aku akan dicap sebagai penguntit kurang kerjaan.
“Dokter,” Nita memandang papa yang tak berkutik dengan kejadian yang tanda tanya itu, “Bisa bicara sebentar? Berdua.”
Hmm?
Papa tak berpikir lama sampai beliau menunjukkan arah dengan matanya ke gazebo depan gerbang kuburan.
Dan... Mereka pergi meninggalkanku dengan Dewa? Pada dasarnya tidak pernah Rasyi interaksi selain melihat mukanya saja di tengah perkelahian Nita denganku. Lalu aku harus apa?
Tunggu! Pembicaraan apa yang mereka lakukan berdua?! Ooooo... Kepo-ku~~
“Hei,” Dewa memulai percakapan? “Kamu sama Nita ada apa lagi?”
Apa maksudnya itu? Bisakah anda tidak menyalahkan saya atas tingkah aneh pacar anda?
“Iya, salahkan saja saya-nya~” aku tersenyum manis, “Tante-nya kali yang sakit!”
Menjengkelkan sekali. Padahal dulu kami teman, sekarang mereka memojokkan sekali!
“Gah hahhaahahah!”
Kenapa lagi nih paman tua ketawa-ketawa?!
Dia masih tertawa, “Cara ngomong kamu kayak Sekar.”
...
Sepertinya aku harus hati-hati ke depannya. Tidak lucu lagi kalau mereka menyadari kesamaan Rasyiqa dengan Sekar lebih banyak. Mungkin mereka menilaiku gila?
“Kumpul semua di sini?”
Hmm? Sepasang suami istri....
“Malah ketemu boss,” Dewa menyambut pria yang aku kenal baik.
Sosok ayah yang bernama Aldi tersenyum cerah, “Cuma visit sebentar.”
Perkenalkan. Si gagah ini adalah gebetan Sekar yang berakhir sejak malam ulang tahunku. Dimana dia memberikan undangan pernikahannya dan istrinya sekarang.
Derita!
Sang istri memandang sosok yang jauh masih berjalan kemari, “Ada Rasyi nih.”
Hmmm? Ternyata pasangan ini membawa anaknya kemari.
Aku tersenyum lebar pada sang anak yang tak lain adalah si dia, “Harun~”
Eh? Kenapa kantung mata Harun hitam sekali?
Langkahku mendekat, “Kurang tidur?”
__ADS_1
Dia tersenyum manis layaknya biasa, “Iya nih.”
Aku ikut tersenyum. Untunglah tidak ada hal buruk terjadi.